Hurt People Hurt Other People

“Dia datang, ayo siap-siap”, si Buntal menarik napas panjang. Wajahnya nyureng, matanya terpejam. Perlu mental baja, meski tubuh membal, untuk jjadi sandaran Fey.

“Aku kali yang harusnya siap-siap”, kata si Gul.

“Ssstttt…” Buntal memberi kode kepada Gul untuk diam.

Gul ikut memejamkan mata. Menghayati peran yang akan dimainkannya.

Tak lama, terdengar suara pintu dibanting. Fey menghambur masuk dan membanting tubuhnya di kasur. Gadis itu memaksakan diri untuk tidur. Namun, cuplikan kejadian hari ini menghantui usahanya.

Fey marah. Marah pada segalanya.

Marah pada dosennya yang terlambat berjam-jam tapi tetap mengajar, marah pada teman kelompoknya yang tidak bisa diandalkan dalam mengerjakan tugas kuliah, marah pada ojek online yang lambat, tapi terutama Fey marah pada teman-teman kelompoknya yang membuatnya merasa tidak kompeten. Teman-teman kelompoknya pun marah padanya. Semacam Fey versus mereka semua.

“Lo nggak usah bossy. Nggak usah sok pinterlah. Lo pikir lo siapa? Kita semua di sini sama kok. Sama-sama punya gagasan dan kita mau kerja. Jangan gara2 bukan ide lo, jadi lo anggep jelek!” Lusi, si Nyinyir, mengulek hati Fey sampai lumat.

“Lo pikir lo siapa?”suara itu terngiang lagi. Hatinya berdenyut nyeri.

Padahal ia hanya ingin mengatakan bahwa ide teman-temannya itu, tidak sebagus idenya yang paripurna. Gagasan mereka memang lebih mudah, tapi tidak…ideal. Bukankah, idenya lebih…sempurna?

Semalaman ia memikirkan gagasan itu. Hingga tidak tidur karena sibuk mencari data di dunia maya. Ah, idenya berasal dari data. Ide mereka darimana datangnya? Hanya ingin gampangnya saja…

“Lo pikir lo siapa?”. Lagi, ocehan Lusi menghujam tepat di hatinya.

“Kamu bisanya apa sih? Ngerjain gini aja salah”. Tiba-tiba suara Lusi berubah jadi suara Bunda.

Sosok Bunda hadir di hadapannya. Berkacak pinggang, sambil melotot ke arahnya. Bunda melempar buku PRnya ke lantai. Fey kecil buru-buru memungutnya.

Dari sepuluh soal, ada satu yang salah.

Hanya satu.

Ah tidak, kata Bunda sejuta tidak akan jadi sejuta tanpa satu rupiah. Satu nomor yang salah juga sebuah kesalahan besar.

“Kalau kamu sampai jeblok nilainya, cari aja Bunda lain. Bunda malu punya anak bodoh”

Bunda… Tapi Fey sudah belajar keras, Bunda… Fey bergumam dalam hati… kecemasan meliputi hati dan perasaannya. Kecemasan yang berganti dengan kesedihan, yang dibawa Fey tidur hampir setiap hari.

“Jangan cengeng! Anak Bunda nggak boleh cengeng!” Gelegar suara Bunda terdengar lagi. Setiap Fey menunjukkan wajah ingin menangis, Bunda langsung menggelegar.

Fey tidak boleh menangis, Bunda dulu dicambuk rotan juga tidak menangis.

Bunda lebih baik daripada Nenek, karena Bunda tidak pernah mencambuk Fey dengan rotan.

Namun, kadang Fey berpikir keras…”Apakah Bunda sayang pada Fey sedangkan Fey selalu berbuat salah dan nakal? Apakah Bunda akan menyuruh Fey mencari Bunda lain padahal Fey sangat sayang pada Bunda?”

“Bunda…”, Fey mulai meracau.

“Sssshhh…”, Buntal berbisik di telinga Fey. “Tidur saja, Fey. Kamu lelah…”, bujuk Buntal. Fey membenarkan posisi kepalanya yang bersandar di tubuh sahabat gendutnya itu. Ia meraih Gul dalam peluknya dan melingkarkan kakinya pada tubuh Gul.

“Gul, ayo…kita jalankan tugas kita,” Buntal berbisik pada rekannya.

Buntal dan Gul bersenandung lirih. Lirih sekali, mengantarkan Fey menuju tidur yang lebih dalam dan lelap. Lelap sekali.

“Istirahat ya, Sayang…”, Buntal dan Gul mengecup kening Fey bergantian.

Katanya…

Katanya, haid teratur penting untuk kehamilan. Nyatanya, teman saya yang haidnya setahun hanya dua kali, sudah punya anak dua.

Katanya, nggak boleh gendut kalau mau hamil. Nyatanya, ada perempuan yang morbidly obese dan punya anak tanpa kesulitan.

Katanya, mungkin Allah belum percaya. Nyatanya, ada, banyak pasangan “tidak sengaja” dan “tidak berharap” yang Allah berikan kehamilan pada mereka.

Katanya, nggak boleh kelelahan kalau mau hamil. Nyatanya, ART ibu saya dalam keadaan bekerja fisik setiap hari: menyapu, mengepel, jongkok2 nyikat kamar mandi dan dia baru tahu kalau sudah hamil 6 bulan. Qadarullah badannya memang subur.

Katanya, perempuan berkejaran dengan waktu untuk hamil. Nyatanya, perempuan India berusia 70 tahunan, hamil pertama kali setelah menunggu puluhan tahun.

Ada banyak katanya dalam hidup ini.

Maka, ketika logika lelah mencari keping puzzle yang hilang; istirahatlah.

Buat Allah semua mudah.

Istirahatlah.

Kasih sayang Allah tanpa tepi, tanpa tapi.

Istirahatlah.

Lidah manusia menyakiti, tapi Allah Maha Memeluk rasa hati.

Merenung

Ada banyak sekali alasan kenapa saya kadang ingin sendiri dan menikmati kesendirian.

Salah satu alasan utamanya adalah karena dengan sendiri, saya punya banyak waktu bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Merenung, meski terdengar kurang kerjaan dan eksentrik, sebenarnya (menurut saya) adalah aktivitas yang harus kita lakukan. Apakah merenungnya dalam sholat, merenungi kehambaan diri; apakah merenungnya sambil olahraga; sambil masal; sambil baca buku; sambil bebenah…

Sambil apapun, merenung, alias bercakap-cakap dengan diri sendiri harus saya lakukan supaya tetap waras.

Saya banyak berinteraksi dengan orang yang luka hatinya melukai orang lain. Dulu, ketika bersinggungan dengan orang seperti ini, didekatnya saja hawa badan saya sudah panas. Ada nyeri di badan saya yang tidak bisa saya definisikan. Tapi saya tahu, orang di dekat saya sedang sakit lahir batin.

Pernah juga, saya yang senang mengamati perilaku orang lain, “menerka” kejadian yang pernah dialami seorang mahasiswa saya. Bukan perkara susah. Anak dewasa muda yang duduk di hadapan saya, tampak seperti anak-anak yang belum selesai jiwa bermainnya.

“Iya, kok ibu tahu sih?”, tanyanya balik, ketika saya tanya langsung.

Banyak ustadz saya datangi demi menjawab pertanyaan, kenapa saya jadi seperti dukun…

Jawabannya, biar untuk saya saja. Yang jelas, saya bukan indigo, nggak mau jadi indigo, dan nggak mau berurusan dengan urusan ghaib. Na’uzubillah.

Nah, dari menghadapi berragam orang itu, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah mencoba selesai dengan diri saya sendiri, menemukan diri saya seutuhnya. Kenapa? Karena ada masanya saya pun muntab hanya karena perkara remeh, dan korbannya adalah orang terdekat saya. Perkara remeh hanya pencetusnya saja, the tip of the iceberg. Akar masalahnya ternyata panjang berkelok-kelok ke satu titik. Titik ini yang harus dibereskan. Harus diikhlaskan. Harus diterima.

Nggak gampang. Butuh banyak air mata. Dan di atas segalanya, butuh pegangan yang kuat sama Allah.

That’s why, semakin dewasa, saya semakin menikmati kesendirian sementara. Sementara, karena saya dasarnya senang bertemu orang. Tapi butuh waktu sendiri, kadang sebentar-kadang lama, untuk me-charge hati-iman-rasa-logika agar tetap pada porosnya.

Agar segala beban dan sampah rasa, tidak saya bawa ketika berinteraksi dengan orang lain. Saya tidak menjadi racun pergaulan, tidak nyampah sana sini, tidak pula kebaperan.

Buat kamu yang sedang kemrungsung dengan masalahmu, dan sedang mencoba merenung, saya ingin berbagi mantra yang dengannya lepas satu-satu himpitan hati dan ekspektasi pada orang lain:

“HasbunaAllah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir”

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung

Ujian

Kita sama-sama membawa ujian di pundak kita. Saya punya, kamu punya, mereka pun punya. Ada yang diuji masalah ekonomi, masalah pekerjaan, perselingkuhan, jodoh…

Kita sama-sama tahu rasanya mengerjakan ujian kita sendiri. Adakalanya mudah, tapi seringkali terasa berat, susah, penat. Berat yang kita rasa ketika mengerjakan ujian tersebut, dirasakan juga oleh orang lain . Hanya saja dengan materi ujian yang berbeda, mungkin. Topiknya berbeda, kadarnya juga berbeda.

Maka, bukankah lebih baik kita saling memudahkan satu sama lain mengerjakan dan menyelesaikan soal ujian yang kita sama-sama harus lulus dengan baik darinya;

Alih-alih menambah beban, atau bahkan menjadi soal ujian baru bagi saudara kita?

Jawaban Sebuah Mengapa

Seringkali kita kehabisan jawaban dari pertanyaan mengapa.

Seperti ketika saudara saya diare berkali-kali, berhari-hari. Di hari keempat, ia loyo bagai tak berjiwa. Perutnya sakit, katanya. Obat sudah dikasih dua macam, semacam tidak mempan.

Dokter menyarankan untuk endoskopi saja. Keluarga mengiyakan. Di hari rencana endoskopi, diarenya malah berhenti.

Ada orang yang saya kenal sehat, bersih hidupnya, meninggal muda karena kanker paru-paru.
Ada orang lain yang hidupnya “asal”, masa mudanya akrab dengan minuman keras, ngebul tiada henti, tapi panjang umurnya melewati 75.

Menjadi atau tidak menjadi, meninggal atau tidak meninggal; sebenarnya nggak perlu alasan. Alasan adalah sunnatullah, ciptaan Allah agar kita semangat dan terus berusaha. Toh Allah menilai usaha dan kerja kita, bukan menilai hasilnya.

Ketika semua variabel sudah tidak relevan, saat itu mungkin kita harusnya sadar…

Bahwa kita nggak pernah mengandalkan kemampuan diri kita, kecerdasan kita, kekayaan, kesehatan, atau apapun yang kita rasa kita miliki.

Laa haula wa la quwwata illa billah. :”)

Siapakah yang Paling Indonesia?

Akhir-akhir ini, kita kerap berlomba paling Indonesia. Tapi, siapakah sesungguhnya yang paling Indonesia?
Apakah mereka yang tulen nenek moyangnya berasal dari Indonesia? Apakah orang Jawa? Apakah etnis Melayu? Apakah mereka yang punya andil membebaskan negara ini dari penjajahan?

Siapa sebenarnya yang paling Indonesia?

Nun jauh di Mekkah sana (jauh di jarak tpi dekat di hati), saya disapa seorang Ibu berparas Melayu. Tanda pengenalnya menunjukkan asal dirinya, Malaysia.

Kami bercakap-cakap sebentar. Antusias sekali saya mengetahui bahwa Ayahnya berasal dari suku Banjar. Kampung nenek moyang saya yang belum pernah saya injak seumur hidup. Ibunya asli Melayu.

Sedikit terpantik rasa heran saya, karena perempuan yang berprofesi sebagai guru tersebut medok Jawa. “Kenapa Ibu kok bicara seperti orang Jawa?”, tanya saya.

“Gimanalah, di kampung saya semua orang Jawa. Kiri, kanan, semua orang Jawa”, jawabnya. Ia ada menyebut nama tempatnya, tapi saya lupa.

Kali lainnya, ketika saya naik Grab menuju bandara internasional Penang, sang supir yang membawa saya ternyata juga orang Banjar. Masih pandai pula bapandir (bicara) bahasa Banjar, meski lahir, besar dan beranak pinak di Malaysia.

Mungkin memang urang Banjar adalah bagian dari lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, yang gemar mengarungi samudera, baik itu untuk berdagang, belajar atau menyebarkan agama.

Ah, lupa saya ceritakan tentang pertemuan bersejarah bagi keluarga Ibu saya. Nenek moyang saya dari pihak Ibu adalah orang-orang Jawa yang dibawa Belanda ke Suriname. Buyut saya pulang ke Indonesia bersama beberapa kerabatnya menggunakan kapal. Perjuangan besar untuk menemukan kembali ke-Indonesia-an mereka.

Eyang saya, punya saudara laki-laki satu-satunya yang tidak ikut pulang ke Indonesia. Maka, pada 2013, Mama saya yang cerdas dan gaul berusaha mencari jejak sepupunya di facebook berbekal potongan nama yang masih ia ingat.

Dan, bi iznillah ketemu.

Suatu hari di 2013, saudara-saudara saya itu datang ke Indonesia menemui kami semua. Bude saya, sepupu Ibu saya, pensiunan perawat yang menetap di Belanda; fasih berbahasa Jawa (dan menganggap semua orang Indonesia bisa berbahasa Jawa xD). Sedangkan anaknya, sepupu saya, generasi X yang sudah terdidik dan memiliki steady job, tidak bisa berbahasa Jawa, namun fasih berbahasa Inggris dan Belanda.

Mereka juga adalah orang Jawa. Jalan-jalan ke tempat wisata pun tidak akan dicharge dengan biaya orang asing karena wajahnya Jowo banget.

Tapi mereka bukan Indonesia.

Maka Indonesia, saya pikir, adalah kita semua, ketika kita menyandang status sebagai WNI dan taat patuh komit pada aturan di Indonesia. Kitalah pewaris negeri ini.

Sebagai pemegang warisan kemerdekaan, kita juga harus tahu sejarah bangsa ini. Karena saya seorang Muslim, saya akan sedikit mengelaborasi bagaimana Islam hadir di negeri ini, dengan pengetahuan saya yang nggak seberapa (dan sangat terbuka untuk koreksi dan pembenaran). Jadi, saya nggak membawa agama lain ya, karena buat saya “bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

Sependek yang saya tahu, Islam ‘terbawa’ oleh jalur ekspedisi perniagaan rempah dan misi dakwah.

Di antara pembawa Islam adalah bangsa India, Timur Tengah, Persia dan yang tidak boleh kita lupakan jasa besarnya adalah bangsa China yang sudah memeluk Islam sejak masa sahabat sekaligus paman Nabi Muhammad saw, Saad bin Abi Waqash ra.

Ekspedisi besar yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim yang taat, berlabuh di tempat yang sekarang kita kenal dengan Palembang. Banyak dari anak buah Cheng Ho yang memutuskan menetap dan membangun kehidupan di sana.
Bersama Cheng Ho adalah pencatat perjalanannya yang catatan perjalanannya digunakan sebagai rujukan sejarah Indonesia. Ma Huan, namanya. Ma, adalah versi China dari nama sejuta ummat yang diambil dari lelaki mulia, shalallahu ‘alaihi wa sallam: Muhammad.
Berdasarkan catatan pendek ini, maka jelas bahwa Islam di Indonesia tidak dibawa oleh satu arus utama.
Jika kita adalah Indonesia, maka sudah saatnya kita berhenti menyuruh satu sama lain “pulang ke Arab” atau “ini bukan Arab” hanya karena cadar dan jilbab panjang, misalnya.
Tentu, mereka yang melakukan itu tidak akan mau kalau dibalas, “elu aja sono pergi. Dulu waktu belanda angkat kaki, ente ketinggalan apa gimane?”.
Jika kita Indonesia, sudah saatnya kita berhenti membenci dan mencurigai ‘Islam’ dengan “corak-corek” tertentu. Kita harus akui bahwa Islam di Indonesia (dan dunia) berragam coraknya. Kalau kita mengaku toleran, maka buka ruang toleransimu untuk bentuk-bentuk yang berbeda dari Islam versi (keinginan)mu.
Saya yakin, mayoritas Muslim di Indonesia bukan mereka yang ingin mendirikan negara dalam negara. Dan meski celananya cingkrang, jilbabnya panjang; saya pun yakin tidak kurang cintanya pada negeri ini. Tidak kurang nasionalismenya, tidak kurang pula Pancasila-nya.

Sila buktikan saat terjadi bencana. Adakah mereka yang sibuk di ruang-ruang wacana “Nusantara-isme”, sibuk menunjuk bahwa Indonesia adalah kain dan kebaya (emang Indonesia cuma jawa?!) dan bukan baju Arab, mau terjun langsung ke daerah bencana? Mau pergi ke wilayah terpencil demi mencerdaskan anak bangsa?

Maka, kiranya, sudahlah. Terimalah kenyataan, mas bro dan mbak sis. Bahwa kami, orang Islam Indonesia yang ingin memperdalam agama kami untuk menjadi orang yang lebih baik, ada dan hadir di ruang yang sama dengan kalian yang sering memicing curiga.

Kami bukan cinta pakaian Arab, tapi kami memakai pakaian yang menurut kami menunjukkan kepatutan dan kepatuhan pada Tuhan kami. Lidah kami, lidah saya sih, masih lidah penggemar nasi padang dan nasi uduk Betawi. Sesekali diselingi Indomie (ini dalam mimpi aja…). Kami cinta syariat agama kami, dan bagian mana dari syariat kami yang bertentangan dengan Pancasila?

Indonesia adalah rumah yang ramah bagi semua. Indonesia bukan punya mereka yang berkebaya saja (lagipula apakah sekarang nasionalisme sesempit pakaian saja?), bukan punya mereka yang memilih Jokowi saja, bukan hanya milik mereka yang kaya, bukan hanya milik Jakarta saja, bukan hanya milik non disabilitas saja. Indonesia punya kita semua. Kita semua yang melepas belenggu-belenggu phobia terhadap satu sama lain.
Wallahu a’lam.
-Saya yang, meski tidak suka hal-hal yang bersifat upacara dan tahun ini lupa pasang bendera, tapi cinta Indonesia-

Menghitung Mundur

What happened in 2018:
Umrah and learned my lessons :’)
Banyak pelajaran banget dari umrah kemarin. Sembilan hari yang paling indah sepanjang tahun ini rasanya. MasyaAllah…
Allah mengganti apa yg saya tinggalkan dengan sesuatu yang saya nggak sangka. Allah kasih ke saya lingkungan yang saya nggak sangka bisa berada di dalamnya, Allah sertakan pula guru-guru yang mendampingi, dan sahabat-sahabat baru yang berjalan di jalan yang sama. Saya, remah-remah ayam kremes… Kadang merasa nggak layak, nggak pantes. Kadang juga mengeluh: ‘gini amat ya Allah… Apakah hamba salah pilih, atau salah mengambil putusan?’. Tapi… Kata temen saya, itu Allah yg pilihkan buat saya. Susah, ya jalanin. Nggak mungkin Allah menyia-nyiakan kita.
Untuk pertama kalinya seumur hidup dan seumur nikah, saya hampir lupa tanggal ulang tahun dan beneran lupa tanggal anniversary pernikahan. Hahahaha. Kalau nggak diucapin orang tua, saya lupa. Entahlah apakah pertanda uzur, atau memang saya sudah sampai ke fase nggak mikirin 😁.
Di penghujung tahun 2018, saya memulai rutinitas tertentu yang mempertemukan saya dengan sahabat baru (baru deket maksudnya, kenalnya udh lama). Alhamdulillah. Belajar banyak sekali hal dari sahabat saya ini dan suaminya. :’)
Yang hilang di penghujung 2017, diganti Allah dua kali tahun ini. Kalau ditotal2 harganya, sama dengan si samsung S7 edge yg hilang itu.
Tahun 2018, adalah tahun dimana saya melihat semakin banyak orang ‘hijrah’. Mahasiswa2 saya sih, di antara orang2 yang paling saya inginkan untuk berhijrah, plus paling membahagiakan melihatnya … :’)
Lalu, saya pun melihat mahasiswa2 saya lulus, dan bekerja. Mereka yang saya kenal dr piyik, anak kelas 4 SMA, kenyang saya omelin hampir tiga semester… Sekarang saya bahagia sekali mendengar cerita pengalaman kerja pertama mereka dengan mata berbinar… I’m happy for them. Saya berharap ilmu yang saya bagikan (which was not mine. Ilmu dan kebenaran milik Allah saja) bisa memberatkan timbangan amal saya yg mungkin ngga seberapa di hadapan Allah. God, i love them so much. :’)
Tahun 2018 ditutup dengan banyak bencana melanda Indonesia. Alhamdulillah, artinya ada kesempatan beramal shalih. Saingannya banyak, cuy. Selain itu, dan sebenarnya yg paling utama, Allah berkali-kali mengingatkan agar saya tunduk kepada-Nya. Karena siapalah saya di hadapan semesta yang tunduk pada titah Penciptanya… Siapalah saya di hadapan Allah yang menghamparkan bumi dan menegakkan langit… Siapa saya untuk mendongakkan kepala, membusungkan dada?
Harapan saya di tahun yang akan datang:
Standar sih. Apa yang saya harapkan sama seperti kebanyakan orang. Yang non personal mungkin, saya berharap Indonesia dipimpin oleh pemimpin yg baik. Ummat Islam membuka hati terhadap perbedaan di antara mereka dan saling mematahkan pedang, bukan malah menajamkannya.
Saya nggak suka selalu berusaha memahami banyak sisi. Capek tauk! Saya tahu hati saya sudah memilih. Hati mana bisa berdusta. Tapi, jujur, saya takut ditinggalkan sahabat-sahabat saya yang berbeda cara pandangnya tentang dakwah…
Saya jatuh cinta pada agama saya, pada tingginya kedudukan ilmu di dalamnya. Saya jatuh cinta pada Qala Allah wa qala rasul. “Se-sederhana” itu untuk memahami agama, dan “se-sulit” saya mengingkarinya meski saya ingin, karena “jalan lain” tampak lebih mudah…
Dan jika itu membuat saya tidak bisa menambatkan hati pada yang lain, saya mohon maaf.
Namun demikian, saya berusaha menghormati hal-hal yang berbeda dengan apa yang saya yakini. Kita berada dalam tauhid dan cita-cita yang sama. Semoga Allah menyampaikan kita semua pada apa yang menjadi cita-cita luhur…dan kelak mengumpulkan kita di telaga Rasulullah saw sebagai satu ummat.
:’)

Semua pencapaian (if any) yg baik, adalah karunia Allah saja. Hal-hal buruk yg terjadi dalam hidup sy di 2018, murni karena kelalaian saya sendiri.

Wallahu ta’ala a’lam.

I think, Therefore I am

Corgito ergo sum…

Dalam perjalanan pulang selepas takziah hari ini, saya ngobrol lumayan banyak sama bu dekan. Saya suka ngobrol sama beliau, selalu membekas dan membuat saya punya bahan ngelamun selepasnya. Hihi.

Salah satu topiknya adalah tentang perempuan dan perceraian. Mungkin saya ngelamunnya kejauhan, tapi meski saya meyakini bahwa seorang istri harus patuh pada suami, saya juga meyakini suami pun harus membuka banyak ruang diskusi dan negosiasi. Kenapa?
Karena mendidik istri untuk ‘udah terima aja’, kadangkala jadi terkesan mengkerdilkan hak perempuan untuk berpikir.
Becoz, helloooo berpikir adalah hak asasi manusia!
Ini bukan masalah perempuan bekerja atau di rumah, bukan masalah perempuan sekolah tinggi atau ‘secukupnya’. Bukan. Ini hal yang lebih dasar dari itu: hak berpikir.
Banyak orang tidak memanfaat hak ini dengan baik, saya pun masih jauh dr optimal dalam memanfaatkan hak ini.
Mari kita bicara tentang bagaimana perempuan dikaburkan dari haknya dalam berpikir.
Sejak kecil, kita dididik bahwa perempuan harus cantik, berpakaian menarik, berdandan… Kalau kau kurang putih, gigi tonggos, gendut, kau serta merta berada dalam daftar tidak cantik. Nggak penting si perempuan mungkin berbudi luhur, sopan santun, pandai berhemat, aapalagi….pintar.
Saya ngga against make up, atau hal-hal berbau kecantikan. Not at all. Cantik adalah hak lain dari perempuan yang terlalu sering diingatkan kiri kanan.
What I’m trying to say issss…
Betapa sering kita sebagai perempuan mengikuti standar orang lain, dan lupa bahwa seharusnya ada indikator yang lebih manusiawi daripada sekadar fisik.
Karena cantik saja nggak akan cukup untuk menghadapi cobaan dunia (apalagi buat mengelabui malaikat munkar nakir…)
Misal nih, mantan ART ibu saya. Usianya baru 16 tahun saat ia bekerja di rumah ibu saya. Bekerja sangat passionate, gesit, cerdas, dan yang paling saya suka dari dirinya adalah, she knows what she’s doing with her life.
Keluarganya nggak terlalu harmonis, adik-adiknya masih banyak, ibunya harus mencari nafkah ke luar negeri. Someone has to be there, bukan?
Resign-lah dia akhirnya. Dilepas dengan isak tangis oleh keluarga saya, dikenang selalu sebagai the best employee ever. Lalu, apa yang ia lakukan di kampung? Join sebuah MLM, punya banyak pelanggan, bahkan sudah terima order dr luar negeri.
She’s making money for her family, and taking care of her siblings.
Kalau saja dia hanya mengikuti arus seperti banyak orang lain di usianya, maka habislah sudah gajinya untuk dandan sana sini, eksis sana sini.
Jadi, ini bukan sekadar sejauh mana paparan edukasi menerpa seorang perempuan. Bukan sama sekali.
Ini adalah tentang gimana kita, sebagai perempuan, mengoptimalisasi hak dasar dalam kehidupan. Dalam hal apapun.
Seperti wajah dan tubuh perempuan yang berharga, dan bisa jadi mahal bingit perawatannya; begitu pula akal sehat. Harus dijaga senantiasa sehat dengan mengonsumsi hal-hal yang juga sehat.
Bahkan nih, dalam hal penghambaan kepada Tuhan. The very basic needs of a human being sebagai makhluk Allah, adalah penghambaan kepada-Nya. Dalam Al-Quran pun, betapa banyak ayat yang diturunkan ‘agar kamu berpikir’, atau ‘untuk orang-orang yang mengambil pelajaran’.
Bukankah hakikat utama dari penciptaan manusia adalah menghamba kepada Allah :’) dan akal pun diberi oleh Allah sebagai tools to worship Him?
To my fellow ladies,
There are a lot of things that make you, you. You’re not just a pretty face. You’re waaaaaaaaay more than that.

To my fellow men,

Saya meng-quote sebuah pernyataan yang saya sering lihat instagram dengan sedikit modifikasi: “kalaulah laki-laki lebih melihat akhlak dan kecerdasan seorang perempuan daripada keindahan fisiknya; pasti lebih banyak perempuan yang berusaha mencerdaskan dirinya dan memperbaiki perilakunya”.

Akhir kata, sesungguhnya saya, yang menulis ini adalah orang yang paling butuh dinasehati, orang yang paling butuh dimarahi karena belum mengoptimalkan akalnya 😦
Berhentilah, Shinta, nonton Say Yes to The Dress yang kurang ada faedahnya. Kembalilah nonton kajian, atau Tedx Talk. Kembalilah baca buku, diriku. Kembalilah gunakan akalmu agar sisa hidupmu bermanfaat…
You know you won’t live long enough to follow your worldly desire.

Beranjak

 

first love

First love never dies, they said…

Bertemu lagi denganmu, mengubah semua peta hidupku. Kamu. Iya, kamu.

Tiba-tiba saja duduk di hadapanku, dan menyapaku dengan sapaan khasmu,

“Hai…”

Aku membeku. Mataku mengedip cepat, tidak percaya itu kamu.

“Kaget ya?”

Aku pura-pura membetulkan posisi laptop, dan pura-pura acuh. Layar monitorku bertuliskan “RANCANGAN PENELITIAN”, kubaca berulang-ulang dalam hati agar sukses menutupi kecanggunganku.

“Nggak usah pura-pura gitu,” kamu menutup laptopku semena-mena.

Wajahku terasa panas, dadaku bergemuruh. “Mau kamu apa?”, tanyaku kesal. Campur grogi, dengan sedikit kesenangan yang kutekan jauh ke dasar hati.

“Kamu sehat?”

“As you see… Sudah ya. Lebih baik kamu pergi sana!,” aku mengusirmu, membuka lagi laptopku dan berpura-pura konsentrasi.

Kamu masih ada di hadapanku. Mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukumu, sebelum akhirnya kamu membuka suara. Pertanyaan yang sama, selalu sama.

“Cincin kamu bagus. Kali ini dengan siapa?”

“Bukan urusan kamu!”

“Aku harap dia tahu, bahwa aku adalah laki-laki yang pernah menjagamu lima belas tahun, tumbuh besar bersamamu, dan membawa mati cintaku,”. Selalu sama. Skenario macam kaset rusak yang kamu ulang-ulang di saat aku ingin melepaskan diri dari sosokmu. Entah bagaimana kamu selalu menemukanku, meski kali ini kamu sedikit terlambat.

“Dia yang akan menjaga sisa hidupku. Bukan kamu!” suaraku meninggi.

“Lalu, aku akan kamu letakkan dimana dalam hatimu?”. Suaramu tiba-tiba mengiba. Aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak melihat wajahmu, tapi tidak kuasa.

Matamu layu.

Lima tahun lalu juga begitu. Kamu meneteskan air matamu, ketika aku pamit hendak menikah dengan seniorku di kampus. Selama lima belas tahun, aku tidak pernah mendengarmu menyatakan perasaan apa-apa melainkan hanya selalu berada di sisiku. Mendengarkan cerita-ceritaku, pacar-pacarku, keluh kesahku. Kamu tidak pernah pergi jauh. Kamu pegang baik-baik nasihat Mama saat pertama kali datang ke rumah,

“Le, kamu sekarang jadi anakku, ya. Tidak usah khawatir dengan sekolahmu, aku yang tanggung. Almarhum bapak dan ibu kamu sudah pesan untuk menitipkan kamu kalau ada apa-apa dengan mereka. Bapak dan ibumu itu sahabatku dari kecil…

Mulai sekarang panggil aku Mama ya, Le. Panggil Om juga tidak usah Om lagi, panggil saja Papa. Tidak usah canggung. Nah ini adikmu, Lani. Nanti kalian saling jaga yaaa…”

Kamu datang tidak lama setelah kecelakaan kereta yang merenggut nyawa ayah dan ibumu. Kamu seharusnya jadi kakakku, Mas Ale. Kita semestinya cukup menjadi kakak-adik. Tidak perlu punya rasa lebih dari itu.

Lima tahun lalu, rusak sudah hubungan itu. Aku batal menikah. Kita datang minta dinikahkan, tapi Mama dan Papa marah besar merasa dikhianati. Lalu kamu pergi meninggalkan rumah, menyisakan secarik surat:

‘Mama, Papa, terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini. Maafkan Ale.

Lani, maafkan aku sudah merusak hidupmu’

Bodoh. Kamu bodoh. Mengapa tidak memperjuangkanku? Di hari kamu pergi, Mama menangis sejadi-jadinya. Semalaman Mama dan Papa berpikir panjang. Jika harus melepaskan aku untuk dipinang, maka kamu adalah orangnya. Tapi kamu keburu pergi…

“Mas Ale, terima kasih untuk tahun-tahun yang indah. Terima kasih telah menjagaku. Terima kasih. Kali ini, aku akan melepaskanmu…”

Aku menghabiskan sisa lemon tea-ku, membereskan barangku dan beranjak ke kasir untuk membayar minumanku. Tidak kudengar kamu memanggilku, atau berusaha menahan kepergianku. Baguslah. Kemajuan. Baru kusadari beberapa pengunjung dan pelayan kafe memandangiku heran, beberapa ketakutan. Aku membalas mereka dengan senyuman getir.

Sempat aku melirik ke meja tempat kamu tadi berada. Kamu masih di sana. Tidak mengapa, nanti pada saatnya kamu akan beranjak pergi. Pergi untuk kedua kali. Karena kamu memang sebenarnya tidak pernah kembali kepadaku. Malam hari saat kepergianmu, asthma yang kamu derita menerjemahkan pedih hatimu, hingga lepas nyawamu dibuatnya.

***

“Ale datang lagi?”, tanya Elias penasaran saat aku meneleponnya. Elias adalah tunanganku, terapis sekaligus ‘tong sampah’ segala cerita-ceritaku.

Aku mengangguk.

“Lalu?”

“Lalu aku yang pergi. Aku memilih bersama kamu,” ucapku.

“Elias…,” panggilku.

“Ya?”

“Kamu benar-benar ada kan? Bukan fantasiku saja kan?”

Suara di ujung sana tertawa kecil.

“Aku benar-benar ada, sayang,”

Fantasy