Journal of The Honeymooners: Let’s Play!

Wah, sudah hampir sebulan dari liburan saya ya. Sebetulnya kurang oke untuk sebuah catatan perjalanan, kalau bisa dibilang catatan perjalanan. Semoga tidak salah kalau saya mulai bercerita kembali. Ini adalah perjalanan bulan madu saya dan suami yang ke sekian. Tapi, alhamdulillah, syukur dan terima kasih pada Allah, menjadi one of the best.

Pada posting terakhir, saya bercerita tentang BNS. Sekarang, saya ingin menceritakan tentang wahana bermain yang lebih spektakuler dari BNS, Jatim Park. Dengan harga tiket yang murah (kalau nggak salah lagi ada promo 65.000 all in), kita bisa menikmati tiga wahana sekaligus, Museum Satwa, Jatim Park 2 dan Batu Secret Zoo. Udara kota Batu yang sejuk dan rangkaian pegunungan yang menghiasi pemandangan menambah semangat saya dan suami di hari kedua kunjungan kami ke Batu. It’s time to have fun!!

Saat sampai, saya cukup terkejut karena di hari kerja saja, kompleks Jatim Park begitu ramai oleh anak-anak dan keluarga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ramainya pada akhir pekan atau hari libur sekolah. Phew…

Pertama adalah Museum Satwa. Konon semua binatang yang dimuseumkan adalah asli, alias binatang yang diawetkan. Jujur, awalnya saya kurang semangat melihat binatang diawetkan. Museum Satwa memang sangat cocok sebagai wahana edukasi. Anak-anak pra sekolah, sampai masa-masa awal sekolah (mungkin kelas 1-3) pasti akan sangat senang dibawa melihat Macan sungguhan yang tidak mengaum apalagi mengigit. Tapi, terus terang, saya dan suami merasa bosan. Mungkin kami terlalu tua untuk itu :D. Namun demikian, kebersihan dan pengelolaan Museum Satwa patut diacungi jempol. Two thumbs up!!

Keluar Museum Satwa, kami menuju Batu Secret Zoo. Saya dan suami mulai “turn on” lagi melihat ragam satwa, mulai dari yang standar ada di kebun binatang seperti monyet sampai spesies primata lain yang nyaris punah. Spesies yang, I don’t even know they exist!ย Mungkin saya yang kurang pintar, tapi saya baru tahu ada banyak jenis primata cantik, kecil, mungil, dan berekor panjang. Dan Maha Suci Allah, saya merasa haru melihat bagaimana sang Ibu (atau bapaknya mungkin…) menggendong anaknya. Ada sebagian yang meletakkan di punggung, ada yang di dada. Bahkan ada yang saya dapati sedang mengelus-elus kepala anaknya. Yang ini mungkin saya lebay, mungkin si Emak lagi mencari kutu anaknya, tapi dalam pandangan saya yang sedang mellow pemandangan itu tampak seperti ibu mengelus kepala anak. Apa jenis primatanya? Wallahu a’lam. ๐Ÿ˜€ Maaf, saya tidak (kepikiran untuk) mencatatnya.

Apa yang paling membuat saya terkesan dari Batu Secret Zoo? Es potong seharga Rp.10.000 untuk tiga tangkai. Hahahaha… Tapi bener deh, itu murah buanget. Rasanya enak lagi. Hihihi…

Koleksi binatang di Batu Secret Zoo, saya harus bilang, cukup lengkap. Sekali lagi saya harus beri dua jempol untuk kebersihan lingkungan, bahkan di tempat makan sekalipun. Entah apa pengelolanya yang sangat menjaga lingkungan atau memang pengunjungnya yang sadar kebersihan. Mungkin juga kombinasi keduanya. Ya kalau satu dua bungkus es krim atau permen tercecer pasti ada, tapi maksud saya dengan situasi yang penuh anak-anak seperti saat itu, tingkat kebersihannya luar biasa.

Batu Secret Zoo juga sangat informatif dan edukatif. Di setiap kandang binatang selalu ada informasi tentang asal usul, nama latin maupun nama panggilan :p binatang tersebut. ย Ada juga beberapa papan permainan tebak-tebakan yang menarik. Misalnya ada kumpulan gambar mata binatang, lalu kita bisa menebak binatang apakah itu. Jawabannya ada di balik gambar tersebut. Tidak bisa juga diremehkan, karena saya dan suami saya lumayan banyak salah tebaknya. Hihihi…..

Oh iya, yang menarik juga ada kandang Flamingo. Eh bukan kandang sih, sebutlah wahana. Saya langsung nyuruh suami foto di situ, biar berasa di San Fransisco. Hihihi…

Saya nggak tahu apakah yang dimaksud dengan Jatim Park itu terdiri dari Museum Satwa, Batu Secret Zoo dan Amusement park atau Amusement Park-nya itu adalah si Jatim Park itu sendiri. Yang jelas, ada penghubung antara Batu Secret Zoo menuju amusement park. Jalan yang ditata sangat rapih dan menarik, dikelilingi nuansa Afrika di kiri kanan tempat beberapa jenis herbivora dilepas. Antara pengunjung dan wahana herbivora tersebut dibatasi kaca tenbus pandang. Seru!

Oh iya, area kompleks Jatim Park ini luas banget. Capek deh kalau jalan-jalannya mau “sok cantik” pake high heels. Sneaker is the best!! Saking luasnya, sampai disewakan kendaraan yang mungkin percampuran antara kendaraan golf dan motor. Hehe… Kebayang nggak?

Di Amusement Park, saya dan suami sebenarnya nggak main apa-apa. Penuh semua. Jadi, saya cuma menemani suami main lempar-lempar bola untuk dapat token. Suami saya membuatnya tampak begitu seru sampai-sampai banyak yang berhenti dan menonton di pinggir. Hihihi… Dan the best part is, waktu token suami saya berhadiah dua boneka unyu yang didedikasikan untuk saya. Asli, saya berasa anak ABG pacaran. xD Eh nggak segitunya juga sih, suami saya masih “ngitung”, jadi boneka yang saya mau menyisakan 5 token yang cuma dapet sticker nggak jelas menurut suami saya. Jadi , mau nggak mau saya nurut milih jenis boneka yang tidak menyisakan token sama sekali. Dapet deh satu gantungan kunci sapi, satu boneka kelinci.

Amusement park-nya sendiri sangat meriah. Cocok banget deh dibikin di Batu. Udaranya sejuk, pemandangannya indah, orangnya ramah-ramah. Ah, pokoknya asik…

Suami saya juga kebelet banget naik kuda. Sedangkan saya ogah banget naik kuda. Jadi saya menemukan semacam petting zoo dan saya main di sana. Nemunya juga nggak sengaja sih, secara saya nggak ngeh-an, gara-gara ngeliat ada ayam kate yang tampak sok tau berkeliaran di tengah keramaian. Rupanya dia baru saja melarikan diri dari kebun binatang mini yang isinya kuda poni, keledai kecil, aneka kelinci, marmut, ayam kate dan hamster.

Dan saya pun masuk ke dalam. Masuk ke kandang besar tempat aneka kelinci, marmut dan ayam kate bergaul dan bercengkrama. Hihihi… Saya menemukan kelinci besar tapi bercambang. Sepertinya campuran jenis Flemish dan Lion. Warnanya hitam, tingkahnya tengil. Waktu saya dekati untuk saya elus-elus, dia malah berusaha mengendus tangan saya penuh nafsu. Khas kelinci sih, tapi dia tampak begitu lapar dan tangan saya tampak menggugah seleranya. Dan waktu saya melangkah lebih jauh tiba-tiba ada yang nyeri sekaligus geli di kaki saya. Rupanya si hitam sedang asik makan ujung depan sepatu saya. Hahahahaha… Asli kocak banget… Kayak yang bisa aja makan sepatu.

Saat kami kira jalan keluar sudah dekat, rupanya kami salah. Rute perjalanan kami masih panjang, dan kami melewati “secret zoo” betulan. Jalan menuju pintu keluar sengaja dibuat melewati kandang aneka satwa. Di sanalah saya akhirnya melihat wujud asli Hyena. “Secret zoo” tersebut benar-benar mengejutkan. Saya sangat terkesan.

Gambar

Sebagai pasangan “muda” yang menikah di usia muda (ibu saya bahkan baru menikah di usia saya sekarang), menjalani lima tahun tentu tidak sedikit drama-nya. Siapa drama queen-nya? Saya dong :p Hehehe… Liburan yang “fun” dan tidak melulu romantis menye-menye saya rasakan begitu.. bagaimana nulisnya ya… relieving? Semacam melegakan? Ya, bermain bersama selalu menyenangkan dan menyisakan perasaan lega. Ada kedekatan yang tidak bisa dicapai oleh suasana romantis a la candle light dinner dan setangkai bunga mawar. Saya merasa muda. Amat muda. Sesaat saya melupakan urusan anak. Urusan ingin punya anak, tepatnya. Betapa saya bersyukur, diberi kesempatan bermain dan pacaran lagi ala anak ABG di saat teman-teman saya yang lain sibuk mengurus kedua balitanya.

Soundtracknya hari itu: “Indahnyaaaa bercinta saat muda…”-nya Nidji ๐Ÿ˜€

Insya Allah, apabila masanya untuk saya dan suami memiliki anak-anak yang lucu, kami sudah siap karena kami sudah puas “pacaran”, wara-wiri bulan madu kesana kemari ๐Ÿ™‚

Sekarang, nikmati yang sekarang ๐Ÿ˜‰ \(^,^)/

Journal of The Honeymooners: Batu Night Spectacular

ย 

ย 

Sepertinya bel istirahat baru saja berbunyi untuk saya dan suami. Karena malam hari setelah kami sampai di Batu, kami langsung bersiap-siap untuk menghabiskan malam di BNS alias Batu Night Spectacular. Hanya bermodal sedikit pengetahuan dari Asy-Syaikh Google, saya dan suami super excited bak anak sekolah yang berhamburan keluar main saat bel istirahat.ย 

BNS buka dari sekitar jam 4 sore sampai jam 11 malam. Dan kami datang sekitar waktu Isya. Kesan pertama saya tentang taman bermain ini adalah meriah, tidak se-spektakuler namanya karena satu dan lain hal, tapi yang jelas BNS adalah amusement park yang romantis. Cocok deh buat acara reality show semacam “Katakan Cinta” (jadul banget yak, ketauan umurnya :p), atau buat melamar pujaan hati.ย 

Di film-film kan suka ada tuh ya, pacaran di amusement park yang nggak terlalu ramai, latar waktunya malam hari dengan lampu warna warni dari wahana bermain. Nah itu BNS banget, menurut saya. Jadi deh, malam itu kami pacaran, nyaingin para ABG.ย 

Wahananya nggak canggih-canggih amat sih. Ada lampion garden, taman berhiaskan lampion dengan berbagai theme; ada rumah hantu,ada sepeda udara, ada wahana 4D, bumper car, apa lagi ya… Yang bisa saya ingat cuma itu sih ๐Ÿ˜€

Wahana 4D-nya, honestly kurang seru, karena kacamatanya sepertinya sudah tidak begitu ngaruh antara 3D dan tidak. Kedua, tidak ada petunjuk keselamatan dan cara penggunaan bangku yang walaupun goncangannya tidak sedahsyat di Dufan atau Trans Studio tapi tetap bisa membuat seorang anak terlonjak dari kursinya dan jatuh.ย 

Wahana berikutnya yang saya naiki bersama suami adalah Sepeda Udara. Asli! Ini mengerikan banget untuk saya. Karena rasanya setengah badan saya ada di udara. Oh iya, sepeda udara adalah wahana semacam monorail tapi bentuknya sepeda yang satu kereta bisa muat dua orang. Kalau mau dinikmatin sebenarnya romantis sih. Apalagi malam itu hujan turun rintik-rintik. Tapi, buat saya itu jadi semacam uji nyali. Sepanjang permainan, saya zikiran sambil mencengkram erat-erat lengan suami… Hihihihi….

Pas turun, melihat saya yang terrified, mas-mas petugasnya bergumam di belakang punggung saya, “kalah karo cah cilik…”. Hahahaha… xD Dikiranya saya nggak paham bahasa Jawa kali ya…

Si Sepeda udara itu, entah bagaimana membawa dampak yang luar biasa untuk saya. Karena merasa butuh banget sama suami saat di atas udara dan harap-harap cemas wahananya rusak, stuck atau keberatan jadi patah dan terjun bebas, ada perasaan sayang yang bertambah dalam diri saya. I can’t lose him for anything…

Lucu ya…ย 

Saya jadi kepikiran program outbound untuk pasutri. Memang dalam tiap tantangan ada latihan untuk memupuk dam menaruh kepercayaan pada pasangan. Walaupun saya belum pernah, tapi mungkin itu tujuannya. ๐Ÿ˜€

Bahkan wahana sesederhana Sepeda Udara saja bisa mengubah perasaan saya terhadap suami. Ibarat teori expectancy violations walaupun tidak tepat diterapkan dalam hal ini, ada valensi positif dari saya terhadap suami.ย 

Sisa malamnya kami habiskan untuk bermain bumper car, makan malam, dan belanja oleh-oleh. Untuk makan malam saya memilih menu Bakso Bakar. Dua tusuk sate bakso berkuah kacang yang enak dan murah dihidangkan dengan semangkok kuah. Pertanyaan norak saya ajukan pada si Mbak penjualnya, “Mbak ini makannya gimana? Apa duluan yang harus saya makan?”. Si Mbaknya juga tampaknya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Setelah diam agak lama, kemudian dia menjawab singkat, “Mana aja boleh, Mbak”. Lalu ngeloyor pergi. Hihihi…

Karena masih bingung akhirnya saya mencoba bereksperimen dengan menguahi bakso bakar berbumbu kacang. Hmm… Rasanya enyak… :9 Really would love to have some more some other time…

Setelah makan malam, saya belanja oleh-oleh di Night Market. Harganya mengejutkan murahnya. Jadi saya beli beberapa pasang sandal untuk oleh-oleh dan menjelang pulang saya membeli jambu klutuk putih. Again, saya norak. “Emang ada ya Jambu Putih?”, tanya saya masih dengan excitement penuh kenorakan. Kalau Emo-nya di BB pasti *dancing*. Hihi…

Padahal jambu klutuk putih memang ada dari dulu, tapi karena permintaan jambu merah lebih banyak sejak dikenal sebagai pendongkrak trombosit, jambu putih jadi kalah pamornya. Rasanya, menurut saya lebih segar walaupun tidak selegit jambu merah. Namanya juga jambu, manisnya juga manis-manis jambu.ย 

And then, we headed to the hotel. Istirahat, bersiap untuk petualangan selanjutnya esok hari. It was a lovely night, alhamdulillah ^__^

Gambar

ย 

Journal of The Honeymooners: The Hotel

Gambar

Kampung Lumbung. Nama yang menarik. Mengingatkan saya pada Kampung Sampireun, the best place for the honeymooners. Dari foto-foto di agoda dan website-nya, juga review orang-orang yang pernah menginap di sini, sepertinya hotel ini menarik dan harganya pun tidak menguras kantong.

Jalan masuknya memang agak kecil, tempatnya pun nyempil dan nyelip di pemukiman penduduk, tapi, sepertinya tempatnya menjanjikan.ย 

207 adalah kamar kami, terletak di lantai dua. Untuk sampai ke bangunan hotel, kami melewati jalan setapak. Agak licin untuk sepatu Cr*cs saya. Lumut mulai tumbuh di sela-sela jalan setapak yang bergerigi. Mungkin pengaruh hujan yang turun setiap hari. Saya dengar hujan sedang rajin mengunjungi Malang.ย 

Kampung Lumbung berlokasi di Batu, sebuah kota wisata yang sejuk, bersih dan rapih. Walaupun berbeda kotamadya, tapi jaraknya hanya sekitar setengah jam dari kota Malang. Mungkin seperti Pejaten ke Margonda kalau tidak macet. Oleh karena Kampung Lumbung terletak di Batu yang masih agak bawah, hawanya tidak sedingin Batu bagian atas. Cukup sejuklah untuk orang Jakarta macam saya dan suami yang sehari-hari terperangkap panas, debu dan polusi.ย 

Kamarnya sendiri cukup nyaman, dengan disain unik menggunakan dominasi kayu. Khas resort. Walaupun belum ada yang mengalahkan Kampung Sampireun, tapi ini lebih dari cukup. Nyaman, bersih dan harum. Malah dalam beberapa hal, kamarnya jauh lebih nyaman dari Kampung Sampireun. Kamar mandi, misalnya. Kamar mandi di Kampung Sampireun daknya terbuka, sehingga dinginnya udara Garut terasa menusuk kalau harus mandi malam-malam (namanya juga bulan madu)… Petugas Kampung Lumbung pun ramah, penuh senyum dan sangat helpful.

Untuk bulan madu, saya rasa cocoklah.ย 

Memang kualitas gambar di TV-nya tidak terlalu bisa diharapkan. Lima hari kami di sana hanya menonton TV O*e yang buram. Maklum hanya pakai antena dalam, tapi untuk saya sih no problemo. Toh tujuan saya untuk merelaksasi ketegangan urat syaraf dan memadu kasih *ehm* sebagai perayaan lima tahun pernikahan dengan suami, bukan nonton TV. ๐Ÿ˜€

Saat tidur siang pertama saya menjelang pulas, belum lagi masuk ke deep sleep, saya dibangunkan oleh ketukan di pintu. Aha! Snack sore datang! Snack sore? Wow! This’s more than my expectation. Atau sepasang tahu goreng tepung ini adalah welcome snack? Yang manapun, saya tetap excited ๐Ÿ˜€ Hehehe… Hawa dingin membuat perut “sensitif”, gampang keroncongan.

Karena sudah tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk menyeduh secangkir teh hangat dan duduk di bangku kayu di luar kamar. Semacam meja kayu segi empat dengan empat bangku tinggi yang semuanya terbuat dari kayu. Beruntung dari empat kamar yang sederet dengan kamar saya, hanya saya dan suami penghuninya. Mungkin karena weekdays. Jadi saya leluasa membawa buku catatan, dan secangkir teh. Membuka ruang untuk inspirasi.ย 

Heaven!

Saya disuguhi pemandangan surgawi! Walaupun surga pasti jauh lebih indah daripada ini. Sungguh segala puja dan puji untuk-Nya, gunung Kawi (konon namanya gunung Kawi), salah satu gunung yang “mengepung” Malang, membentang di cakrawala. Ah, saya ini tipe wisatawan gunung. Alasannya sederhana, kalau sehari-hari sudah kepanasan, untuk apa mencari tempat wisata yang harus bermandi matahari lagi?Selain itu saya menyukai kesunyian. Sunyi adalah saat yang baik untuk kontemplasi. Dan pemandangan ini… Gunung dan perbukitan yang sebagiannya tertutup awan, nuansa hijau perkebunan, entah kebun apa (mungkin kubis), kota Malang yang tampak seperti liliput, menara Masjid, taman hotel dan kolam renangnya, burung-burung kecil yang ribut berlomba-lomba menyiduk air dari kolam dan suara… Oh Ya Tuhanku… Suara jangkrik!! Saya suka suara jangkrik! Ini bukan malam, belum malam, dan jejangkrik sudah berderik memainkan ensambel merdu, menjalani sunnatullah-nya.

Tuhan, itukah ibadah mereka kepada-Mu?

Alam ini begitu indah, Ya Rahmaan… begitu syahdu, begitu taat pada-Mu. Dan Engkau beri hamba kesempatan untuk menyaksikan mereka memuja-Mu, hanya dengan membuka mata dan menajamkan telinga…

Alhamdu lillah โ€˜ala kulli hal :โ€™)

Alhamdu lillah Rabbil โ€˜alamiin…

Journal of The Honeymooners: Prelude

Journal of The Honeymooners: Prelude

Banyak pasangan berpikir “Bali” saat merencanakan bulan madu. Saya tidak pernah ingin bulan madu ke sana, kecuali mungkin ke Lovina, melihat Lumba-lumba. Rasanya terlalu ramai dengan manusia. Jadi saat menikah lima tahun yang lalu, saya memilih Garut. Tidak berapa jauh dari Jakarta, pemandangannya luar biasa indah, dan yang pasti saya bisa mendengar azan lima kali sehari di sana.

Kali ini adalah destinasi pilihan suami, Bromo, Malang dan Batu. Dan setelahnya saya semakin penasaran, dan semakin yakin, terlalu banyak tempat-tempat indah di Indonesia selain Bali yang bisa dieksplorasi ๐Ÿ˜‰ (Dan konon kabarnya, Lumba-lumba juga ada di Pulau Sempu, Malang Selatan…. Ah….)

Dibandingkan dengan “bulan madu” kami yang lain, Bandung, Puncak, Cirebon, Jogja, Umrah; bulan madu kali ini terbilang paling melelahkan. Dan walaupun tidak bisa mengalahkan bahagianya saat Umrah, tapi kelelahan ini terbayar sangat manis.

Perasaan saat mengalahkan diri sendiri dan terus mengatakan “saya bisa” saat menapaki jalanan mendaki yang membuat dada saya sesak mendadak, lalu mendapatkan pemandangan nan istimewa itu tidak bernilai. Sungguh tidak bernilai.

Dan di atas segalanya, perjalanan ini adalah sebuah catatan untuk diri saya sendiri… Di atas Bromo saya melihat jalanan, pedesaan, manusia, kehidupan, peradaban… Berjalan begitu indahnya bersama alam semesta. Alam semesta yang sudah diciptakan-Nya untuk memenuhi kebutuhan peradaban. Adakah campur tangan saya di dalamnya? Tidak….

Tanah yang saya pijak, savannah indah yang rumputnya begitu wangi tertiup angin, gunung-gunung yang berdiri kokoh, sembulan Mahameru yang tampak di kejauhan, milik siapa ini semua?

Lillahi maa fissamawati wa maa fil ardh…

Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang bumi…

Hang On Tide and Enjoy The Ride

Hang On Tide and Enjoy The Ride

Memasuki gerbang pernikahan seringkali diibaratkan dengan masuk ke dalam hidup baru. Dan selalu ucapan paling standar dan klise kepada pasangan pengantin adalah, “selamat menempuh hidup baru”.

Saya lebih senang menyebut, “Semoga selamat dalam menempuh hidup baru” ๐Ÿ™‚

Mengapa demikian?

Suatu hari saya mendengar Bondan Prakoso mengucapkan “selamat” pada salah satu pasangan artis yang menikah, dan ada kata-katanya yang sangat menarik.

“Pegangan yang kuat, roller coasternya sudah mulai berjalan…”

He’s so right!

Menjelang lima tahun pernikahan, terlalu naif kalau saya masih post cerita cinta menye-menye bak dongeng-dongeng komedi romantis. Blah!

Sekarang mari kita ibaratkan pernikahan adalah sebuah roller coaster seperti kata Bondan Prakoso. Sebelum menikah, kita mengantri sampai mengular, menunggu kapan giliran kita naik. Kita mendengar teriakan-teriakan penuh keceriaan (atau ketakutan) yang membuat kita semakin excited. Beberapa penumpang yang turun ada yang kapok, muntah, tapi tidak sedikit yang ingin mencoba lagi, sehingga ia masuk kembali ke antrian. Ada juga beberapa kejadian yang stuck di atas, ya ini mungkin kesalahan teknis. :p

Apa yang saya rasakan dalam pernikahan boleh jadi berbeda dengan apa yang orang lain rasakan. Dan you know what, no marriage is perfect.

Beberapa orang menjelang pernikahannya mengatakan kepada saya, berharap pernikahannya seperti pernikahan saya. What? Tidak semua tampak se-indah kelihatannya. Begitu banyak jomblo-ers yang galau dan frustrasi karena belum menikah. Padahal mereka nggak tahu, warna dalam pernikahan bukan hanya merah jambu.

Kadang warnanya kelabu, merah darah, kuning cerah, hitam legam, putih bersih, kadang gabungan dari warna-warna yang sudah saya sebutkan.

Complicated!

Tapi saya berdo’a, agar Allah menjadikan pernikahan saya lebih baik dari prasangka banyak orang.

Tunggu… Ada apa dengan pernikahan saya?

Tenang… InsyaAllah tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Baru saja saya mengirimkan BBM pada suami saya, “aku sayang abang” yang dibalas dengan “I do as well” dan emoticon *kiss* 77 x. Anyway, saya hanya berusaha realistis.

Kembali ke roller coaster. Pernikahan itu punya banyak sekali ups and downs, ada swings, ada twirls, ada loops. Bedanya, kita tidak memulai naik wahana bernama pernikahan ini dengan mengharapkan “ujung” dari segala turbulensi. Jangan berpikir untuk berhenti.

Ada kalanya saya menangis terlalu banyak, ngomel sampai marah pada suami. Dan suami saya belajar mendengarkan dan memelihara sabar stadium lanjut. Ada kalanya suami saya cuek, terlalu lelah dengan pekerjaan, workaholic, dan saya belajar bersuka ria menerima hasilnya setiap bulan ๐Ÿ˜€

Saran saya hanya satu: pegangan yang kuat.

Dan tidak ada pegangan yang lebih kuat dari Allah Sang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Santun. Tanpa pegangan ini, betapa buanyaknya kisah cinta hanya tinggal cerita.

Karena judulnya sama-sama pegangan yang kuat, ketergantungan antara satu dengan lainnya juga harus ada. Kalau masing-masing sibuk sendiri? Jadikanlah diri kita ibarat sistem kapitalisme: ciptakan kebutuhan.

Kita punya begitu banyak uang sehingga tidak membutuhkan pasangan? Mungkin keputusan Anda untuk menikah sudah salah sejak awal. Kalau Anda segitu mandirinya sehingga bisa melakukan semuanya sendiri, untuk apa pasangan Anda?

Saya ingat, dan akan selalu saya catat baik-baik sebagai bekal kehidupan saya saat suatu hari teman saya cerita, “Tapi kayaknya emang gue tuh tipe yang laki gue gajinya harus lebih gede deh. Ego gue gede soalnya.”

Saya sangat tahu kapasitas dan intelegensi teman saya sebagai praktisi medis bisa membawanya melambung kemana-mana. Dan berkorban untuk tidak bersaing masalah gaji, menurut saya adalah suatu hal yang besar untuk seorang perempuan dengan kapasitas seperti teman saya.

Namanya juga naik wahana, loadnya nggak boleh kebanyakan bisa-bisa overload dan wahananya mogok karena kebanyakan muatan. Begitu juga dalam pernikahan, load ego-nya memang kudu ditinggal apabila memungkinkan; dan apabila tidak memungkinkan (dan sepertinya memang begitu) harus dikurangi, bukan malah lompat dan terjun dari wahananya sendiri.

Iya kalau lagi landai, kalau lagi loop, jatuhnya sakiiiit…

Romantisme SAJA tidak akan cukup membuat sebuah penikahan bertahan. Karena pada akhirnya romantisme itu bisa dikonstruksi. Tapi pondasi konstruksinya harus kuat.

Seperti Habibi dan Ainun. Butuh seorang Ainun yang pengertian luar biasa dan seorang Habibie yang menerima apa adanya untuk bisa menjadikan sebuah kisah cinta yang sekarang demikian melegenda. Apakah keduanya tidak punya ego? Nah…They’re just lowering theirs.

Pondasi pernikahan ternyata berbading terbalik dengan tingkat ego ๐Ÿ™‚ Semakin rendah ego, semakin tinggi penerimaan masing-masing, semakin kuat pondasi suatu pernikahan. And it really takes two to tango ^^

Nggak semudah itu, nggak seindah itu, nggak semulus itu. Tapi semuanya sangat indah untuk dijalani. Karena pernikahan itu sebuah wahana, ia adalah petualangan tanpa akhir. Apabila ia sebuah madrasah, ia adalah pendidikan tak kenal waktu. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga atau perosotan menuju neraka (na’udzubillah…).

Terkadang, tidak dapat dipungkiri, seseorang “salah” memilih teman dalam menaiki wahana bernama pernikahan ini. Sehingga ia nekad terjun bebas, atau memaksa mengakhiri wahana. Tapi bagaimanapun, pernikahan tetap adalah sebuah pelajaran, bukan? Sekalipun Bondan Prakoso yang kemudian saya ikuti mengibaratkannya seperti roller coaster, ia bukan permainan seperti roller coaster yang ada ujungnya. Bukan Dunia Fantasi yang punya jam buka dan jam tutup. So, sekali lagi, berpegangan yang kuat pada Pegangan Yang Maha Kuat. Jadilah teman seperjalanan yang baik, dan doakan teman seperjalanan kita agar tetap pada jalurnya. Supaya “Selamat” sampai pada tujuan akhirnya.

At last, let’s fasten our seat belt, hang on tide, and enjoy the ride ^^

Hence, I Call It Love

When we cuddle up every morning, sometimes you look at me and ask me this question:

“You must be really love me, do you?”

With that smug look on your face. A face that really deserves a pillow thrown on it.ย 
But actually, yes, of course I love you. You’re the reason I stop believing in unconditional love. That’s just too…unrealistic. An unconditional love doesn’t even exist in movies.ย 

Ugly Betty? America Herrera is NOT ugly. What? A glasses and braces? Fashion disaster? She’s not ugly. She’s smart and at the end of the movie she lost some weight, remove her braces and change her haircut. She got prettier. And that’s a reason to love. A nice, smart, sweet lady.

50 First Dates. Bah! Lucy is very cute, adorable, and lovable. Even when something went wrong with her head, she still look cute. And Adam Sandler? Please don’t be mad at me when I sincerely say that he has a charming smile. Who wouldn’t want to be with him? See, It’s not unconditional love.

There must be reason to love your loved one. And here are mine:

1. Your patience. Even on my PMS days you’d just listen to me and smile. You REALLY DO LISTEN AND WAIT. The first I asked you, “How can you be so patient?”, you replied, “I know you’d be sorry later. I know you”. The second time, you answered, “I married you, so I accept you with your everything”.

2. You Appreciate Me. Unlike other men, with their huge ego, you let me study whatever I want to study. You let me talk about everything. You let me study Arabics, you let me finish my master degree, and again, you LISTEN to me when I talk like crazy, jumping from one topic to another in a very short term. And you never hesitate of asking me things you don’t know, even sometimes it does bother me because you keep asking and asking even if I’ve answered “I don’t know”.ย 

3. Your Arm and Armpit. LOL! ๐Ÿ˜€ It’s the warmest and the most comfortable place to lay my head on. I will re-phrase my friend’s FB status: The most comfortable place for a wife to lay on is her husband’s arm. But as for me, also your armpit. Xixixixi…

Well, those three aren’t enough for sure to describe why I love you. But I’m gonna tell you the main reason, why I REALLY LOVE YOU:

Because you’re my HUSBAND.

You married me, and you’ve taken me as your wife. You took my father’s responsibilities and look after me so tenderly. You’re willing to be the one who’s asked by GOD on the day of ressurection, asked about my wrongdoing, my tears, my joy, my pleasure, my happiness and sorrow. You work hard so that you can fulfill my needs. You’ve promised in front of Allah that you’d be my half, my imaam, in this world and hopefully we’ll be together again in HIS jannah.ย 

Although, there are still you and me in our little family, but I believe, you’re gonna be a great father for our future kids. And we’re gonna get there someday, insya Allah ๐Ÿ™‚

So, what more can I say?ย 

I love you, for making me understand the meaning of “I Love You Because of Allah”:)
I love you, for marrying you makes every effort I do to please you is rewarded by Allah.
I love you, for marrying you makes every good deed we do together is rewarded more.
I love you, for marrying you makes every blessings flown over our fingers when we’re holding hands.
I love you, for marrying you makes our cuddling worthdoing.ย 
I love you, for marrying you means another way to get to HIS heaven (aamiin)
I love you, for being my husband ^_^

And sorry that you’re NOT my unconditional love ๐Ÿ˜‰ย