12 Hari Tersisa: Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

Saya tidak suka dengan pemikiran JIL. Tapi sekaligus merasa tidak cukup fair karena saya menolak untuk membaca buku-buku mereka, atau mem-follow salah satu dari mereka di dunia maya. Kenapa? Karena saya tidak suka. Titik. Tidak benci sama sekali sih, karena bagaimanapun juga mereka patut dikasihani dan didoakan agar dikembalikan ke jalan yang lurus, alih-alih dibenci.

Menurut saya, mereka ini jauh lebih berbahaya dari ahmadiyah atau bahkan pemurtadan sekalipun. Memakai bungkus Islam, mengutak-atik pemikiran kita, membuat dikotomi Islam pluralis dan non pluralis, membuat Islam seolah-olah demikian tidak pluralis karena “kepintaran” mereka membolak balik kata. Kok bisa? Ya! Karena patut diakui, orang-orang JIL adalah para cendikia yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Dan saya yakin orang-orang macam ini membaca lebih banyak buku dari orang-orang kebanyakan.

Knowledge is power…

Dan inilah yang mereka miliki. Mereka bisa menguraikan detail tafsir Quran versi berbagai kitab klasik lalu diputarbalikkan dari sudut pandang mereka. Sementara kita, terjemahan Al-Quran yang katanya kita cintai pun belum khatam kita baca. Mereka bisa “memandang” Islam dari sudut pandang filsuf barat, sementara kita, boro-boro kenal filsuf barat, kenal dengan pemikir Islam yang sudah berabad-abad lampau meng-outsmart pemikir barat, Ibnu Khaldun, saja tidak. Mereka bisa “menyamakan” agama-agama karena mereka membaca ajaran agama lain, sedangkan kita? Tahu bedanya agama kita dan mereka, tahu alasan mengapa ber-Islam, tahu alasan mengapa harus Islam yang benar saja tidak?

Dan saat mereka atau orang-orang sepaham dengan mereka menggelar diskusi atau bedah buku yang, katakanlah, menghina Rasulullah SAW yang akan senantiasa mulia dan tidak berkurang kemuliaannya walaupun dihinadina, kita marah. Bereaksi dengan kekerasan. Diliput media dari sudut pandang Islam “Anarkis” melawan Islam “non anarkis”. Done!

Knowledge harus dilawan dengan knowledge, teman! Kalau kita belum bisa outsmart mereka, media massa akan selalu memposisikan “kita” dengan pihak anarkis, dan “mereka” dengan korban. Sebuah skema untuk menimbulkan simpati sekaligus kebencian pada Islam fundamentalis. Padahal beragama secara fundamental itu harus!

Dalam sebuah percakapan grup BBM, salah seorang teman non Muslim saya berkomentar, “saya sih nggak peduli konten kontroversial bedah buku Irshad Manji, tapi cara kekerasan itu tidak bisa dibenarkan”. OFKORS! Mereka, teman-teman kita yang non Muslim tidak punya kepentingan dengan konten orang-orang liberal, apakah itu JIL atau orang-orang yang mendadak “kelihatan” pintar dengan mengaku-ngaku liberalis yang menjelek-jelekkan Islam. KITA yang punya kepentingan. Kepentingan membela Islam, sekaligus mendakwahkan kebenaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam kepada teman-teman kita yang non Muslim. Tapi bahasa “kekerasan” dan “damai” itu universal. Semua orang CINTA DAMAI. Ini prinsip pertama yang harus kita ketahui. “Kekerasan”  bukan jawaban dari intelektualitas. Intelektualitas, sekali lagi, hanya bisa dilawan dengan intelektualitas yang lebih dari itu!

Jadi, menurut saya, IMHO, ada sejumlah hal yang harus kita lakukan (saya terutama) dalam rangka melawan mereka:

Pertama, banyak belajar. Sebanyak-banyaknya. Tidak perlulah sekolah jauh-jauh ke Amerika macam si “U” untuk bisa banyak pengetahuan. Ibnu Khaldun toh tidak sekolah ke Amerika. Khatamkan tafsir Al-Quran, banyak berguru pada mereka yang berilmu, agar apabila ada yang menghina atau memutarbalikkan tafsir Al-Quran, kita bisa melawan bukan dengan emosi, tapi juga disertai argumentasi. Baca buku-buku Ibnu Khaldun, dan pemikir Islam lainnya yang saya pikir sekarang sudah lebih mudah ditemui di toko-toko buku. Pelajari sejarah Islam universal, dan bagaimana masuknya Islam ke Indonesia. Bandingkan dengan sejarah bagaimana masuknya agama lain ke Indonesia. Dari sejarah kita belajar banyak bagaimana Islam bisa mingle tanpa kekerasan. Pelajari juga bagaimana sebenarnya Islam berbeda dengan agama lain. Kenali agama kita dengan ilmu tinggi dan rendah hati. Investasi ilmu itu tidak akan pernah merugi!

Kedua, pelajari bagaimana perilaku media massa. Sensasi, tidak bisa dipungkiri adalah salah satu (bukan satu-satunya) mata pencaharian media massa. Jadi label “kekerasan” versus “damai” itu tidak pernah tidak menarik apalagi kalau sampai berjatuhan korban. Dengan membaca perilaku media massa lain selain media yang biasa dikonsumsi ummat Islam seperti Republika atau Sabili, kita bisa melihat apa sebenarnya yang dilihat oleh khalayak lain selain kita dan yang diperlihatkan media massa kepada khalayak selain kita.

Ketiga, sebagaimana yang saya sebut-sebut di atas, kekerasan bukan jawaban dari intelektualitas. Kecuali mereka membabi buta menyerang Masjid (yang tidak mungkin dilakukan sepertinya…). Pedang melawan pedang, kata melawan kata. Seperti Ustadzah Irena Handono “menjawab” tuduhan orang-orang yang tidak suka pada Islam dengan menyebut Rasulullah SAW sebagai phaedophil (na’udzubillah….), dengan mengeluarkan buku yang dilengkapi riset dan fakta plus ceramah di berbagai majlis mengenai isi buku tersebut. Buku adalah produk dari pengetahuan. Dan tanpa “otot”, Ustadzah Irena mensyiarkan kebenaran mengenai Rasulullah SAW yang mulia.
Keempat, saatnya mulai “mengenal” pandangan liberal dari sumbernya, bukan dari ustadz yang memandang dari sudut pandang agama. “Mereka menolak amar ma’ruf nahi munkar”, itu kata-kata yang saya baca di sebuah situs yang menentang JIL. Yaeyyalahh… Tapi apa, siapa dan bagaimana-nya itu kan kita tidak tahu, dan ustadz itu juga tidak tahu. Kalau kita mau tahu baca langsung dari sumbernya. Dan ingat, bahwa Allah menurunkan Islam lengkap dan paripurna. Se”benar” apapun kelihatannya pemikiran mereka (apabila kita sudah melihat pemikiran mereka langsung dari sumbernya), ingatlah bahwa kebenaran itu relatif bagi mereka. Jadi untuk apa, dan apa dasarnya kita mempercayai mereka? Mereka kan manusia biasa yang jelas-jelas salah :p. Toh kita hanya ingin tahu sudut pandang yang mereka gunakan.

Kelima, percaya diri. Jangan merasa rendah diri hanya karena salah satu dari kita mungkin tidak secerdas atau seberkelimpahan secara materi dibandingkan mereka yang liberal. Setelah kita berikhtiar dengan belajar buanyak, dalam konteks “melawan” liberalisme Islam ini, di atas segalanya kita harus selalu ingat bahwa Allah bersama kita, dan Allah lebih dari cukup. Dan kemenangan yang benar itu sebuah kepastian. Jadi, insya Allah, Allah akan memudahkan kita untuk belajar banyak, mengumpulkan banyak ilmu untuk bisa meng-outsmart para liberalis.

Ini jihad kita di bumi Indonesia. Dan Allah bersama kita, saudaraku. Selalu.

#IndonesiaTanpaJIL

#menunggu12HariDenganTidakSabar

Advertisements

Catatan Kecil Untuk Saya dan Saudara

Miris.

Di belahan barat bumi ini, begitu banyak hidayah Allah ditebarkan, sehingga banyak orang berpindah haluan dan memeluk Islam. Saya kira awalnya, ini hanya sesuatu yang dibesar-besarkan. Tapi setelah saya bertemu dengan Kristin, Muslimah asli dari Eropa Timur dan besar di New York di sebuah situs jejaring sosial; mencari informasi di situs ‘netral’ bahkan situs yang sangat kontra terhadap Islam; saya mulai percaya, matahari sudah menampakkan kerjapnya di ufuk barat.

Mengapa miris?

Karena Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yang menurut nytimes.com kurang lebih sekitar 207 juta Muslim di seluruh Indonesia atau sekitar seperempat dari seluruh populasi Muslim dunia; entahlah, mungkin masyarakatnya yang sudah Muslim mulai jengah dan gerah dengan identitasnya sebagai Muslim.

Mereka mulai mempertanyakan agamanya; di satu sisi; di sisi lain mereka juga tidak ingin belajar untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka memilih mengekor pada media massa yang mencitrakan Muslim identik dengan kekerasan; padahal apakah mereka, tetangga muslim mereka, saudara muslim mereka diajarkan perbuatan yang sama?

Menarik sekali, saya menemukan sebuah komentar di republika.com; ‘muslim yang biasa saja tidak perlu ditakuti; tapi muslim yang belajar alquran itu yang perlu ditakuti…’. Hahahaha… saya tidak tahu yang menulis itu siapa, mengapa segitu takutnya sama Islam; yang saya tahu satu dan pasti: dia salah informasi.

Entahlah… Saya seringkali mendapat pertanyaan dari teman-teman non Muslim saya atau mendengar pernyataan teman-teman liberal, yang entah dari mana dapat ilmunya, ‘sembarangan’ mengutip ayat-ayat Qur’an yang berkaitan dengan jihad dan perang.  Padahal yang Muslim saja dilarang keras mengutip ayat setengah-setengah tanpa ilmu. Dan Al-Qur’an itu sarat konteks, saaaaaaangat amat sarat konteks. Ada sebab-sebab turunnya. Ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Ada kata-kata tertentu yang bermakna tertentu jika disandingkan dengan kata-kata setelahnya…Al-Qur’an, pada dasarnya tidak dapat diterjemahkan, karena padanan katanya mungkin tidak setara. Satu kata bisa berarti banyak makna…

Sedangkan memenggal-memenggal-nya, seperti kata memenggal ‘nikmati’ yang seharusnya berkonotasi positif menjadi hanya dibaca ‘mati’-nya saja… Hilang sudah esensi maknanya…

Lagipula, kok bisa -entah darimana sumbernya itu-, memutar balikkan ayat sesuka mereka? Mengapa? Apa tujuannya? Saya pribadi, ketertarikan saya pada ajaran agama, Islam sebagai agama saya maupun agama lain sama sekali bukan untuk mempermainkannya, tapi justru untuk memahami. Bukan untuk berganti haluan; tapi untuk saling menghargai.

Dan miris semakin miris,

Masyarakat Indonesia yang beragama tanpa ilmu, percaya mentah-mentah tanpa dicerna lebih dalam. buat saya, lebih baik kita mempertanyakan sebuah kebenaran tapi pada akhirnya kita menemukannya dengan utuh daripada kita menelan semua yang masuk tanpa pernah tahu apakah yang masuk ke dalam jiwa kita itu madu atau racun. Sehingga ada saja yang membabi-buta mencaci agama lain melalui corong Masjid tanpa peduli tetangga sebelahnya mungkin tidak beragama Islam; ada saja yang masih membakar menyan dan memberi sesajian pada leluhur yang -katanya- datang pada malam-malam tertentu…

Tidak semua pertanyaan memang, pada akhirnya, mampu dijawab oleh agama. Tetap saja, hati kita yang harus bicara. Apakah apa yang kita pilih sebagai agama dapat memenuhi segalanya yang kita butuhkan di dunia dan setelahnya?

Dari yang saya baca di internet atau dengar di youtube, orang-orang Barat yang menjadi Muslim rata-rata belajar Islam secara utuh dulu baru pindah agama. Utuh di sini, artinya benar-benar melihat esensi Islam dan ajarannya. Tentu teknis seperti sholat, puasa, dll; akan bisa menyusul kemudian. Tidak ada sesuatu pun  di dunia ini yang begitu lahir langsung berkembang besar melainkan ia harus berproses setapak demi setapak.

Seharusnya begitu pun dengan kita yang sudah Muslim. Kita tidak akan percaya dan akan membantah jika Rasulullah dikatakan pedofil -seperti kata ‘mereka’ yang-sudahlah-tak-usah-disebut-sebut-. Kita akan membela jika Islam disejajarkan dengan teroris. Kita akan marah jika Rasulullah dihinadina. Mengapa? Karena kita tahu, karena kita belajar, karena kita membaca.

Sekarang, apakah kita tahu beberapa ajaran Islam sudah digunakan di agama lain? seperti kata-kata orang tua adalah do’a? Atau kutipan hadits, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Atau, Tuhan-lah yang Maha memutarbalikkan hati manusia? Mungkin ketika itu kita dengar dari teman-teman kita yang berama lain kita akan mengangguk-angguk dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran universal tanpa kita ataupun mereka ketahui bahwa itu sudah diajarkan oleh Islam, oleh Rasulullah, 14 abad silam…

Jadi, jika suatu ketika kita ragu, apakah benar pilihan kita terhadap agama ini (Islam). Bukan, bukan agamanya yang salah; bukan pula Rasulullah yang mulia, yang dipilih Michael Hart sebagai tokoh nomor satu sepanjang sejarah, yang salah. Kita-lah yang harus banyak membaca, bertanya, membaca, bertanya, membaca, mencari, mengaplikasi…

Kita yang harus banyak belajar. Karena hanya dengan memiliki ilmu, kita akan dihormati 🙂