Protected: Saya Ini Apalah

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Sebelum Menjadi Doktor

Banyak yang bertanya ke saya, “kapan mau ambil doktor?”. Pertanyaan ini datang dari kolega dosen, maupun mahasiswa. Sejujurnya saya sendiri sampai sekarang masih “blur”, tentang esensi menjadi doktor selain kebutuhan untuk menunjang karir sebagai dosen.

Tapi kalau ditanya, “nggak pengen sekolah lagi?”. Wah, saya pengen banget sebenarnya. Sekolah atawa belajar bukan berarti harus menjadi doktor, bukan? Apalagi buat orang yang sangat random macam saya. Liat iklan kursus terapi anak berkebutuhan khusus tersertifikasi dari singapura, saya pengen. Liat iklan kursus bahasa arab gratis, pengen juga. Ada akademi parenting, ya pengen juga. Ada kursus tahsin, perbaikan baca Al-Quran juga saya mau. Belakangan liat ada kursus jahit juga jadi pengen. Kebanyakan pengen memang saya ini, tapi jadi nggak ada yang jalan. Kendala utamanya adalah manajemen waktu yang buruk. Hiks.

Menjadi doktor, selain menghabiskan uang dan waktu, juga tenaga yang tidak sedikit. Dan di atas segalanya, sekali lagi, hati saya belum sreg. Belum sreg dengan diri sendiri.

Menata niat adalah PR pertama yang harus saya selesaikan, apabila saya memutuskan untuk menjadi doktor. Niat semata-mata karena ingin mengagungkan Allah di atas segalanya. Melepas semua “pride” bahwa ilmu itu bukan milik saya, tapi milik Allah.

Nah kan, berat banget kan?

Gimana coba menata hatinya?

I don’t think I can take the stress. Yet.

Besides, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan sebelum saya merasa cukup “matang” sebagai manusia nan tiada berpunya selain apa yang Allah beri:

1. Saya ingin hamil dan punya anak. Menjadi doktor tidak pernah terpikir oleh saya sebelum saya menjadi dosen. Saya itu inginnya jadi ibu untuk anak-anak saya, jadi sekolah pertama mereka. So I wanna be a mother first, baru yang lain-lain.

2. Saya ingin naik haji.
Naik haji, semestinya, menurut hemat saya yang boros dan belum pernah pergi haji; membuat manusia merasa “rendah” di hadapan Allah. Karena tidak ada yang dibawa kelak ke hadapan-Nya. Baju, rupa, harta, tahta, dan seluruh puja puji manusia hanya akan menambah “item” yang harus dipertanggungjawabkan di sisi-Nya. Karena sebaik-baik bekal, adalah taqwa. Kutipan ini jelas ter-stated dalam Al Quran ketika membahas perjalanan haji.

3. Saya ingin punya hafalan Quran.
Meski tidak banyak. Meski maju mundur cantik. Meski ah… seberapalah yang bisa saya hafal; saya ini bukan Imam Syafii, bukan pula Wirda Yusuf Mansur (kok ga apple to apple ya). Tidakkah saya harusnya malu kepada Allah?? Buku-buku ilmuwan yang mengingkari Allah saya baca, pelajari dan ajarkan tapi firman-Nya yang jelas kebenarannya malah saya kesampingkan?

4. Saya ingin mengkhatamkan risalah Nabi Muhammad saw.
Saya ingin mengenal dulu, beliau SAW yang mulia, sebaik-baik manusia. Saya ingin menjadikan beliau SAW satu2nya idola. Sehingga saya memandang segala sesuatu dengan sudut pandangnya. Bukankah dia, lelaki sederhana dari gurun pasir yang dulunya tidak ditengok pembesar-pembesar Romawi; yang ajarannya berhasil mengguncangkan dunia dan tersebar ke seantero jagad? Bukankah dia, lelaki agung yang tidak meninggalkan istana megah sebagaimana pemimpin agung lainnya, yang ajarannya membuat berbagai pihak yang tidak senang dan hingga hari ini, bahu membahu berusaha memadamkan cahayanya?

5. Saya ingin plesiran.
Mengunjungi negeri-negeri tempat Islam bernaung dan pernah bersinar gilang gemilang. Turki, spanyol, china. Turki alias Konstantinopel adalah kota yang sudah diramalkan oleh Nabi SAW akan diterangi oleh Islam. Spanyol, dulu, pernah menjadi pusat ilmu Islam dengan bangunan mewah sebagai simbol kemapanan (atau mungkin kemewahan) walaupun akhirnya kemewahan itulah yang menjadi penyakit yang membusukkan bagi ummat Islam. China? Indonesia berhutang jasa pada bangsa China. Jasa membantu menyebarkan Islam di Nusantara. Maka, saya ingin sekali mengunjungi negeri tempat nenek moyang saya berasal. My 1/8 blood. Apalagi, China memeluk Islam jauh lebih dulu dari Nusantara dan disebarkan langsung oleh sahabat Rasulullah saw sekaligus pamanda beliau, Saad Bin Abi Waqqash.

So, that’s basically what I want to do before applying for my post-grad. And next time someone ask me that question again, I guess I’ll just give him/her this note.

Terima Kasih, Pak Jokowi

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia,

berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”

(HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

picture002

Saya bukan pemilih Jokowi, but I do always try to stand on the right side, sebelum “right side” itu dikuasai para pemilihnya yang entah benar di sisi Allah atau tidak. Saya juga bukan penggemar Jokowi, bahkan ketika orang-orang memujanya ketika menjadi Walikota Solo. Sekarang pun, jika boleh memilih, saya tidak ingin dipimpin oleh Jokowi, walaupun saya sebagai orang beriman wajib meyakini ketentuan Allah bahwa memang beliau-lah yang terbaik untuk rakyat Indonesia.

Betapa tidak, Jokowi seakan menjelma menjadi sosok suci yang membuat semua orang berbaik sangka padanya. Jangan berani-berani mengkritisi Jokowi, kalau tidak mau dikuliti oleh penggemar fanatiknya, yang ironisnya kadang mereka adalah teman dekat kita yang kita kenal lama; sedangkan Pak Jokowi…bahkan ulang tahun teman kita aja, beliau nggak tau. Sungguh perilaku yang berbeda yang ditampilkan masyarakat ketika era SBY.

Padahal, era Jokowi yang belum lagi genap setahun memerintah ini, bukannya mulus-mulus saja. Saya, sebagai orang yang ingin menempatkan diri dalam golongan Islamis (semoga saya pantas), merasa dalam beberapa hal, ada upaya de-islamisasi di era Jokowi. Kaum Islamis seakan dengan sengaja tidak diberi tempat. Padahal katanya dalam sistem demokrasi, semua aspirasi didengarkan. Tapi aspirasi kami (atau setidaknya teman-teman, dan ustadz-ustadz panutan saya yang shalih shalihah) kerap ditempatkan menjadi bulan-bulanan. Dan seolah-olah bebas saja orang mengolok-olok hanya karena seseorang itu “Islamis”.

Yang paling menyakitkan buat saya adalah masalah pelemahan harga rupiah dan pernyataan Jokowi kalau dana haji turun. Dana haji turun, ketika dihitung dalam dollar. Bukan dalam rupiah. Memangnya sebagian masyarakat Indonesia yang ingin naik haji bayar haji dengan dollar? Atau punya kebun dollar?

Kan, saya jadi sensi lagi.

Kalau mau diingat-ingat, pasti tidak akan selesai. Saya tidak akan pernah puas dengan Jokowi. Atau jangan-jangan dengan siapapun pemimpinnya, karena saya inget juga pernah sebel sama SBY, sama Gus Dur, dan sama bu Mega. Rasanya cuma sama Pak Karno saya nggak punya keluhan, karena saya memang belum lahir. Bahkan masih jauh dari proses produksi. Padahal, saya juga nggak lebih baik dari presiden-presiden itu. Cuma karena saya rakyat jelata, jadi seakan boleh dan bebas-bebas aja mencari cela.

Serem juga ya saya. Kok kayak nggak bersyukur sama pemimpin.

Padahal, sebenarnya banyak juga kok hal positif yang diberikan Jokowi yang berhak kita syukuri.

Dalam isu Rohingya, misalnya. Pak Jokowi sudah sangat baik mengizinkan saudara-saudara saya sesama Muslim dari etnis Rohingya untuk, paling tidak, sementara diterima di Indonesia dengan amat baik. Dalam mencitrakan pribadinya, Pak Jokowi selalu mengesankan pribadi yang sederhana, yang mudah-mudahan bisa menjadi panutan untuk rakyat Indonesia. Termasuk dalam menyelenggarakan pernikahan anaknya yang menurut saya, untuk urusan pemimpin negara cukup sederhana. Ketika memilih Bu Susi menjadi menteri pun, walaupun awalnya saya ikutan mencibir, sebenarnya menunjukkan bahwa untuk Pak Jokowi seseorang itu tidak hanya dilihat dari deretan gelarnya saja. Dan di era Jokowi, Permendag No.6/2015 mengenai pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol disahkan (long live Pak Rahmat :’)) –> ini mungkin satu kebijakan yang sangat Pro Islamis, dan terbukti penjualan Miras sudah turun 40%, alhamdulillah :), semoga Allah membukakan pintu rezeki yang lain, yang halal, berkah dan lebih banyak bagi para pengusaha Miras.

Apabila, by coincidence, Pak Jokowi membaca tulisan saya, saya mohon maaf kalau banyak komplain. Alhamdulillah hidup saya baik-baik saja, Pak, semoga juga dengan hidup rakyat Indonesia yang lain. Tapi saya butuh banyak sarana untuk membuat iman saya tetap “terisi”. Saya nggak akan bikin makar, kok, Pak. Bener. InsyaAllah. Sama kecoa aja saya takut… Saya cuma mau seperti teman-teman saya yang dituduh “salafi wahabi” itu, Pak. Selalu mengajarkan untuk taat pada pemimpin dan mensyukuri pemimpin. Oleh karena itu, boleh dong buka ruang untuk teman-teman saya dan ustadz-ustadz saya yang “Islamis” bisa bersuara (dan didengar :)). Jangan dibreidel lagi situs-situs Islam yang “fundamentalis”, ya, Pak. Saya sudah lama baca situs-situs itu dan alhamdulillah nggak tertarik jadi teroris. Saya yakin kalau kebijakan Bapak dan pejabat-pejabat Bapak positif, pasti didukung. Jangankan oleh manusia, Allah pasti yang menolong Bapak.

Tapi ya kan, sebagai manusia, Bapak pasti butuh penyeimbang supaya tidak dipuja-puja terus ;).

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih, Pak Jokowi…

Semoga cepat jadi Yang Kung 😉

P.S. E-KTP saya belum jadi juga, Pak 😥 Hiks….

Serba-serbi Dosen: Cerita dari Kelas Istimewa

Hari ini semestinya saya mengajar mahasiswa semester 2. Kelas yang harusnya saya ajar ini terbilang istimewa, karena anak-anaknya yang cerdas dan berinisiatif tinggi. Salah satu dari mereka, sebut saja SR, adalah mahasiswa yang IP di semester satunya 4.00 alias straight As. SR ini juga sangat aktif di kelas. Ia kerao mengesalkan teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya sih agak bingung kenapa budaya Indonesia tidak biasa dengan mahasiswa yang kritis, seakan-akan perilaku SR dianggap kurang sopan pada dosen oleh teman-temannya, padahal saya sebagai dosen malah merasa terbantu dengan banyak pertanyaan. Materi kuliah jadi berkembang. Dalam kegiatan non akademis pun SR ini aktif sekali. Sy kerap melihat namanya dalam susunan panitia acara himpunan mahasiswa, menjadi bagian dari tim promosi kampus, sekaligus juga tidak pernah absen di acara-acara kerohanian Islam.
Kebayang dong seperti apa anaknya?

Untuk dosen dia adalah sosok mahasiswa teladan yang seandainya saja ada 10 mahasiswa seperti SR di setiap kelas, niscaya pekerjaan dosen menjadi lebih mudah.

Jadi ceritanya, semalam SR me-LINE saya, meminta agar kelas saya hari ini dialihkan saja ke seminar karir yang diadakan MNC Group. Saya awalnya keberatan karena takut perkuliahan tidak berjalan sesuai SAP, walaupun kalau mengikuti hawa nafsu saya pun sedang tidak mood melakukan apapun. Tapi tadi pagi PR universitas meminta kesediaan saya melakukan hal yang sama.

Saya meminta SR memastikan jadwal presentasi dan kesediaan anak-anak lainnya, termasuk juga kesediaan mereka menerima konsekuensi adanya kelas pengganti kalau tidak cukup materinya. SR bisa memastikan bahwa anak-anak di kelasnya menginginkan seminar tersebut.

Sebagai akuntabilitas, saya meminta mereka mengerjakan review seminar tersebut dan mengaitkan dengan materi kuliah saya, yaitu teori komunikasi. Tidak lupa saya berikan salam manis: kalau minggu depan tidak bawa tugasnya, tidak boleh masuk kelas.

Lalu mulailah satu persatu dari mahasiswa di kelas tersebut me-LINE saya, meminta agar kuliah dilaksanakan seperti biasa. Sampai malam ini pun saya masih menerima keluhan “ya allah kenapa harus seminar…”. Atau “yang mau cuma SR bu”.

Jujur, saya tertawa membaca LINE tersebut. Bukan karena saya senang melihat mereka “tersiksa”, tapi karena kadang mahasiswa lupa atau memang tidak tahu usia dosennya paling-paling hanya berpaut 10 tahun dengan mereka.

Saya mengerti perasaan, dan kadang juga taktik mereka. Bukankah saya baru 8 tahun lalu lulus kuliah?

Kalau dikira bahwa tidak kuliah adalah win-win solution untuk mahasiswa dan dosen, they’re so wrong. Saya akan dengan “tega” menjejali mereka dengan tugas. Saya tidak mau seperti sebagian dosen saya dulu yang terkadang seenaknya meninggalkan kelas, sehingga sebenarnya kami sedikit banyak belajar sendiri.

Setiap tindakan ada konsekuensinya, setiap pilihan yang mereka buat pun demikian adanya. Dan saya semakin belajar cara meng-outsmart mahasiswa. At some point, sebagai dosen, saya harus menjaga dinamika hubungan. Or else, saya akan carried away…

Silahkan bicara santai, akrab, tapi untuk urusan akademis, ada yang harus saya pertanggungjawabkan kepada universitas yang meng-hire saya dan di atas semuanya saya harus bertanggung jawab kepada Allah.

Sebuah Catatan Pribadi tentang Bahasa Arab (Part1)

Bahasa Arab, untuk banyak anak muda Indonesia masih dianggap kurang keren. Setidaknya bahasa Inggris, Prancis atau yang sekarang sedang booming, Bahasa Korea masih menjadi favorit dan dianggap lebih keren dibandingkan dengan Bahasa Arab. Dan terima kasih kepada media massa yang seringkali menampilkan sosok Arab yang bicara cadel huruf “P” dan menjadi bulan-bulanan; yang mungkin, menurut analisis saya, hal ini juga menjadi pengaruh tersendiri menjadikan Bahasa Arab jadi terasa nggak keren. Padahal bangsa kulit putih juga banyak yang dalam berbahasa tidak bisa mem-pronounce huruf “R”. Sebut saja Prancis, atau orang-orang berbahasa Inggris yang menyebut “R” hanya di ujung lidah. Tapi herannya, mengapa tidak dianggap “tidak keren”?

Personally, saya suka belajar bahasa. Jadi, sampai beberapa waktu lalu, saya tidak punya tendensi apa-apa saat belajar bahasa asing. Dulu sekali saya pernah belajar bahasa Prancis, tapi selalu tidak bisa menyelesaikan satu term karena terbentur waktu dan aktivitas lain. Alasan saya belajar bahasa Prancis selain karena kesukaan saya pada bahasa, adalah karena they just sound so…beautiful. Dan Bahasa Prancis, konon adalah akar dari bahasa-bahasa Eropa. Banyak buku-buku klasik keilmuan Barat ditulis dalam bahasa Prancis.  Alasan terakhir, karena jaraknya dekat dari rumah saya waktu itu. Hehe. Pandangan saya terhadap per-bahasa-an ini mulai bergeser saat saya S2. Saya baru melek bahwa bahasa sejatinya bisa menjadi petunjuk atas banyak hal. Siapa influencer terbesar sebuah bangsa bisa terlihat dari bahasanya. Sejauh mana kemajuan peradaban sebuah bangsa juga bisa dilihat dari bahasanya. Pilihan kita dalam menggunakan bahasa pun menunjukkan siapa kita.

Menarik bahwa Indonesia adalah rumah bagi seperempat populasi Muslim dunia tapi hanya segelintir orang yang mampu bicara bahasa Arab. Padahal aksara-aksara Melayu kuno banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Dan kesusasteraan bangsa Melayu di masa keemasannya sungguh indah, santun dan tinggi. Lalu, kapan mulanya bahasa Arab menjadi “tertinggal” dari bahasa-bahasa bangsa barat? Mungkin sejak “The Britanian Rules The Waves” dan imperialisme serta misi penaklukan kembali dilakukan. Lalu menjadi serupa dengan bangsa penjajah meningkatkan kelas sosial…

 Buku-buku Komunikasi Antar Budaya yang menjadi makanan saya selama mengajar mata kuliah bernama sama banyak mengajarkan saya tentang makna di balik sebuah bahasa. Sudah jamak diketahui bahwa salah satu bagian dari nilai budaya adalah perbedaan “high context” dan “low context”. Gampangnya begini, budaya dengan konteks tinggi adalah budaya dengan bentuk komunikasi tersirat. Maknanya tidak selalu ada dalam bahasa verbal. Alih-alih seseorang harus melihat pada banyak konteks serta gesture non verbal untuk bisa menemukan makna. Budaya konteks rendah sebaliknya. Makna bisa ditemukan dengan cukup memahami bahasa verbal seseorang. Tidak banyak konteks yang melatarbelakangi sebuah interaksi.

Ribet?

Begini contohnya. Indonesia, khususnya Jawa berkonteks budaya tinggi. Lihat bagaimana orang Jawa memulai sebuah pembicaraan. Seringkali maksud pembicaraannya tidak sama dengan ucapannya, dikarenakan banyaknya konteks yang mengelilingi sebuah interaksi. Penuh dengan tata krama. Berbicara dengan orang yang lebih tua berbeda dengan bicara dengan orang yang lebih muda. Bicara dengan Sultan, berbeda dengan bicara dengan tukang becak.

Bandingkan dengan, misalnya, Amerika Serikat. Kepada boss, seseorang bisa memanggil nama; seorang anak kecil juga bisa memanggil nama pada orang-orang tua; bahkan seorang anak kadang memanggil ayahnya dengan nama. Tidak ada Anda, tidak ada Sampean, tidak ada Panjenengan. Semuanya “Kamu”. 

Dari sinilah, muncul kekaguman saya pada bahasa Jawa, bahasa China, bahasa Jepang, dan bahasa Arab. Betapa tinggi sebenarnya peradaban dan tata kelola masyarakat yang bangsa-bangsa itu bangun di masa lalu. Tidak mudah menciptakan, membangun peradaban dari komunikasi yang sarat konteks. Sejak itu anggapan saya terhadap bahasa Inggris jadi agak rendah. Belajar bahasa Jawa, jadi terlihat lebih classy dari belajar bahasa Inggris.  

Nah, di antara bangsa-bangsa yang berkonteks budaya tinggi, sebagaimana sudah saya sebutkan, adalah Arab. Sekalipun gaya bahasa mereka “outspoken”, tapi ketika berbahasa banyak konteks yang meliputinya. Sebuah kata tidak bisa dipahami sepotong-sepotong, tapi harus dipahami seluruh kalimat, dilihat kalimat sebelum dan sesudahnya serta dilihat pula konteksnya. Tata bahasanya pun sangat detail, memisahkan laki-laki dan perempuan (seperti bahasa Prancis ada feminin dan masculin), memisahkan benda berjumlah satu, dua dan lebih dari dua, membedakan gramatika bahasanya atas masa lalu, masa kini, kata suruhan dan kata larangan. Satu kata bisa memiliki banyak arti dan banyak perubahan bentuk dengan arti yang berbeda. Sebuah kata juga bisa berubah pengucapannya mana kala berubah kedudukan dalam kalimat. “Rumah” pada kata “Rumah yang Indah” berbeda dengan “Saya ada di rumah”. 

Al-Quran, sebagai sebuah kitab otentik berbahasa Arab yang tidak berubah sejak masa diturunkannya, sebenarnya awalnya ditulis oleh para sahabat Rasulullah SAW yang bisa menulis tidak dengan bantuan tanda baca, alias arab botak. Artinya mereka paham betul makna serta konteks sebuah ayat dan kedalaman maknanya. Menurut guru bahasa Arab saya, Al-Quran diberi tanda baca untuk memudahkan bangsa non-Arab belajar Al-Quran. Ya, kebayang sih ya… 😀

Saya, yang baru belajar beberapa bulan dengan tambahan sisa ingatan ilmu jaman SMP,  alhamdulillah dengan izin Allah, begitu norak karena senang mulai bisa membaca (baca: menebak) sedikit petunjuk dengan tulisan Arab gundul. Kuncinya adalah memang memahami konteksnya. Begitupun, saat saya lagi “ngawur”, saya ditertawakan ustadzah bahasa arab saya karena salah membaca “Al-Jumu’ah” dengan “Al-Jaami’ah”. Padahal tulisannya beda dan artinya jauh. Al-Jumu’ah merujuk pada Hari Jum’at. Al-Jaami’ah merujuk pada universitas :p. Dan memang semakin kita pahami konteksnya, tanpa tanda baca pun sebenarnya terlihat maknanya. 

Artinya apa? Artinya, apabila Al-Quran dituliskan awalnya tanpa tanda baca, dan Al-Quran memiliki tingkat kesusasteraan yang sangat tinggi bagi bangsa Arab di jaman itu (dan jaman sekarang) memahaminya memang harus melihat konteksnya. Saya bener-bener baru agak paham makna surat Ad-Dhuha waktu nonton film Omar. Waktu Ammar Bin Yasir membacakannya kepada kedua orangtuanya, dan saya membaca subtitlenya. Surat yang sudah saya hafal sejak SD, ternyata dalemmmm banget maknanya, terlebih lagi di film yang membuat saya paham dengan konteks surat tersebut. Dan saya jadi paham mengapa disunnahkan dibaca pada waktu shalat Dhuha, yang katanya adalah shalat para pencari rizki.  

 

 

Perempuan Gaptek?

Dalam sebuah kelas kajian budaya dan media yang sedang membahas tentang feminis, beberapa tahun silam, saya masih ingat sebuah kalimat. Detail redaksinya sih saya lupa, tapi intinya adalah, beberapa peralatan elektronik konon dibuat untuk memudahkan para ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan rumahnya; namun pada akhirnya mereka tetap membutuhkan pria untuk mengoperasionalkannya. Selain fakta bahwa engineer yang menemukan dan merakit mesin cuci, dishwasher machine, rice cooker, atau microwave sebagian besar adalah laki-laki, dalam pandangan di atas tersirat pesan bahwa dalam bahkan dalam teknologi rumah tangga sekalipun posisi perempuan seakan berada di bawah laki-laki karena ke-kurangcanggih-annya mengoperasikan peralatan rumah tangganya sendiri. Ya namanya juga belajar feminisme, pandangan su’uzon yang selalu menganggap seolah-olah perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Pandangan yang saya nggak pernah bisa menerima, karena justru “membodohi” diri sendiri. Buat apa berpikir perempuan sub marginal, dan lantas berjuang untuk menyetarakan diri? Saya sih, alhamdulillah, tidak dibesarkan dan tidak merasa dipelakukan sedemikian. Paman-paman saya dari pihak mama hampir semua bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena eyang saya tidak pernah membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan rumah tangga. Semua harus sekolah tinggi, di sisi lain semua juga harus bisa mengurus rumah. Papa saya pun dibesarkan oleh seorang abah yang punya visi jauh ke depan untuk mendidik anak-anak perempuannya. Suami saya malah menyuruh saya bekerja, jangan di rumah saja. Suami menyuruh saya mengerjakan apapun yang bermanfaat, karena suami saya menghargai kapabilitas istrinya (dan marah-marah kalau tahu istrinya dibayar murah :p).

Anyway, saya sendiri, sebagai perempuan yang minus kemampuan teknik tidak merasa “kalah” atau tidak setara karena dalam banyak hal saya bergantung pada laki-laki (baca: suami, atau kadang tukang ehehehe…). Memang benar sekali, saya membutuhkan suami saya, atau teknisi peralatan elektronik untuk membantu saya mengoperasikan mesin cuci baru *ehm* atau membetulkan kulkas, HP, laptop, dan banyak lagi. Apakah saya merasa rendah? Ah tidak sama sekali. Saya malah merasa girang karena tidak perlu melakukan pekerjaan yang membuat saya mumet seperti itu. Harap maklum, dalam setiap tes psikologi yang pernah saya ikuti, dari semua kemampuan yang diujikan, kemampuan teknis selalu menempati urutan paling rendah. Hihihii…

Suami dan istri, perempuan dan laki-laki, bahkan sejatinya setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan? Bukan karena laki-laki cenderung lebih mampu mengerjakan hal-hal sifatnya teknikal berarti perempuan tidak bisa, atau bukan karena perempuan tidak bisa artinya ia lebih rendah dari laki-laki. Toh dalam banyak hal, saya sih, jujur saja merasa sangat senang dan bahagia kalau suami saya yang meng-handle banyak hal. Jadi saya tinggal duduk manis, dan bebas melakukan hal-hal yang saya inginkan. Rasanya saya istimewa banget gitu, bak putri raja yang tahu beres aja. 😀

“Orang yang baik antara kamu adalah orang paling berlaku baik terhadap istrinya dan akulah orang paling baik terhadap istri dari kalangan kamu.” (Hadis riwayat at-Tirmizi).

 

Journal of The Honeymooners: Let’s Play!

Wah, sudah hampir sebulan dari liburan saya ya. Sebetulnya kurang oke untuk sebuah catatan perjalanan, kalau bisa dibilang catatan perjalanan. Semoga tidak salah kalau saya mulai bercerita kembali. Ini adalah perjalanan bulan madu saya dan suami yang ke sekian. Tapi, alhamdulillah, syukur dan terima kasih pada Allah, menjadi one of the best.

Pada posting terakhir, saya bercerita tentang BNS. Sekarang, saya ingin menceritakan tentang wahana bermain yang lebih spektakuler dari BNS, Jatim Park. Dengan harga tiket yang murah (kalau nggak salah lagi ada promo 65.000 all in), kita bisa menikmati tiga wahana sekaligus, Museum Satwa, Jatim Park 2 dan Batu Secret Zoo. Udara kota Batu yang sejuk dan rangkaian pegunungan yang menghiasi pemandangan menambah semangat saya dan suami di hari kedua kunjungan kami ke Batu. It’s time to have fun!!

Saat sampai, saya cukup terkejut karena di hari kerja saja, kompleks Jatim Park begitu ramai oleh anak-anak dan keluarga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ramainya pada akhir pekan atau hari libur sekolah. Phew…

Pertama adalah Museum Satwa. Konon semua binatang yang dimuseumkan adalah asli, alias binatang yang diawetkan. Jujur, awalnya saya kurang semangat melihat binatang diawetkan. Museum Satwa memang sangat cocok sebagai wahana edukasi. Anak-anak pra sekolah, sampai masa-masa awal sekolah (mungkin kelas 1-3) pasti akan sangat senang dibawa melihat Macan sungguhan yang tidak mengaum apalagi mengigit. Tapi, terus terang, saya dan suami merasa bosan. Mungkin kami terlalu tua untuk itu :D. Namun demikian, kebersihan dan pengelolaan Museum Satwa patut diacungi jempol. Two thumbs up!!

Keluar Museum Satwa, kami menuju Batu Secret Zoo. Saya dan suami mulai “turn on” lagi melihat ragam satwa, mulai dari yang standar ada di kebun binatang seperti monyet sampai spesies primata lain yang nyaris punah. Spesies yang, I don’t even know they exist! Mungkin saya yang kurang pintar, tapi saya baru tahu ada banyak jenis primata cantik, kecil, mungil, dan berekor panjang. Dan Maha Suci Allah, saya merasa haru melihat bagaimana sang Ibu (atau bapaknya mungkin…) menggendong anaknya. Ada sebagian yang meletakkan di punggung, ada yang di dada. Bahkan ada yang saya dapati sedang mengelus-elus kepala anaknya. Yang ini mungkin saya lebay, mungkin si Emak lagi mencari kutu anaknya, tapi dalam pandangan saya yang sedang mellow pemandangan itu tampak seperti ibu mengelus kepala anak. Apa jenis primatanya? Wallahu a’lam. 😀 Maaf, saya tidak (kepikiran untuk) mencatatnya.

Apa yang paling membuat saya terkesan dari Batu Secret Zoo? Es potong seharga Rp.10.000 untuk tiga tangkai. Hahahaha… Tapi bener deh, itu murah buanget. Rasanya enak lagi. Hihihi…

Koleksi binatang di Batu Secret Zoo, saya harus bilang, cukup lengkap. Sekali lagi saya harus beri dua jempol untuk kebersihan lingkungan, bahkan di tempat makan sekalipun. Entah apa pengelolanya yang sangat menjaga lingkungan atau memang pengunjungnya yang sadar kebersihan. Mungkin juga kombinasi keduanya. Ya kalau satu dua bungkus es krim atau permen tercecer pasti ada, tapi maksud saya dengan situasi yang penuh anak-anak seperti saat itu, tingkat kebersihannya luar biasa.

Batu Secret Zoo juga sangat informatif dan edukatif. Di setiap kandang binatang selalu ada informasi tentang asal usul, nama latin maupun nama panggilan :p binatang tersebut.  Ada juga beberapa papan permainan tebak-tebakan yang menarik. Misalnya ada kumpulan gambar mata binatang, lalu kita bisa menebak binatang apakah itu. Jawabannya ada di balik gambar tersebut. Tidak bisa juga diremehkan, karena saya dan suami saya lumayan banyak salah tebaknya. Hihihi…..

Oh iya, yang menarik juga ada kandang Flamingo. Eh bukan kandang sih, sebutlah wahana. Saya langsung nyuruh suami foto di situ, biar berasa di San Fransisco. Hihihi…

Saya nggak tahu apakah yang dimaksud dengan Jatim Park itu terdiri dari Museum Satwa, Batu Secret Zoo dan Amusement park atau Amusement Park-nya itu adalah si Jatim Park itu sendiri. Yang jelas, ada penghubung antara Batu Secret Zoo menuju amusement park. Jalan yang ditata sangat rapih dan menarik, dikelilingi nuansa Afrika di kiri kanan tempat beberapa jenis herbivora dilepas. Antara pengunjung dan wahana herbivora tersebut dibatasi kaca tenbus pandang. Seru!

Oh iya, area kompleks Jatim Park ini luas banget. Capek deh kalau jalan-jalannya mau “sok cantik” pake high heels. Sneaker is the best!! Saking luasnya, sampai disewakan kendaraan yang mungkin percampuran antara kendaraan golf dan motor. Hehe… Kebayang nggak?

Di Amusement Park, saya dan suami sebenarnya nggak main apa-apa. Penuh semua. Jadi, saya cuma menemani suami main lempar-lempar bola untuk dapat token. Suami saya membuatnya tampak begitu seru sampai-sampai banyak yang berhenti dan menonton di pinggir. Hihihi… Dan the best part is, waktu token suami saya berhadiah dua boneka unyu yang didedikasikan untuk saya. Asli, saya berasa anak ABG pacaran. xD Eh nggak segitunya juga sih, suami saya masih “ngitung”, jadi boneka yang saya mau menyisakan 5 token yang cuma dapet sticker nggak jelas menurut suami saya. Jadi , mau nggak mau saya nurut milih jenis boneka yang tidak menyisakan token sama sekali. Dapet deh satu gantungan kunci sapi, satu boneka kelinci.

Amusement park-nya sendiri sangat meriah. Cocok banget deh dibikin di Batu. Udaranya sejuk, pemandangannya indah, orangnya ramah-ramah. Ah, pokoknya asik…

Suami saya juga kebelet banget naik kuda. Sedangkan saya ogah banget naik kuda. Jadi saya menemukan semacam petting zoo dan saya main di sana. Nemunya juga nggak sengaja sih, secara saya nggak ngeh-an, gara-gara ngeliat ada ayam kate yang tampak sok tau berkeliaran di tengah keramaian. Rupanya dia baru saja melarikan diri dari kebun binatang mini yang isinya kuda poni, keledai kecil, aneka kelinci, marmut, ayam kate dan hamster.

Dan saya pun masuk ke dalam. Masuk ke kandang besar tempat aneka kelinci, marmut dan ayam kate bergaul dan bercengkrama. Hihihi… Saya menemukan kelinci besar tapi bercambang. Sepertinya campuran jenis Flemish dan Lion. Warnanya hitam, tingkahnya tengil. Waktu saya dekati untuk saya elus-elus, dia malah berusaha mengendus tangan saya penuh nafsu. Khas kelinci sih, tapi dia tampak begitu lapar dan tangan saya tampak menggugah seleranya. Dan waktu saya melangkah lebih jauh tiba-tiba ada yang nyeri sekaligus geli di kaki saya. Rupanya si hitam sedang asik makan ujung depan sepatu saya. Hahahahaha… Asli kocak banget… Kayak yang bisa aja makan sepatu.

Saat kami kira jalan keluar sudah dekat, rupanya kami salah. Rute perjalanan kami masih panjang, dan kami melewati “secret zoo” betulan. Jalan menuju pintu keluar sengaja dibuat melewati kandang aneka satwa. Di sanalah saya akhirnya melihat wujud asli Hyena. “Secret zoo” tersebut benar-benar mengejutkan. Saya sangat terkesan.

Gambar

Sebagai pasangan “muda” yang menikah di usia muda (ibu saya bahkan baru menikah di usia saya sekarang), menjalani lima tahun tentu tidak sedikit drama-nya. Siapa drama queen-nya? Saya dong :p Hehehe… Liburan yang “fun” dan tidak melulu romantis menye-menye saya rasakan begitu.. bagaimana nulisnya ya… relieving? Semacam melegakan? Ya, bermain bersama selalu menyenangkan dan menyisakan perasaan lega. Ada kedekatan yang tidak bisa dicapai oleh suasana romantis a la candle light dinner dan setangkai bunga mawar. Saya merasa muda. Amat muda. Sesaat saya melupakan urusan anak. Urusan ingin punya anak, tepatnya. Betapa saya bersyukur, diberi kesempatan bermain dan pacaran lagi ala anak ABG di saat teman-teman saya yang lain sibuk mengurus kedua balitanya.

Soundtracknya hari itu: “Indahnyaaaa bercinta saat muda…”-nya Nidji 😀

Insya Allah, apabila masanya untuk saya dan suami memiliki anak-anak yang lucu, kami sudah siap karena kami sudah puas “pacaran”, wara-wiri bulan madu kesana kemari 🙂

Sekarang, nikmati yang sekarang 😉 \(^,^)/