Efek Komunikasi Massa: Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa

Sebelum lebih jauh masuk ke dalam teori-teori komunikasi massa, ada baiknya kita mundur ke belakang, kembali ke enam atau tujuh dasawarsa lampau, ketika media massa banyak dijadikan alat propaganda perang dan politik. Mulai dari Lenin di Rusia, Mussolini di Italia, sampai Hitler dengan Nazi-nya di Jerman; semuanya melakukan propaganda melalui media massa. Di masa itu, media massa diyakini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi khalayak. Asumsi ini menempatkan khalayak dalam posisi pasif, sedangkan media massa dianggap lebih superior.

Kala itu, kurang lebih tahun 1920-1930an, saat masing-masing negara yang terlibat Perang Dunia II gencar melakukan propaganda perang terhadap rakyatnya, berkembang apa yang disebut dengan Bullet Theory, beberapa menyebutnya dengan Magic Bullet Theory, dan Hypodermic Needle Theory. Teori ini mengasumsikan massa yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa (Rakhmat, 2003), di saat yang sama juga menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien (Rakhmat, 2003), sehingga massa menjadi tidak berdaya dan pasrah pada apa yang dikatakan oleh media massa.

Dari penamaannya saja, “Bullet Theory”, dapat dilihat betapa teori ini sangat dipengaruhi oleh propaganda politik dan Perang Dunia II, dimana media massa pada saat itu boleh jadi menjadi satu-satunya sumber informasi mengenai Perang Dunia II serta kondisi perpolitikan di suatu negara. Oleh karena massa mengandalkan media yang saat itu digunakan untuk propaganda, penerimaan bulat-bulat informasi dari media massa menjadi sebuah keniscayaan.

McQuail (2005) memasukkan fase dimana media massa diposisikan dalam posisi superior dalam babak pertama sejarah efek komunikasi massa. Menurutnya, media dianggap memiliki kekuatan untuk membentuk opini dan kepercayaan, mengubah gaya hidup, dan membentuk perilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh pengirim pesan. Namun demikian, teori dan konsep yang dikemukakan pada fase ini tidaklah didasarkan pada penelitian ilmiah, akan tetapi hanya bersandar pada observasi oleh karena banyaknya media baru seperti film dan radio yang masuk dan mewarnai kehidupan masyarakat.

Penelitian mengenai media massa kemudian berkembang. Carl I. Hovland pada tahun 1940-an melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film terhadap tentara. Hasilnya adalah, pesan dalam film tersebut efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak mengubah sikap (Rakhmat, 2003). Superioritas media massa sebagaimana diasumsikan dalam Bullet Theory kemudian seakan “sirna” dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld pada pemilu 1940, dimana mereka ingin mengetahui pengaruh media massa dalam kampanye pemilu pada perilaku pemilih. Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa media massa sama sekali tidak berpengaruh terhadap perilaku pemilih, oleh karena pemilih sudah memiliki preferensi terlebih dahulu siapa kandidat yang akan mereka pilih. Penelitian tersebut juga menemukan bahwasanya media massa lebih berfungsi untuk memperteguh preferensi yang sudah ada. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa pengaruh media massa disaring oleh pemuka pendapat. Hal ini dapat dipahami karena di masa itu tidak setiap orang memiliki akses kepada media massa sebagaimana kita saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses terhadap media massa. Oleh karena itu, faktor hubungan interpersonal dari opinion leader kepada khalayak yang lebih luas menjadi signifikan.

Dari penelitian Lazarsfeld tersebut dapat dilihat bahwa, khalayak bukan lagi massa yang pasif yang menerima apa saja yang media massa informasikan. Khalayak menyaring informasi melalui proses yang disebut dengan terpaan selektif (selective exposure) dan persepsi selektif (selective perception).

Pada tahun 1960, Joseph Klapper, merangkum hasil-hasil penelitian dan menyimpulkan antara lain: efek komunikasi massa terjadi lewat serangkaian faktor-faktor perantara. Faktor-faktor perantara itu termasuk proses selektif (persepsi selektif, terpaan selektif, dan ingatan selektif), proses kelompok, norma kelompok, dan kepemimpinan opini. (Rakhmat, 2003)

Oleh karena para peniliti kemudian menyadari sulitnya melihat efek media massa pada manusia, fokus penelitian kemudian bergeser dari media massa sebagai komunikator kepada khalayak sebagai komunikan. Di era ini, khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini kemudian dikenal dengan “Uses and Gratification” (Penggunaan dan Pemuasan) (Rakhmat, 2003).

Pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz (1959), teori dari cendikiawan Yahudi itu mengasumsikan bahwa, karena penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan, maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemenuhan kebutuhan tercapai (Rakhmat, 2003). Pendekatan ini memandang media massa sebagai objek pemenuhan kebutuhan dan pemuasan, sedangkan khalayak adalah pihak yang aktif dalam mengonsumsi informasi media massa. Namun demikian, para ahli menggolongkan pendekatan “Uses and Gratification” sebagai sebuah teori efek media, dengan asumsi bahwa media massa memiliki efek moderat.

Agenda Setting adalah teori yang selanjutnya berkembang. Dirumuskan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L. Shaw (1960-an), teori agenda setting memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan, dimana fokus perhatiannya adalah efek kognitif. Teori ini dikembangkan dari asumsi yang sebelumnya dikemukakan oleh Bernard Cohen (1963) bahwa media massa memang tidak dapat mempengaruhi pikiran khalayak, akan tetapi media massa berhasil dalam memberitahu khalayak tentang apa mereka harus berpikir. Hal ini dikarenakan media massa memiliki “kuasa” untuk memilih informasi yang dikehendaki dan, berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk persepsinya tentang berbagai peristiwa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan McComb dan Shaw pada pemilihan presiden di tahun 1968, penelitian yang menjadi cikal bakal teori Agenda Setting ini menemukan bahwa sebagian besar responden penelitian berpikir bahwa isu publik yang paling penting adalah isu mengenai pemilihan presiden, dan bahwa apa yang diberitakan oleh media massa lokal dan nasional adalah isu yang paling penting.

Berangkat dari konsep Agenda Setting yang masih terus dikembangkan sampai sekarang, tren perspektif dalam melihat efek media massa mulai kembali mengarah pada kuatnya pengaruh media massa atas diri khalayak.

Adalah Elisabeth Noelle – Neumann (1916-2010), seorang ilmuwan politik Jerman yang mengatakan bahwasanya penelitian-penelitian media massa terdahulu luput akan tiga faktor penting: ubiquity, kumulasi pesan, serta keseragaman wartawan. Ubiquity merujuk pada media massa yang mampu mendominasi dan berada dimana-mana, sehingga khalayak tidak mampu menghindar darinya. Kumulasi pesan merujuk pada pesan media massa yang diberikan tidak utuh, namun sepotong-sepotong dan bersifat kumulatif. Berita kebakaran, misalnya, tidak akan mungkin dalam satu waktu media massa mendapatkan beritanya dengan utuh. Setiap hari ada perkembangan baru untuk diliput dan diturunkan menjadi berita. Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa (Rakhmat, 2003). Dampak ini diperkuat dengan keseragaman wartawan dalam arti bahwa apa yang diberitakan media massa, apapun jenis media dan korporasi medianya, nyaris sama dan serempak. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa. Hal ini lebih jauh lagi akan berdampak pada anggapan khalayak bahwa opini yang diarahkan media massa merupakan opini mayoritas. Sehingga pihak-pihak yang memiliki opini berbeda akan cenderung diam, tidak berkenan menyatakan pendapatnya yang bertentangan dengan opini dominan. Inilah mengapa Noelle – Neumann menyebutnya dengan “The Spiral of Silence”.

Sumber:

Rakhmat, Jalaluddin, Drs. M.Sc., Psikologi Komunikasi. 2003. Remaja Rosda Karya, Bandung.

McQuail, Dennis, McQuail’s Mass Communication Theory 5th Edition. 2005. SAGE Publications.

Advertisements

Pengantar Komunikasi Antar Budaya

Saat kita mendengar kata-kata “budaya” yang terbayang di benak kita adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan symbol-simbol etnisitas, kesukuan, atau keagamaan. Tari perut identik dengan budaya Timur Tengah, Kimono identik dengan Jepang, dan lelaki bertopi lebar identik dengan Mexico. Pemahaman tersebut ada benarnya. Akan tetapi, saat kita memulai kuliah Komunikasi Antar Budaya ini, harus kita ingat bahwa budaya pada dasarnya bukan hanya yang terbatas pada batas-batas geografis semata. Sebagaimana Gerry Philipsen, seorang ahli Komunikasi Antar Budaya dari University of Washington (dalam Griffin, 2006) mendeskripsikan budaya dengan, “a socially constructed and historically transmitted pattern of symbols, meanings, premises and rules” (bentuk-bentuk symbol, makna, gagasan, dan aturan yang dikonstruksi secara social dan dipertukarkan secara historis). Dengan kata lain, kita dapat menarik pada satu pemahaman mendasar dari budaya, bahwa budaya adalah code atau “konvensi” atau sesuatu yang diperoleh sebagai hasil kesepakatan bersama.

Komunikasi dan Budaya, menurut banyak ahli adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Samovar dan Porter (2003) menyebut Komunikasi dan Budaya bekerja “tandem”, seakan tidak bisa dipisahkan yang mana suara dan yang mana gaungnya. Kita harus ingat bahwa kita tidak lahir ke dunia dengan pengetahuan bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara makan dan apa-apa saja yang bisa dimakan dan apa-apa saja yang tidak boleh atau tidak dapat dimakan. Contoh sederhananya, keju “basi” di Indonesia, sudah pasti dibuang; sedangkan keju “basi” (baca: fermentasi) di Perancis menduduki strata paling atas dalam makanan. Kita mengonsumsi produk sapi nyaris tanpa mubazir, mulai dari kepala, lidah, daging, isi perut (jeroan), ekor, susu, sampai tulang-tulangnya; akan tetapi di India, sapi adalah binatang terhormat titisan dewa. Budaya adalah jawaban dari semua perbedaan di atas, dan komunikasi adalah sarana untuk mensosialisasikan budaya tersebut.

Adalah kedua orang tua kita dan lingkungan yang mengajarkan kita bahwa perempuan yang selalu datang saat kita menangis, menyusui dan mengganti popok kita saat kita kecil harus dipanggil “Mama”, dan laki-laki yang mendampinginya harus kita panggil “Papa“, Lingkungan pula yang mengajarkan kita bahwa “Mama” mengurus kita di rumah, dan “Papa” pergi bekerja mencari nafkah. Semua hal tersebut kita pahami melalui komunikasi dimana pada akhirnya, komunikasi membentuk budaya, dan budaya membentuk pola komunikasi tertentu.

Sampai di sini, kita mendapati pertanyaan utama mata kuliah ini:

Untuk apa kita mempelajari Komunikasi Antar Budaya?

Samovar dan Porter (2003) mengatakan bahwa usia komunikasi antar budaya nyaris setua usia kemanusiaan itu sendiri. Agama yang sekarang kita anut, apakah itu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Buddha pada dasarnya adalah hasil dari Komunikasi Antar Budaya dari para penyebarnya di masa lalu. Agama Buddha pernah tersebar dari India, Yunani, Afghanistan, kawasan Asia Timur hingga sampai ke Indonesia. Islam pun, di masa jayanya pernah merambah Afrika, Eropa, hingga kawasan Rusia. Tidak banyak yang tahu, bahwa jauh sebelum Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, konon agama Yahudi sudah masuk ke Indonesia melalui pedagang rempah dari Iran. Artinya, manusia senantiasa berkomunikasi dengan manusia lain untuk memenuhi tujuannya. Apakah untuk berdagang, untuk menjajah, untuk menguasai, atau untuk menyebarkan agama. Apapun itu. Di sinilah pertukaran budaya terjadi, melalui komunikasi.
Ibnu Battutah, seorang explorer sekaligus pembawa misi diplomasi Sultan India, yang menjelajahi dunia tiga kali lebih luas daripada yang dijelajahi Marcopolo; seorang Muslim yang taat pernah terkaget-kaget dan tidak ingin keluar dari pemondokannya manakala ia singgah di China. Kekagetannya salah satunya adalah karena bangsa China, menurutnya biasa memakan makanan yang aneh, seperti ular; dan biasa memakan babi yang haram bagi seorang Muslim. Selain itu, kedai-kedai di China biasa menghibur pengunjung dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh perempuan. Hal itu sangat mengejutkan sekaligus mengganggu bagi Ibnu Battutah. Akan tetapi, oleh karena memiliki kapabilitas sebagai seorang diplomat, beliau tentu berhati-hati dalam bertingkah laku dan cukup memahami hal tersebut sebagai bagian dari kebudayaan setempat.

Itu contoh pertukaran misi diplomasi di masa lalu, saat dimana bahkan listrik belum ditemukan. Di masa kini, pertukaran budaya melalui komunikasi terjadi hampir setiap hari dengan ditemukannya media massa, khususnya internet dalam dasawarsa terakhir ini. Melalui media massa pula euphoria K-Pop di kalangan muda mudi Indonesia terbentuk, dan nyaris semua kita tahu apa arti “Annyong Haseo” tanpa perlu belajar bahasa Korea secara khusus.

Samovar dan Porter (2003) berpendapat bahwa terdapat sejumlah hal yang menjadi factor tersebarnya interaksi cultural. Pertama, ditemukannya banyak teknologi terutama dalam bidang transportasi dan system komunikasi. Dalam hal ini, seseorang mungkin akan sarapan di San Francisco dan makan malam di Paris dengan mengendarai kendaraan dengan kecepatan super sonic. Kedua, adanya system komunikasi yang inovatif seperti satelit komunikasi dan jaringan internet tidak dapat dipungkiri juga mendukung tersebarnya gagasan dan pemikiran ke seluruh dunia dalam waktu yang relative serentak. Ketiga, globalisasi ekonomi. Pasca perang dunia ke-2, sector ekonomi menjadi tulang punggung hidupnya negara Amerika Serikat yang babak belur akibat perang. Dari sini munculah gagasan untuk memperluas wilayah distribusi barang yang terus berkembang hingga sekarang. Kita bisa menikmati McDonald yang kurang lebih sama di Jakarta dan di ujung Michigan, menenggak Coca-Cola yang serupa dengan yang ditenggak pria berkulit hitam di Capetown, Afrika Selatan. Keempat adalah perubahan pola imigrasi. Bagi negara seperti Amerika Serikat atau Canada, saat ini negara mereka telah tumbuh menjadi negara multinasional. Gelombang imigran dari China, Jepang, Turki, Timur Tengah, Afrika, India datang dan berkumpul, berinteraksi dan berbagi ruang dengan mereka yang turunan Eropa. Adapun dalam konteks Indonesia, lebih tepat apabila disebutkan bahwa urbanisasi telah mempengaruhi interaksi budaya. Jakarta, “tanah surga” bagi banyak pemuda desa, saat ini bukan lagi milik orang Betawi, akan tetapi sudah dimiliki oleh semua yang membangun kehidupan di ibukota. Jawa, Tionghoa, Batak, Sunda, semua bisa kita temukan di Jakarta.

Di dunia yang diciptakan Tuhan untuk kita tinggali bersama, kita akan selalu berbaginya dengan manusia lain. Dan seiring dengan semakin cepatnya jaman berganti, teknologi bertumbuh dan berkembang, kita perlu memahami apa yang orang lain pahami. Kita perlu mengetahui apa yang orang lain ketahui, serta bagaimana ia mengetahui apa yang ia ketahui tersebut.

Dari paparan di atas, saya mempersilahkan Anda untuk menyimpulkan sendiri pentingnya Komunikasi Antar Budaya. Namun di atas segalanya, di atas segala alasan teoritis yang mungkin akan kita pelajari atau kita dapatkan selama perkuliahan, saya, personally, berpegang pada satu keyakinan, bahwa Tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

Ceritanya sih Mau Menganalisis Framing

Aku akan memulai thesis-ku. Analisis Framing. Dan aku… masih terlalu dodol untuk memulai, untuk memilih memulai dari mana. Sementara rekan-rekanku sudah meluncurkan roket, aku masih duduk-duduk nonton TV sambil ngemil di rumah! Hiks Hiks…

So, hari ini aku putuskan untuk membaca buku ‘Analisis Framing’ dari Eriyanto. Don’t laugh! karena, yep, aku memang harus belajar dari NOL! Remember, aku dulu anak humas bukan anak jurnal. Jadi aku memang nggak pernah belajar satu semester pun khusus tentang analisis framing. Oh God!

Sebenernya sih, aku sudah paham, tapi belum dalam. Belum cukup dalam untuk bisa diimplementasikan dalam sebuah thesis. Dan bukunya Pak Eriyanto yang ada pengantarnya Prof Deddy Mulyana ini sangat bermanfaat buat aku.

*Oh Bagus, dan aku mulai diare karena susu yang baru kuminum. Mamaku memberiku terlalu banyak susu waktu kecil, jadi sekarang lambungku mungkin sudah muak dengan susu*

Anyway, jadi di buku ini disebutkan sedikit bahwa untuk memahami teks, tidak cukup mumpuni apabila menggunakan paradigma positivistik. Walaupun faktanya, masih banyak penelitian mengenai teks-teks media yang menggunakan paradigma positivistik. Prof. Deddy Mulyana menyebutkan, “Padahal, seperti ditunjukkan model-model konstruktivis, fenomena komunikasi tidak berada dalam vakum sosial. Alih-alih, setiap kata, frase, kalimat, atau wacana secara keseluruhan bermakna ambigu, ganda, dan terkadang paradoks, karena terikat oleh konteks ruang, konteks waktu, dan konteks sosial”.  So, komunikasi tidak tercipta di ruang hampa.

Shinta likes this! Ah, seandainya saja semua buku saya bisa dipahami semudah memahami tulisan Pak Deddy… U know, membuat tulisan yang keren-dan-cerdas-dan-menjual-dan-oke punya itu nggak harus bikin njelimet yang baca. Justru seperti kata Prof. Alwi Dahlan, semakin cerdas seseorang, semakin pintar dia menjelaskan ilmunya dengan bahasa yang sederhana…

Lanjooot!!

then, Prof. Deddy melanjutkan. Mengutip Peter D. Moss (1999), wacana media massa, termasuk berita surat kabar, merupakan konstruk kultural yang dihasilkan ideologi karena, sebagai produk media massa, berita surat kabar menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial.

Kerangka tersebut pastinya adalah kerangka versi media massa tersebut. Ini sih sebenarnya kembali ke pelajaran dasar pengantar ilmu komunikasi bahwa manusia itu memiliki Frame of Reference dan Field of Experience yang berbeda-beda. *sotoy banget pake -sih-* Artinya, media massa tidak akan pernah lepas dari yang namanya subjektivitas, walaupun katanya “knowledge to elevate”, “layak dibaca dan perlu”, “aktual, tajam, terpercaya” atau apapun-lah tagline-nya. Nah, milih tagline aja udah subjektif…

Informasi dari media massa yang ditangkap oleh panca indera adalah hasil respon panca indera sang jurnalis. Apa yang ditulis di paragraf pertama itu adalah murni kehendak jurnalis *dan kehendak pemred dan pastinya kehendak Allah*. Itu aja udah subjektif yang pertama. Belum beritanya sampe ke meja redaktur, ada yang dipotong mungkin, ada yang dihapus. Itu udah subjektif yang kedua. Belum lagi ternyata beritanya bertentangan dengan visi dan misi perusahaan. Subjektif yang ketiga.

Prof. Deddy Mulyana mengatakan, “Melalui penggunaan bahasa sebagai simbol yang utama, para wartawan mampu menciptakan, memelihara, mengembangkan, dan bahkan meruntuhkan suatu realitas…

“.. Dus,wacana media massa pada dasarnya menawarkan kerangka makna alternatif kepada khalayak untuk mendefinisikan dirisendiri, orang lain, lingkungan sosial, peristiwa-peristiwa, dan objek-objek di sekitar mereka”.

Begitu sampai di khalayak, pencipta teks-teks tadi tidak bisa melakukan apa-apa kan? the author should die. Pemaknaan itu subjektif. Tapi bagaimana khalayak bisa menciptakan makna tertentu, teks-teks media massa bisa mengarahkannya. Media berarti dipandang powerful ya? *ngomong sendiri*

Media mampu memberikan definisi, memberikan label, memberikan skala kepentingan terhadap suatu isu. Inilah mengapa jihad identik dengan kekerasan, dan Islam identik dengan terorisme. Hmmm… Ini adalah penjajahan bentuk baru! seperti hit and run. Sesudah membombardir khalayak dengan teks-teks, media lepas tangan. Apakah media mau bertanggung jawab jika pembaca koran jadi berburuk sangka pada SBY setelah membaca tajuk rencananya?

huff… okay, i’m way out of context…

Prof. Deddy Mulyana mengatakan, “Setelah membaca buku ini seyogianya para wartawan sadar bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya objektif, adil dan netral dalam memberitakan suatu peristiwa, seperti yang mereka klaim selama ini. Mereka juga seyogianya lebih mawas diri untuk mengantisipasi setiap risiko yang timbul sebagai akibat dari pemberitaan yang mereka lakukan. tugas wartawan sebenarnya bukanlah untuk menyingkapkan kebenaran, karena kebenaran mutlak itu tidak akan pernah kita ketahui, tetapi menanggalkan semaksimal mungkin bias-bias yang mereka anut selama ini”.

Wallahu a’lam. Aku masih belajar, masih mengeja, masih terbata-bata.

Oh iya, ada yang janggal deh dengan bukunya Pak Eriyanto ini. Prod. Deddy dari awal menyebut-nyebut paradigma konstruktivisme, tapi di bab-bab setelahnya Pak Eriyanto malah menyebut konstruksionis… Apakah mereka membicarakan hal yang sama padahal kedua paradigma itu berbeda? Pak Eriyanto juga menyebut-nyebut Peter Berger dalam paradigma konstruksionisme. Padahal yang aku tahu selama mengikuti kelas Media dan Konstruksi Sosial, pemikiran Om Berger itu masuk dalam konstruktivisme. Atau bisa applied both? Sayang aku tidak menemukan FB-nya Pak Eriyanto… Aku jadi agak susah melanjutkan…

*_*

 

‘Teori dan Ilmu Komunikasi’

Pentingnya Teori Komunikasi
Teori Komunikasi mengacu pada pengetahuan bersama yang terdapat pada teori-teori yang berhubungan dengan proses komunikasi. Dengan mempelajarinya, seseorang akan mampu untuk melihat dari paradigma yang berbeda, serta memiliki pemahaman dan pemikiran yang lebih luas karena teori merupakan sarana seseorang menemukan hal-hal baru.

Ketertarikan yang besar dalam bidang komunikasi dimulai setelah Perang Dunia I. Terdorong oleh kondisi politik kala itu, propaganda dan persuasi sebagai salah satu bidang komunikasi banyak dipelajari. Bidang komunikasi semakin berkembang seiring dengan perkembangan bidang yang lain, seperti pendidikan dimana komunikasi dipelajari salah satunya untuk diskusi kelompok; juga ekonomi dimana komunikasi dipelajari dalam kaitannya dengan pemasaran. Setelah Perang Dunia II, tepatnya setelah ilmu sosial disahkan sebagai disiplin ilmu, kajian komunikasi semakin berkembang menjadi kajian yang cukup penting.

Kajian komunikasi, dalam perkembangannya, dibangun atas perspektif yang berbeda antara Amerika Serikat dan Eropa. Studi di Amerika Serikat mengedepankan nilai-nilai kuantitatif untuk mencapai hasil objektif. Sementara di Eropa, yang banyak dipengaruhi ajaran Marxis, cenderung menggunakan Teori-teori kritis.
Selain perbedaan perspektif antara studi komunikasi di Amerika dan Eropa, perbedaan cara pandang terhadap ilmu komunikasi juga muncul antara perspektif barat dan timur. Perspektif barat (dalam hal ini mencakup Eropa dan Amerika) cenderung individualis, memilih mengkaji bagian-bagian dari sebuah proses ketimbang melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang utuh, dan memandang hubungan terbatas pada hubungan antar individu. Kontradiktif dengan barat, perspektif timur (wilayah Asia) cenderung mengedepankan nilai spiritual dan melibatkan emosi, memandang sebuah proses sebagai satu kesatuan utuh dan memaknai hubungan sebagai hubungan antara status dan peran dalam masyarakat.

Perbedaan-perbedaan di atas hendaknya menambah referensi yang dapat digunakan untuk memberikan definisi terhadap ilmu komunikasi. Komunikasi merupakan kata yang seringkali digunakan dalam keseharian sehingga sulit untuk memberikan definisi ilmiahnya.

Frank Dance mencoba memberikan tiga konseptual yang membentuk dimensi dasar definisi komunikasi, yaitu tingkat pengamatan, tujuan, dan penilaian normatif. Littlejohn dalam bukunya memuat tabel yang berisi sembilan perilaku yang dapat didefinisikan sebagai komunikasi. Tabel tersebut merupakan proses antara sender atau pengirim pesan dan penerima pesan. Tabel tersebut juga dibuat bedasarkan tingkat kesengajaan/tujuan dari pengirim dan tingkat penerimaan dari penerima.

Proses Penelitian Komunikasi
Terdapat tiga tahap dalam penelitian sebuah ilmu. Pertama adalah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan akan mendorong seorang peneliti untuk mencari jawabannya yang mana merupakan inti dari penelitian itu sendiri. Kedua adalah Observasi. Dalam Observasi ini seorang peneliti menggunakan berbagai metode untuk mengumpulkan data. Ketiga, menyusun jawaban dari pertanyaan yang dikemukakan di awal berdasarkan hasil Observasi. Metode penelitian sendiri dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk keilmuan: Pengetahuan Ilmiah, Pengetahuan Humanis, dan Ilmu Sosial.

Komunikasi merupakan bagian dari ilmu sosial yang berada antara Pengetahuan Ilmiah dan Pengetahuan Humanis. Pengetahuan Ilmiah mengedepankan objektivitas dan pengukuran sebagaimana ilmu-ilmu alam. Sedangkan Pengetahuan Humanis bicara pada tataran yang lebih manusiawi. Komunikasi dituntut untuk menyajikan data sesuai dengan fakta yang objektif, sebagaimana Pengetahuan Ilmiah; akan tetapi tidak boleh mengesampingkan objek penelitian ilmu komunikasi, yaitu manusia; sebagaimana Pengetahuan Humanis.

Membagi Teori Komunikasi
Pada buku Littlejohn edisi ke-6, komunikasi dibagi berdasarkan jenisnya:
– Teori struktural-fungsional. Teori ini menggunakan sudut pandang teori sistem yang memandang komunikasi sebuah sistem yang memiliki ’jaringan’ untuk menggambarkan hubungan antar bagian dalam proses komunikasi. Beberapa karakter teori Struktural-Fungsional yaitu, pertama mengedepankan stabilitas dari waktu ke waktu; kedua, sebuah tindakan dipandang sebagai suatu ketidaksengajaan daripada sebuah tindakan yang memiliki maksud; ketiga, percaya kepada realitas independen melalui serangkaian pengukuran empiris; keempat, pemisahan antara simbol dan bahasa dengan objek itu sendiri atau disebut dengan dualisme, terakhir adalah penggunaan hubungan korespondensi antara simbol atau bahasa dengan fakta di dunia nyata.
– Teori Kognitif-Behavioral. Teori ini berangkat dari ilmu psikologi behavioral yang menyatakan bahwa perilaku manusia sebagai hasil dari proses stimulus-respon. Teori ini menambahkan pengolahan pesan sebagai proses di antara stimulus dan respon tersebut.
– Teori Interaksionis. Teori ini memandang kehidupan sebagai sebuah interaksi dimana komunikasi adalah sarana untuk mempelajari hal-hal dalam hidup itu sendiri. Komunikasi dipandang sebagai perekat dalam masyarakat.
– Teori Interpretif. Teori interpretif berusaha menemukan makna pada tindakan dan bacaan. Fokusnya adalah pada bahasa yang digunakan untuk memahami kejadian yang dialami individu.
– Teori Kritis. Teori Kritis banyak dipengaruhi oleh ajaran Marx. Teori ini bukan saja berusaha mengobservasi akan tetapi juga mengkritisi, terutama konflik kepentingan yang ada dalam masyarakat serta pengaruh komunikasi terhadap dominasi kekuasaan.
Pembagian ini kemudian digantikan oleh uraian Craig pada buku edisi ke-7 yang membagi tradisi dalam komunikasi sebagai berikut:
Tradisi Retorika memandang komunikasi sebagai seni praktis. Komunikasi membangun strategi, dan pendekatan umum untuk menggerakkan audiens dengan menggunakan daya tarik logika dan emosional.
Tradisi Semiotika berpusat pada lambang-lambang dan simbol-simbol. Tradisi ini memandang komunikasi sebagai jembatan antara dunia pribadi seorang individu dimana lambang-lambang memperoleh makna yang dapat atau tidak dapat dibagi.
Tradisi Fenomenologi berkonsentrasi pada pengalaman pribadi dan komunikasi dipandang sebagai pengalaman pribadi yang dibagi melalui dialog.
Tradisi Cybernetika berkonsentrasi pada proses transmisi informasi dan permasalahan seputar cybernetika biasanya adalah tentang gangguan dalam komunikasi dan kegagalan komunikasi.
Tradisi SosioPsikologis berfokus pada kajian komunikasi mengenai ekspresi, interaksi dan pengaruh.
Tradisi Sosiokultural memusatkan pandangan pada pranata sosial dan memandang komunikasi sebagai pengerat dalam pranata sosial.
Tradisi Kritis cenderung memandang komunikasi sebagai pengaturan kekuasaan dan tekanan penguasa secara sosial. Teori ini muncul sebagai hasil dari permasalahan seputar ideologi, kekuasaan dan dominasi penguasa.

Sedangkan berdasarkan tingkatannya komunikasi dibedakan atas: komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa. Tingkatan di sini bergantung kepada jumlah orang yang terlibat di dalamnya serta konteks komunikasi itu sendiri.

Selain berdasarkan jenis dan tingkatan, terdapat elemen-elemen penyusun inti teori komunikasi, yaitu pengembangan pesan, pemaknaan dan penciptaan pesan, struktur pesan, dinamika interaksi, serta dinamika institusi dan masyarakat.

Membangun Inti Teori Komunikasi
Teori inti penting karena dapat membantu kita memahami komunikasi secara umum. Teori inti digambarkan sebagai berikut ini:

Pertama, teori inti megajarkan kita tentang pengembangan pesan. Kedua, teori inti berhubungan dengan pemaknaan dan penciptaan makna. Ketiga, teori inti mendiskusikan struktur pesan, yang termasuk di dalamnya unsur pesan dalam tulisan, pembicaraan, dan bentuk komunikasi non verbal. Keempat berhubungan dengan dinamika interaksi. Ini termasuk hubungan dan ketergantungan antara komunikator dan penciptaan dialog dan penciptaan makna.

Terakhir, teori inti membantu kita memahami dinamika institusi dan kemasyarakatan atau bagaimana kekuasaan dan sumber daya didistribusikan dalam masyarakat, bagaimana budaya diproduksi, dan interaksi antar segmen dalam masyarakat.