Cantik Berhijab? (Part 2)

Suatu hari di sebuah restoran, seorang kerabat berkomentar melihat sebuah keluarga yang istri dan anak perempuannya berhijab panjang.

“Itu mah bukan kerudung, itu mukena,” ujar kerabat saya setengah mencibir.

Pikir saya saat itu, “Apa yang salah dengan kerudung panjang? Tidakkah memang demikian idealnya kerudung bagi seorang perempuan Muslim?”.

Saya agak terkejut ketika menyadari tidak banyak yang paham tentang hijab yang disyariatkan Al-Quran dan Hadits. Termasuk ketika saya berada dalam perdebatan apakah boleh memakai berhijab, memakai rok midi dan kemudian disambung stocking? Saya tentu berkeras dengan jawaban “tidak”. Tapi rupanya ada yang mengatakan “boleh” karena menurut orang itu stocking sudah cukup menutup kakinya. Perdebatan itu kemudian mereda ketika saya bertanya balik, “Apa dia boleh sholat dalam keadaan seperti itu?”.

Setiap Muslimah paham bahwa shalat harus mengenakan mukena, yang terdiri dari dua set pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Seringkali jemari tersibak atau tangan terlihat sedikit saja kita sudah kasak-kusuk merasa shalatnya tidak sah. Apa bedanya dengan keseharian kita? Bukankah syarat penutup aurat ketika shalat dengan apa yang Allah syariatkan sebagai penutup aurat kita sama: Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan?

Supaya kita sama-sama pintarnya, yuk kita telaah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang hijab…

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Dari dua ayat ini, kita dapat mengetahui bahwasanya yang diperintahkan untuk berhijab adalah “perempuan beriman”. Ini menandakan bahwa berhijab adalah tanda keimanan. Sehingga, ketika berhijab yang herus diingat pertama kali adalah bahwa berhijab adalah untuk Allah, karena keimanan dan kepatuhan kita pada Yang Maha Segalanya. Ini adalah aturan pertama dari yang utama: Hijab adalah lambang keimanan.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya

Ayat ini menunjukkan bahwa hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada. Mengapa menutup dada? Karena dada adalah karunia Allah untuk para perempuan. Padanya ada keindahan rupa yang menjadikan banyak wanita berlomba-lomba menonjolkannya.  So, ini aturan kedua,  hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada.

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Jilbab, seringkali disalahartikan dengan hijab karena masalah budaya. Jilbab pada dasarnya mengacu pada pakaian panjang dan longgar yang menutup seluruh tubuh sampai ke mata kaki. Walaupun masih banyak berdebatan mengenai batasan jilbab bagi muslimah, tapi yang jelas, Al-Quran memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh. Ini adalah aturan ketiga, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh.

Hijab dan Jilbab, sesungguhnya berbeda, tapi satu kesatuan. Keduanya sama-sama dikenakan untuk menutup aurat perempuan Muslim. Banyak perbedaan pada batasan aurat di kalangan ulama. Mazhab syafii, misalnya, menganggap punggung tangan juga adalah aurat (ini alasan mengapa Muslimah di Indonesia shalat mengenakan mukena dan saat umrah/haji sibuk mencari sarung tangan), maka semestinya di Indonesia yang menganut mazhab Syafii dalam tata cara ibadah kerudungnya pun menganut mazhab Syafii. Yang kerudungnya panjang menjuntai menutupi telapak tangan. Mengapa ketika ada perempuan Muslim berpakaian demikian justru sering dicibir? Apakah yang mencibir lebih baik dari yang dicibir? Jangan-jangan mereka yang lebih disayang Allah daripada kita?

Nah, satu hal yang menginspirasi saya adalah kata-kata Ust. Ahsan Askan, MA, guru ngaji di kompleks tempat saya tinggal. Menurut beliau, pakaian seorang Muslimah (dan Muslim) harusnya adalah pakaian yang siap untuk dipakai shalat. Seperti perempuan-perempuan Mesir, kisahnya, saat azan berkumandang mereka langsung menuju masjid untuk shalat berjamaah, dengan pakaian yang mereka kenakan. Demikian juga yang sering kita lihat di Saudi manakala umrah/Haji. Dengan kerudung menutup dada dan baju panjang, para muslimah shalat tanpa halangan. Toh perintahnya kan sama-sama menutup aurat. Mengapa pada saat shalat kita detail sekali dengan kenampakan aurat, sedangkan keseharian kita tidak demikian? Jadi, ini saya masukkan ke dalam aturan berikutnya, hijab dan jilbab adalah penutup aurat yang sama fungsinya dengan penutup aurat saat shalat. Maka dari itu, idealnya, pakaian kita harus layak dipakai shalat, baik dari bentuk fisik maupun kebersihannya.

Selain dua ayat di atas, masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan tentang hijab yang “wearable”. Salah satu hadits menerangkan tentang perempuan yang berpakaian tapi telanjang dan menyerupai punuk unta yang disebut Rasulullah SAW tidak akan mencium bau syurga.

“Ada 2 macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian” (H.R. Muslim).

Kata-kata “Berpakaian namun telanjang” dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa berpakaian Muslimah tidak boleh ketat atau transparan sehingga terlihat seluruh lekuk tubuhnya seperti orang yang telanjang. Berikutnya adalah perihal punuk unta di kepala perempuan. Suatu hari saya tidak sengaja menjepit rambut saya tinggi-tinggi sebelum memakai kerudung. Alasannya sederhana, biar isis, alias adem. Saat saya mengenakan kerudung, di depan cermin saya termangu, mendadak saya teringat hadits di atas. Mungkin ini yang disebut dengan punuk unta. Pandangan saya sejalan dengan sebuah blog mengenai muslim fashion yang dibuat oleh seorang Muslimah Amerika. Grup diskusi blog tersebut sepakat bahwa hijab yang didalamnya “disumpel” sesuatu sehingga kelihatan “menjulang” adalah apa yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW tentang perempuan yang mengenakan sesuatu menyerupai punuk unta pada kepalanya. Dan sedihnya tidak berapa lama berselang, “punuk unta” tersebut justru menjadi tren dan dijual sepaket dengan “daleman” hijab. So, ini aturan berikutnya, hijab itu tidak menyerupai punuk unta.

Saya sebagai penulis, bukan perempuan yang paling sempurna dalam berhijab. Kesempurnaan hanya milik Allah; sedang contoh terbaik dalam berhijab adalah para istri Rasulullah SAW dan para wanita beriman di zaman Rasulullah SAW yang bersegera dalam berhijab ketika turun perintahnya.

Ketika kita memutuskan untuk berhijab, itu adalah sebuah langkah besar. Hijab yang kita kenakan adalah untuk Allah, bukan untuk menjadi cantik, bukan untuk dilirik, bukan untuk menunjukkan bahwa kita bertakwa, apalagi menunjukkan kita modis semata. Sombong hanya milik Allah; sedang untuk kita “hanya” menaati perintahnya. Menghijab kejumawaan hati, menghijab perbedaan jasadi; dengan “hijab” sesuai aturan Allah ta’ala.Hijab Sebagai Pakaian Muslimah

Advertisements

Kami Wanita Muslim

Baca status seorang teman tentang bagaimana Rasulullah memperlakukan istri, saya jadi terpikir untuk menulis notes ini. Ada banyak segi kehidupan Rasulullah bersama istri-istrinya yang tidak di-ekspos oleh media. Media dan orang-orang yang membenci Rasulullah (entah apa sebabnya) kerap kali menyoroti kehidupan rumah tangga Rasulullah, berdasarkan kuantitas (jumlah istrinya) dan bahkan otak mesum orang-orang Barat itu menuduh Rasulullah yang mulia sebagai paedophilia (na’udzubillah…). Nggak perlu jauh-jauh untuk bisa menemukan tuduhan itu, coba saja main-main ke situs faithfreedom; dengan mudah kita bisa menemukan orang-orang jahil yang menuduh Rasulullah dengan tuduhan keji. Walaupun, kalau dipikir lagi, sebenarnya otak mereka yang mesum dengan menggambarkan Rasulullah haus wanita. Padahal Kaisar China aja dulu punya 3000 selir yang dikumpulkan dalam satu rumah. Tapi adakah dunia mengutukinya? Tidak! Adalah lumrah bagi pemimpin manapun di jaman itu untuk memiliki banyak istri. Nggak usah jauh-jauh ke jaman itu, Bung Karno saja, bapak proklamator Indonesia juga punya banyak istri (dan yag mengaku istrinya). Ada yang berani mengatakan Bung Karno haus wanita? Apakah Rasulullah mengumpulkan istri-istrinya dalam satu rumah? Tidak! Apakah Rasulullah menikahi istri-istrinya semata-mata demi kepuasan pribadi? Tidak!

 

Rasulullah menikah dengan Khadijah Binti Khuwailid ketika usianya 25 tahun, selama 25 tahun, dan sampai Khadijah wafat Rasulullah tidak pernah menikah lagi. Padahal ketika itu usia Rasulullah masih muda dan prima sebagai seorang laki-laki. Baru sepeninggal Khadijah, para sahabat mengusulkan Rasulullah untuk menikah lagi. Saya lupa-lupa ingat siapakah di antara Saudah Binti Zam’a dan Aisha Binti Abu Bakar yang dinikahi duluan oleh Rasulullah. Namun yang banyak luput dari perhatian adalah istri Rasulullah yang bernama Saudah Binti Zam’a. Beliau adalah janda yang masuk Islam di masa awal kenabian. Ketika itu ia sudah berumur 65 tahun, berkulit hitam, bertubuh tinggi besar serta miskin. Jika memang Rasulullah haus wanita, haruskah beliau sebagai pemimpin ummat Islam yang bisa mendapatkan perempuan manapun di jazirah Arab menikahi Saudah?

 

Anyway, pembahasan mengenai istri-istri Rasulullah yang lain mungkin tidak akan cukup, baik kolom maupun pengetahuan saya yang dangkal dan terbatas. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah, jika gerakkan feminis muncul dari barat apakah itu berarti perempuan-perempuan barat lebih tercerahkan dari perempuan timur? Saya rasa tidak. Kami, wanita Muslim, sudah dimuliakan kedudukannya jauh sebelum perempuan barat menuntut persamaan hak. Dalam pekerjaan domestik saja, Rasulullah tidak pernah menyusahkan istri-istrinya. Beliau melakukan sendiri keperluannya. Padahal, saya yakin pekerjaan Rasulullah sebagai pemimpin ummat sangat berat di luar rumah. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk tidak membantu istri melakukan pekerjaan domestik. Pun dengan masakan, Rasulullah tidak pernah menghina masakan istri-istrinya, sekalipun tidak cocok di lidah beliau. Mengapa Rasulullah berbuat seperti itu? Agar menjad contoh bagi laki-laki Muslim yang sholeh yang ingin mencontoh perilakunya. Inilah sunnah yang layak ditiru, bukan melulu poligami yang diklaim sebagai sunnah Nabi.

 

Kami, wanita Muslim, sudah ikut serta dalam peperangan. Sebutlah nama Ummu Umarah, sahabiyah (sahabat perempuan) yang ikut berperang bersama para lelaki di medan perang. Bahkan riwayat menceritakan kehebatannya dalam menebas musuh. Adakah Rasulullah melarangnya? Tidak! Rasulullah memuliakan kedudukannya beserta keluarganya.

 

Kami,wanita Muslim, sudah dihargai tiga kali lebih banyak daripada para lelaki. Ketika seseorang bertanya kepada baginda Rasulullah yang mulia, siapakah yang berhak dihormati? Rasulullah menjawab, ‘ibumu’ dan mengulangnya tiga kali, baru beliau menyebut, ‘ayahmu’.

 

Kami, wanita Muslim, sudah dihargai secara finansial. Tidak ada yang melarang kami mencari uang. Seorang laki-laki wajib menafkahi istri dan keluarganya dengan uang yang diperoleh; tapi uang hasil keringat istri, seluruhnya menjadi hak istri.

 

Jadi, jika sampai saat ini masih ada laki-laki Muslim yang mengatasnamakan agama untuk ‘memasung’ hak-hak istrinya di rumah; atau masih ada perempuan Muslim yang mengagungkan feminisme dan kesetaraan ala Barat, menurut saya, mereka harus lebih banyak membaca sejarah Nabi. Kadangkala, seseorang yang ‘merasa’ tercerahkan dengan pemikiran barat kemudian menuding pemikiran Islam; padahal mungkin, dia tidak tahu apa-apa tentang ajaran Islam yang mulia.

Prasangka, sudahlah. . .

Pada kenyataannya, susah sekali menjagao prasangka. Padahal khatam sudah diajarkan kepada saya bahwa setengah prasangka adalah dosa.

Hari ini, sebuah bom meledak di dalam gereja di Solo. Entah perbuatan siapa, sejujurnya saya tidak ingin mengetahui cerita selanjutnya. Apa karena gagal di Ambon lantas dibuatlah ‘proyek-proyek’ penebar prasangka selanjutnya?

Jujur, suara saya meninggi saat ibu saya, seorang muslimah, a practicing one, serta merta menhatakan pelakunya adalah seorang muslim. ‘Mama tau darimana?’. ‘Ya kan biasanya gitu’.

Oh ya Allah, ya Rabb. . .

Jika seorang muslim saja sudah menaruh prasangka tehadap saudaranya, tehadap agamanya, lalu mau dibawa kemana agama ini?

Jika seorang muslim meyakini agamanyalah yang melakukan teror dan makar, lalu untuk apa dia beragama?

Islam tidak demikian. Tidak demikian. Tidak demikian. Tidak diajarkan kepada kami untuk memusuhi pemeluk agama lain, apalagi membunuhnya tanpa alasan. Rasulullah mencontohkan kami, perbuatan yang luhur, berbuat baik pada siapapun, siapapun tuhannya, bahkan mereka yang memusuhi Rasul yang mulia.

Maka,tidak pantaskah saya marah dan kecewa,jika kemudian ajaran lelaki yang saya cintai difitnah dan dinodai? Dilekatkan dengan perilaku makar, seolah2 lupa akan hadir-Nya.

Hari ini, dua orang laki2 keturunan tiong hoa memandang saya sinis dari sudut mata. Bukan, bukan karena mereka turunan Cina kemudian desir nafsu saya menggelora untuk membalas perbiatannya. Saya sudah demikian adanya. Tapi, pikiran jahat saya lemudian berkelana. Ini bukan kali pertama saya diremehkan, direbut haknya, dipandang sinis, oleh mereka yang turunan Tiong Hoa. Saya pernah dikira pembantu kakak saya. Jadi begini ceritanya, nenek papa saya masih turunan Tiong Hoa. Dan ke’Cina’an itu hanya menurun pada kakak saya di antara kami bersaudara. Siapapun tidak akan percaya jika saya mengatakan bahwa.nenek papa saya cina, karena saya berkulit eksotis :p, dengan mata besar. Sebenarnya wajah saya persis plek dengan papa, kecuali kulit dan mata. Suatu ketika di puncak, di villa keluarga saya yang dikelilingi oleh villa-villa orang Tiong Hoa itulah saya dikira pembantu kakak saya. Fyi, pembantunya mereka rata2 berjilbab seperti saya. Haha.

Selama ini saya meyakini bahwa apa yang harus saya lakukan adalah mengenal lebih dekat, karena banyak pula teman-teman saya yang turunan Tiong Hoa yang menurut saya orang-orang yang luar biasa baiknya.

Dan kejadian hari ini sedikit banyak mengguncang keyakinan saya. Saya kesal sekali dengan caranya terang2an sinis pada saya. Dan seandainya saja saya tidak punya iman, sudah saya hampiri dia dan bertanya langsung padanya, ‘ada masalah apa?’. Dalam bayangan terliar saya, saya sudah mencincing lengan baju dan bertolak pinggang. Ha. Tapi tentu tidak mungkin. Itu bukan saya, seberapapun saya ingin mencolok matanya.

Seharusnya saya tersenyum saja. Bukannya malah membalas dengan kesinisan yang sama, yang mungkin lebih sinis. Seharusnya saya lebih menunjukkan pribadi Islami, sehingga tidak seorangpun punya alasan menuduh Muslim dengan tuduhan keji. Seharusnya berperilaku tanpa cela.

Tapi sudah. Done. I did it. Eye for an eye.

Dan saya merasa berat, timbangan perbuatan buruk yang harus saya pertanggungjawabkan, bertambah-tambah.

Saya lelah dengan segala prasangka. Saya tehadap siapapun, ataupun sebaliknya. Someone has to start. Start to make a peace, start to collect those pieces of the broken peace. And i think i know who and how to start. Start with me, with a smile, a sincere one 🙂

Beauty, Well Defined.

Woah, sudah lama sekali daku ga nge-blog. Anyway, malam ini, penulis *kata ganti baru, maklum efek thesis :p* ingin membicarakan (baca:mengetik) tentang fashion Muslimah. Suatu siang di kelas “Teori Komunikasi Massa” bersama Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja yang sedang membicarakan (kalau nggak salah) televisi dan komodifikasi, penulis yang saat itu duduk di depan ditunjuk pak prof, “misalnya, kamu, pake jilbab karena life style atau way of life?”. Walaupun nggak yakin pak prof mendengar jawaban penulis, karena itu pertanyaan retoris, tapi penulis tetap menjawab, “insya Allah way of life, pak”.

Malam ini baru keingetan lagi. Mungkin seharusnya penulis menjawab dengan, “insya Allah, way of life style,pak”. Hari gini, berkerudung, berjilbab, berhijab, apapun sebutannya; menurut penulis menunjukkan dua hal bagi pemakainya: both way of life, and life style. Way of life, sudah tentu, karena we are what we wear. Jadi, berhijab juga adalah fashion statement, no doubt about it!

Hijab adalah cara kita mendefinisikan hidup, memandang hidup, serta mengidentifikasi diri sendiri. As for me, hijab adalah kewajiban agama. Dan menjalankan perintah agama adalah pilihan. Bukan pameran agama, of course not! Penulis memilih sendiri memakai hijab, tanpa paksaan. Paksaan justru sempat datang dari lingkungan luar, untuk membukanya dengan sejuta alasan. Sebagai Muslim, Allah comes first in everything. Berhijab adalah pernyataan penulis, bahwa penulis berusaha mencintai Allah dengan cara penulis sendiri. Apakah cinta itu berwarna basic, pastel, atau bold; apakah cinta itu berbentuk kerudung one piece panjang menjuntai sampai mata kaki, sekedar kain membungkus kepala, atau kain hitam yang hanya menampakkan sepasang mata; itu juga adalah pilihan. Tidak ada yang salah. Sebagaimana Habil lebih baik dalam memberikan ‘kurban’nya kepada Allah, begitu juga semestinya dengan hijab atau apapun yang kita lakukan di atas bumi-Nya.

Jadi berhijab, bukan hanya way of life, tp juga life style. Nah, akan tetapi, seiring dengan berkembangnya ini dan itu dalam bidang fashion dan komunikasi massa; juga awareness masyarakat global mengenai Islam dan hijab sebagai fashion statement muslimah; penulis melihat hijab menjadi ‘barang jualan’ berbagai brand lokal maupun interlokal :p . Melalui berbagai media, hijab kemudian dimodifikasi demikian atraktif, menarik, lucu, cantik, chic, sporty, dan menarik hati. Penulis, sebagai perempuan yang ga mungkin ga pengen tampil cantik, juga seringkali jadi korban.

Dari mulai couture, sampai abal-abal, semua tersedia. Dari yang grosiran di dalem2 pasar, sampai yang made by request, semuanya ada. Tinggal sesuaikan dengan kantong masing-masing aja. Yang duitnya berlimpah tentengannya Mumtaaz; yang duitnya ngepas tentengannya kresek item dari Tanah Abang :).

Media massa, tentunya, berperan luar biasa penting dalam perkembangan hijab dengan berbagai rupanya.

Bagi penulis, di satu sisi ini berita bagus banget. Dengan adanya film-film macemnya Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, berjilbab panjang bukan lagi menjadi sosok menakutkan. Wong Rianty aja jilbabnya panjang kok. Baju gamis yang dulu identik dengan emak-emak dan mirip-mirip daster sekarang tampil cantik dengan berbagai pernik dipakai anak-anak, kakaknya, tantenya, emaknya, sampai neneknya. Sekali lagi, terima kasih kepada film-film tersebut.

Sejumlah majalah kemudian mengkhususkan diri untuk merepresentasikan generasi baru fashion muslim. Di sini, penulis bicara dalam konteks Indonesia. Majalah seperti Aulia dan Noor, misalnya, dengan harga jual di atas 20.000 jelas menyensor khalayaknya wanita muslimah menengah ke atas. Isinya, jangan ditanya. Bukan tidak ‘berbobot’, tapi menurut penulis, iklannya lebih menonjol daripada isinya karena iklannya sebagian besar adalah iklan fashion Muslimah, jadi penulis sendiri, jujur saja membeli majalah-majalah itu sebagian besar dilandasi niat untuk melihat model baju Muslimah terbaru 🙂

semakin hari, menurut penulis, perkembangan fashion Muslimah semakin berkembang, sekaligus semakin ‘menyusut’. Menyusut karena fashion Muslimah lebih berkembang pada sisi life style ketimbang way of life. Jika (masih) dilandasi dengan Islam sebagai iman dan way of life, maka seharusnya fashionnya pun representatif, bukan? Islam sudah menetapkan aturan bahwa berhijab itu: menutup dada, tidak ketat, tidak transparan, tidak membentuk “punuk unta” dan tidak menyerupai laki-laki (aturan lainnya bisa dilihat dalam teks-teks hadits). Untuk sebuah pakaian memenuhi standar di atas, maka tidak semestinya model Muslimah mengenakan celana legging, atau skinny jeans, kecuali (mungkin) untuk menutupi sedikit bagian kaki, yang pasti tidak sampai seluruh betis. Tidak semestinya juga model Muslimah mengenakan pakaian yang sangat pas badan, yang bahkan lebih sexy dari model konvensional. Jadi, fashion Muslimah semestinya longgar, menutup aurat secara sempurna, bukan hanya ‘membungkus’-nya. Masalahnya, baju yang banyak tersedia di pasaran sekarang ini, menurut penulis seringkali hanya mengakomodir Muslimah yang berbadan kurus. Hal ini ditunjukkan dengan model-model yang memeragakan baju Muslim, sama saja dengan mereka yang memeragakan baju konvensional. Tengok saja persyaratan menjadi -so called- model Muslimah yang penulis lihat di salah satu blog *untuk menjaga kesopanan, penulis tidak mencantumkan nama blog-nya*: tinggi minimal 165 cm, berat badan seimbang, berpenampilan menarik, berbusana Muslimah. Apakah mereka representatif dengan “model Muslimah” sesungguhnya? Padahal dalam Islam, perempuan itu direpresentasikan dengan banyak ‘versi’, bukan? Lihat istri-istri Rasul. Istri Rasulullah bukan hanya Siti Khadijah yang cantik rupawan dan anggun. Ada Saudah yang tinggi besar berkulit hitam, ada Hafshah binti Umar yang ‘gagah’ sebagaimana ayahnya, dan masih banyak lagi. Mereka perempuan-perempuan mulia yang namanya tersohor seantero bumi dan langit, merekalah representasi perempuan Muslimah sebenarnya, bukan model-model yang kurus, berkulit putih, dan berbadan jangkung.

Jujur, tulisan ini meang dilatarbelakangi pengalaman penulis sendiri yang dianugerahi full-figured body dan merasa bahwa banyak (walaupun nggak semua) busana Muslimah yang beredar di pasaran berukuran ‘all size’ dengan Lingkar Dada maksimal 88 cm; sementara sekurus-kurusnya penulis nggak akan pernah mencapai ukuran itu. Bukan tidak ada pakaian Muslimah trendy, modis dan syar’i yang beredar di pasaran. Bukan pula lantas semua Muslimah jadi ‘seragam’ dan tidak ada kreasi dalam memakai busana. Bukan, sama sekali bukan itu maksudnya. maksud penulis adalah, kemudian, apa bedanya fashion Muslimah dengan fashion konvensional, jika Muslimah, sebagai perempuan masih harus direpresentasikan dengan pakem fashion barat yang sangat tidak memihak perempuan (dengan model yang skinny-skinny dan baju yang hanya indah dipakai oleh mereka)? bukankah hijab itu membebaskan? bukankah Islam itu membebaskan perempuan karena tidak mendiktenya berdasarkan bentuk-bentuk fisik?

 

Jadi, mari, sama-sama, penulis, anda, mereka, dan kita semua, sebagai Muslimah, mendefinisikan diri sebagai hamba-Nya yang ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT. Allah tidak melihat dari tampilan fisik kita, cantik ala boneka manequin seperti perempuan-perempuan bangsa Persia; berkulit ‘keemasan’ seperti perempuan Ehiopia; tinggi besar seperti perempuan pedalaman Afrika; apapun itu. Allah tidak melihat siapa kita; tapi Allah melihat pengejawantahan dari bagaimana kita melihat diri kita 🙂

Catatan Seorang Adik

Minggu lalu, di sekolah, aku takjub sekali. Denis, teman sekelasku tiba-tiba mengenakan kerudung. Ia tampak manis dan anggun sekali.

Aku teringat Kakakku yang sering mengingatkanku untuk berkerudung, jika aku akil baligh nanti. Aku sering bertanya, “apa itu akil baligh?” Dan kemudian Kakak menjelaskan kepadaku panjang lebar apa itu akil baligh dan mengapa aku harus menutup aurat.

Jujur, inginnya sih aku sekarang seperti anak-anak lain di televisi. Punya baju tank top dan boleh pake rok mini. Tapi pasti kakak akan melotot dan tambah cerewet.

Kata kakak, sekarang aku latihan dulu pake baju panjang dan sopan. Sekalian menutupi tubuh mungilku.

Aku juga ingin berjilbab seperti Denis dan seperti kakak. Karena berjilbab, menutup aurat, berarti menjaga dan melindungi diriku sendiri. Menutup aurat juga melindungi kulitku dari terpaan sinar matahari yang panas.

Memang sih, kata Denis, berkerudung itu gerah awalnya. Tapi hanya awal-awalnya aja, setelah itu kita akan terbiasa, katanya. Lagipula, kata bu Diana, guru agamaku panas di dunia itu tidak boleh dikeluhkan; karena neraka lebih panas.

Tapi, boleh tidak ya aku berkerudung sama Papa-Mama?

Hari Minggu kemarin, saat aku akan pergi makan bersama keluarga, kakak bertanya padaku, “Dek, mau pake kerudung, nggak?”

Aku mengangguk-angguk. Akhirnya kakak mengambilkan kerudung kecil yang hanya kupakai kalau aku TPA. Warnanya Pink, warna kesukaanku. Serasi juga sama baju panjang dan celana Winnie The Pooh merah jambu.

Aku dengan gembira memamerkannya pada Papa dan Mama. Berharap mereka senang dengan penampilanku.

Tapi, aku sedih sekali saat mereka malah marah dan mengatakan bahwa anak-anak berjilbab seperti anak kampung. Aku lebih sedih lagi karena kakak yang dimarahi habis-habisan.

Kata Mama, “kasihan, nanti rambutnya rontok”

Kata Papa, “nanti saja kalau akil baligh-lah. kalau dari kecil kaya anak kampung aja”

Aku dengar kakak bersuara, “kasihan terus… Sampai kapan mau dikasihani? Waktu mau dibangunin sholat shubuh, katanya kasihan. Terlalu pagi, nanti ngantuk di sekolah. Dibangunin sahur untuk puasa Ramadhan, kasihan juga, nanti kelaparan. Nanti kalau besar dia nggak sholat, nggak puasa, nggak mau pake jilbab, apa masih mau kasihan??”

Pasti tentang aku. Waktu bulan Ramadhan juga aku kadang tidak dibangunkan sahur, karena kata Papa kasihan nanti aku kelaparan jadinya tidak konsentrasi belajar.

Kasihan kakak. Aku tahu, dia sayang sekali sama aku. Ingin mengajariku beribadah. Tapi kenapa Papa sama Mama melarang aku melakukan semua itu ya? Kenapa harus mengasihaniku?

Aku ingin berjilbab, aku juga ingin sholat, aku ingin puasa. Sama seperti Papa, Mama, Kakak, dan orang-orang lainnya.

Aku juga ingin masuk surga, seperti cerita-cerita Kakak.

Aku ingin bertemu bidadari, juga seperti cerita-cerita Kakak.

Aku ingin bertemu nabi Muhammad. Dan aku juga ingin bertemu Allah di surga-Nya nanti.

Maka, Mama Papa, jangan kasihani aku. Sayangi aku karena aku pun ingin menjadi kupu-kupu di taman surga-Nya.