Hingga Kegagalan Lelah Menghampiri Kita

Hari ini istimewa.

20160526_152314

Saya mendapat kehormatan menjadi moderator acara seminar mengenai Creativepreuner yang bertempat di ruang 317 A dan B, Universitas Al Azhar Indonesia. Satu topik yang sedang hangat, happening, dan anak muda banget. Sebagai dosen sekaligus anak muda (dan soon to be mamah muda – aamiin – ), topik ini menarik untuk saya. Hanya saja jujur, ketika panitia pertama kali memberikan tema ini, saya agak memutar otak. Jenis wirausaha seperti apa yang disebut kreatif?

Maka di kepala saya, sebagai penggemar fashion berhijab-an, maka yang terlintas di kepala saya adalah Cemprut. Merk kerajinan boneka yang dibuat oleh Mbak Aphrodita. Hubungannya apa sama fashion per-hijab-an? Nggak ada sih. Mungkin karena Mbak Dita-nya berhijab. Hehe…

Tapi sayangnya, Mbak Dita, yang hasil karyanya sudah nangkring di GI dan sudah berkali-kali masuk media massa harus mudik di penyelenggaraan acara. Jadi, panitia kemudian mencari pembicara lain. Lalu, muncullah dua nama.

Nama yang membuat saya berkerut, awalnya. What makes them “creativepreuner”, really?

So, sebagai moderator, I did my homework. Saya google masing-masing pembicara ini, dan mendapatkan sesuatu yang “wow”-me banget. Membuat saya ingin berkaca lalu memaki sosok di depan kaca: “Woy, lo udah 30 taun, kemane aje? Buku barang selembar juga belum punya”.

Di hadapan saya, terpampang 7 (tujuh, yep…orang macam mana di usia 20-an yang CV-nya tujuh lembar kan? Just kidding, mas Irzan. Just in case U read this :D) lembar CV seorang Irzan Raditya, co-founder dari yesbossnow.com, bisnis start-up yang baru mau menginjak setahun. Yesbossnow.com sendiri adalah perusahaan, berbasis teknologi, yang menawarkan jasa “asisten pribadi”. Mulai dari tiket pesawat, pemesanan makanan, tiket bioskop, dan hal-hal lainnya dapat dilakukan oleh “asisten pribadi” ini. Kreatif ya? Banget sih, menurut saya.

Saya dibagi referral code untuk daftar di yesbossnow.com oleh Irzan. Kode tersebut saya SMS ke sebuah nomor, lalu muncul balasan seperti ini:

Screenshot_2016-05-26-21-43-51

 

Setelah itu, saya ditanya nama panggilan dan apakah saya menginginkan asisten laki-laki atau perempuan:

Screenshot_2016-05-26-21-43-57

Dan voila, saya bisa langsung meminta Nindy, asisten pribadi virtual saya melakukan banyak hal seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Sebenarnya saya sih inginnya asisten pribadi untuk menggantikan saya ngajar sesekali. Hihihi..

Jujur, saya membayangkan akan bertemu dengan anak umur 21 tahun ber-CV 7 lembar (karena di CV nggak ada date of birth-nya, and he looked much younger than his age), lulusan Jerman, mantan anak band yang pernah manggung di Java Rockin’ Land, penggemar music punk, sekaligus seorang geek, dan sekarang punya bisnis brilian. Coba, kalau kamu jadi saya, kira-kira kebayang nggak bentuknya gimana?

Saya kebayang-nya anak muda tengil, sejenis sama mahasiswa-mahasiswa yang udah kerja sambil kuliah terus bangga banget sama kerjaannya dan ngga pernah dating-dateng kuliah lagi.

Sampai say abaca sesuatu dalam potongan interviu yang saya temukan di mbah gugel alaihim gambreng (I don’t know why I just feel like writing it that way):

“Bangun pagi, shalat shubuh, dan lari pagi”

Redaksi aslinya saya lupa. InsyaAllah akan saya kasih link interviewnya yang saya dapat dari simbah gugel di bawah ya supaya bisa baca sendiri.

That’s just impressive.

Semua citra ketengilan anak muda di kepala saya mendadak sirna. Dan semakin surprise ketika bertemu langsung dengan orangnya. I was very impressed, though.

Mas Irzan, yang ternyata berusia 27 tahun Cuma beda 3 tahun dari saya, married, datang sangat ontime dan sangat humble. Beliau, dalam kesan pertama saya, adalah rolemodel beneran untuk anak muda, paling nggak saya seneng banget karena dia mau datang dan berbagi dengan mahasiswa saya yang kadang banyak alasan untuk datang tepat waktu.

Saya dapat banyak hal ketika ngobrol sama beliau. Di usia yang terbilang masih muda, ia sudah punya 75 orang karyawan, yang sebagian besar lebih tua usianya dari dia. Lalu, saya mendapati bahwa most of his career dijalani di Jerman. Penasaran dong, saya kemudian bertanya, “ngapain pulang ke Indonesia?”.

Jawabannya sederhana aja sih, karena doi ingin memberi “impact” untuk negara ini.

Yesbossnow.com yang dirintisnya itu ternyata juga bukan bisnis pertamanya. Dia sudah bolak-balik jatuh bangun, hingga akhirnya bisnis yang terbilang baru ini mulai settle. Umur 27 tahun, sudah bolak balik jatuh bangun dalam bisnis? Gimana coba ya? Saya umur 30 tahun, sudah bolak balik nyanyi “jatuh bangun” sih iya kayaknya… *sigh*

Sayangnya, saya nggak sempet banyak ngobrol sama pembicara kedua. Saya juga sudah berusaha gugling, tapi nggak banyak menemukan informasi yang agak “pribadi” terkait pembicara kedua, Putri Tanjung, putri cantik pengusaha media massa, Chairul Tanjung.

Kalau dia lebih “gila” lagi sih.

Umurnya masih 19 tahun, sudah punya usaha sendiri, dengan deretan prestasi dan pencapaian selama 2014 dan 2015 lalu. Begitu dia bicara, mahasiswa, khususnya, langsung khusyuk sekali menyimak. Selain cantik dan dandanannya pas banget (nggak “jreng”, juga nggak polos-polos amat, and God I Love her eyelashes <3), Putri dikaruniai rambut panjang nan indah dan tubuh tinggi semampai. Masya Allah bener deh. Hehe..

Menariknya, terlepas dari stereotype “anak konglomerat” yang kelihatan sekali berusaha dia buang jauh-jauh; charisma dan leadership-nya kelihatan saat memberikan paparan. Dia menceritakan kisahnya ditolak oleh perusahaan-perusahaan ketika menawarkan jasa EO-nya. Tidak tanggung-tanggung, dari 25 perusahaan, 20 menolak. Dia juga bukannya tidak pernah patah semangat, tapi, tim-nya yang solid yang membuat dia akhirnya bangkit lagi.

Kegagalan demi kegagalan itu harus dihadapi, katanya. Sampai akhirnya kegagalan itu lelah menghampiri kita.

Ha!

Keren ya?

Kedua pembicara saya hari ini, tampil bukan karena mereka selamat dari kegagalan. Tapi karena mereka belajar dan bangkit dari kegagalan. Dan itu, yang menjadikan mereka keren. Masih muda, berani mengambil risiko, dan yang paling penting, berani menghabiskan jatah kegagalan selagi muda.

Lalu hal lain yang saya pelajari adalah, keduanya sama-sama memulai bisnis dengan menemukan “The Why”. Kenapa harus menjalankan bisnis? Bisnis itu bukan sekedar uang, menurut Irzan. Bisnis itu tentang menyelesaikan masalah, memberikan value. He was really deep.

Banyak sih sebenarnya catatan saya. Tapi, sementara segini dulu yang bisa saya bagikan.

Yang jelas, saya minder banget. Ngerasa belum ngapa-ngapain, padahal waktu jalan terus.

 

Apa kiranya yang bisa membuat saya bermanfaat untuk orang banyak ya?

 

For further information:

https://id.techinasia.com/founder-story-yesboss-irzan-raditya

 

 

 

 

 

 

 

Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata

Ayah, demikian novel tersebut diberi judul.

Ayah adalah sosok istimewa bagi saya. Saya memanggilnya dengan Papa. Lelaki yang, kalau tidak salah, sudah saya tuliskan namanya sebagai idola saat mengisi biodata di buku harian teman-teman sewaktu SD.

Maka membaca novel “Ayah” karya penulis salah satu buku paling fenomenal dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Andrea Hirata, awalnya membuat saya berpikir ini pasti terkait dengan sosok “Ayah” Ikal dalam tetraloginya. Sang Ayah juara yang sedikit bicara.

Meski latar tempatnya sama, tapi Ayah yang diceritakan dalam novel “Ayah” baru dibuka tabirnya di tengah-tengah cerita. Dan ini yang menjadikan buku tersebut susah sekali diletakkan. Saya harus menemukan siapakah “Ayah” dalam novel itu.

Sejak semula, pembaca akan diajak mengarungi kehidupan yang jauh dari kemapanan para tokoh-tokohnya. Tidak ada lelaki ganteng berkulit sawo matang, bermata elang. Yang ada adalah Sabari Bin Insyafi, lelaki bergigi tupai bertelinga lebar.

Sabari remaja berkelompok dengan tiga orang temannya, dengan segala polah konyol mereka yang selalu menjadi pemegang nomor-nomor buntut peringkat kelas. Toharun, Ukun, dan Tamat. Ketiganya tidak ada yang “beres”. Sabari-lah yang paling lurus, persis seperti namanya. Jika teman-temannya punya deretan nama perempuan yang digemari; maka Sabari tidak. Sabari justru bingung mengapa teman-temannya memperlakukan cinta dengan seenaknya. Bagi Sabari, pemuda pecinta bahasa, cinta tidak semestinya diperlakukan seperti itu.

Dan demikianlah Sabari memperlakukan cinta, ketika Marlena, si lesung pipi sedalam sumur, tukang nyontek paling jago, sang purnama kedua belas menohok hatinya yang terdalam.

Segala cara dilakukan Sabari untuk membuat Marlena melirik padanya. Semua hal ditempuhnya, kecuali menyerah.

Akankah Marlena akhirnya jatuh takluk pada Sabari? Ah, review ini akan memberikan terlalu banyak spoiler (meski saya yakin buku ini sudah dibaca sejuta ummat manusia) tentunya. Keruwetan cinta Sabari inilah yang akan menuntun kita memahami siapakah “Ayah” yang dijadikan judul novel. Keruwetan cinta Sabari pulalah yang akan memberikan inspirasi kepada kita, mengenai kerja keras, ketulusan, kenyamanan kesempurnaan cintaaa *lho*😀. He..

Kalau ada di dunia ini penghargaan cinta yang tulus, Sabari adalah juaranya.

Andrea Hirata, seperti biasa, bisa membuat pembacanya terpingkal-pingkal di satu bagian; untuk kemudian menitikkan keharuan, bahkan rasa pedih ketika sang “Ayah” harus dipisahkan dari anaknya di bagian lain. Melalui buku ini pula, Andrea, sekali lagi, bisa mengisahkan kehidupan kelompok marjinal dalam rangkaian yang menarik.  Meski tidak se-fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi, dan mungkin tidak akan masuk ke dalam rak “novel favorit” saya dimana karya-karya Andrea Hirata lain bercokol, tapi sangat menyenangkan untuk dibaca serta menginspirasi.

 

 

Places I Need to See: Masjid Huaisheng Guangzhou

#placesineedtosee

Masjid Huaisheng, Guangzhou

Kalau berteman dengan saya cukup lama dan cukup dekat, mungkin tahu atau pernah dengar saya cerita bahwa nenek buyut saya turunan Tiong Hoa. Meskipun saya terlalu “butek” untuk terlihat “Cina”, tapi setidaknya mata sipit dan kulit kuning menitis pada kakak dan papa saya.

Ini mungkin salah satu yang mendasari kenapa saya sangat ingin menyambangi masjid yang satu ini.

Meski tidak ada catatan sejarah yang valid, tapi beberapa sumber menyebut bahwa masjid huaisheng adalah masjid tertua di China. Masjid itu pula yang menjadi saksi sampainya dakwah Islam di negeri yang pernah disebut sebagai Negeri Tirai Bambu tersebut. Konon, yang membangun adalah pamanda Rasulullah SAW, Sa’ad Bin Abi Waqqash (ra). Banyak juga yang meyakini bahwa makam yang ada di masjid tersebut adalah makam beliau.

Masjid Saad Bin Abi Waqqash, demikian masjid itu kerap disebut karena sejarahnya yang terkait dengan Saad Bin abi Waqqash.

Dalam salah satu tayangan NGC, saya pernah mendengar bahwa Guang Zhou adalah kota perdagangan (dan masih sampai sekarang) yang menjadi pintu masuknya Islam ke China. Kaisar China saat itu, yang saya lupa siapa namanya, memang tidak langsung memeluk Islam karena dalam Islam banyak aturan yang ia tidak bisa berkomitmen terhadapnya. Namun, ia mengizinkan para pedagang dari Timur Tengah untuk berdakwah di China. Hubungan antara kekaisaran China dengan Islam pun terjalin amat baik. Secara ekonomi, para pedagang Muslim dr Timur tengah menjadi perantara barang2 Timur jauh kepada bangsa Eropa. Kertas, adalah salah satu contoh produk China yang diperkenalkan kepada bangsa Eropa melalui pedagang muslim timur tengah*cmiiw*. Secara politik, sejarah mencatat, sultan India mengutus Ibnu Batutah, the Muslim Explorer, who rarely exposed, untuk menjadi semacam duta besar kesultanan India untuk Kekaisaran China.

Masih panjang dan banyak sekali sejarah Islam di China yang bisa menghabiskan baterai kalau saya jabarkan semua.

Yang jelas, bangsa China memeluk Islam jauh sebelum masyarakat Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan sekitarnya). Bahkan, bangsa China berjasa besar menyebarkan Islam bagi ummat Islam Nusantara.

Ma Huan, sejarawan China yang catatannya banyak dijadikan referensi kedatangan bangsa China ke Asia Tenggara, adalah seorang Muslim yang kalau tidak salah ikut serta dalam rombongan Laksamana Cheng Ho. Marga “Ma” merupakan marga yang menunjukkan identitas Islam seorang China.

Konon “Ma” diambil dari kata Muhammad.:) *entahlah, menuliskan ini membuat saya terharu*

*demi post yang lebih bermakna*

Gambar nyomot di hijupblogger.tumblr.com

View on Path

Finally, Bali

 

Akhirnya, meski segala cara saya tempuh demi menghindari transisi kulit saya ke arah yang lebih eksotis, saya harus menyerah.

Alhamdulillah. Hitam-nya kulit saya worthy. Pagi2 buta, berangkat dari Seminyak ke Pantai Lovina. Melalui jalan gelap gulita, selama kurang lebih satu setengah jam akhirnya sampai juga di Singaraja. Tepat saat waktu Shubuh, Allah Sebaik-baik Perencana, nemu Masjid besar di pinggir jalan. Padahal tadinya sudah pesimis dan ngebayangin bakal Sholat Shubuh di atm pom bensin 😆😆😆. Dan ternyata di daerah sini, there are plenty of masjids.

Passss banget saya menginjakkan kaki di masjid, azan dari HP saya bunyi. Nggak lama, muazin masjidnya azan. Jamaahnya cuma satu shaf, tp bacaan Quran imam-nya…. masyaAllah :”)

Ga jauh dari situ, saya diajak driver selama di Bali ketemu Pak Komang, yang punya cottage a.k.a guest house. Letak rumahnya harus masuk gang dulu. Tapi, surprise, surprise… Judulnya boleh guest house, tapi guess what? begitu ke dalemnya, guest house-nya pak komang ini punya kolam renang, cafe daaaaan letaknya persis di pinggir pantai.

Beuh, kalo kata boss saya mah.

So, jam setengah 6, saya suami dan 4 orang turis asing lain naik perahu buat…

Nonton Lumba-lumba!

Perlu se-jam-an deh sampai akhirnya we stopped at some point bersama perahu2 lain. Nggak lama muncul kawanan lumba2 pada lulumpatan. 😍😍😍😍😍😍😍😍🐳🐋🐳🐋🐳🐋

Asli, alhamdulillaaaaah banget. Masya Allah… if God’s willing tuh yaaa..

Cerita lengkapnya insyaAllah akan di-upload soon di blog sayah *ehm*. Bukan gaya backpacker sih travelling kali ini. Gaya istri yang rada pelit dan menolak “feminisme” dalam hal ini 😜😜😜. *ngarti kan yaa..*

Stay tune *sok banget guweeeh* ❤

View on Path

Barisan Mantan. (Te)Man (se)Tan.

Sudahlah.

Cukup sebait doa untukmu. Ya, sebait. Tidak lebih. Aku tidak rela menyebut-nyebutmu di hadapan Tuhanku. Cih.

Jadi, kiranya engkau menemukan kebahagiaan, cinta yang utuh tanpa perlu menoleh lagi ke belakang.

Iya, kamu. Kamu yang nggak lulus mata kuliah malu. Nggak usah tengok-tengok ke belakang. Laki2 yang kamu tengokin itu suamiku!

Oia, ngomong2, tentangmu dan polahmu yang kurang rasa malu,

Sudah aku ceritakan pada Tuhanku.

That Social Experiment

Well, well,

I watched toooo many social on youtube experiments today. Mostly on Islam and Muslims.

Ada yang bikin saya ketawa, karena si aktornya ditonjok sampai berdarah. Tau sih harusnya saya nggak ketawa, tapi lucu karena tau2 ditonjok. Dan akhirnya, saya berakhir di sini dengan perasaan campur aduk.

Emangnya, harus banget ya bikin social experiment kayak gitu?

Oia, buat para pembaca (kayak banyak aja yang baca) yang belum tau, social experiment itu semacam percobaan terkait isu2 sosial (ini definisi kamus Shinta Galuh Tryssa, 2016). Kebetulan yang saya tonton ini isunya tentang stereotyping alias stereotipe terhadap Muslim di negara2 barat.

Mungkin ya, mungkin ini guna menjawab Islamophobia yang meningkat di negara2 barat sana (macam di Indonesia nggak ada). Atau mungkin juga sengaja dibuat untuk raising awareness tentang Islam dan melawan stereotipe yang mendasarinya.

I was wondering, kalau dilakukan di Indonesia dengan objek warga minoritas, bagaimanakah hasilnya?

Atau jangan-jangan hasil yang menarik akan ditemukan kalau social experiment dilakukan dengan objek yang sama dengan video2 yang saya tonton sama rabun: fully dressed Muslim. Since, well, seorang teman yang berpakaian “Muslim” didiskriminasi. Yep, anda-anda tidak salah baca, temen saya didiskriminasi di kampung sendiri yang azan masih berkumandang 5 kali sehari.

Kita, secara alami, memang tidak bisa menghindari stereotipe. Tapi kita bisa memilih untuk tidak mendiskriminasi orang lain.

Wajib bagi seorang Muslim untuk memperlakulan orang lain dengan baik. Bahkan walaupun orang tersebut memperlakukan kita dengan sebaliknya (yang mana saya masih jauh panggang dari ayam dengan hal tersebut *lalu kemudian laper).

Tapi dalam masalah memaknai Tuhan, it’s very clear dalam Islam: “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Sudah.

Abaikan pipi cempluk saya. Pipinya ga ikut diet.

Ceritanya si Hubby nostalgia sm kampusnya, yg selalu dilakukan saban ke Bandung *tp ga mau ke jtnangor 😕😕😕. Tp sekali ini, tumben2an, minta foto2 di gerbang kampus gajah duduk.

“Yang, mau difoto juga ngga?” -Suami, senyum bungah-

“Nggak!” -Shinta, tengsin-

Tapi sampe di dalem, di bawah pohon rindang yang…katanya ada perhitungan something-nya *langsung connection lost*…

“Fotoin aku dong di sini…” -Shinta, lupa kalo tengsin-

😛😛😛 – at Institut Teknologi Bandung (ITB)

View on Path