My reading lists

Sebelum mengukuhkan diri sebagai blogger buku (dan masih pengen jadi travel blogger dan beauty blogger sebenarnya ~maunya apa sih shinta~), saya menchallenge diri sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku yang sudah saya baca sedikit, tapi tidak selesai karena berbagai alasan. Jadi, mohon kiranya untuk tidak diejek kalau dalam list ini banyak buku2 yang sebenernya udh “yaelah kemana aja lo, shin” banget.

1. To Kill a Mockingbird
Buku lama, memegang rekor sebagai buku terlaris di dunia dan sudah difilmkan. Baru baca dua bab deh. Ceritanya bagus. Saya suka banget sama tokoh atticus yang sangat humanis. Tp kayaknya butuh baca sampai khatam tam, baru bisa bicara banyak.

2. The Year of Living Dangerously. Sebenarnya saya sangsi buku ini masih ada di tangan saya. Hahahaha. Tp cerita ttg (klo ga salah) kebijakan2 era sukarno di indonesia menarik banget nih. Apalagi ini kisah nyata yg ditulis olh jurnalis asing d masa itu. Dan sudah difilmkan pula. Dulu sih belinya karena murahhhh bangettt diobral di bookfair.

3. Bumi Manusia.
Jujur, saya suka banget sama bukunya. Ada value yang kaya dan sejarah yang menarik. Dan entah rasanya bisa banget dilihat dr teori poskolonial. Serta nggak tau gimana, saya kok jd lbh yakin sama agama saya. Sebenernya tau sih, cuma males aja bahas di sini. Hehe. Lagipula bukunya baru dibaca separo. Tokohnya aja saya udh ga inget.

4. Totto Chan.
Yang ini membaca ulang. Saya sudah pernah baca jutaan taun lalu. Jutaan taun versi semut. Hehe. Sangat menghibur dan menginspirasi.

5. Berjalan di Ayas Cahaya.
Sekuelnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Dunia Islam di luar negeri selalu menarik perhatian saya. Tapi buku keduanya ini beda. Genrenya sama. Hanya saja ditulis oleh beberapa penulis, bukan cuma Hanum Rais.

Nah, demikian 5 buku yang saya tetapkan sebagai tantangan. Setidaknya untuk 3 bulan ke depan.

Tapi kalau dipikir2 kenapa ya saya bisa nggak selesai bacanya? Kayaknya karena saya gampang kedistract deh. Mungkin karena pekerjaan sebagai dosen mewajibkan saya untuk banyak membaca juga di luar buku2 tersebut, saya jadi susah fokus. Soalnya membaca akademis kan butuh konsentrasi ya menurut saya. Sementara beberapa buku di atas juga detailnya banyak, bukan sesuatu yang bisa selesai sehari gitu…

Jadi skrg saya juga sekaligus menantang diri untuk membagi waktu. Supaya kepala saya isinya nggak teori doangan (edisi betawinya keluar). He..

Happy reading juga buat kamuuuu ♡

Cerita Romansa SMA, Dilan dan Milea

(Review Novel “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” Karya Pidi Baiq)

20150425_233033 20150415_220030

Penerbit: Mizan Media Utama

Tahun Terbit: 2015

Membaca buku ini sekaligus juga adalah perkenalan pertama saya dengan karya-karya Pidi Baiq. Jauh sebelum ini, teman saya sudah sering menyebut, meng-quote kutipan bukunya, atau kerap juga saya temukan tweet ulang kicauan penulis unik ini berseliweran di timeline Twitter saya. Hingga suatu ketika, seorang teman yang lain menyebut buku ini ketika saya bertanya rekomendasi buku yang ringan tapi menyenangkan di status FB saya.

Sebetulnya saya mencatat beberapa rekomendasi. Tapi, hari itu, di toko buku dekat rumah saya, beberapa buku yang direkomendasikan ternyata sedang kosong stoknya (dan satu buku lagi serial detektif, yang sepertinya sedang tidak cocok dengan mood saya), jadilah saya membeli buku berjudul “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” yang sudah ada di jajaran best seller (padahal baru beberapa bulan terbit).

Bagian-bagian pertama berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri, bahkan tertawa. Banyolan khas 90-an (rasanya ada sedikit gaya-gaya Lupus di situ), dan dialog yang disusun dalam bahasa tutur khas Bandung memiliki kedekatan tersendiri dengan saya yang pernah menghabiskan dua tahun (dari empat tahun kuliah di Jatinangor) di Bandung. Dan karena settingan-nya adalah masa SMA, saya jadi sedikit terhanyut dalam romantisme masa-masa silam. Maklum setelah tujuh tahun menikah, saya lupa rasanya di-PDKT-in. Hihi.

“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong sendiri.

Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.

“Siapa dia?” kutanya Revi.

“Dilan.”

“Oh.”

Itulah harinya. Hari aku tahu namanya.

Ya, Dilan, sesuai judulnya memang menjadi tokoh utama dengan karakter yang kuat. Dia digambarkan dengan sosok yang unik, cerdas, tulus dan jujur dengan caranya sendiri. Dilan selalu berusaha membuat Milea, gadis yang dicintainya (yang juga menjadi penutur dalam novel tersebut) merasa dicintai; dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dilan itu keren, dan bahwa dia digambarkan tidak sempurna di beberapa sisi meningkatkan kekerenannya.

Seperti isi suratnya untuk Milea di bawah ini, misalnya:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Perempuan mana yang tidak akan meleleh dengan secarik surat bertuliskan kata-kata tersebut? Perempuan mana pula yang tidak akan merasa tersanjung jika ada lelaki yang rela berbuat apapun demi mempertahankan harga diri perempuan yang dicintainya?

Saya rasa penokohan Dilan dan gambaran kisah kasih Dilan dan Milea adalah kekuatan dari novel ini. Kekuatan lainnya adalah gaya bahasa khas Pidi Baiq yang sejujurnya agak scattered, tidak sesuai gramatika pada beberapa bagian, tapi berhasil dikemas dengan apik sehingga terasa cerdas dan mengena.

Namun demikian, saya sempat hendak berhenti membacanya karena alurnya menurut saya mudah ditebak sehingga terasa flat terutama menjelang akhir, serta kesulitan saya untuk menempatkan diri di sisi Milea (karena mungkin ter-distract dengan tokoh Kang Adi :p) dan menebak karakteristik dirinya yang seakan terlalu flawless. Tapi, demi semangat menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, akhirnya khatam juga novel bercover Navy blue ini.

Saya agak penasaran sama buku keduanya, dan berharap Milea tidak menikah dengan Dilan, tapi dengan orang lain. Mungkin Kang Adi (teuteup), atau Piyan yang menjadi sidekick-nya Dilan. Karena kalau menikahnya dengan Dilan, kisahnya menjadi terlalu mainstream.

(Ditambah kalau ditinjau dari judulnya “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990”, maka probabilita “Dilan”-nya Milea yang sekarang bukan “Dilan” yang itu, kan?)

At last,

Buat saya, novel ini nilainya 3 out of 5. Cocok untuk anak muda masa kini, generasi 90-an, dan yang ada di antaranya macam saya :D; yang menginginkan bacaan ringan di waktu senggang.

Mengapa Harus “Hijab”?

Judul di atas terinspirasi dari kolega saya, bu Irwa, yang berkata, “Mengapa judul film-nya harus Hijab”

Setelah membaca dua review negatif tentang film Hiijab, saya jadi penasaran ingin menonton langsung film garapan Hanung Bramantyo tersebut. Akhirnya kemarin, saya dan seorang kolega, Bu Irwa, pergi menyaksikan film Hijab di sebuah bioskop di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Saya agak nggak tahu sih harus berkata apa dan memulai dari mana me-review film Hijab.

Sebagai akademisi ilmu komunikasi dan kerap mengajarkan teori-teori tentang media massa, saya menganggap sebuah pesan dari konten media, mau itu tayangan TV, film, atau buku tidak boleh “egois”. Karena sekali pesan itu disampaikan, sang pembuat pesan sudah tidak punya “kuasa” lagi terhadap pesan tersebut. Sehingga, komunikator yang baik tidak bisa hanya mementingkan kepentingan atau kesenangan pribadinya tanpa memperhatikan bagaimana khalayak menerima pesan tersebut.

Dan ini yang menurut saya seringkali gagal dipahami para pembuat pesan, bahwa khalayak dapat membentuk citra tertentu dari pesan yang mereka rangkai dan ditampilkan melalui media massa. Dalam hal ini, berdasarkan apa yang saya maknai, adalah citra hijab sebagaimana judul film tersebut.

Film itu sendiri, pada akhirnya saya mencoba berbaik sangka, menceritakan proses empat orang perempuan memaknai hijab mereka, whereas dari empat orang perempuan muda yang diceritakan di film, rasanya tidak ada satu pun yang memaknai hijab mereka sebagai bagian dari kewajiban menjalankan perintah agama. Satu perempuan berhijab turban karena rambutnya rontok (dan ada adegan dia sedang perawatan rambut, sehingga menurutnya kalau tidak botak lagi nggak perlu pake turban), satu berhijab karena terjebak dalam acara “Pemantapan Iman”, satu terjebak oleh pernikahan, dan satu lagi yang awalnya tidak berhijab, well.. kalau menurut saya terjebak dalam konformitas pergaulan.

Tiga dari empat perempuan itu merupakan ibu rumah tangga yang merasa kehilangan “dirinya” setelah menikah. Aktivitas mereka hanya seputar mengurus suami dan anak-anak. Sebagai perempuan dengan segala potensi dan keunikan karakteristik yang dimiliki masing-masing individu, akhirnya mereka berempat memutuskan untuk diam-diam membuka usaha baju Muslim. Baju Muslim kini, di negara dengan populasi Muslim terbesar di Indonesia, merupakan big business. Tidak bisa dipandang sebelah mata.

Long story short, mereka berempat menemukan ibu-ibu sosialita kaya raya yang mau memodali butik mereka yang awalnya dijalani secara online. Butik baju Muslim yang berjalan dengan nama, *jeng jeng* Meccanism (does that ring a bell?). Meccanism memiliki filosofi yang mengambil dari kota “Mekkah” yang menjadi kiblat seluruh umat Muslim di Indonesia. Jadi, visinya butik Meccanism harus juga bisa menjadi kiblat berbusana bagi Muslimah sekaligus menjadi “ism” a.k.a values of one’s life.

Bisnis baju Muslim keempat perempuan tadi, as expected, laku keras. Tapi tiga dari empat perempuan itu selama ini menyembunyikan pekerjaan “sampingan” tersebut dari para suami (para lelaki yang masih beranggapan bahwa “I’m the man, I’m the breadwinner”). Malahan, Sari yang diperankan oleh Zaskia Mecca, diharamkan oleh suaminya untuk bekerja.

Kebohongan memang tidak pernah berumur lama. Para perempuan tersebut akhirnya menuai akibat dari kebohongan mereka masing-masing (mungkin ini juga salah satu pesan positifnya).

Ya, more or less seperti itu.

Dalam realita, saya tahu dan saya sendiri pun merasakan bahwa setiap perempuan Muslim berbeda cara pandangnya memaknai hijab. Tapi film itu, citra hijab di film itu jauh-sekali-timpang-langit-bumi dengan citra hijab yang selama ini saya miliki. Hijab merupakan kewajiban bagi setiap perempuan Muslim yang sudah akil baligh. Karena ia adalah sebuah pakaian yang dapat dilihat semua orang, maka hijab tidak bisa dipisahkan dari identitas keagamaan seorang perempuan Muslim. Terlepas dari apapun dan bagaimanapun masing-masing individu memaknai Hijab, walaupun ia hanyalah “sehelai” kain; namun di balik itu ada nilai yang luhur yang hilang dalam film tersebut (apalagi kemudian Hijab dalam film tersebut diberi label yang kok ndilalah-nya sama dengan nama label salah satu produser sekaligus pemain filmnya). Singkat kata, hijab jadi rendah sekali maknanya di film itu.

Saya mencoba mengingat kembali dan mempertanyakan ulang, mengapa saya sangat “terganggu” dengan pesan di film Hijab. Bagaimana saya sebenarnya memaknai hijab?

Walaupun ia hanyalah selembar kain, tapi hijab yang saya pakai melalui perjuangan yang tidak mudah ketika saya pertama kali mengenakannya 14 tahun lalu saat saya masih duduk di bangku SMP. Pertentangan dan cibiran kerap saya peroleh bahkan dari keluarga saya sendiri. Ada momen-momen yang tidak mengenakkan tapi saya syukuri, memang skenario Allah Maha Sempurna. Tapi perjuangan saya bukan apa-apa dibandingkan dengan perjuangan para pemudi di era 80-90-an. Mereka harus benar-benar berjuang keras untuk menunaikan kewajiban menutup aurat. Bongkar pasang hijab, hingga keluar dari sekolah harus mereka jalani karena di masa itu hijab dilarang digunakan di institusi pendidikan. Dan saya pikir masih banyak lagi kisah Muslimah di belahan bumi lain yang mati-matian memperjuangkan hijabnya. Dari yang memilih berhenti karena perusahaannya melarang berhijab, hingga meninggal ditusuk seorang “Islamophobist”. (Tidak akan saya bahas karena jadi kepanjangan)

Hijab untuk saya adalah sebuah perjuangan. Kisahnya tidak pernah selesai, karena beriman pun merupakan proses yang hanya selesai ketika Izrail mencabut nyawa seseorang.

Apabila hijab lalu dimurahkan hanya dengan film bergaya Urban yang berusaha melihat potret kaum Urban, saya tidak paham apa yang ada di pikiran pembuat filmnya. Berapa banyak kota atau daerah di Indonesia yang gaya hidupnya sangat “urban”? Berapa banyak perempuan berhijab yang berhijab hanya karena jebakan duniawi, instead of karena berusaha taat pada perintah Allah?

Apabila film Hijab itu bukan film reliji, dan hanya komedi satir; bagaimana pembuat filmnya kelak bertanggung jawab terhadap citra hijab dan minuman keras yang ada dalam film tersebut? (Dan ironisnya, scene suami yang istrinya berhijab itu menenggak minuman keras di depan minimarket yangggg konon sekarang sudah dilarang menjual minuman keras lagi. Dan kenapa harus minuman keras? Kenapa? Kenapa?)

Apabila film Hijab dibuat sebagai satir dari kemunafikan masyarakat kota yang beragama di permukaan, lalu apakah boleh saya juga menyatiri kehadiran film itu membuat penonton membayar dan spend sekitar 1,5 jam untuk dijejali dengan brand “Meccanism” yang merupakan clothing brand Zaskia Mecca?

Belum lagi citra “Arab” dalam film tersebut yang sangat…rasis… (ya saya bukan orang Arab sih.. tapi kata-kata “ditindihin Onta Sahara” di film itu menurut saya kasar dan semakin menguatkan citra buruk bangsa Arab yang selama ini dibangun media massa).

Banyaknya komentar dan review negatif, yang salah satunya dari penulis buku favorit saya 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum Rais, tidak sepenuhnya salah. Dan juga tidak boleh disalahkan. Pembuat film toh tidak mampu dan tidak berhak mengontrol apa yang khalayak pahami dari filmnya, bukan?

Pada akhirnya (sudahlah, saya akhiri saja tulisan ini), saya tahu tulisan ini amat subjektif karena saya berangkat dari pandangan negatif yang sudah saya peroleh dari review-review tentang film Hijab ini, plus frame of reference saya bahwa agama tidak bisa dijadikan lelucon satir di media massa, karena tanggung jawabnya berat nanti di hadapan Allah. Jadi, mungkin review ini tidak bisa dijadikan rujukan menilai film Hijab tersebut.

So, menutup tulisan ini, saya sejak kemarin masih bertanya-tanya,

“What were you thinking, Hanung?”

Ir-Rasional=Out of The Box

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq 2-3)

Dikenalkan kepada sebuah situs oleh seorang teman kemarin, saya penasaran membukanya hari ini. Dan ada satu tulisan yang menggelitik saya. Si Penulis mengomentari orang-orang yang menurutnya irasional dalam berbisnis karena mengutamakan “beramal” dan “sedikit-sedikit Tuhan”.

Saya ingat betapa irasionalnya Mang Lilik, yang ceritanya juga sudah saya muat di sini, ketika menjual sawahnya untuk berhaji. Lelaki asal Jawa Barat itu profesinya “hanya” sebagai tukang kebun yang penghasilannya jelas tidak sama dengan pegawai bank. Tapi, ia menjual sawah, yang mungkin satu-satunya harta peninggalannya untuk menyempurnakan rukun Islam.

Kurang irasional apa? Saat itu saya masih terlalu kecil untuk berkomentar, tapi entah bagaimana kenangan ketika orang-orang meng-irasional-kan Mang Lilik masih lekat di kepala saya.

“Nanti sampai di sini mau makan apa?”, demikian kira-kira bunyi komentar orang-orang sekitar saya. Setidaknya demikian yang saya ingat.

Tapi Mang Lilik masih sehat wal afiat sampai hari ini. Dan demikian pula dengan keluarganya. Sepetak sawah yang sudah digadaikan dengan “Haji”, tidak mengurangi rezekinya, walaupun tidak lantas serta-merta menjadikannya Menteri Perkebunan dan Perbungaan. Mang Lilik tetaplah Mang Lilik yang tukang kebun. Yang sama seperti kita semua, bergantung hidup, makan-minum-segalanya, kepada Tuhan.

Jadi, saya pikir, saya dan Penulis di mojok.co itu beredar di garis edar yang berbeda. Mungkin. Karena dalam benak saya, jangankan sedikit-sedikit; semestinya seluruh hidup kita menyertakan Tuhan. Karena hanya karena-Nya-lah saya, kamu, Penulis mojok.co, mereka, dia, kalian semua; ada. Saya ada, dari ketiadaan. Saya menuliskan ini semua, saya bicara anu dan anu; setelah mengalami 365 (atau sesekali 366) hari dikalikan 28 lebih beberapa bulan plus beberapa hari kejadian yang menjadikan saya adalah saya. Mengapa saya yang mengalami dan bukan orang lain? Bukankah segalanya sudah ada Allah yang mengaturnya? Sedangkan saya hanya bisa berusaha, karena Allah Sang Maha Mengatur segala menciptakan hukum kausalitas: Barangsiapa yang mengikuti-Nya dan berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah akan melapangkan jalannya.

Rasional perlu. Karena untuknyalah, saya pikir, Allah menciptakan akal. Tapi, berpikir out of it, out of the box (ini pemahaman saya tentang out of the box), saya yakini akan membawa kita see and beyond things. Karena bukankah kita kerap terpenjara dalam rasio kita sendiri dalam memaknai nasib yang kita jalani? Mempertanyakan kegagalan demi kegagalan yang kita alami? Atau mempertanyakan “pilihan” yang diberikan Tuhan kepada kita?

Dan bukankah “box” bernama rasio itu pula yang kerap menjadikan kita terperangkap dalam jerat kapitalisme? Ketakutan akan ketidakpunyaan, yang menjadikan banyak orang menghamba pada materi dan kepemilikan.

Wallahu A’lam 

Sesaat Bersama Para Penjaga Cilik

Tahukah apa yang selalu “menghancurkan” hati saya?

Siang ini, seperti biasa saya turun dari tempat peraduan saya di ruang dosen lantai 4 untuk membeli makan siang. Di lobby, mata saya bertemu dengan pemandangan indah, gadis-gadis cilik berhijab lebar dengan wajah cemerlang. Baru saya ingat hari ini ada lomba tahfiz Quran di auditorium.

Saya lalu sampai di bazaar yang kerap diadakan di selasar untuk mengambil pesanan hijab dan gamis. Tiba-tiba saya kehilangan keinginan untuk membeli makan siang. Saya harus ngobrol-ngobrol dengan gadis-gadis cilik penghafal Qur’an sebelum mereka pulang. Jadi, setelah transaksi per-baju-an saya selesai, saya bergegas menuju Lobby, tempat gadis-gadis cilik itu duduk.

Saya menyapa salah satunya. Berkerudung ungu dan gamis bercorak merah jambu. Kulitnya sawo matang dengan mata sipit menarik.

Isma namanya. Saat ini duduk di kelas 4 SD. Ia dan teman-temannya datang dari Pondok Pesantren Bayt Quran, di bilangan Ciputat.

“Isma berapa hafalannya?”, tanya saya.

Si kerudung ungu berbisik dengan teman sebelahnya, berusaha mengingat-ingat jumlah hafalannya. Terdengar bisik-bisik temannya, “udah sepuluh”.

“Sepuluh…”, jawabnya perlahan.

Saya lalu duduk di sebelahnya, meminta dibacakan satu surat yang menjadi kesukaannya. (Tadinya saya mau minta dibacakan surat Maryam, tapi takut kepanjangan… hehehe…)

Isma lalu membacakan surat Al-Fajr, yang juga menjadi favorit saya. Bacaannya tartil, indah, dan sempurna bagi telinga saya. Basah rasanya hati saya yang kerontang karena haid seminggu ini.

Surat Al-Fajr pun sempurna dibacakannya, tanpa cela.

“Mudah-mudahan terus sampai 30 juz ya… Doain aku juga ya…,” ucap saya padanya.

“Didoain biar bisa jadi hafizhoh…,”ujarnya sembari mengurai senyum.

“Doain juga biar anaknya kayak…”

“Iya, didoain supaya punya anak-anak hafizhoh…”, sambungnya masih dengan senyuman.

Sesaat saya membuang pandang, menahan nafas, menahan air mata. Karena saya “tidak kuat”, jadi saya mohon diri. Gadis-gadis kecil itu bergantian bersalaman dan mencium tangan saya. Ah, sungguh tidak pantas mereka mencium tangan saya. Saya-lah yang harus mencium tangan-tangan mereka, tangan-tangan penjaga firman-Nya.

:”)

Untuk Derai Air Mata, Keluh Kesah, dan Ucap Sesal

Hidup saya bulan-bulan belakangan ini seperti mahasiswa yang punya masalah penelitian, sangat PD dengan segudang konsep dan teori yang tampaknya keren dan diyakininya bisa menjelaskan masalah penelitian tersebut, lengkap dengan kutipan dari berbagai referensi, terus mendadak ujian skripsi; padahal nggak pernah bimbingan.

Dan akhirnya saya tahu perasaan si mahasiswa itu. Yang pernah presentasi penelitiannya dalam sebuah sidang skripsi dengan saya sebagai penguji. Saya ingat bertanya dalam hati, kira-kira mahasiswa ini kepikiran nggak ya, kalau semalam sebenarnya skripsinya sudah habis saya corat-coret dan saya tidak yakin dia akan lulus?

Beruntung, mahasiswa itu cukup cerdas dan gentle untuk mengakui bahwa skripsinya memang sebenarnya belum sempurna dan belum selesai, dan dengan lapang dada bersedia mengulang. Dengan topik baru, dan pembimbing baru. Hasilnya, alhamdulillah, sekarang dia sudah lulus.

Memperbaiki itu lebih sulit, lebih sakit (ehm) daripada mati-matian berusaha keras di depan. Kalau kata dokter, mencegah lebih baik (sekaligus lebih murah) daripada mengobati.

Tapi setiap kita pasti pernah berbuat salah. Dan selalu ada bagian dari hidup kita yang ingin kita hapus. Bukan begitu? Maka, siapa kita, siapa saya, untuk menyempitkan ruang hati?

Dan mengulang, sebenarnya adalah sebuah keberuntungan bagi mereka yang mendapatkannya. Artinya ada satu kesempatan lagi, untuk menjadikan paripurna. Sehingga apapun yang kita ulang dapat kita jalani, tanpa penyesalan.

Sayangnya, waktu tidak dapat diulang. Tidak pula dapat ditahan, apalagi dipaksa mundur ke belakang.

Maka saya ingin belajar dari derai air mata, keluh kesah, dan ucap sesal. Bahwa saya, tidak bisa mengambil peran-Nya dalam menjalani kehidupan. Dan bahwa saya sejatinya teramat lemah, bodoh, bingung dan limbung…