Gojek Muhajirin

Ketika pulang dari kampus hari ini, tidak ada yang terasa terlalu istimewa. Langit sudah mulai menunjukkan warna kelabu. Seperti biasa, saya galau mau pulang naik apa. Akhirnya saya putuskan untuk order Ojek Online. Gojek selalu jadi pilihan. Karena saya tipe yang males bawa uang cash (atau malah kadang lupa bawa uang),  adanya Go-Pay demikian memudahkan saya. So, dengan baterai HP tersisa 8 persen, saya order-lah Gojek.

Ketika wajah drivernya muncul di layar HP yang remang-remang karena nyaris kehabisan daya, saya sempat terkejut melihat betapa suburnya jenggot sang driver. Tapi, mungkin itu hanya karena resolusi HP saya yang kurang oke sebab sedang lemah lunglai tapi masih dipaksa kerja.

Lalu, datanglah di Bapak driver.

“Bu Shinta ya?”

“Iya, sebentar ya pak”, jawab saya seraya mengeluarkan selembar cadar tali berwarna krem dari tas dan mengenakannya.

“Wah, Bu, kenapa niqabnya dilepas?”

*nah lho*

“Ahaha.. ini baru niqab van gojek, Pak. Belum pake beneran. Kalau pake masker kan langsung buang, kalau ini kan bisa dicuci”, saya naik ke motor si bapak setelah memastikan helm terpasang rapih di kepala.

Sebulan terakhir ini memang saya kerap memakai cadar tali kalau naik Gojek. Alasannya sih karena… eco friendly *halah*. Because, why not?

“Ke Komplek **** ya, Bu?” tanya si bapak menyebut alamat saya. Komplek perumahan sebuah bank.

“Iya, pak.”

“Ada Pak XX ya di situ?”, ia menyebut salah satu nama tetangga saya yang juga adalah mantan pejabat di bank tersebut.

“Iya, ada, Pak. Kok tahu?”, penasaran dong saya.

“Saya kan pensiunan dari situ,” jawabnya, meski ia tak tampak cukup tua untuk pensiun.

Setelah beberapa percakapan, ia mengisahkan bahwa dirinya mengambil paket pensiun dini.

“Jadi, apa rasanya hijrah, Pak?” tanya saya. Kepo dong.

Motor yang saya tumpangi sedang membelah jalanan di selatan Jakarta ketika ia tertawa.

“Alhamdulillah tenang, Bu”, jawabnya.

Si Bapak Gojek baru hitungan bulan menjadikan jalanan sebagai tempat kerja, dan motor sebagai ruang kerjanya. Pensiun dini-nya pun tampaknya baru tahun ini.

Bagi teman-teman yang bekerja di perusahaan yang memiliki gedung mewah, dengan fasilitas lapangan olahraga, fitness center, jejeran restoran dan kafe, sistem keamanan berlapis, dan segala fancy things yang berkilauan bagi siapapun yang melihatnya; pindah ke jalan raya, seragam nan tidak kece, tidak ada kakak-kakak cantik wangi sebagai rekan kerja, dan berteman knalpot setiap hari; terbayangkah apa rasanya?

Tapi mampukah itu semua membayar ketenangan ketika seseorang memilih Allah daripada gemerlapnya dunia?

Saya tidak akan memberikan simpulan puitis, dan berbuih-buih; karena saya sendiri masih belajar mengejar ketertinggalan. Saya hanya akan menutup tulisan ini dengan penggalan ayat:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (Q.S. An-Nisa: 100)

Semoga istiqomah pak Muhajirin (bukan nama sebenarnya). Barakallahu fiik ❤

 

 

Advertisements

Karena Buaya Punya Lidah

Sejak menginjak usia 30, kira-kira setahun yang lalu (halah, umur sendiri pake ngira-ngira), saya mulai lebih aktif mencari produk kecantikan. Tipe kulit yang cenderung kering karena dominan beraktivitas di ruangan ber-AC seperti saya, membuat kulit wajah saya gampang “cracking”. Walaupun, mungkin itu semua hanya perasaan saya semata. 

Forum-forum diskusi kecantikan semacam femaledaily, dan komunitas beauty blogger kerap menjadi rujukan saya dalam membeli dan memilih produk kecantikan yang sesuai dengan kebutuhan saya. Kata kuncinya adalah melembabkan dan… jreng jrengggg… of course anti-aging! Selain itu, produk tersebut juga harus ramah dengan kulit saya yang relatif sensitif.

Apakah sulit mencarinya? Nggak juga sih. Buktinya saya lumayan sering ganti-ganti produk pelembab. Hehehehe…

Saya tidak akan berpanjang lebar mengenai mantan-mantan (pelembab) saya serta rasa yang dulu pernah ada. Saya hanya ingin me-review satu jenis bahan yang saya yakini cocok banget di kulit saya. 

Bahan ini mudah ditemukan, alami, dan lama dikenal sebagai penyubur rambut. Yesss, saya lagi tergila-gila dengan produk berbahan lidah buaya. Inspirasi mencari produk berbahan ini juga hasil stalking diskusi di femaledaily sih.

Lidah buaya yang nama kecenya Aloe vera, punya banyak khasiat baik dalam bentuk makanan maupun untuk konsumsi yang sifatnya eksternal tubuh seperti kulit dan rambut. Seperti dilansir dari draxe.com dan marieclaire.co.uk; gel aloe vera bermanfaat untuk mengobati Psoriasis (kondisi auto imun dimana regenerasi sel kulit berlangsung sangat cepat), melembabkan, mengobati luka bakar, menghilangkan jerawat dan minyak berlebih di wajah, dan “sariawan” di sudut-sudut bibir. Terus, aloe vera juga kaya akan antioxidan sehingga bisa berfungsi sebagai anti-aging alami. Aheyyyy… Keunggulan dari gel aloe vera adalah karena bentuknya yang “gel”, sehingga cenderung tidak lengket di kulit. Tanaman yang diduga berasal dari Sudan ini juga ramah terhadap kulit sensitif dan berbagai reaksi alergi pada kulit, seperti alergi gigitan serangga. 

Kapan saatnya menggunakan gel aloe vera? 

Saya nggak tau pasti sih, yang jelas, saya memasukkan gel aloe vera ke dalam morning ritual saya, my “first thing in the morning” things. 

Saya nggak bisa bilang hasilnya luar biasa amazing en de bla, but my skin loves it. Ini yang penting. Rasanya lembab, tapi tidak creamy. Saya akan ulangi pemakaian jika dirasa perlu. 

Oia, gel aloe vera juga bisa dikolaborasikan dengan foundation, liptint, bb cream, dan shampo yang kita gunakan untuk hasil yang lebih cetarrrrr.

MasyaAllah ya. Nikmat Allah yang mana yang kita ingkari? :’)

Diet Gluten, Haruskah?

Diet Mayo, Diet Keto, Diet Atkins, Diet Paleo, Diet GM, and so on and so forth. Nama-nama yang saya sebutkan barusan adalah nama jenis-jenis diet (ya iyalah, masa jenis tumbuhan…) yang populer dan tidak asing lagi di telinga kita. Masing-masing memiliki cara dan teori sendiri mengenai metabolisme tubuh manusia dan pendekatan berbeda memandang pola makan. Meskipun kata ‘diet’ sendiri berarti pola makan, banyak dari kita salah kaprah dan menyandingkat kata ‘diet’ dengan cara menurunkan berat badan. Padahal segala rupa ‘diet’  tersebut justru bertujuan untuk mengatur pola makan. Sehat paripurna adalah tujuan akhirnya, dengan berat badan ideal (BMI) sebagai indikator-nya.

Anyway, apakah istilah Diet Gluten familiar di telinga kamu?

Mungkin sebagian kita pernah mendengar istilah Gluten atau Gluten Free, pernah membaca di label makanan impor berharga selangit, atau mengasosiasikannya dengan just another lifestyle. Atau, boleh jadi, bagi sebagian yang lain, istilah gluten sama sekali tidak dikenal.

Boleh deh yuk, saya kenalkan.

Gluten adalah sejenis protein yang terdapat dalam gandum dan tepung. Dengan sifatnya yang kenyal dan elastis, gluten sesuai namanya (glue = perekat) berfungsi membantu berbagai jenis makanan tetap pada bentuknya. Karena ia banyak terdapat pada gandum dan tepung, maka bayangkan makanan-makanan yang menggunakan kedua jenis bahan tersebut. Semuanya makanan enak, bukan? Roti, serealia, gorengan…

Jadi, sudah terbayang ‘kan apa yang dimaksud dengan diet gluten? Yup! Artinya menyingkirkan semua makanan yang terbuat dari gandum dan tepung dari diet kita!

Di negara-negara barat, diet gluten ini sedang naik daun dalam satu atau dua dekade terakhir. Lorong-lorong supermarket mulai menyediakan counter khusus makanan-makanan gluten free.

Mengapa diet jenis ini digandrungi?

Ada beberapa keuntungan yang diklaim bisa diperoleh ketika seseorang menjalankan gluten free diet. Pertama, menurunkan berat badan. Tentu saja, tujuan jangka pendek seseorang melakukan pengaturan pola makan adalah menurunkan berat badan. Kedua, diet gluten diklaim bisa membuat awet muda. Ketiga, menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

Bagaimana? Sangat menggoda untuk dicoba, bukan? Siapa sih kaum Hawa yang tidak ingin lagsing dan awet muda?

Sebelum menyingkirkan roti dari daftar sarapan pagi kamu, ketahuilah (ceileee…), diet ini pada dasarnya dibuat bagi mereka yang alergi atau sensitif terhadap gluten, atau pengidap coeliac disease yang merupakan salah satu penyakit auto-imun. Selain itu, mereka yang memiliki autism syndrome, down syndrome dan beberapa tipe syndrome lainnya, sependek pengetahuan saya, banyak yang memiliki sensitivitas teradap bahan makanan yang mengandung gluten ini, sehingga menghilangkan gluten dari daftar menu adalah sebuat keharusan.

Alergi-nya akan seperti apa reaksinya? Pengidap alergi gluten mungkin akan mengalami diare atau malah konstipasi; kembung dan perasaan ‘penuh’, sebah, sesak; dan lain-lain sebagainya pasca mengonsumsi makanan-makanan menggandung gluten. Dan sehari saja tanpa tepung dan teman-temannya sudah menjadikan dunia tempat yang lebih indah bagi pengidap alergi gluten.

How do I know?

Well…meski saya tidak tahu apakah saya alergi terhadap jenis gandum-gandum lainnya; akan tetapi saya sudah lama punya feeling bahwa saya alergi tepung terigu dan apapun yang terkait dengannya. Roti, mi, gorengan… you name it. Saya selalu merasa sebah, dan perut saya membuncit pasca makan makanan mengandung tepung. Rasanya tidak nyaman. Nikmatnya sesaat, buncitnya lama.  Hehehehe… Suatu hari saya memutuskan untuk berhenti makan terigu selama sehari. Apa yang terjadi? Begah dan sebah akibat re-ruti-an di hari sebelumnya hilang; dan berat badan saya turun sekilo. Padahal saya makan seperti biasa.

Oh iya, selain itu, kalau sudah terlaluuuuu banyak makan makanan yang mengandung terigu, akan muncul bruntusan di wajah saya. Bukan bruntusan merah-merah, tapi kulit saya akan kering dan kusam sehingga tampak agak cracky.

Prediksi saya terkonfirmasi lewat tes alergi. Tepung terigu ada di daftar utama makanan yang harus saya hindari karena ternyata, eh, ternyata saya alergi berat terhadap terigu.

Karena bukan sesuatu yang umum di Indonesia, maka saya sering mendapatkan ‘that look’ seakan-akan saya ‘sok keren’ banget atau ‘sok hype’ saat saya menolak makanan mengandung terigu karena alasan alergi. Padahal, beneran deh, saya kangen banget sarapan roti cokelat T_T.

Saran saya sih, kepada kamu-kamu yang ingin menurunkan berat badan dan awet muda; dan tidak punya alergi terigu atau alergi gluten; carilah jenis diet lain. Syukurilah nikmatnya roti bakar, mie ayam, martabak, bakso, gorengan… Karena, nun jauh di sini ada saya yang sungguh-sungguh merindu makanan-makanan itu…

*kenapa berujung curcol…

#ODOP #OneDayOnePost #BloggerMuslimahIndonesia

 

 

Newbie Hijabi Must Have

Assalamu’alaykum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh,

Shoutout to all the new hijabis out there! Semoga rahmat Allah bersama mereka yang selalu memperbaiki diri. Aamiin.

Selamat karena telah memutuskan untuk menutup aurat saat dunia berlomba-lomba membukanya. Selamat karena kamu telah satu langkah meniru sebaik-baik perempuan, yaitu ummahatul mukminin alias ibu para orang beriman, a.k.a istri-istri Rasulullah SAW.

Alasan kita mungkin berbeda-beda. Ada yang karena popularitas, tren hijab yang makin ke sini makin mengancam rekening hihi, tuntutan orang tua, peer pressure, atau malah tuntutan pekerjaan. Ada pula yang berhijab semata-mata mengikuti perintah Allah dalam Al-Quran *masukin ayatnya*, dan inilah, menurut pendapat saya, sebaik-baik niat karena tiada ketaatan dan penghambaan yang paling membebaskan selain ketaatan dan penghambaan kepada Allah.

Beberapa dari kamu langsung men-jubahi diri, memilih gamis besar dan kerudung lebar. Beberapa memilih kerudung yang cukup lebar menutup dada, dan pakaian longgar. Beberapa, seperti saya, mengawali dengan kerudung ‘nyekek’  yang tren lagi, dan baju ketat *tutup muka*. Bagaimana pun kamu memulainya, sesungguhnya yang terpenting adalah bagaimana kita mengakhirinya ;).

Seperti apapun gaya kerudungnya, ada beberapa must have items yang sudah saya list. Posting-an ini hanya akan mengulas salah satu di antara must have items itu. Ada yang sudah bisa menebak?

Apakah kamu familiar dengan ciput?

Ciput, daleman jilbab, apapun sebutannya adalah semacam ‘anak jilbab’ yang dikenakan di dalam jilbab guna menahan rambut supaya tidak mengintip keluar jilbab. Sebenarnya, karena rambut di balik kerudung rentan kerontokan, yang terbaik memang tidak menggunakan daleman sehingga bisa memberi ruang lebih kepada rambut dan kulit kepala untuk bernapas. Selain itu, pada dasarnya tidak ada kewajiban tertulis mengenakan daleman atau yang sepuluh tahun terakhir ini punya nama keren inner. Jadi, kalau memang kamu merasa ‘aman’ dan nyaman dengan menggunakan hijab saja tanpa daleman, sebenarnya nggak kenapa-napa juga.

Sebenarnya ada beberapa keuntungan menggunakan inner.

Pertama dan terutama adalah menjaga kesempurnaan berbusana muslimah. Kedua, dengan menggunakan inner, hijab yang kita kenakan ‘jatuh’-nya akan lebih rapih dan selaras (aseeek…). Ketiga, inner hijab saat ini sudah menjadi bagian dari fashion trend, diproduksi dengan berbagai gaya, bahan dan warna dan dapat disesuaikan dengan berbagai model kerudung (dan harganya pun terjangkau).

Buat saya, mencari inner kerudung yang sesuai adalah sebuat tantangan. Kenapa? Karena kepala saya besar xD. Selain itu, bahannya seringkali tidak menyerap keringat, atau cepat sekali usang. Saya sudah mencoba berbagai gaya dan merk, tapi akhirnya jatuh cinta pada beberapa model dan bahan, yang akan saya coba review.

Favorit saya sekarang adalah ciput yang punya nama ciput anti pusing. Sesuai dengan klaim-nya, ciput anti pusing memang benar-benar anti pusing. Selain itu, bahannya breathable dan mengikuti bentuk kepala. Harganya bervariasi, mulai dari Rp.15.000-25.000 lah. Kalau bahannya bagus sekali, bisa jadi di atas itu.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 8.23.00 PM

Ciput Anti Pusing

Berikutnya adalah ‘bandana’ berbahan kaos spandex. Saya beli di toko Clover di Thamrin City (kalau yang sering ke sana pasti familiar sama toko ini), toko spesialis daleman berbahan nyaman. Bahannya kaos, jadi super menyerap keringat. Karena bentuknya bandana lebar, jadi tidak full menutupi rambut, which is actually good. Kisaran harganya… lupa ih… Tapi di bawah Rp.30.000-lah.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 8.23.00 PM-1

Yang ketiga adalah inner ninja. Tidak seperti inner ninja lain yang memiliki resleting di belakang leher, inner ninja yang ini model-nya instant, langsung pakai, tanpa resleting. Jamak dikenal sebagai inner Maroko, model ini biasanya berbahan spandex rayon. Yang saya kenakan di bawah ini saya beli di butik El-Zatta, dengan kisaran harga Rp. 25.000-30.000. Kalau kerudung kamu tipis dan menerawang, model daleman seperti ini bisa menjadi solusinya. Ingat, kita ini muslimah, bukan duit yang perlu penerawangan *eaa *jayus *krikkrikkrik*.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 8.23.01 PM

Lastly, susun dan simpan ciput-ciput kamu dengan rapih di tempat yang membahagiakan hati saat melihatnya. Semisal, kotak merah jambu seperti yang saya gunakan ini.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 8.23.01 PM-1

Nah, mudah-mudahan informasi di atas bermanfaat ya. Selamat menikmati proses hijrah dengan bahagia.

#ODOP #OneDayOnePost #BloggerMuslimahIndonesia

 

 

Mari Berterimakasih

Bismillah. 

Saya mulai terinspirasi, meski belum secara penuh dan konsisten melakukannya, untuk membuat “Gratitude Notes” saat saya berhadapan dengan situasi yang negatif, serta aktivitas yang membuat dijemput Uber, dan nyender di jendela mobil Uber memandang motor salip menyalip sebagai my favorite me time. *kesian amat gue yak* 

Inspirasi utama datang dari kajian Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Nouman Ali Khan. Selain mereka bertiga, saya juga banyak sekali terinspirasi dari Marie Kondo, dan the minimalists. *insyaAllah suatu saat akan saya ulas* 

Saya juga sampai di usia (God, im ONLY 31) dimana “drama” yang terjadi di lingkungan saya, sangat…melelahkan. Saya (akhirnya) sadar bahwa tiada guna terlibat dalam drama hanya karena ego saya semata. 

Tapi, jujur, situasi tersebut menghabiskan energi saya. Saya lelah. Saya seakan tersedot dalam pusaran energi negatif *eaaaa. 

Alasannya sih satu, saya tau banget: I’m a people pleaser! Memang mencari ridho manusia itu nggak akan mendatangkan apa2 selain kesia2an. *tsah… *tp bener lho

Maka, saya mulai mencari cara supaya hidup saya bersih dari gangguan, supaya saya tenang, jiwa raga, lahir batin. I need to keep myself sane, bukan? Salah satunya adalah dengan membuat daftar rasa syukur.

Meski saya nggak selalu melalukannya, tapi menuliskan daftar rasa syukur adalah cara mudah dan murah untuk menjadi bahagia. Ternyata konflik internal dan eksternal yang saya hadapi, hanya perlu sudut pandang berbeda. Sudut pandang yang penuh rasa syukur. Selain itu, ketika kita mulai menuliskannya dengan jujur, sedikit2 setiap hari, kita akan menemukan bahwa nikmat Allah itu… countless ❤.

It’s absolutely true that perception changes everything.

Maka benarlah Allah ketika berfirman di surah Ar-Ra’du ayat 11 *cmiiw*, bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah diri mereka sendiri. Mengubah persepsi, menurut saya yang masih belajar ini, adalah bagian dari mengubah diri kita sendiri. 

Bahkan, saya kok meyakini bahwa banyak bersyukur adalah salah satu solusi jitu menghadapi permasalahan hidup.

Bukankah jika kita bersyukur, pasti Allah akan tambahkan nikmat-Nya. 

Jadi, sudah bersyukur hari ini? 

#odop #onedayonepost #bloggermuslimahindonesia

#

Mikir!

WhatsApp Image 2017-08-05 at 5.46.56 PM.jpegRembulan telah menampakkan diri ketika Maha mengunci pintu bertuliskan “Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam”. Tertatih, Maha melangkah menuju gerbang kampus. Lorong yang ia lalui hanya menyisakan satu bohlam pucat pasi. Liburan semester menjadikan kampus di malam hari seperti sarang hantu, meski Maha terlalu skeptis untuk mempercayai omong kosong semacam itu. Satu, dua, tiga langkah; sesosok makhluk dengan mata berkilat melintasi kakinya. Ia kehilangan keseimbangan, tongkat yang menumpu tubuhnya oleng ke kanan.

 

“Kucing sialan! Tongkat sialan!”, makinya.

Laki-laki berrambut gimbal itu berusaha meraih tongkat dan bangkit perlahan. Kedongkolan merajai hatinya. Terlebih lagi membayangkan teman-temannya yang sedang menuju Rinjani, meninggalkan dirinya seorang yang tidak mungkin berangkat dengan kondisi kaki seperti itu. Padalah, ia yang mengusulkan perjalanan, merancang, bahkan sudah menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil pekerjaannya menjadi tutor bahasa Indonesia untuk orang asing, demi kesenangan menikmati semesta dari atas Rinjani.

Mengapa harus terjadi?

Uangnya bahkan habis tidak tersisa untuk mengongkosi pengobatan kakinya. Sebulan lalu, Maha menjadi korban tabrak lari. Ia tidak punya kartu jaminan kesehatan yang menjadi program kebanggan pemerintah. Maha terlalu skeptis tentang itu, dan tentang sejuta hal lainnya. Tidak mungkin Maha menelepon Nenda, neneknya, satu-satunya orang yang masih ia miliki dan memilikinya. Satu-satunya orang yang dicintai dengan sepenuh rasa oleh Maha. Dunia dan seisinya sudah lama seakan mengkhianatinya. Mengingkari keberadaannya.

Setelah dua puluh tahun Maha hidup dari uang pensiun Nenda-nya, ia bertekad untuk bekerja. Sejak itu, Nenda hidup dari hasil jerih payahnya. Biarlah uang pensiun Nenda untuk kesenangan Nenda. Nenda-lah alasan Maha bernafas, berusaha tegak kembali setiap pagi.

Jadi, bagaimana mungkin ia menelepon Nenda dan mengatakan seorang pengendara motor melindasnya dan pergi begitu saja?

Maha melangkah kembali. Bayangan akan Nenda selalu membuatnya bangkit. Nenda menungguku, demikian pikirnya selalu.

Lorong temaram. Kali ini Maha merasa melihat sosok hitam berkelebat. Ia tersentak sesaat. Kampus sialan! Apa susahnya menambah satu bohlam lagi agar lorong ini terlihat sedikit terang?

Siapakah gerangan sosok tersebut? Penadah? Atau genderuwo penghuni lorong seperti desas-desus yang beredar? Ah, genderuwo gundhulmu! Nonsense! Maha berdebat dengan dirinya sendiri.

“Maha!” sosok hitam itu mendekat, memanggil namanya. Bahkan ia tidak sendiri, ia membawa seorang lagi sosok hitam.

Malaikat mautkah? Apakah malaikat maut datang bergandengan dan berjenis kelamin perempuan?

“Maha! Hei!” Sosok itu… melambai-lambai…

“Arika?!” Maha terbelalak. Arika, gebetannya seumur hidup. Mengapa sekarang hanya menyisakan sepasang mata-nya untuk melihat….dan dilihat?

“Kaget ya liat gue? Makanya ini kacamata lo dipake!” Arika dan temannya, yang menurut tebakan Maha adalah Vanya, terbahak-bahak sembari mengangsurkan kacamatanya. Memang sudah dua hari ia kehilangan kacamata.

“Kok bisa ada sama lo?”

“Ada yang nemu di masjid, ditaro di lost and found masjid. Gue liat. Kacamata siapa lagilah yang buluk begitu kalo bukan kacamata lo?” Arika kembali cekikikan.

“Kok lo tau gue di sini?”

“Ih, nanya mulu! Emang lo dimana lagi jam segini kalo bukan di sini? Terus lo gimana nanti ngeliatnya kalo nggak pake ini? Liat gue sama Vanya aja sampe melotot gitu”, jawabnya.

“Cie…”, Vanya mulai menimpali. Tapi Arika keburu menginjak kakinya.

“Jadi, seorang Aksara Mahamada  ke masjid? Ngapain? Mau ngebom ya?” Arika memberondong Maha dengan pertanyaan yang sudah bisa tebak sesampainya mereka di gerbang.

Maha tidak menjawab.

“Paling disuruh Nenda,”. Tebakan jitu. Siapa lagi yang bisa menyuruh Maha ke masjid selain Nenda?

“Lo berdua ngapain malem-malem masih di sini?” Maha bertanya balik. “Mau bom bunuh diri?” balas Maha pahit.

Arika dan Vanya saling pandang dan kompak berseru, “Apaan sih?”.

“Kita abis ikut kajian di masjid kampus. Setiap Rabu malam rame lho di sini”, ucap Vanya.

“Maha, kita balik ya. Kapan-kapan ikut kajian, atau perlu gue bilang Nenda biar lo ikut kajian?” sindir Arika, lagi-lagi nge-gas. Hubungan keduanya tidak berakhir baik-baik, meskipun memang juga tidak pernah ada kata ‘jadian’.

“Buat apa? Supaya gue berubah jadi teroris kayak lo berdua?”

Arika menatapnya tajam. Ia maju selangkah.

“Biar hidup lo jelas mau kemana! Kita udah pernah sama-sama ke gunung, pantai, bahkan ke bawah laut. Apa lo nggak pernah berpikir kalau semua yang kita lihat itu ada tujuan penciptaannya, masa lo, masa gue tercipta dan ada di bumi ini cuma buat nonton semua itu aja? Mikir!”

#ODOP #OneDayOnePostChallenge #BloggerMuslimahIndonesia

Baju Baru untuk Cici

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.21.05 PM

 

“Mas Miko berubah, Kak,”. Cici menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Aku menelan ludah. Se-serius itukah?

“Sudah dua bulan ini dia seperti malas melihatku. Aku bahkan tidak diajak ke family gathering kantornya lagi,” lanjutnya.

“Sudah pernah dibicarakan?”, tanyaku.

Cici menggeleng kuat-kuat. Air matanya pecah.

“Kapan, Kak? Mas Miko selalu pulang tengah malam. Bahkan akhir-akhir ini Mas Miko pulang pagi. Saat Mas pulang, aku sedang terlelap, atau sibuk dengan Chiko. Mas Cuma mencium Chiko sebentar, bantu menggendong lalu terlelap. Pagi-pagi buta berangkat lagi. Begitu terus, Kak. Sabtu-Minggu-nya habis untuk bermain dengan Chiko. Aku merasa seperti orang asing di rumah, Kak.” Perempuan tiga puluh-an itu sesenggukan. Suaranya meninggi.

Aku berpindah duduk ke sebelahnya. Berusaha menenangkan adik iparku sambil tersenyum pahit pada seorang pelayan kafe dan beberapa pengunjung yang melirik ke arah kami.

“Apa yang bisa aku bantu?”

Malam itu, Miko pulang sedikit lebih cepat. Chiko pun sudah terlelap.

“Bun, kita makan roti bakar yuk,” ajak Miko sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya. Cici baru saja menerima pesan Whatsapp. Ah, dari Kak Mika, pikirnya dalam hati.

“Ayo, Bun. Sudah lama kita nggak makan berdua,” Miko melempar senyum. Lamat-lamat dipandanginya wajah ibu dari anaknya tersebut. Pipinya yang dulu tirus kini membulat, batang hidungnya semakin mekar.

“Ayah serius? Tapi Bunda nggak punya baju bagus, Yah. Baju-baju lama Bunda sudah banyak yang sempit. Bunda malu pergi sama Ayah…”

“Sekarang punya dong! Nih!” Miko menyerahkan sesuatu berbungkus kado.

Mata Cici berbinar. “Hadiah? Buat aku?”

Miko mengangguk.

“Terima kasih sudah menjadi Bunda yang baik untuk Chiko, dan terima kasih sudah menjadi istriku. Beberapa waktu belakangan ini, aku mikirin cara supaya Cici-ku yang dulu kembali. Ceria, percaya diri, berbinar-binar lagi.

“Iya sih, Bunda sudah nggak selangsing dulu. Tapi buat Ayah, Bunda selalu cantik. Ayah sedih kalau Bunda nggak mau pergi sama Ayah, nggak mau lagi ke kondangan. Makanya Ayah nggak ngajak Bunda pas family gathering kemarin. Ayah takut Bunda nggak mau lagi pergi sama Ayah. Makanya, Ayah tanya ke temen-temen kantor hadiah apa yang cocok buat istri. Eh, Ayah ditunjukin instagram @kafika_ficca. Mudah-mudahan Bunda suka yaa,”

Miko mengecup kening istrinya.

Wajah Cici bersemu kemerahan. Entah kapan terakhir ia merasa begitu tersanjung. Sekaligus merasa bersalah. Ia selama ini berburuk sangka pada suaminya.

“Ayah, bajunya bagus banget. Pas sama Bunda. Warnanya Bunda banget! Bunga-bunganya cantik sekali…” Cici berseru kegirangan.

“Busui friendly lho. Dan bisa dipakai sampai Bunda hamil adiknya Chiko” Miko mengerling genit.

“Ih Ayah, apa sih…”

“Ayo, Bun. Langsung pake aja. Nanti kita kemaleman perginya,” Miko menggamit lengan istrinya.

Tiba-tiba telepon genggam Miko berbunyi.

Mika muncul begitu saja di rumah Miko dan Cici.

“Baby sitter sudah datang. Pangeran dan Tuan Puteri dipersilahkan berangkat,”Mika mengurai senyum penuh arti.

“Makasih ya, Kak,” Cici memeluk kakak iparnya ke-malu-malu-an. Ia masih ingat momen di kafe beberapa waktu lalu.

“Have fun yaaa kalian,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Motor Miko melaju membelah malam.

Seorang teman saya pernah mogok pergi ke pesta saat hamil besar. Alasannya sama persis seperti Cici: Nggak punya baju yang layak dipakai. Semua baju sudah sempit. Padahal, bagi seorang perempuan, menemukan baju favoritnya sempit rasanya terrrrr-baper. Apa pun alasannya. Mau karena hamil besar, pasca bersalin, maupun pasca kebahagiaan yang membuat enak makan. Hihi…Mungkin saatnya mencari baju favorit baru yang didesain spesial agar nyaman digunakan Busui dan Bumil, sekaligus juga cantik bagi yang bukan keduanya.

Meski saat ini banyak produsen pakaian yang sudah merancang pakaiannya agar bersahabat dengan para Ibu Menyusui, akan tetapi saya ingin mempernalkan butik sahabat saya (yang sebenarnya sudah lumayan terkenal di jagad instagram). Pernah mendengar butik @kafika_ficca di instagram?

Kafika, demikian butik tersebut dinamai oleh pemiliknya sekaligus nama brand-nya. Butik yang dirintis sejak 2008 saat ini telah memiliki 19 ribu-an followers. Didominasi oleh warna-warna cerah, butik yang digawangi oleh Fendricca Syahdan ini awalnya menyasar segmentasi muslimah berusia 20-40 tahun, dari kelas ekonomi menengah. Akan tetapi, setelah 2013, banyak permintaan pakaian dengan akses menyusui; sehingga Fendricca mulai mencoba mendesain pakaian dengan akses menyusui alias busui friendly sekaligus juga bumil friendly.

Inspirasi rancangan-rancangannya diakui Fendricca datang ketika berburu kain atau melihat trend fashion dunia, lalu dikembangkannya sesuai koridor pakaian muslimah. Selain itu, menurutnya, kadang inspirasi datang dari “langit” begitu saja.

Untuk memudahkan para pelanggannya, saat ini perempuan yang akrab disapa Ficca menyediakan Webstore yang dapat diakses di http://www.kafikastore.com.

Bagi penggemar pakaian berpotongan longgar, casual dan berwarna cerah, mungkin kamu bisa melirik foto di bawah ini:

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.04.18 PM

 

Tertarik? You know where to click 😉

#OneDayOnePost #ODOP4  #BloggerMuslimahIndonesia