Baju Baru untuk Cici

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.21.05 PM

 

“Mas Miko berubah, Kak,”. Cici menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Aku menelan ludah. Se-serius itukah?

“Sudah dua bulan ini dia seperti malas melihatku. Aku bahkan tidak diajak ke family gathering kantornya lagi,” lanjutnya.

“Sudah pernah dibicarakan?”, tanyaku.

Cici menggeleng kuat-kuat. Air matanya pecah.

“Kapan, Kak? Mas Miko selalu pulang tengah malam. Bahkan akhir-akhir ini Mas Miko pulang pagi. Saat Mas pulang, aku sedang terlelap, atau sibuk dengan Chiko. Mas Cuma mencium Chiko sebentar, bantu menggendong lalu terlelap. Pagi-pagi buta berangkat lagi. Begitu terus, Kak. Sabtu-Minggu-nya habis untuk bermain dengan Chiko. Aku merasa seperti orang asing di rumah, Kak.” Perempuan tiga puluh-an itu sesenggukan. Suaranya meninggi.

Aku berpindah duduk ke sebelahnya. Berusaha menenangkan adik iparku sambil tersenyum pahit pada seorang pelayan kafe dan beberapa pengunjung yang melirik ke arah kami.

“Apa yang bisa aku bantu?”

Malam itu, Miko pulang sedikit lebih cepat. Chiko pun sudah terlelap.

“Bun, kita makan roti bakar yuk,” ajak Miko sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya. Cici baru saja menerima pesan Whatsapp. Ah, dari Kak Mika, pikirnya dalam hati.

“Ayo, Bun. Sudah lama kita nggak makan berdua,” Miko melempar senyum. Lamat-lamat dipandanginya wajah ibu dari anaknya tersebut. Pipinya yang dulu tirus kini membulat, batang hidungnya semakin mekar.

“Ayah serius? Tapi Bunda nggak punya baju bagus, Yah. Baju-baju lama Bunda sudah banyak yang sempit. Bunda malu pergi sama Ayah…”

“Sekarang punya dong! Nih!” Miko menyerahkan sesuatu berbungkus kado.

Mata Cici berbinar. “Hadiah? Buat aku?”

Miko mengangguk.

“Terima kasih sudah menjadi Bunda yang baik untuk Chiko, dan terima kasih sudah menjadi istriku. Beberapa waktu belakangan ini, aku mikirin cara supaya Cici-ku yang dulu kembali. Ceria, percaya diri, berbinar-binar lagi.

“Iya sih, Bunda sudah nggak selangsing dulu. Tapi buat Ayah, Bunda selalu cantik. Ayah sedih kalau Bunda nggak mau pergi sama Ayah, nggak mau lagi ke kondangan. Makanya Ayah nggak ngajak Bunda pas family gathering kemarin. Ayah takut Bunda nggak mau lagi pergi sama Ayah. Makanya, Ayah tanya ke temen-temen kantor hadiah apa yang cocok buat istri. Eh, Ayah ditunjukin instagram @kafika_ficca. Mudah-mudahan Bunda suka yaa,”

Miko mengecup kening istrinya.

Wajah Cici bersemu kemerahan. Entah kapan terakhir ia merasa begitu tersanjung. Sekaligus merasa bersalah. Ia selama ini berburuk sangka pada suaminya.

“Ayah, bajunya bagus banget. Pas sama Bunda. Warnanya Bunda banget! Bunga-bunganya cantik sekali…” Cici berseru kegirangan.

“Busui friendly lho. Dan bisa dipakai sampai Bunda hamil adiknya Chiko” Miko mengerling genit.

“Ih Ayah, apa sih…”

“Ayo, Bun. Langsung pake aja. Nanti kita kemaleman perginya,” Miko menggamit lengan istrinya.

Tiba-tiba telepon genggam Miko berbunyi.

Mika muncul begitu saja di rumah Miko dan Cici.

“Baby sitter sudah datang. Pangeran dan Tuan Puteri dipersilahkan berangkat,”Mika mengurai senyum penuh arti.

“Makasih ya, Kak,” Cici memeluk kakak iparnya ke-malu-malu-an. Ia masih ingat momen di kafe beberapa waktu lalu.

“Have fun yaaa kalian,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Motor Miko melaju membelah malam.

Seorang teman saya pernah mogok pergi ke pesta saat hamil besar. Alasannya sama persis seperti Cici: Nggak punya baju yang layak dipakai. Semua baju sudah sempit. Padahal, bagi seorang perempuan, menemukan baju favoritnya sempit rasanya terrrrr-baper. Apa pun alasannya. Mau karena hamil besar, pasca bersalin, maupun pasca kebahagiaan yang membuat enak makan. Hihi…Mungkin saatnya mencari baju favorit baru yang didesain spesial agar nyaman digunakan Busui dan Bumil, sekaligus juga cantik bagi yang bukan keduanya.

Meski saat ini banyak produsen pakaian yang sudah merancang pakaiannya agar bersahabat dengan para Ibu Menyusui, akan tetapi saya ingin mempernalkan butik sahabat saya (yang sebenarnya sudah lumayan terkenal di jagad instagram). Pernah mendengar butik @kafika_ficca di instagram?

Kafika, demikian butik tersebut dinamai oleh pemiliknya sekaligus nama brand-nya. Butik yang dirintis sejak 2008 saat ini telah memiliki 19 ribu-an followers. Didominasi oleh warna-warna cerah, butik yang digawangi oleh Fendricca Syahdan ini awalnya menyasar segmentasi muslimah berusia 20-40 tahun, dari kelas ekonomi menengah. Akan tetapi, setelah 2013, banyak permintaan pakaian dengan akses menyusui; sehingga Fendricca mulai mencoba mendesain pakaian dengan akses menyusui alias busui friendly sekaligus juga bumil friendly.

Inspirasi rancangan-rancangannya diakui Fendricca datang ketika berburu kain atau melihat trend fashion dunia, lalu dikembangkannya sesuai koridor pakaian muslimah. Selain itu, menurutnya, kadang inspirasi datang dari “langit” begitu saja.

Untuk memudahkan para pelanggannya, saat ini perempuan yang akrab disapa Ficca menyediakan Webstore yang dapat diakses di http://www.kafikastore.com.

Bagi penggemar pakaian berpotongan longgar, casual dan berwarna cerah, mungkin kamu bisa melirik foto di bawah ini:

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.04.18 PM

 

Tertarik? You know where to click 😉

#OneDayOnePost #ODOP4  #BloggerMuslimahIndonesia

Advertisements

Kisah Si Anak Lanang

WhatsApp Image 2017-08-03 at 7.18.24 PM

Mereka memanggilku Lanang. Perawakanku yang kecil seringkali membuatku diremehkan orang. Pakaianku kerap compang camping. Belum lagi aroma yang keluar dari tubuhku tidaklah sedap.

Sehari-hari, aku hanya menunggu takdir-Nya atas diriku di sudut-sudut pasar bersama Yuk Maryam, ibu angkatku. Beruntung, meskipun aku tidak menarik dipandang mata, tapi aku punya Yuk Maryam yang tidak lelah mendo’akanku siang malam.

Kadang kulihat perempuan muda berparas ayu melintas di hadapanku. Ingin aku menyapa, sekadar berkenalan. Tapi, mungkin Tuhan menakdirkanku selamanya melajang.

Tidak banyak yang tahu, di balik wujudku yang kecil dan tidak lucu; aku punya kekuatan super.

Eh, sebentar, Oma Liem datang. Aku ingin menyapanya dulu.

“Halo, Oma,” sapaku.

Oma Liem memandangku sepintas. Senyumnya mengembang.

“Beli apa, Oma? Jeruk nipis?” Yuk Maryam menegur Oma.

Oma Liem tampak cantik seperti biasanya. Walaupun usianya sudah 70 tahun, tapi tubuhnya terlihat bugar. Kulit kuningnya tampak bersih. Yang paling aku sukai dari Oma Liem adalah caranya menata rambutnya. Ia tidak pernah lupa menyisipkan jepit berbunga merah jambu di sela-sela rambut abu-abu sebahunya.

“Biasa, Mar,” ucap Oma Liem.

Yuk Maryam sudah hafal dengan kebiasaan Oma Liem: tiga buah jeruk nipis, dua buah bawang bombay, dan…

Oma mengedarkan pandangannya. Inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Apakah Oma akan memilihku untuk dibawa pulang? Ayolah Oma, pilih aku. Pilih aku. Aku janji akan menjadi anak baik. Aku akan membantu merawat jantung Oma yang pernah hampir di-bypass dan menyembuhkan sinusitis Oma. Wajah Oma yang awet muda, aku nanti yang akan membantu menjaganya tetap demikian. Oh iya, mata Oma. Aku yang juga akan membantu agar Oma bisa tetap membaca koran pagi tanpa kesulitan. Lalu, kalau Oma terlalu banyak makan, aku juga bisa membantu menghancurkan lemak membandel. Walaupun aku bukan sabun pencuci piring. Dengan izin Tuhanku, aku punya kekuatan super itu, Oma. Aku adalah obat dari 70 penyakit. I’m the man, Oma.

“Lanang jangan lupa, Mar,” Oma mengingatkan Yuk Maryam.

Aku melonjak kegirangan. I knew it!

“Sebelas tho?,” Yuk Maryam bertanya retoris. Ia mengangkat tubuhku dan saudara-saudaraku.

“Rahasia awet mudanya Oma ya?” ujarnya seraya menyerahkan bungkusan berisi barang-barang belanjaan Oma Liem.

“Iya, Mar. Kamu sudah coba resep yang aku kasih untuk asam uratmu kan?” Oma Liem ganti menyerahkan sejumlah uang.

Yuk Maryam mengangguk sambil mencari kembalian di tas pinggangnya.

“Sudah. Alhamdulillah, disangrai seperti kata Oma, baunya nggak terlalu tercium. Pedasnya juga sudah hilang. Malah enak, seperti makan kacang. Saya jadi ngemil bawang lanang,”

“Kembalinya ambil aja, Mar,” Oma menolak uang kembalian yang disodorkan Yuk Maryam.

“Makasih, Oma. Sehat-sehat terus ya,” Yuk Maryam melepasku dan Oma.

Semakin jauh Oma membawaku, suara Yuk Maryam semakin sayup-sayup terdengar.

“Bawang Lanangnya, Bu. Murah aja. Obat asam urat, darah tinggi, kolesterol…”

Sebelum terlupa, aku ingin mengucapkan terima kasih telah membaca kisahku yang diikutkan dalam tantangan #OneDayOnePost  dari Blogger Muslimah Indonesia. Aku senang bisa membocorkan rahasia kekuatan superku. Benarlah bahwa Allah, Tuhanku, tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Aku harap, kamu yang membaca kisahku sehat selalu seperti Oma Liem yaaa.

***

Alhamdulillah, si Lanang sudah bermanfaat bagi Oma Liem. Bagi yang ingin juga merasakan manfaat bawang Lanang ini, berikut adalah resep yang saya gunakan (walaupun saya lebih suka resep yang lain) dan rutin dikonsumsi suami saya.

WhatsApp Image 2017-08-03 at 7.02.56 PM

Proses pembuatan ramuan bawang tunggal

11 siung bawang tunggal (atau sering disebut bawang lanang, yang lalu jadi inspirasi tulisan ini)

3 buah jeruk nipis

2 buah bawang bombay

Cuci bersih, dan blender (termasuk kulit dan biji jeruk nipis…)

Jangan lupa disimpan di kulkas. Konsumsi satu sendok teh pagi saat perut kosong, dan satu sendok teh di malam hari. Bagi yang punya maag, walaupun banyak yang bilang sembuh sakit maag-nya dengan konsumsi ini, tapi sebaiknya konsumsi setelah makan ya.

Reaksi yang dihasilkan tubuh berbeda-beda. Ada yang faeces-nya hitam dan lengket, ada pula yang seperti saya, belekan.

Resep ini saya peroleh dari seorang tante yang berhasil menurunkan berat badan menggunakan ramuan itu. Suami saya juga turun banyak sekali berat badannya dengan menggunakan ramuan itu, alhamdulillah. Bi iznillah.

Resep lainnya yang lebih friendly dan nyunnah, adalah dengan men-sangrai sejumlah bawang tunggal hingga baunya tidak terlalu tajam. Simpan dalam mason jar atau tempat apapun, dan bawang lanang si anak tunggal siap disantap dan dinikmati khasiatnya, insyaAllah. Agar lebih awet, simpan di kulkas ya. Asam urat Papa saya, alhamdulillah turun dengan cara ini. Bi iznillah.

Bawang tunggal sekarang juga mulai populer lho di negara-negara barat. Apalagi seiring dengan meningkatnya ayurvedic medication dan semangat kembali pada bahan-bahan alam.

Selamat mencoba 😉

p.s. Resep di atas tidak ada landasan medisnya ya. Konon ini resep dari seorang sinshe. Saya hanya sekadar berbagi apa yang manfaatnya sudah dirasakan keluarga saya. Apabila punya masalah medis yang lebih serius, sila berkonsultasi dengan dokter atau herbalis.

*

 

Sepercik Kesenangan Ala Konmari

Baiklah. Mari kita buka posting-an ini dengan sebuah pertanyaan:

“Apa yang sungguh-sungguh membawa kegembiraan dalam hidupmu?”

WhatsApp Image 2017-08-02 at 10.01.30 PM.jpeg

Jawaban dari pertanyaan ini pasti bermacam-macam. Boleh jadi ada di antara kita memerlukan waktu lebih banyak untuk merenungi, apa yang sebenarnya membawa kebahagiaan? Apakah kita sudah dikelilingi oleh hal-hal yang memercikkan rasa senang, atau kita bertahun-tahun membohongi diri sendiri?

Pesan tersebutlah yang saya dapatkan dari metode “Konmari”. Walaupun sudah banyak dikenal, bukunya international best seller, dan dinilai fenomenal; saya akan sedikit mengulas apa itu metode “Konmari”.

Konmari adalah sebuah sistem “bebenah” yang dicetuskan oleh seorang perempuan Jepang berperawakan mungil dan super kawaii bernama Marie Kondo. Bukunya yang berjudul “The Life Changing Magic of Tidying Up” atau kalau saya boleh terjemahkan secara suka-suka “Sihir Bebenah yang Mengubah Hidup” terjual lebih dari lima juta kopi di seluruh dunia. Kondo juga sudah berkeliling dunia untuk menemui klien membenahi rumah mereka.

Di negara maju, “beres-beres” rumah sudah menjadi sebuah bisnis yang lumayan menjanjikan. Sesuatu yang terdengar nonsense bagi sebagian orang. Seriously? Beres-beres rumah aja perlu konsultan?

Faktanya, di era dimana segala hal serba ‘fast’, teknologi yang memudahkan belanja, dan konsumerisme yang menjangkiti banyak orang; kita (terutama perempuan) menjadi lebih impulsif membeli barang yang sebenarnya…. tidak kita perlukan. Membeli barang, just because. Bahkan, dalam wawancara saya dengan Narga Habib, pemilik agensi periklanan beberapa tahun lalu, ia mengatakan bahwa enam dari sembilan barang yang dibeli perempuan tidak dia butuhkan? Bener nggak? *tutup muka* *tunjuk diri sendiri*

Rumah kita kerap kali dipenuhi oleh barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Lebih dari itu, barang-barang tersebut malah kadang tidak kita inginkan. Hanya karena sudah terlanjut beli, masa nggak dipake?

Let me name a few:

Angkat tangan bagi yang pernah beli baju karena diskon?

Angkat tangan bagi yang pernah beli baju “target” kurus yang tidak pernah tercapai?

Angkat tangan bagi yang pernah beli buku yang sampai sekarang masih perawan?

Angkat tangan bagi yang punya sepatu, tapi jaraaang dipake karena nggak enak di kaki?

Nah, disinilah esensi metode Konmari.

Hal paling penting dalam memiliki sebuah barang adalah apakah barang tersebut “spark joy”, atau memercikkan kesenangan (ini terjemahan saya ya). Lupakan masalah butuh atau tidak butuh, perlu atau tidak perlu, atau…. siapa tahu nanti perlu. Lupakan semua ‘just in case’ items.

Kita hanya perlu alasan sederhana: Spark Joy.

Marie Kondo menyarankan agar kita menyortir barang berdasarkan kategori: Baju, Buku, Kertas-kertas, dan Pernak-pernik (alias lain-lain). Kondo memulai dari baju (termasuk celana, dan semua yang terkait dengan per-baju-an), karena ini adalah barang dengan perputaran super cepat. Selera kita berubah, ukuran kita berubah *glek*.

Gimana cara melakukannya? Meskipun banyak banget videonya di youtube, tapi saya akan coba jelaskan dengan sederhana.

Pertama, turunkan semua pakaian yang ada di lemari, di laci, atau di lemari suami :p. Biarkan baju-baju itu tergeletak di lantai. Kemudian, pegang satu persatu dan rasakan… Apakah barang tersebut memercikkan kesenangan?

Pisahkan benda-benda yang memercikkan kesenangan, dan yang tidak. Susun ulang yang memercikkan kesenangan ke dalam lemari, dan yang tidak memercikkan kesenangan diletakkan dalam kantong atau kardus, untuk dijual atau didonasikan.

Lakukan hal yang sama untuk kategori-kategori lain.

Kuncinya, menurut saya satu saja. Be honest to yourself. Dan saya jamin, kita akan terkejut mendapati bahwa sebenarnya kita bahagia hanya dengan sedikit barang.

Sudah terbayang?

Screenshot_2017-08-01-20-17-25[1]

Sayangnya, video prosesnya ngga bisa di-upload. Kira-kira begitu hasil akhirnya.

Untuk yang sudah pernah melakukan konmari, mungkin merasakan hal yang sama dengan saya: Released. Percayalah bahwa meminimalisir kepemilikan itu therapeutic alias sebuah terapi. Setelahnya, kita akan merasakan hati yang lebih lapang, dan pikiran yang lebih terbuka. Bahkan, mengapa Kondo berani menamai metodenya sebagai sesuatu yang mengubah hidup? Karena ‘spark joy’ bukan hanya masalah beres-beres rumah semata; ini masalah me-re-orientasi kehidupan.

Banyak orang yang mengaku berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya, mengubah kehidupan dan persepsinya; setelah memulai dengan hal se-sederhana menerapkan Konmari dalam membereskan rumahnya.

Personally, ini adalah tahun ke-tiga saya melakukan Konmari, once in a while. Barang-barang yang saya keluarkan tidak se-massive dulu. Mungkin karena saya, akhirnya, belajar jujur pada diri sendiri. Dalam hal fashion, setidaknya ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, hanya ada empat jenis warna yang saya simpan: Monochrome kecuali abu-abu muda, Nudes, Marun dan Dusty Pink. Kedua, saya ternyata suka banget pake gamis :D. Ketiga, motif bunga-bunga hanya saya sukai sesaat saja. Indah dilihat, tapi tidak untuk selamanya dimiliki.

Oia, hal lain yang menjadi ciri khas metode ini adalah cara melipat pakaian. Untuk bagian ini saya tidak sepenuhnya mengikuti. Tapi, idenya boleh dicoba. Intinya adalah, setiap pakaian harus dapat “berdiri sendiri” sehingga dapat disusun dengan cara ‘dijejer’ alih-alih ditumpuk. Pakaian-pakaian seperti dress tentu saja tetap digantung.

Tentunya, ada plus minus dari metode ini. Yang saya sebutkan di atas adalah nilai-nilai plusnya. Minusnya, ketika hati saya sangat senang, melakukan Konmari menjadi lebih sulit karena semua terlihat membahagiakan hati. Hehehehe… Kemudian, ketika semua sudah ‘spark joy’ sedangkan saya merasa masih memiliki terlalu banyak, sulit sekali menentukan mana yang harus saya keluarkan. Akhirnya, saya menemukan metode saya sendiri. Kapan-kapan kalau sudah konsisten, insyaAllah akan saya share. Selain itu, dalam kehidupan pribadi, ada banyak pertimbangan dalam memutuskan sesutau. Bukan hanya apakah suatu hal membahagiakan atau tidak. Ada hal-hal yang tidak menyenangkan kita tapi kita tahu harus dijalani. Seperti, minum obat.

Bagaimana? Berani mencoba?

 

Dalam rangka mengikuti tantangan #OneDayOnePost  #KomunitasBloggerMuslimah   #ODOP2

 

This is My Special Book

Karena saya terinspirasi banget dari page Special Book by Special Kids (SBSK) yang digagas Chris Ulmer di Facebook, saya jadi ingin sedikit (kayak bisa aja nulis dikit) menuliskan cerita saya. Cerita kakak saya sih.

Namanya Nanda.

“En-A-Nan-Da,” demikian kakak saya mengeja namanya.

Meski usianya lima tahun lebih tua dari saya; tapi semua orang mengira sayalah kakaknya. Katanya sih, ABK atau anak-anak berkebutuhan khusus memang tampak lebih muda dari usianya (jadi bukan saya yang tua :p).

Apa rasanya mempunyai kakak berkebutuhan khusus?

Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya yang masih kecil; jawaban saya tidak akan seindah para adik atau kakak dari ABK di laman SBSK. Saya pasti akan menjawab: saya memilih jadi anak tunggal atau punya adik. I’ve always wanted siblings that are younger than me (yang baru saya peroleh saat saya SMA). Kenapa? Supaya bisa diperintah-perintah. Hehehehe. Punya kakak itu semacam ada intimidasi eksistensi saya yang terlahir koleris (walaupun berkembang jadi sanguin dan sekarang jadi metal alias melankolis total). Walaupun faktanya, I was always the leader to every game I created.

Tapi, seiring usia bertambah, dan perasaan saya yang makin tipis (baca: sensi); saya memaknai kehidupan saya bersama kakak yang berkebutuhan khusus sangat berbeda.

I wouldn’t be who I am today without her.

Memiliki anggota keluarga yang “spesial” adalah berkah. Karena tidak pada semua keluarga Allah titipkan mereka. Mereka adalah orang-orang dengan hisab yang mudah kelak di akhirat, dan kunci-kunci surga bagi yang merawatnya. Hanya pada keluarga yang Allah inginkan berlimpah kasih sayang dan kebaikan. Saya yakin itu.

Kenapa?

Karena dunia ABK itu sederhana bagi mereka, meski rumit bagi orang sekitarnya. Semua orang adalah teman. Mereka tidak kenal benci dan dendam. Fitrahnya terasah untuk berlaku baik kepada semua orang, berlaku kasih sayang.  Setidaknya ini yang saya lihat dari kakak saya dan teman-temannya.

Apa diagnosa dokter?

Kata Mama saya, menurut dokter, kakak saya Cerebral Palsy. Spesifiknya tidak dijelaskan. Mungkin kalau di negara-negara maju, jenis cerebral palsy sudah terkategorisasi lebih spesifik. Yang jelas, kakak saya cerebral palsy bukan karena bawaan janin, dan bukan pula kelainan atau kelebihan kromosom seperti pada anak-anak Down Syndrome. Salah satu penyebab cerebral palsy adalah kekurangan oksigen karena terlalu lama di jalan lahir. Demikian yang saya dengar dari Mama, dan saya baca dari internet.

Seiring dengan berkembangnya usia kakak saya, ternyata ada bagian otaknya yang menyusut secara dini, sehingga ia mengalami penurunan signifikan secara kognitif. Apabila dulu, sampai kakak saya menginjak usia 20-an, tidak banyak yang mengira ia berkebutuhan khusus; maka sekarang secara fisik sudah dapat terlihat. Apabila dulu, kakak saya dapat menulis dengan cukup baik dan benar; maka sekarang tulisannya lebih sulit dibaca dan banyak kesalahan dalam ejaan.

Ada banyak hal lainnya yang dulu bisa dilakukan kakak saya dan sekarang tidak bisa dilakukan lagi. Namun demikian, saya berusaha selalu mengapresiasi hal-hal kecil yang berhasil dilakukannya.

Seperti apa kehidupan anak-anak berkebutuhan khusus?

Pada dasarnya sama seperti kehidupan kita semua, hanya dalam dunia mereka, segala sesuatunya lebih sederhana. Kakak saya juga jatuh cinta, bahkan pernah pacaran dengan teman satu sekolahnya. Sang pacar (almarhum) membuatkan pigura handmade dengan logo hati saat kakak saya ulang tahun. Kakak saya juga pernah patah hati, ditelikung sahabatnya sendiri yang bernama Dewi (saat ini sudah menikah dan sudah memiliki anak), berantem hebat di sekolah karena rebutan pacar, hingga akhirnya mengalah demi persahabatan.

Kakak saya punya indera keenam dalam masalah kuliner. Kadang-kadang kakak saya meminta makanan yang baru selesai digoreng, padahal posisinya jauh dari dapur. Entahlah, mungkin indera penciumannya tajam sekali. Hihi.

Kakak saya, yang saya panggil Mbak Nanda, suka sekali makan dan diam-diam memperhatikan iklan-iklan makanan di televisi.

Suatu ketika Mbak Nanda minta dibelikan “Teh Safana”. Setelah dibawa ke Indomar*t, ternyata yang dimaksud adalah Teh Jav*na. Kami se-rumah bingung darimana Mbak Nanda tahu merk teh tersebut. Tentu… blame it on TV xD. Teh terakhir yang diminta Mbak Nanda, yang disebutnya dengan “Teh Racuman” sampai sekarang masih misteri seperti apa wujudnya. Papa saya sampai bertanya langsung ke petugas supermarket yang langsung kebingungan karena belum pernah dengar merk tersebut. Tebakan saya sih Teh Pucuk Har*m. Wallahu a’lam.

Mbak Nanda juga suka belanja dan menyukai model baju tertentu. Baju pas badan apalagi dengan ikat pinggang adalah kesukaannya.

Apakah kakak saya pernah di-bully?

Pernah! Walaupun most of the times, kakak saya adalah pribadi lovable yang disayang semua orang; tapi kakak saya pernah di-bully. Saya masih ingat kejadiannya. Masih ingat pula rasanya. Marah, sedih, malu, kesal. Saya masih kecil ketika kejadian tersebut terjadi. Tapi cukup besar untuk mengingat dan merrekam wajah pimpinan kelompok anak-anak berandalan yang sering main di kompleks. Ia adalah anak laki-laki berkulit hitam, dengan rambut kemerahan (entah kurang gizi atau kebanyakan main layangan). Definisi absolut dari alay versi masa lalu.

Kata-kata persisnya saya lupa. Sepertinya berputar-putar pada kata-kata “gendut”, “cacat” atau “gila”.

Tapi, tahukah apa yang paling menyakitkan dari kejadian itu? Bahwa seberapa pun saya membalas kata-kata gerombolan begundal itu sebagai usaha membela kakak saya,  Mbak Nanda, tidak merasa dirinya diolok-olok. Kakak saya tidak paham bahwa dirinya menjadi pusat perhatian (sebagaimana dia selama ini selalu demikian) not in a good way.

Kenapa saya jarang sangat terbuka perihal kakak saya?

Karena menceritakan kakak saya membuat saya baper banget. Pengalaman mengajarkan saya untuk selektif menceritakan tentang kakak saya. Tidak semua orang bisa menerima, memahami standpoint saya. Banyak orang hanya mendengar, tapi tidak mendengarkan. Saya juga tidak bisa memaksa tho?

Seperti halnya saya males membahas masalah kehamilan dan program-program hamil ke sembarang orang; karena saya lelah dengan pertanyaan lanjutannya. Menjawabnya kembali, memahamkan pemahaman yang keliru (bisu tuli, down syndrome, autisme tidak sama dengan cerebral palsy), hanya untuk mendapati bahwa kadang mereka yang bertanya memang tidak berniat untuk mengubah pemahamannya. #cumakepo

(Jadi, kalau saya cerita ke kamu, mengisahkan kelucuan-kelucuan kakak saya di rumah; terima kasih banyak yaaa… tandanya saya percaya bahwa kamu sungguh memahami :’))

Why now?

Why not? Rencana ini sudah ada lama. Dari mulai berbentuk rancangan penelitian ilmiah, mau bikin novel, cerpen, apalah apalah apalah. Daripada saya sibuk dengan rencana, lebih baik saya mulai. Mulai dari diri sendiri.

Selain itu, saya mendapati banyak keluarga berada pada fase denial terlalu lama. Kejadian ABK yang dikurung, dipasung, dianggap tidak ada, dibiarkan berkeliaran, atau disembunyikan dari tamu; bukan sedikit jumlahnya. Padahal, menerima keadaan ABK adalah tahap krusial dalam perkembangan ABK itu sendiri. Ini menurut saya sih.

To make it short, biar macam wawancara di tipi, harapan terbesar saya untuk kakak saya adalah:

Saya ingin Mbak Nanda bahagia :’)

Ketika anggota keluargamu ada yang memiliki kebutuhan khusus, apakah karena alzheimer, autisme, down syndrome, atau berkondisi seperti kakak saya; percayalah, menyaksikan wajah mereka berseri itu priceless.

And finally,

Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa ada orang-orang yang Allah ciptakan istimewa. Mereka mungkin tidak bisa menjadi presiden, polisi atau politisi. Tidak pula menjadi konglomerat yang punya banyak relasi. Tapi orang-orang istimewa ini, Allah kosongkan rekening dosanya tanpa Allah kurangi kasih sayang-Nya atas diri mereka.

 

 

 

 

 

 

Bagi Kamu yang Meragu

Ramadhan yang baru saja berlalu, menyisakan banyak hikmah bagi mereka yang mau mengambil pelajaran. Salah satunya adalah semakin banyak Muslimah di Indonesia yang memutuskan untuk menutup aurat. Meskipun tidak perlu menunggu Ramadhan, tapi mencari momen yang sesuai sangatlah penting bagi sebagian orang. Mengapa? Karena mengenakan hijab adalah keputusan besar yang boleh jadi awal dari berbagai pilihan lain dalam hidup. So, you kinda want to make this memorable.

Saya sendiri memulainya di Ramadhan, 17 tahun lalu. Anak SMP yang lagi naksir sama kakak kelasnya, anak mall, update dengan musik-musik terkini itu memutuskan untuk berhijab. Apa yang ada di pikiran saya ketika itu?

Lemme tell you a bit of my background.

Keinginan saya tidak sepenuhnya didukung oleh lingkungan. Keadaan ketika itu tidak seperti sekarang dimana hijab seakan menjadi genre fashion tersendiri. Dulu, kain yang dilipat menjadi segitiga itu, yang kami sebut jilbab; hanya dikenakan oleh golongan tertentu. Pertama adalah para santriwati. Masa itu pula, stigma “santri” dan “pesantren” identik dengan kekolotan; apalagi buat anak remaja yang sekolah di sekolah yang konon tempat anak orang-orang berduit. Golongan kedua adalah para ibu haji, alias emak-emak yang baru pulang haji. Tidak seperti sekarang dimana tidak perlu menunggu usia emak-emak untuk naik haji; ketika itu hanya emak-emak dan bapak-bapak yang naik haji. Sebagian dari mereka memutuskan untuk berjilbab setelah pulang Haji. Walaupun sebagian lagi tidak. Golongan ketiga adalah para ustadzah. Ustadzah-ustadzah muda yang sekarang banyak mengabdi di masyarakat mungkin masih pada kuliah di Cairo atau Mekkah di jaman itu. Ustadzah Oki Setiana Dewi bahkan masih SD. Ustadzah yang terlihat di depan mata saya adalah mereka yang mengenakan kerudung lempar, a.k.a selendang rambut. Ada sih, tentunya, golongan lain yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar. Guru-guru SMP saya, misalnya.

Berjilbab ketika itu seakan-seakan harus siap menghadapi kenyataan bahwa tidak banyak pekerjaan yang mau menerima karyawan berjilbab. Termasuk juga soal jodoh. Saya dibisiki kiri kanan bahwa “the options are limited, you either marry an arab or no one would marry you”. xD

Tapi saya punya guru-guru yang shalih dan shalihah. “Rezeki dan jodoh itu sudah diatur sama Allah”, ujar salah satu dari mereka saat saya menceritakan kondisi saya. Mereka juga yang pertama-tama “me-madu-i” (yakali meracuni) pikiran saya tentang jilbab. Too deep, hingga setiap kali saya bangun tidur saya dibayang-bayangi ketakutan akan meninggal seketika.

What if I die today? What if I never wake up?

Yang namanya anak SMP, pada dasarnya pikiran saya sependek itu. Saya nggak bener-bener berpikir panjang bakal nggak dapet jodoh, nggak dapet kerja, nggak punya temen… Pikiran saya sependek itu. Sependek bangun tidur dan mendapati diri saya belum berjilbab. Sependek ketakutan kalau saya meninggal seketika itu juga, saya tidak punya jawaban atas pertanyaan malaikat di alam kubur padahal saya tahu dan hati saya menerima sepenuhnya bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi muslimah yang sudah akil baligh.

Suatu ketika, teman saya bertanya, “kok lo pake jilbab? Kan kelakuan lo belum baik”. Pertanyaan-pertanyaan macam itulah. Saya ini (sejak) dulu baragajulan. Dulu, saya bukan tipe anak yang rajin mengaji, jago bikin puisi *eaaa. Pun saya lebih banyak bergaul sama lagu daripada sama kitab suci.

“Itu kewajiban seorang muslimah. Mau dia pelacur pun, kalau muslimah ya wajib pake jilbab,” demikian jawaban saya.

Sulitlah kalau dicari terus apologi-nya. Kalo nggak pake jilbab emang halal jadi penjahat?

Demikianlah sedikit latar belakang saya.

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa berjilbab adalah pilihan. Why so? Karena dalam surah Al-Baqarah ayat 256, Allah menyebutkan bahwa “tidak ada paksaan dalam agama”. Toh kita ini, yang tinggal di bumi-Nya Allah dan dikasih nafas-makan-minum-kebahagiaan siang malam; memang disisakan DUA pilihan:

Taat. Atau tidak taat.

Selesai perkara.

Bukan berarti berhijab sudah ter-taat. Tentu saja tidak. Ini adalah salah satu usaha menaati Pemilik Semesta. Masih banyak PR-PR ketaatan lainnya, seperti berlaku adil, jujur, memuliakan tamu, patuh pada orang tua, membayar zakat, shalat tepat waktu, menuntut ilmu agama, menyempurnakan pekerjaan (profesional) daaaaaaan banyak lagi.

Namun demikian, saya percaya, kran-kran kebaikan lain akan terbuka ketika kita melakukan sebuah kebaikan dengan niat murni karena Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amal shalih hamba-Nya di dunia dan akhirat.

Jadi, jika kamu ingin berhijab tapi masih maju-mundur cantik; my advice would be:

Maju!

Do the best, Allah will do the rest 😉

ID-10033275

 

 

Pesan dari rahimahullah Buya Hamka, inspirasi orang tua saya, pendiri YPI Al Azhar tempat orangtua saya menyekolahkan saya dan qadarullah tempat saya berkarya.

Dan buya, sungguh bukan orang dungu. Bukan. Buya adalah orang berilmu yang saya yakin, seandainya beliau menyaksikan apa yang terjadi hari2 ini, beliau pun akan marah.

Begitulah. Saya mendukung aksi damai 4 November, meski tidak menghadirkan diri karena dilarang suami. Bukan karena benci pada siapapun atau golongan manapun. Bukan karena “Tuhan perlu dibela”. Bukan karena saya tidak memaafkan “dia yang lisannya tidak sekolah”.

Bukan.

Saya mendukung aksi damai 4 November karena saya cinta dan beriman pada ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW, karena saya cinta pada Al Quran. Dan karena ini adalah hak saya.

Jadi, apakah kamu, seorang Muslim, yang mengatakan mereka yang ingin menggunakan haknya dan berniat dan merencanakan matang2 untuk melakukannya dalam kedamaian, adalah kumpulan orang2 dungu, lebih pintar dari Buya?

Bukankah ujarmu, keadilan harus sejak dalam pikiran?

😊😊😊

View on Path

Selera

Selera adalah salah satu hal yang paling serius dan penuh komitmen di dunia. Tidak bisa diubah begitu saja, atau dipaksakan hadirnya. Namanya juga selera. Selera saya, boleh jadi sama dalam satu hal dan berbeda dalam hal lain dengan kamu.

Hari ini saya beli lipstik (lagi). Di antara rahasia saya yang paling gelap adalah obsesi saya pada lipstik. Dan saya beraliran “nudist” dalam urusan ini. Sudah lama banget, sisi gelap Shinta Galuh Tryssa ingin mencoba warna-warna bold, karena sejujurnya deep within me, I know warna bold itu cocok dengan kulit saya yang cenderung pucat. Tapi, saya malu. Bukan minder ya. Malu. Malu karena terlalu mencolok. Malu, karena malu adalah pakaian seorang Muslim. 😉

So I keep on buying nude lipsticks instead.

Termasuk semua (emang beli berapa yak… >_<) yang saya beli hari ini. Bernuansa nude. Yang kalau diswatch pasti tone warnanya mirip-mirip. Yang kalau dioles di bibir cuma sekali, perlu mata batin untuk melihatnya. Hehehehe…

Itu selera saya.

Selera yang dilatari oleh banyak faktor. Suami, salah satunya. Suami saya nggak suka perempuan menor dan agresif (jadi percuma juga kan beli warna merah dia juga nggak suka… xD). Jadi, punya lipstik “nude” atau “peachy pink” memang lebih aman. Aman karena membuat hati senang, penampilan lebih rapih tanpa terlihat dandan banget, menutupi kepucetan wajah saya, dan…membahagiakan suami saya, insyaAllah.

Ngomong-ngomong suami, pasangan hidup juga sedikit banyak soal “selera”. Dulu, saya pernah sesumbar nggak suka sama cowok putih, nggak boleh lebih putih dari saya, dan saya nggak suka tipe cowok agak ke-bule-bule-an. Tipe saya, DULU inget ya…dulu, yang kulitnya sawo matang atau hitam sekalian. Jadi kalau ada Christian Sugiono dan Kamga Muhammad, tau kan kira-kira siapa preferensi saya? (suami saya dong pastinya… ini kan cuma permisalan aja xD) Namun demikian, saya sebenarnya nggak terlalu ngelihat tampilan fisiknya. Karena, lelaki-lelaki yang pernah saya idolakan baik terang2an maupun gelap2an (eh), fisiknya beda-beda banget.

Selain baik hati, menjaga diri dan takut sama Allah (‘standar’lah ya…),

Kayaknya saya suka sama laki-laki yang bisa bikin saya ketawa (ini menurut pengamatan sahabat saya), saya senang didengarkan, dan… saya suka banget sama cowok pinter yang bikin saya bisa “ternganga-nganga” ngedengerin dia ngomong, cerita atau ngajarin saya. Meski objek yang diajarin itu absurd buat saya. Seperti, rumus fisika, misalnya. Atau macam-macam kecepatan, dari mulai peluru sampai cahaya. ABSURD! Dan meski hati saya bergumam, “Bodo amat”; tapi saya menikmati pembicaraan itu. Saya menikmati dianggap mengerti. Kalau ada pasangan lain yang ngga mau mikirin urusan kantor suaminya, saya justru merasa senang kalau suami mau cerita dan minta pendapat saya. Saya suka, dengan laki-laki yang menghargai intelektualitas seorang perempuan tanpa merasa terintimidasi.

But then, again, as an ENFJ, dalam hal pasangan saya kayaknya nggak ribet. Sama kayak makanan. Saya nggak pilih-pilih asal bukan kambing, duren, atau jengkol. Tapi saya menghargai mereka yang “pemilih” dalam hal pasangan hidup. Orang kan beda-beda ya…

Mungkin saya tipe yang bisa menikah, lalu mencintai 🙂

Dulu saya nggak bisa membayangkan menikah dengan orang yang ngasih saya list pekerjaan yang harus saya selesaikan xD. Saya kira saya pasti akan berontak dan marah. Tapi, ternyata setelah menikah, meski kadang bersungut-sungut, saya seneng digituin. Malah saya merasa dihargai dan dibutuhkan. Alhamdulillah, suami masih membutuhkan saya. Masih mencari saya meskipun semua pekerjaan itu bisa dilakukannya sendiri. Dan suami saya, akhirnya, dengan segala yang ada pada dirinya, adalah selera saya. Kalau ternyata suami saya warna kulitnya lebih putih dari saya, dan ada turunan bule-nya; ya..alhamdulillah itu juga selera saya. ^_^

😉

-Istri yang masih jatuh bangun jadi shaliha-