Mengapa Harus “Hijab”?

Judul di atas terinspirasi dari kolega saya, bu Irwa, yang berkata, “Mengapa judul film-nya harus Hijab”

Setelah membaca dua review negatif tentang film Hiijab, saya jadi penasaran ingin menonton langsung film garapan Hanung Bramantyo tersebut. Akhirnya kemarin, saya dan seorang kolega, Bu Irwa, pergi menyaksikan film Hijab di sebuah bioskop di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Saya agak nggak tahu sih harus berkata apa dan memulai dari mana me-review film Hijab.

Sebagai akademisi ilmu komunikasi dan kerap mengajarkan teori-teori tentang media massa, saya menganggap sebuah pesan dari konten media, mau itu tayangan TV, film, atau buku tidak boleh “egois”. Karena sekali pesan itu disampaikan, sang pembuat pesan sudah tidak punya “kuasa” lagi terhadap pesan tersebut. Sehingga, komunikator yang baik tidak bisa hanya mementingkan kepentingan atau kesenangan pribadinya tanpa memperhatikan bagaimana khalayak menerima pesan tersebut.

Dan ini yang menurut saya seringkali gagal dipahami para pembuat pesan, bahwa khalayak dapat membentuk citra tertentu dari pesan yang mereka rangkai dan ditampilkan melalui media massa. Dalam hal ini, berdasarkan apa yang saya maknai, adalah citra hijab sebagaimana judul film tersebut.

Film itu sendiri, pada akhirnya saya mencoba berbaik sangka, menceritakan proses empat orang perempuan memaknai hijab mereka, whereas dari empat orang perempuan muda yang diceritakan di film, rasanya tidak ada satu pun yang memaknai hijab mereka sebagai bagian dari kewajiban menjalankan perintah agama. Satu perempuan berhijab turban karena rambutnya rontok (dan ada adegan dia sedang perawatan rambut, sehingga menurutnya kalau tidak botak lagi nggak perlu pake turban), satu berhijab karena terjebak dalam acara “Pemantapan Iman”, satu terjebak oleh pernikahan, dan satu lagi yang awalnya tidak berhijab, well.. kalau menurut saya terjebak dalam konformitas pergaulan.

Tiga dari empat perempuan itu merupakan ibu rumah tangga yang merasa kehilangan “dirinya” setelah menikah. Aktivitas mereka hanya seputar mengurus suami dan anak-anak. Sebagai perempuan dengan segala potensi dan keunikan karakteristik yang dimiliki masing-masing individu, akhirnya mereka berempat memutuskan untuk diam-diam membuka usaha baju Muslim. Baju Muslim kini, di negara dengan populasi Muslim terbesar di Indonesia, merupakan big business. Tidak bisa dipandang sebelah mata.

Long story short, mereka berempat menemukan ibu-ibu sosialita kaya raya yang mau memodali butik mereka yang awalnya dijalani secara online. Butik baju Muslim yang berjalan dengan nama, *jeng jeng* Meccanism (does that ring a bell?). Meccanism memiliki filosofi yang mengambil dari kota “Mekkah” yang menjadi kiblat seluruh umat Muslim di Indonesia. Jadi, visinya butik Meccanism harus juga bisa menjadi kiblat berbusana bagi Muslimah sekaligus menjadi “ism” a.k.a values of one’s life.

Bisnis baju Muslim keempat perempuan tadi, as expected, laku keras. Tapi tiga dari empat perempuan itu selama ini menyembunyikan pekerjaan “sampingan” tersebut dari para suami (para lelaki yang masih beranggapan bahwa “I’m the man, I’m the breadwinner”). Malahan, Sari yang diperankan oleh Zaskia Mecca, diharamkan oleh suaminya untuk bekerja.

Kebohongan memang tidak pernah berumur lama. Para perempuan tersebut akhirnya menuai akibat dari kebohongan mereka masing-masing (mungkin ini juga salah satu pesan positifnya).

Ya, more or less seperti itu.

Dalam realita, saya tahu dan saya sendiri pun merasakan bahwa setiap perempuan Muslim berbeda cara pandangnya memaknai hijab. Tapi film itu, citra hijab di film itu jauh-sekali-timpang-langit-bumi dengan citra hijab yang selama ini saya miliki. Hijab merupakan kewajiban bagi setiap perempuan Muslim yang sudah akil baligh. Karena ia adalah sebuah pakaian yang dapat dilihat semua orang, maka hijab tidak bisa dipisahkan dari identitas keagamaan seorang perempuan Muslim. Terlepas dari apapun dan bagaimanapun masing-masing individu memaknai Hijab, walaupun ia hanyalah “sehelai” kain; namun di balik itu ada nilai yang luhur yang hilang dalam film tersebut (apalagi kemudian Hijab dalam film tersebut diberi label yang kok ndilalah-nya sama dengan nama label salah satu produser sekaligus pemain filmnya). Singkat kata, hijab jadi rendah sekali maknanya di film itu.

Saya mencoba mengingat kembali dan mempertanyakan ulang, mengapa saya sangat “terganggu” dengan pesan di film Hijab. Bagaimana saya sebenarnya memaknai hijab?

Walaupun ia hanyalah selembar kain, tapi hijab yang saya pakai melalui perjuangan yang tidak mudah ketika saya pertama kali mengenakannya 14 tahun lalu saat saya masih duduk di bangku SMP. Pertentangan dan cibiran kerap saya peroleh bahkan dari keluarga saya sendiri. Ada momen-momen yang tidak mengenakkan tapi saya syukuri, memang skenario Allah Maha Sempurna. Tapi perjuangan saya bukan apa-apa dibandingkan dengan perjuangan para pemudi di era 80-90-an. Mereka harus benar-benar berjuang keras untuk menunaikan kewajiban menutup aurat. Bongkar pasang hijab, hingga keluar dari sekolah harus mereka jalani karena di masa itu hijab dilarang digunakan di institusi pendidikan. Dan saya pikir masih banyak lagi kisah Muslimah di belahan bumi lain yang mati-matian memperjuangkan hijabnya. Dari yang memilih berhenti karena perusahaannya melarang berhijab, hingga meninggal ditusuk seorang “Islamophobist”. (Tidak akan saya bahas karena jadi kepanjangan)

Hijab untuk saya adalah sebuah perjuangan. Kisahnya tidak pernah selesai, karena beriman pun merupakan proses yang hanya selesai ketika Izrail mencabut nyawa seseorang.

Apabila hijab lalu dimurahkan hanya dengan film bergaya Urban yang berusaha melihat potret kaum Urban, saya tidak paham apa yang ada di pikiran pembuat filmnya. Berapa banyak kota atau daerah di Indonesia yang gaya hidupnya sangat “urban”? Berapa banyak perempuan berhijab yang berhijab hanya karena jebakan duniawi, instead of karena berusaha taat pada perintah Allah?

Apabila film Hijab itu bukan film reliji, dan hanya komedi satir; bagaimana pembuat filmnya kelak bertanggung jawab terhadap citra hijab dan minuman keras yang ada dalam film tersebut? (Dan ironisnya, scene suami yang istrinya berhijab itu menenggak minuman keras di depan minimarket yangggg konon sekarang sudah dilarang menjual minuman keras lagi. Dan kenapa harus minuman keras? Kenapa? Kenapa?)

Apabila film Hijab dibuat sebagai satir dari kemunafikan masyarakat kota yang beragama di permukaan, lalu apakah boleh saya juga menyatiri kehadiran film itu membuat penonton membayar dan spend sekitar 1,5 jam untuk dijejali dengan brand “Meccanism” yang merupakan clothing brand Zaskia Mecca?

Belum lagi citra “Arab” dalam film tersebut yang sangat…rasis… (ya saya bukan orang Arab sih.. tapi kata-kata “ditindihin Onta Sahara” di film itu menurut saya kasar dan semakin menguatkan citra buruk bangsa Arab yang selama ini dibangun media massa).

Banyaknya komentar dan review negatif, yang salah satunya dari penulis buku favorit saya 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum Rais, tidak sepenuhnya salah. Dan juga tidak boleh disalahkan. Pembuat film toh tidak mampu dan tidak berhak mengontrol apa yang khalayak pahami dari filmnya, bukan?

Pada akhirnya (sudahlah, saya akhiri saja tulisan ini), saya tahu tulisan ini amat subjektif karena saya berangkat dari pandangan negatif yang sudah saya peroleh dari review-review tentang film Hijab ini, plus frame of reference saya bahwa agama tidak bisa dijadikan lelucon satir di media massa, karena tanggung jawabnya berat nanti di hadapan Allah. Jadi, mungkin review ini tidak bisa dijadikan rujukan menilai film Hijab tersebut.

So, menutup tulisan ini, saya sejak kemarin masih bertanya-tanya,

“What were you thinking, Hanung?”

Ir-Rasional=Out of The Box

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq 2-3)

Dikenalkan kepada sebuah situs oleh seorang teman kemarin, saya penasaran membukanya hari ini. Dan ada satu tulisan yang menggelitik saya. Si Penulis mengomentari orang-orang yang menurutnya irasional dalam berbisnis karena mengutamakan “beramal” dan “sedikit-sedikit Tuhan”.

Saya ingat betapa irasionalnya Mang Lilik, yang ceritanya juga sudah saya muat di sini, ketika menjual sawahnya untuk berhaji. Lelaki asal Jawa Barat itu profesinya “hanya” sebagai tukang kebun yang penghasilannya jelas tidak sama dengan pegawai bank. Tapi, ia menjual sawah, yang mungkin satu-satunya harta peninggalannya untuk menyempurnakan rukun Islam.

Kurang irasional apa? Saat itu saya masih terlalu kecil untuk berkomentar, tapi entah bagaimana kenangan ketika orang-orang meng-irasional-kan Mang Lilik masih lekat di kepala saya.

“Nanti sampai di sini mau makan apa?”, demikian kira-kira bunyi komentar orang-orang sekitar saya. Setidaknya demikian yang saya ingat.

Tapi Mang Lilik masih sehat wal afiat sampai hari ini. Dan demikian pula dengan keluarganya. Sepetak sawah yang sudah digadaikan dengan “Haji”, tidak mengurangi rezekinya, walaupun tidak lantas serta-merta menjadikannya Menteri Perkebunan dan Perbungaan. Mang Lilik tetaplah Mang Lilik yang tukang kebun. Yang sama seperti kita semua, bergantung hidup, makan-minum-segalanya, kepada Tuhan.

Jadi, saya pikir, saya dan Penulis di mojok.co itu beredar di garis edar yang berbeda. Mungkin. Karena dalam benak saya, jangankan sedikit-sedikit; semestinya seluruh hidup kita menyertakan Tuhan. Karena hanya karena-Nya-lah saya, kamu, Penulis mojok.co, mereka, dia, kalian semua; ada. Saya ada, dari ketiadaan. Saya menuliskan ini semua, saya bicara anu dan anu; setelah mengalami 365 (atau sesekali 366) hari dikalikan 28 lebih beberapa bulan plus beberapa hari kejadian yang menjadikan saya adalah saya. Mengapa saya yang mengalami dan bukan orang lain? Bukankah segalanya sudah ada Allah yang mengaturnya? Sedangkan saya hanya bisa berusaha, karena Allah Sang Maha Mengatur segala menciptakan hukum kausalitas: Barangsiapa yang mengikuti-Nya dan berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah akan melapangkan jalannya.

Rasional perlu. Karena untuknyalah, saya pikir, Allah menciptakan akal. Tapi, berpikir out of it, out of the box (ini pemahaman saya tentang out of the box), saya yakini akan membawa kita see and beyond things. Karena bukankah kita kerap terpenjara dalam rasio kita sendiri dalam memaknai nasib yang kita jalani? Mempertanyakan kegagalan demi kegagalan yang kita alami? Atau mempertanyakan “pilihan” yang diberikan Tuhan kepada kita?

Dan bukankah “box” bernama rasio itu pula yang kerap menjadikan kita terperangkap dalam jerat kapitalisme? Ketakutan akan ketidakpunyaan, yang menjadikan banyak orang menghamba pada materi dan kepemilikan.

Wallahu A’lam 

Sesaat Bersama Para Penjaga Cilik

Tahukah apa yang selalu “menghancurkan” hati saya?

Siang ini, seperti biasa saya turun dari tempat peraduan saya di ruang dosen lantai 4 untuk membeli makan siang. Di lobby, mata saya bertemu dengan pemandangan indah, gadis-gadis cilik berhijab lebar dengan wajah cemerlang. Baru saya ingat hari ini ada lomba tahfiz Quran di auditorium.

Saya lalu sampai di bazaar yang kerap diadakan di selasar untuk mengambil pesanan hijab dan gamis. Tiba-tiba saya kehilangan keinginan untuk membeli makan siang. Saya harus ngobrol-ngobrol dengan gadis-gadis cilik penghafal Qur’an sebelum mereka pulang. Jadi, setelah transaksi per-baju-an saya selesai, saya bergegas menuju Lobby, tempat gadis-gadis cilik itu duduk.

Saya menyapa salah satunya. Berkerudung ungu dan gamis bercorak merah jambu. Kulitnya sawo matang dengan mata sipit menarik.

Isma namanya. Saat ini duduk di kelas 4 SD. Ia dan teman-temannya datang dari Pondok Pesantren Bayt Quran, di bilangan Ciputat.

“Isma berapa hafalannya?”, tanya saya.

Si kerudung ungu berbisik dengan teman sebelahnya, berusaha mengingat-ingat jumlah hafalannya. Terdengar bisik-bisik temannya, “udah sepuluh”.

“Sepuluh…”, jawabnya perlahan.

Saya lalu duduk di sebelahnya, meminta dibacakan satu surat yang menjadi kesukaannya. (Tadinya saya mau minta dibacakan surat Maryam, tapi takut kepanjangan… hehehe…)

Isma lalu membacakan surat Al-Fajr, yang juga menjadi favorit saya. Bacaannya tartil, indah, dan sempurna bagi telinga saya. Basah rasanya hati saya yang kerontang karena haid seminggu ini.

Surat Al-Fajr pun sempurna dibacakannya, tanpa cela.

“Mudah-mudahan terus sampai 30 juz ya… Doain aku juga ya…,” ucap saya padanya.

“Didoain biar bisa jadi hafizhoh…,”ujarnya sembari mengurai senyum.

“Doain juga biar anaknya kayak…”

“Iya, didoain supaya punya anak-anak hafizhoh…”, sambungnya masih dengan senyuman.

Sesaat saya membuang pandang, menahan nafas, menahan air mata. Karena saya “tidak kuat”, jadi saya mohon diri. Gadis-gadis kecil itu bergantian bersalaman dan mencium tangan saya. Ah, sungguh tidak pantas mereka mencium tangan saya. Saya-lah yang harus mencium tangan-tangan mereka, tangan-tangan penjaga firman-Nya.

:”)

Untuk Derai Air Mata, Keluh Kesah, dan Ucap Sesal

Hidup saya bulan-bulan belakangan ini seperti mahasiswa yang punya masalah penelitian, sangat PD dengan segudang konsep dan teori yang tampaknya keren dan diyakininya bisa menjelaskan masalah penelitian tersebut, lengkap dengan kutipan dari berbagai referensi, terus mendadak ujian skripsi; padahal nggak pernah bimbingan.

Dan akhirnya saya tahu perasaan si mahasiswa itu. Yang pernah presentasi penelitiannya dalam sebuah sidang skripsi dengan saya sebagai penguji. Saya ingat bertanya dalam hati, kira-kira mahasiswa ini kepikiran nggak ya, kalau semalam sebenarnya skripsinya sudah habis saya corat-coret dan saya tidak yakin dia akan lulus?

Beruntung, mahasiswa itu cukup cerdas dan gentle untuk mengakui bahwa skripsinya memang sebenarnya belum sempurna dan belum selesai, dan dengan lapang dada bersedia mengulang. Dengan topik baru, dan pembimbing baru. Hasilnya, alhamdulillah, sekarang dia sudah lulus.

Memperbaiki itu lebih sulit, lebih sakit (ehm) daripada mati-matian berusaha keras di depan. Kalau kata dokter, mencegah lebih baik (sekaligus lebih murah) daripada mengobati.

Tapi setiap kita pasti pernah berbuat salah. Dan selalu ada bagian dari hidup kita yang ingin kita hapus. Bukan begitu? Maka, siapa kita, siapa saya, untuk menyempitkan ruang hati?

Dan mengulang, sebenarnya adalah sebuah keberuntungan bagi mereka yang mendapatkannya. Artinya ada satu kesempatan lagi, untuk menjadikan paripurna. Sehingga apapun yang kita ulang dapat kita jalani, tanpa penyesalan.

Sayangnya, waktu tidak dapat diulang. Tidak pula dapat ditahan, apalagi dipaksa mundur ke belakang.

Maka saya ingin belajar dari derai air mata, keluh kesah, dan ucap sesal. Bahwa saya, tidak bisa mengambil peran-Nya dalam menjalani kehidupan. Dan bahwa saya sejatinya teramat lemah, bodoh, bingung dan limbung…

 

 

 

Cerita tentang Energi

Pertolongan Allah itu cepat dan pasti datang,

Seperti kedipan mata ketika harus berkedip…

(Aidh Al-Qarni)

 

Saya tahu, saat saya lemah, saya menyerap segala macam energi negatif dari sekeliling. Energi negatif yang menjauhkan saya dari petunjuk menuju jalan lurus. Energi negatif yang, jelas, dari setan datangnya. Energi negatif yang memburamkan hati saya dari cahaya kebenaran.

Seperti beberapa minggu terakhir ini. Saat saya dibuat stress dan tertekan oleh energi negatif yang sebenarnya saya buat sendiri. Saya sadar, bahwa saya sedang dalam keadaan “lemah”. Namun, alih-alih berusaha mengusir jauh-jauh kenegatifan yang mengelilingi saya, saya malah merasa “nyaman” dalam derai air mata dan banjir keluhan. Dan seberapa besar pun cara saya untuk berbagi pada orang lain tentang masalah saya, saya merasa tidak satu pun memahami.

Hingga suatu hari, saya terpaksa menghadapi ketakutan saya. Saya hanya ingat berdo’a pendek, “robbisyrohlii sodrii wa yassirlii amrii…” yang artinya “Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku…”. Lalu, ajaib, apa yang awalnya menjadi ketakutan saya berbuah manis. Saya memiliki semangat baru, bukan karena Allah serta merta mengubah keadaan saya, tapi karena Allah mengubah sudut pandang saya dan menjadikan semesta mendukung sudut pandang tersebut.

Ada semangat baru dalam diri saya. Keyakinan bahwa saya berada dalam “jalur yang benar”, dan saya tinggal meneruskan pekerjaan super menantang : konsisten.

Lalu hari ini, Allah menghadiahi saya sebuah pertemuan dengan orang-orang yang diliputi energi positif. Yang ibarat transaksi finansial, serupa dengan perpindahan dana dari satu rekening ke rekening lain secara online. Energi positif itu demikian cepat menular, mengobati hati saya yang masih ada sisa-sisa “luka”-nya.

Sekarang saya paham, mengapa kebaikan dapat berwujud teramat sederhana, hatta ia berupa berwajah manis dan seulas senyum. Karena, sungguh, energi positif itu menular begitu cepat. Ia ibarat pembersih, membersihkan hati yang kotor, dan mengusir energi negatif. Sekarang saya juga paham, mengapa Allah memerintahkan untuk “menambal” keburukan kita dengan banyak kebaikan dan memohon ampunan. Karena Allah, Sang Pemilik Energi, mencintai kebaikan dan orang-orang yang berbuat baik.

Akhir kata, saya ingin mengutip sebuah ayat dalam Al-Quran:

“Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada” (Al-Hajj:22)

Wallahu a’lam ^^

Perjalanan Pulang

Hidup itu, adalah perjalanan pulang…

***

Tulisan ini, adalah tentang perjalanan itu. Perjalanan yang bertele-tele, yang kita semua jalani. Sibuk kita sepanjang tahun mengumpulkan bekal perjalanan, memikirkan pakaian apa yang harus dikenakan dalam perjalanan. Tapi, kerap kali, kita lupa bahwa sebaik-baik bekal, sebaik-baik pakaian adalah takwa…

Saya tidak tahu harus darimana saya memulai tulisan ini. Tapi, mungkin saya harus mulai dari malam tadi. Saat saya bertekad untuk tidak tidur lagi setelah sahur di keesokan hari. Ada undangan promosi doctoral rekan saya yang harus saya hadiri, dan saya tidak mau absen lagi seperti undangan dua hari sebelumnya.

Namun selepas Shubuh pagi tadi, saya mulai kriyep-kriyep. Mengangguk terkantuk-kantuk. Mungkin memang harus tidur. Sebentar saja, piker saya. Paling tidak saya tidak akan benar-benar kesiangan karena suami saya pun harus berangkat pagi-pagi. Udara yang sejuk pagi ini semakin mengkondisikan saya untuk menarik selimut dan terlelap, sampai Mama menelepon…

“Pak Jamal meninggal…,”ujarnya.

“Hah? Pak Jamal mana, Ma?” Tanya Suami saya yang mengangkat telepon dari Mama.

“Pak Jamal supir…”, jawab Mama.

“Hah??”

“Kok Hah?! Innalillahi dong…”, ralat Mama.

Sontak, kantuk saya hilang.

Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Rajiuun…

Rasanya sulit saya percaya bahwa laki-laki yang sering saya mintai tolong untuk mengantar-jemput saya  sudah berpulang ke haribaan-Nya. Pasalnya, baru Sabtu lalu saya minta tolong diantar ke kajian Asma’ul Husna Ust. Bahtiar Nasir. Beliau tidak tampak sakit, bahkan tampak segar sekalipun sedang shaum.

Pak Jamal ini bukan supir “tetap” keluarga saya. Selepas pension dari Bank CIMB Niaga (juga sebagai supir), Pak Jamal sering dimintai tolong tetangga saya untuk menjadi supir harian. Saya termasuk yang sering menggunakan jasa beliau beberapa tahun belakangan.

Reaksi pertama saya mengetahui beliau meninggal tentu saja terkejut dan tidak percaya. Lalu terbersit juga sedih, karena bagaimanapun saya sering bepergian bersama beliau. Seorang supir, walaupun hanya “supir”, profesi yang tidak membutuhkan titel sarjana dan tidak pula dibayar mahal, sejatinya saya sebagai penumpang berhutang “keselamatan” padanya. Kita pun, dalam perjalanan, menitipkan “keselamatan” orang-orang tercinta pada seorang supir. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan, kita melaluinya bersama sang supir. Bersama Pak Jamal, saya “pecah telur” melakukan presentasi pertama saya di konferensi internasional komunikasi di Bandung, belum lama ini. Beliau juga yang selalu siap sedia datang pagi-pagi buta mengantar suami saya menuju bandara untuk perjalanan bisnisnya. Jadi, tidak berlebihan saya rasa, apabila saya dan keluarga merasakan kedekatan dengan Pak Jamal dan turut merasakan sedih saat beliau berpulang.

Namun, sedih itu lekas berganti. Saya tidak lagi sedih untuk beliau, ketika saya mengetahui bahwa beliau wafat saat sedang shalat Shubuh berjamaah di masjid. Pada rakaat kedua, saat imam membaca Al-Fatihah, ia ambruk ke belakang dan tidak pernah bangun lagi setelah itu.

Saya sedih untuk diri saya sendiri.

Episode hidup Pak Jamal sudah selesai, dan Allah menutup layar panggung kehidupannya dengan akhir yang indah. Akhir yang saya yakin diinginkan, disebut-sebut dalam do’a jutaan Muslim di seluruh dunia. Namun episode hidup saya, dan banyak orang yang ditinggalkan Pak Jamal, belum selesai. Entah kapan Allah menyelesaikannya, dan yang terpenting adalah bagaimana Allah menyelesaikannya…

Saya yakin, akhir hidup seseorang berbanding lurus dengan kesehariannya. Saya pernah mendengar seseorang yang meninggal tersengat listrik tetangganya yang sedang ia perbaiki. Rupanya ia dikenal sebagai orang yang senang membantu tetangga tanpa pamrih. Pernah pula saya mendengar akademisi komunikasi tutup usia dalam perjalanannya memberi kuliah. Betapa kematian itu sesungguhnya tidak pernah menunggu terlalu jauh dari kehidupan kita…

I was wondering, apa yang sering dilakukan Pak Jamal sehingga akhir hidupnya yang begitu tiba-tiba membuat semua orang melepasnya dengan rela bahkan mungkin cemburu?

Saya lalu memulai dengan kepribadian beliau yang saya kenal selama ini. Hal yang paling berkesan untuk saya adalah keikhlasan beliau selama menjalani profesinya sebagai supir. Saya tidak pernah marah satu kali pun, sejauh yang saya ingat. Ada beberapa supir yang tampak terbebani saat mengemudi. Apalagi pengemudi taksi. Ada kalanya membuat penumpang merasa “tidak diinginkan”. Tapi Pak Jamal berbeda.

Saat saya meminta beliau mengantar saya dan adik saya berwisata ke Taman Safari, ia tampak begitu gembira menjalaninya. Padahal jalanan macet, dan perjalanan ke sana tidak bisa dibilang dekat. Ia tampak senang ikut memberi makan hewan-hewan yang ada di Taman Safari. Begitu juga saat saya meminta beliau mengantar saya ke Majlis Ta’lim (sebagai momen terakhir yang saya ingat), tidak seperti pengemudi lain yang mungkin memilih tidur di mobil, ia memilih untuk ikut serta di ta’lim.

Selain masalah profesionalitas seperti yang saya sebutkan di atas, saya juga mengenal beliau pribadi yang rajin shalat dan takut sekali tertinggal shalat. Beliau juga memiliki kenalan, rekan, dan sanak family yang bejibun, yang sepertinya tersebar di sepanjang Pasar Minggu. Dimanapun selalu ada kenalan beliau. Entah itu teman, saudara atau bahkan sekedar “masih” saudara. Belum lagi sifat beliau yang ringan tangan membantu orang lain tanpa pamrih. Belum lama ini, misalnya, sebagai komisi penjualan rumah, ia kebagian jatah 6 juta. Jatah itu terbilang kecil dari komisi sebenarnya yang harus dibagi empat dengan saudara-saudaranya yang lain. Akan tetapi, 6 juta itu ia bagi-bagikan pada anak-anaknya, saudara-saudaranya juga bahkan pada supir Mama saya yang lain (yang bekerja tetap) sebagai “uang dengar”.   

Akhir tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata seorang ustadz pada shalat jenazah beliau. Kita harus belajar dari almarhum. Apa kebiasaan almarhum, dan kebaikan almarhum yang sering beliau lakukan semasa hidupnya, yang membuat Allah berkenan mewafatkannya saat sedang shalat Shubuh berjamaah, di penghujung bulan Ramadhan?

Kata-kata itu (atau kurang lebih seperti itu), menghajar telak saya. Sekali lagi, kesedihan ini pantasnya saya nisbatkan untuk diri saya sendiri. Di dunia, posisi saya dan Pak Jamal boleh berbeda. Kasarnya, saya bisa mengatakan bahwa saya adalah “majikan”, dan beliau adalah supir. Di dunia pula, posisi Pak Jamal dan pejabat-pejabat salah satu bank swasta terbesar di Indonesia itu pun boleh jauh berbeda. Akan tetapi, saya, belum tentu bisa berkompetisi dengan beliau di sisi Allah. Sampai kelak saya wafat, saya (harusnya) masih harap-harap cemas, dimana posisi saya di sisi-Nya? Apakah kelak Allah juga berkenan menuliskan “The End” episode hidup saya dengan indah dan bahagia?  

Jadi, hari ini saya ingin mengucap syukur pada Allah Sang Maha Menentukan Takdir. Telah ditakdirkan-Nya, saya selama ini diantar-jemput oleh orang yang dipilih-Nya untuk husnul khatimah. Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Jamaluddin untuk semua jasanya, bantuannya semasa hidup. Untuk tidak pernah mengeluh, dan untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap perjalanan. Terima kasih pula telah mengajarkan banyak hal kepada saya hari ini. Bahwa tidak perlu titel berderet-deret, harta bergunung-gunung atau jabatan setinggi langit untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Yang Maha Mulia.

Selamat menikmati kehidupan baru, semoga Allah menghapus bersih kesalahan-kesalahanmu. Dan semoga kelak, surga-Nya adalah tempat kita berjumpa…

Aamiin.

  

Confession of a Fashion Lover

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian utk menutup auratmu & pakaian indah utk perhiasan. & pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26)

Saat saya mengetik ini, saya sedang kegirangan mengetahui bahwa celana Jeans saya yang sudah sempit sekarang bisa dipakai lagi. Mungkin ini hikmah Ramadhan, sekaligus ujian bagi saya dan komitmen saya untuk berhijab lebih baik dan sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. 

Sengaja saya pelihara Jeans belel ini untuk indikator lingkar pinggul (masih hipster bo..), dan mungkin sesekali untuk saya kenang bahwa saya pernah langsing (bukan kurus). Keinginan untuk memakai kembali masih sangat kuat. Jujur, sebagai perempuan biasa, saya terkadang kangen pake jeans lagi, dengan baju yang nggak panjang-panjang amat. Sebagai perempuan biasa pula, saya kangen membeli kemeja di toko “biasa” tanpa harus memperhatikan panjang bajunya, apakah bajunya transparan atau tidak, membentuk badan atau tidak dan sebagainya. 

As a matter of fact, saya memang masih mengenakan celana panjang pada saat tertentu, khususnya saat-saat saya harus bergerak dengan mobilitas tinggi. Personally, saya tidak menganggap celana adalah pakaian laki-laki. Karena apabila dikotominya adalah demikian, maka gamis pun adalah pakaian laki-laki di Timur Tengah, rok tartan adalah pakaian laki-laki di Skotlandia, dan celana adalah pakaian perempuan di China. Maka apakah ketika saya mengenakan gamis saya menyerupai laki-laki? Dan apakah ketika suami saya mengenakan celana, ia menjadi seperti perempuan?

Untuk saya, celana lebih pada “bentuk”nya yang membentuk bagian tubuh mulai dari pinggul hingga tungkai kaki. Apalagi celana jaman sekarang yang ketat ketit. Buat saya yang dianugerahi tubuh tidak kurus (dan mungkin memang tidak akan bisa benar-benar kurus), mengenakan celana dengan baju biasa (bukan tunik panjang) adalah PR sendiri. Untungnya, tren busana muslimah sekarang memunculkan ragam kulot yang unyu-unyu.

Pada akhirnya, saya memang lebih menyukai kombinasi gamis dan kerudung yang labuh karena beberapa hal:

Pertama, karena mengenakan gamis (atau gaun panjang) dan kerudung labuh (kerudung menutup dada maksudnya…. saya belum bisa mengenakan khimar yang menutup pergelangan tangan…) lebih tidak membentuk tubuh (asal bukan sackdress panjang yaa…) dan lebih sesuai dengan perintah Allah pada Al-Quran, surat Al-Ahzab ayat 59.

Kedua, memakai gamis memberikan saya sense of femininity (entah ini sebuah kata atau bukan :p) yang membuat saya merasa lebih perempuan dan lebih anggun (prett).

Ketiga, memakai gamis membuat saya bergerak lebih bebas, dalam artian, mau duduk saya rapih, mau kaki saya naik ke kursi saya tidak perlu khawatir ada bagian tubuh saya yang akan ter”gambar”.

Keempat, sebagai seorang perempuan yang besar dengan dongeng-dongeng princess, bergamis memberikan saya sensasi “princess-like”, apalagi kalau bahannya chiffon dan bentuknya A-line, lalu sedikit kepanjangan sehingga saya harus menariknya sedikit dengan kedua tangan saat saya menuruni tangga…Saat itulah saya merasa bak Aurora Syariah :p *abaikan*.

Kelima, gamis adalah pakaian yang sederhana, membuat saya tidak perlu berlama-lama memikirkan atasan dan bawahannya (tapi lama juga milih kerudungnya hehehehe…).

Keenam, dengan kerudung yang labuh dan gamis, saya merasa punya privasi dan kebebasan, dan perasaan ini yang mungkin dimiliki oleh Muslimah bercadar. Sense of privacy bahwa “tubuhku adalah milikku”. I own my body, dan tidak ada yang bisa mendikteku. Tidak trend fashion barat di media massa maupun stigma sosial. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang bisa telling me what or what isn’t to do. 

Ketujuh, kombinasi gamis dan kerudung yang labuh, selain memberikan rasa aman dan kedewasaan, pada titik tertentu juga menjadi refleksi sekaligus kontrol diri. Pertama, mengontrol perilaku saya dan perilaku orang lain (saya merasa diperlakukan lebih “respek” saat bergamis), kedua mengontrol perilaku belanja karena saya menjadi lebih selektif terhadap pemilihan model, ukuran serta bahan. 

Last but not least, banyak yang bertanya pada saya, “beli baju dimana?”. Sebagian besar baju saya tidak dibeli di Matahar* atau Debenham* atau R*nti atau Shaf*ra atau toko-toko mainstream di mall-mall. Sebagai rakyat jelata, saya sering berburu baju lucu-lucu di Tenabang dan tetangganya, Thamrin City. Tapi, sepertinya sebagian besar kebutuhan per-hijab-an saya sekarang saya peroleh dari OL Shop.  

So, di sini saya akan me-list beberapa online shop (ini bukan tulisan berbayar yaaa…) yang menjadi favorit saya karena menurut saya recommended dari harga, kualitas dan bahan:

1. Kafika by Ficca. Ini OL Shop yang juga punya Offline Shop di Thamcin City. Yang punya adalah sahabat saya, Ficca. Koleksinya yang didominasi bahan Jersey bisa dilihat di Instagram @kafika_fika. Harga sebanding sama bahannya, selalu dibuat dalam ukuran besar (padahal pemiliknya imut-imut) jadi bisa untuk bumil dan plus size, serta banyak koleksinya yang breastfeeding friendly. Kafika ini banyak menjual tunik, gamis dan celana longgar yang sangat nyaman (untuk tidur maupun jalan-jalan). Hati-hati penggemar warna pastel, kemarin koleksi pastelicious-nya sukses meluluhkan hati.

2. Rheen Shop. Rheen Shop adalah agen resmi gamis deema yang ciri khasnya berbahan katun dengan warna-warna menarik. Yang paling saya suka dari koleksi gamis deema yang dijual di Rheen Shop adalah dia hampir selalu lebih bagus aslinya daripada fotonya. Selain itu, gamis yang didominasi oleh bahan katun rami dan jatun jepang menggunakan bahan yang digunakan juga digunakan oleh line Muslimah Clothing lain tapi dengan harga jauuuuuhhhh banget. Ini sudah saya buktikan sendiri. Satu gamis merk lain dengan bahan yang sama bisa dijual dengan harga 400-500 ribu. Sedangkan gamis deema harganya kurang dari 200 ribu. Baru-baru ini gamis deema juga mengeluarkan gamis jersey (yang bahannya juga digunakan oleh clothing line terkemuka) yang dibanderol dengan harga juga di bawah 200 ribu. Oia, gamis deema ini juga semuanya breastfeeding fiendly lho…

3. Lubna Zhifara. OL Shop milik Mbak Susan ini adalah agen resmi dari kerudung Zhifara. Personally, saya berani bilang bahwa Mbak Susan adalah pedagang OL Shop terbaik yang pernah saya temui. Selain karena dapat dipercaya juga sangat customer oriented menurut saya. Untuk kerudung Zhifara-nya sendiri menggunakan spandex sutra, bahan yang sangat nyaman dikenakan. Tapi, hati-hati untuk yang badannya agak berisi, karena kerudung spandex terkadang suka “nyeplak”. Pintar-pintar pilih modelnya, karena walaupun semua model kerudung Zhifara unyu-unyu, tidak semua bisa digunakan oleh Muslimah yang tubuhnya berisi. Nah, baru-baru ini Zhifara mengeluarkan gamis katun dengan model A-Line dan bisa customize. Motif dan coraknya berragam dan manis sekali. Walaupun awalnya saya merasa agak terlalu mahal untuk sebuah gamis katun dihargai 250 ribu rupiah; akan tetapi ketika merasakan sendiri nyamannya katun jepang di badan, saya pikir itu harga yang worthed it. Katun Jepang gitu loh… Harga sprei katun Jepang aja mihil bingits…Oia, OL Shop Lubna Zhifara juga menjual khimar berbagai ukuran. Ada yang 120×120 sampai 150×150 berbahan moscreppe dengan berragam warna. Bahannya agak mengkilap dan tidak tansparan. 

Sebenarnya ada beberapa lagi OL Shop yang saya sukai, tapi sementara tiga ini dulu yang menjadi favorit saya. Semoga bisa menjadi referensi berbelanja “perabotan hijab” yang sesuai Al-Quran dan Sunnah.

Akhir kata, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa, yang dikenakan atas dasar ketaqwaan bukan atas dasar ketenaran. Yang benar datang dari Allah, dan kesalahan serta kealpaan dalam tulisan ini adalah dari saya sendiri.