Beranjak

 

first love

First love never dies, they said…

Bertemu lagi denganmu, mengubah semua peta hidupku. Kamu. Iya, kamu.

Tiba-tiba saja duduk di hadapanku, dan menyapaku dengan sapaan khasmu,

“Hai…”

Aku membeku. Mataku mengedip cepat, tidak percaya itu kamu.

“Kaget ya?”

Aku pura-pura membetulkan posisi laptop, dan pura-pura acuh. Layar monitorku bertuliskan “RANCANGAN PENELITIAN”, kubaca berulang-ulang dalam hati agar sukses menutupi kecanggunganku.

“Nggak usah pura-pura gitu,” kamu menutup laptopku semena-mena.

Wajahku terasa panas, dadaku bergemuruh. “Mau kamu apa?”, tanyaku kesal. Campur grogi, dengan sedikit kesenangan yang kutekan jauh ke dasar hati.

“Kamu sehat?”

“As you see… Sudah ya. Lebih baik kamu pergi sana!,” aku mengusirmu, membuka lagi laptopku dan berpura-pura konsentrasi.

Kamu masih ada di hadapanku. Mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukumu, sebelum akhirnya kamu membuka suara. Pertanyaan yang sama, selalu sama.

“Cincin kamu bagus. Kali ini dengan siapa?”

“Bukan urusan kamu!”

“Aku harap dia tahu, bahwa aku adalah laki-laki yang pernah menjagamu lima belas tahun, tumbuh besar bersamamu, dan membawa mati cintaku,”. Selalu sama. Skenario macam kaset rusak yang kamu ulang-ulang di saat aku ingin melepaskan diri dari sosokmu. Entah bagaimana kamu selalu menemukanku, meski kali ini kamu sedikit terlambat.

“Dia yang akan menjaga sisa hidupku. Bukan kamu!” suaraku meninggi.

“Lalu, aku akan kamu letakkan dimana dalam hatimu?”. Suaramu tiba-tiba mengiba. Aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak melihat wajahmu, tapi tidak kuasa.

Matamu layu.

Lima tahun lalu juga begitu. Kamu meneteskan air matamu, ketika aku pamit hendak menikah dengan seniorku di kampus. Selama lima belas tahun, aku tidak pernah mendengarmu menyatakan perasaan apa-apa melainkan hanya selalu berada di sisiku. Mendengarkan cerita-ceritaku, pacar-pacarku, keluh kesahku. Kamu tidak pernah pergi jauh. Kamu pegang baik-baik nasihat Mama saat pertama kali datang ke rumah,

“Le, kamu sekarang jadi anakku, ya. Tidak usah khawatir dengan sekolahmu, aku yang tanggung. Almarhum bapak dan ibu kamu sudah pesan untuk menitipkan kamu kalau ada apa-apa dengan mereka. Bapak dan ibumu itu sahabatku dari kecil…

Mulai sekarang panggil aku Mama ya, Le. Panggil Om juga tidak usah Om lagi, panggil saja Papa. Tidak usah canggung. Nah ini adikmu, Lani. Nanti kalian saling jaga yaaa…”

Kamu datang tidak lama setelah kecelakaan kereta yang merenggut nyawa ayah dan ibumu. Kamu seharusnya jadi kakakku, Mas Ale. Kita semestinya cukup menjadi kakak-adik. Tidak perlu punya rasa lebih dari itu.

Lima tahun lalu, rusak sudah hubungan itu. Aku batal menikah. Kita datang minta dinikahkan, tapi Mama dan Papa marah besar merasa dikhianati. Lalu kamu pergi meninggalkan rumah, menyisakan secarik surat:

‘Mama, Papa, terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini. Maafkan Ale.

Lani, maafkan aku sudah merusak hidupmu’

Bodoh. Kamu bodoh. Mengapa tidak memperjuangkanku? Di hari kamu pergi, Mama menangis sejadi-jadinya. Semalaman Mama dan Papa berpikir panjang. Jika harus melepaskan aku untuk dipinang, maka kamu adalah orangnya. Tapi kamu keburu pergi…

“Mas Ale, terima kasih untuk tahun-tahun yang indah. Terima kasih telah menjagaku. Terima kasih. Kali ini, aku akan melepaskanmu…”

Aku menghabiskan sisa lemon tea-ku, membereskan barangku dan beranjak ke kasir untuk membayar minumanku. Tidak kudengar kamu memanggilku, atau berusaha menahan kepergianku. Baguslah. Kemajuan. Baru kusadari beberapa pengunjung dan pelayan kafe memandangiku heran, beberapa ketakutan. Aku membalas mereka dengan senyuman getir.

Sempat aku melirik ke meja tempat kamu tadi berada. Kamu masih di sana. Tidak mengapa, nanti pada saatnya kamu akan beranjak pergi. Pergi untuk kedua kali. Karena kamu memang sebenarnya tidak pernah kembali kepadaku. Malam hari saat kepergianmu, asthma yang kamu derita menerjemahkan pedih hatimu, hingga lepas nyawamu dibuatnya.

***

“Ale datang lagi?”, tanya Elias penasaran saat aku meneleponnya. Elias adalah tunanganku, terapis sekaligus ‘tong sampah’ segala cerita-ceritaku.

Aku mengangguk.

“Lalu?”

“Lalu aku yang pergi. Aku memilih bersama kamu,” ucapku.

“Elias…,” panggilku.

“Ya?”

“Kamu benar-benar ada kan? Bukan fantasiku saja kan?”

Suara di ujung sana tertawa kecil.

“Aku benar-benar ada, sayang,”

Fantasy

 

 

Advertisements

Latihan Berpikir Positif

Seseorang penceramah yang pernah saya ikuti ceramahnya semasa SMA pernah mengatakan sesuatu yang sampai saat ini masih menempel di kepala saya:

“Husnuzhon itu harus dipaksa. Kalau masih sulit, paksa terus. Lama-lama akan terbiasa”

Kira-kira seperti itulah bunyi ceramahnya.

Nasihat ini bener-bener saya ingat semalam, saat saya, di tengah kencan di malam long weekend, berusaha menerima kenyataan bahwa HP saya hilang.

Awalnya saya biasa aja, tidak terlalu panik. Cuma benda, Shinta. Sudah diambil lagi sama Pemiliknya (dengan cara yang menghinakan bagi siapapun dia yang mengambilnya dari tas saya). Benda yang ternyata harganya masih satu kali gaji manajer bank. Benda yang isinya data-data dan foto-foto. Benda yang isinya aplikasi finansial, yang…. Ah….

Saya mulai mewek.

Padahal saya nggak ngeluarin uang sepeser pun untuk membeli HP itu. HP itu adalah hadiah dari rekan kerja suami, yang lalu dihibahkan ke saya. HP yang canggih (bahkan rasanya kecanggihan buat saya yang ‘cuma’ dosen ini), udah dua kali jatuh mencium tanah tapi nggak retak, nggak bikin saya emosi seperti HP saya sebelumnya yang sangat cepat panas dan suka re-start sendiri saat sudah kelelahan, dan fitur kamera depannya sangat mendukung selfie se-liar-liarnya…

Maka, di pelataran mall yang malam itu ramenya mirip pasar malem; saya akhirnya nangis beneran. Segala kemungkinan terburuk melintas di kepala saya. The devilish thought of “What If”…

When I got back to my senses, berjam-jam kemudian, setelah nangis panjang (dan sampai tulisan ini dibuat)…

Saya mulai berpikir, apa hikmah di balik hilangnya HP saya?

Oh, mungkin itu teguran dari Allah karena saya lalai dan teledor

Oh, mungkin HP itu telah memberi saya rasa bangga yang tidak pada tempatnya

Oh, mungkin Allah ingin menggantikan untuk saya HP yang lebih bermanfaat

Oh, mungkin HP itu telah banyak melalaikan saya dari hal-hal bermanfaat

Oh, mungkin dengan kejadian itu, Allah ingin menghapus dosa-dosa saya dan mengabulkan keinginan saya-sebagai orang yang terzholimi-

Oh, mungkin ini, mungkin itu

Ternyata hikmahnya banyak. Hati saya saja yang terlalu terikat pada benda dan terlalu gelap mata semalam… 😦

Toh, paling tidak sampai saat detik ini, hidup saya baik-baik saja dengan HP samsung jaman baheula yang bahkan ngga bisa internetan :D.

Begitulah kisah saya dan pelajaran husnuzhon yang saya terima, in a hard way.

Apabila kamu, mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, atau bertemu orang yang membuatmu ingin mendoakan seribu keburukan; cobalah membuat husnuzhon-list, dan lihatlah betapa sebenarnya kejadian-kejadian buruk yang menimpa hidup kita hanya perlu sudut pandang yang berbeda-kata orang yang matanya masih bengkak karena menangisi barang yang hilang.

 

 

Lima Hal Yang Membuat Saya Bahagia

Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya bahagia. Meminimalisirnya menjadi hanya lima memang rasanya jadi terlalu sedikit. Tapi, demi konsistensi menulis di blog, saya akan mencoba memilih lima hal yang membuat saya bahagia.

1. Hari Gajian

Pas banget hari ini, alhamdulillah (suami) saya gajian. Hehe. Hari gajian bagi karyawan dan istrinya adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam sebulan. Apalagi dibayarkannya pas banget menjelang liburan panjaaang sekali. Alhamdulillah.

2. Snickers

Saya suka banget makan Snickers. Sukanya juga baru beberapa bulan terakhir aja. Ceritanya, saya lagi liburan sama suami dan mertua, yang ternyata bertepatan sangat dengan tanggal PMS. Uh. Tahu dong rasanya? Cepet capek, bete, dan ngidam yang manis-manis. Kebetulan saya lagi males makan waktu PMS menyerang, dan saya beradu pandang dengan si Snickers di sebuah toko kelontong. So, why not? Dalil perempuan PMS adalah: Mereka selalu benar. Termasuk makan Snickers di saat cita-cita luhurnya mau kurus. And yes, Snickers make me happy.

3. Wangi-wangian

Saya sampai pernah jualan parfum saking saya sukanya sama parfum. Walaupun saya sering nggak pake parfum kalau keluar, atau pake tapi dalam jumlah sedikit; tapi koleksi parfum saya sebenarnya banyak.

Menurut saya, wangi-wangian itu mood booster banget. Nggak hanya parfum, tapi juga bentuk wangi-wangian lain seperti essential oil.

Essential oil favorit saya adalah lemongrass, alias sereh. Wanginya menenangkan banget, bikin cepet tidur (boleh dicoba buat yg insomnia), bikin gampang bangun juga. Si minyak sereh ini bahkan semacam must have item di rumah saya.

4. Jeruk

Keluarga saya selalu mengidentikkan saya dengan buah yang kaya akan vitamin C ini. Iya sih, saya memang suka banget jeruk. Sejak kecil, sampai sekarang jeruk selalu menjadi buah favorit saya. Rasanya yang asem manis, apalagi kalau dingin, itu surga dunia banget.

5. Pagi Hari

Sebenarnya setelah saya observasi, saya nggak 100 persen morning person sebagaimana yang selama ini saya klaim. Biasanya abis Ashar saya mulai ‘On’ lagi ngerjain apa-apa setelah dari Dhuha sampai sebelum Ashar saya menurut produktivitasnya.

Tapi, saya ingat pepatah Arab tentang waktu. Waktu berkata, aku adalah makhluk yang baru (ini pepatah Arab versi saya, jadi arab maklum). Dan pagi hari adalah saat dimana sang makhluk baru ini tampak cemerlang sekali.

Kadang, apabila matahari sudah masuk ke peraduannya, saya tidak sabar menunggu pagi. Rasanya, di pagi hari, segalanya jadi nol lagi. Dan kita selalu bisa mengawali hari itu dengan tekad untuk memperbaiki diri yang lalu.

Again, hal-hal yang membuat saya bahagia itu banyak sekali. Kadang ngeliat daun jatuh dari pohon, atau bulan purnama aja rasanya hati saya senang. Secara teori sih, katanya orang yang pernah merasakan kesedihan mendalam akan lebih memaknai hal-hal kecil.

Namun, saya meyakini bahwa bahagia itu masalah persepsi. Apabila kita terbiasa mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana, sesungguhnya kita sedang mengkondisikan diri untuk selalu bahagia.

Bukan saya yang ngegombal, Allah sendiri yang bilang di Al-Quran. Jika kita bersyukur, maka Allah akan tambahkan nikmat-Nya kepada kita.

Sekian, dan selamat berbahagia 😊.

Nikah Muda

Beberapa tahun belakangan, menikah muda tampak mulai menjadi tren. Mahasiswa-mahasiswi saya banyak yang menikah sembari kuliah. Atau kuliah sembari menikah. Hehe… 

Sayangnya, sebagian gagal menyempurnakan gelar sarjana-nya. Tentu karena ada konsekuensi dari sebuah pernikahan. Salah satunya adalah karena ketika menikah, kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri. 

Namun demikian, saya mendukung pernikahan dini yang dilakukan dengan matang dan penuh kesadaran. Mungkin karena saya pun, kata orang, menikah terlalu muda.

Usia saya waktu itu baru 22. Sebagian teman-teman saya waktu itu bahkan masih kuliah. Beberapa bertanya-tanya, mengapa saya berani menikah?

Sejujurnya saya sendiri tidak berpikir panjang. Pikiran saya sependek bahwa saya tidak mau menjalin kedekatan dengan laki-laki yang bukan mahram saya lama-lama tanpa ada ikatan sah. Selain itu, saya nggak merasa usia 22 itu muda.

Calon suami saya, juga kayaknya terjebak dengan saya. Hihihi…

Banyak pengorbanan masa muda yang kami lakukan. Suami saya, yang usianya 25 waktu menikahi saya, baru kerja di sebuah perusahaan swasta. Baru saja lulus program ODP. Gaji belum seberapa. Tabungannya dari pertama kerja, semua dihabiskan untuk menikahi saya saat teman-temannya merancang liburan. 

Saya… nggak bisa sering-sering nongki selepas kerja seperti teman-teman lain, saya juga harus puas dengan pekerjaan yang gitu-gitu saja, karena pekerjaan impian saya (waktu itu) rasanya kurang memungkinkan untuk membangun keluarga. Saya juga harus puas dengan tas yang harganya ekonomis 😁😁😁. 

Belum lagi saat saya berhenti kerja dan melanjutkan studi. Uang sisa gaji yang tidak seberapa habis untuk beli buku. Kami baru pindah ke rumah sendiri, dengan tagihan sendiri tentunya. Dan akhirnya, saya pertama kali berakrab-akrab ria dengan bis kota Jakarta. Disitulah saya paham pepatah yang mengatakan bahwa ibukota lebih kejam dari ibu tiri.

Saat long weekend di awal-awal pernikahan, bermodalkan mobil orang tua, kami plesiran ke Bandung, kota nostalgia bagi kami berdua. Nginepnya di hotel yang… mungkin pernah hits di jamannya, tapi ya… begitulah… kamar mandinya masih pake gayung dan bak mandi! Mirip-mirip hotel di film-film baheula-lah. Tapi saat itu, cuma hotel itu yang kami bisa afford. Alhamdulillah. Seneng aja tuh rasanya. 

Pernahkah berantem? 

Wah, jangan ditanya. Setiap hari (di masa itu) isinya berantem. 

Saya ini menakar apa-apa dengan rasa. Dibesarkan di keluarga yang dominan perempuan. Sepintas aja udah keliatan saya ini “cewek banget”. Meanwhile, suami saya dibesarkan di keluarga yang didominasi kaum pria, kuliah di tempat yang se-angkatan kaum hawa-nya hanya seorang, dan menakar segala sesuatunya dengan logika. 

Gimana coba?

Tapi saya belajar banyak sekali. And I learn the hard way :D, bahwa menikah itu ngga cuma cinta-cintaan. Prettt… makan tuh cinta. Hihi..

Menikah itu butuh diperjuangkan, nggak ada yang effortless. Semua pihak harus mau menekan ego, mengalahkan rasa paling benar sendiri, dan mengusahakan kebahagiaan bersama. Ada saat kita dimengerti, ada saatnya memahami. Ada saatnya didengarkan, ada saatnya mendengarkan, kadang ada pula saatnya pura-pura mendengarkan. Hehehehe.. 

Konflik pasti ada. Kadang dengan pasangan, kadang melibatkan keluarga, kadang melibatkan man…ehm…teman di sosmed, kadang ada pula pihak ketiga yang bernama pekerjaan dan gadget. 

Namun demikiapn, saya tidak ingin menghakimi siapapun yang mungkin ditakdirkan Allah menjomblo agak lama, atau harus menyudahi rumah tangganya. Kita semua punya jalan jihad masing-masing, bab-bab kehidupan yang harus kita selesaikan. 

Tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Saya ulang ya, tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Jodoh itu milik Allah. Bukan kita yang memilih, atau dipilih. Tapi Allah yang mempertemukan. Allah yang menggerakkan semesta mempertemukan sepasang manusia, membuat mereka saling memandang-tertarik-berkenalan-jatuh cinta. 

So, akhir kata…

Menikah muda, paling tidak bagi saya, berarti grow UP together, alias men-dewasa bersama. Bukan prestasi yang harus dibanggakan, bukan pula capaian yang bisa dipamerkan.

Ini saya kisahkan, sengaja, agar jiwa-jiwa baper jaman now, yang mungkin membaca postingan ini memahami… ada yang lebih dari sekedar romantisme dalam pernikahan. 

Karena apapun yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya, akan sia-sia pada akhirnya….

A Challenge to Myself

Menulis dapat menjadi sebuah terapi. Terapi kognisi, sekaligus terapi hati. Saya selalu setuju dengan hipotesa ini.

So, saya memutuskan untuk men-challenge diri saya sendiri dengan menulis 30 topik berbeda. Karena sebelumnya saya gagal memenuhi OneDayOnePostChallenge di sebuah komunitas blogger, maka, saya nggak mau bikin tantangan ini terikat waktu. Cukup terikat pada topik.

Berikut ini, kira-kira, topik yang ingin saya tulis:

1. Nasihat untuk diri saya 10 tahun yang lalu.

2. Surat untuk diri saya 10 tahun yang akan datang.

3. Lima hal yang membuat saya bahagia.

4. Three things I’m grateful of.

5. Film favorit.

6. Perempuan yang menginspirasi saya.

7. Miliarder dunia.

8. Entrepreuner Series: Social-preuner.

9. Wawancara Sahabat.

10. Buku Pekan ini.

11. What I’m Struggling With.

12. Terkenal Di Langit: Uwais Al Qarni.

13. Terkenal Di Langit: Julaibib.

14. Entrepreuner Series: Momma-preuner.

15. Nikah Muda.

16. Wajah di Balik Cadar.

17. Puisi.

18. Lirik lagu paling berkesan.

19. Hal yang saya rindukan dari masa kanak-kanak.

20. Tips mengatur keuangan.

21. Hijrah.

22. Minimalism.

23. Lima kata untuk mendeskripsikan saya.

24. Fiksi Mini.

25. Setan-setan Kolom Komentar.

26. Off Social Media.

27. Cara saya melepaskan stress.

28. My childhood buddy.

29. Anything on travelling.

30. Tujuh hari sebelum mati.

Sebenarnya, challenge ini terinspirasi dari posting-an di Pinterest. Tapi karena ada beberapa hal yang konsumsi pribadi banget yang disertakan dalam challenge, jadi, saya modifikasi sedikit.

So, here we go… 

Penghujung Ikhlas

Pada hari-hari tidak melelahkan seperti hari ini, saya senang membuka topik pembicaraan dengan supir taxi. Apalagi kalau saya merasa butuh teman bicara, atau sekadar ingin mendengarkan cerita. Banyak hikmah yang bisa saya petik, kalau saya mau mendengarkan seksama.

Seperti cerita Bapak S yang mengantar saya pulang dari nongki-nongki sore ini. Obrolan saya mulai dengan pertanyaan terstandar. “Dari kapan kerja di …?”, “Enak ngga kerja di …?”, dan pertanyaan-pertanyaan semisal. Pertanyaan yang mungkin kalau saya jadi pak supir, akan saya rangkum dalam sebuah F.A.Q dan saya tempel di jok belakang agar penumpang kepo yang butuh temen ngobrol bisa baca sendiri.

Si Bapak S ini tipe pancing dikit-curhat.

Hehe.

Jadi, topik cepat berkembang biak laksana saya kebanyakan makan cokelat. Mulai bicara macet, jalan alternatif yang saya pasrahkan ke beliau, hingga…

“Sebenernya ya, hal paling sulit itu adalah menempatkan diri di posisi orang lain. Kalau kita bisa melakukan itu, hidup ini akan berjalan damai,” ujarnya. Kira-kira gitulah.

Sumpah ya, saya ingin melanjutkan dengan, “Salam super”.

Mobil menuruni jalan di selatan kemang, saat saya nggak tahan untuk berucap, “Bapak kayak Mario Teguh, hihi..”.

Dan tertawalah ia berderai-derai. Tawa yang spontan. Bukan tawa formalitas antara supir-penumpang.

“Jujur aja, saya memang penggemar berat Mario Teguh. Kalau ngomong itu, dia laksana mutiara gitu…”, suaranya terdengar antusias.

Kan?! 

Diskusi kami masuk ke bab, keanehan penumpang-penumpang taxi. Salah satu yang paling menyesakkan, menurutnya, adalah penumpang yang dijemput di rumah dengan tiga mobil terparkir di garasinya. Ia pergi seharian dengan taksi hingga argo mencapai 650.000. Namun, sang penumpang raib begitu saja. 

Apakah Bapak S sakit hati? Pasti.

Jumlah uang yang sama sudah ia kumpulkan untuk mengurus SIM yang menjelang kedaluwarsa, namun harus digunakan “nombok” setoran di hari itu. Kerja kerasnya seharian terasa sia-sia.

Ia berusaha menghubungi penumpang raib, tapi namanya juga raib; tidak ada tanggapan berarti dari sang penumpang.

“Akhirnya, saya belajar ikhlas…”, kisahnya.

Kata yang mudah diucap, tapi belajarnya bertahun-tahun dan berliter-liter air mata bagi sebagian kita.

“Pas saya udah ikhlas, percaya ngga percaya ya… tiga hari itu, penumpang ngasih saya uang lebih terus. Argo 50.000, saya dikasih 250.000. Begitu terus tiga hari sampe akhirnya uang saya balik 650.000,” ia menuturkan.

:’)

Allah itu baik ya? 

Kalau mendengar kisah orang lain, saya sering berpikir, apa maksud Allah memilihkan saya supir taxi yang ini, dan memperdengarkan saya kisah ini? Pernah nggak kamu mikir gitu? Bahwa orang-orang yang takdirnya bersisian dengan takdirmu, memang sudah “meant to be” untuk mengajarkanmu sesuatu.

Hari ini saya belajar ikhlas dari Bapak S. Dua bulan lalu saya pun belajar ikhlas…dari hal lain. Agak mirip dengan kisah Bapak S, dengan skenario sedikit berbeda.

Singkatnya begini:

Karena penghasilan saya sudah tidak sebesar dulu, hehe…kalau ingin beli apa-apa harus melipir dan rayu-rayu suami. Kadang juga malu kalau sering-sering minta. Kadang sebel juga karena dulu biasa apa-apa bisa beli sendiri. 

Jadi, ada barang yang saya pikir saya butuhkan. Barangnya bukan barang darurat seperti HP. Biasalah, barang penunjang penampilan paripurna (prett..). 

Lalu saya sampai di satu titik dimana saya lelah. Orang obsesif kayak saya kalau ada maunya emang ngerepotin. Akhirnya, saya minta ke Allah, kalau memang saya butuh pasti Allah kasih ke saya, entah gimana caranya. 

Suatu hari, belanjaan online ibu saya datang. Karena beli partai besar, si online shop memberi bonus yang disertakan dengan pesanan. Dan, tau kan ujungnya? Yup, bonusnya adalah barang yang saya mau, yang lalu dikasih dengan bahagia ke saya oleh ibu saya. Produk kualitas terbaik, award winning product, dan Allah kasih gratis dianter pula sama kurir. 

Begitulah bab ikhlas hari ini. Meski sulit mencapainya, tapi selalu ada hadiah manis bagi mereka yang mengusahakannya. 

Di Antara Rasa-rasa

Izinkan aku mengisahkan kepadamu tentang seorang perempuan yang bisa membaca rasa.

Ia cukup memandangmu beberapa saat, melihat ke dalam matamu dan ia akan menemukanmu. Sedihmu, hancurnya rasamu saat orang tuamu berpisah, rasa tidak aman yang menghantuimu, atau kekecewaanmu yang mendalam. 

Terkadang ia bisa melihat lebih jauh ke masa kecilmu. Saat ayahmu memukulimu, atau saat kamu menyaksikan ibumu menangis setelah mendapati ayahmu selingkuh. Ia menghitung berapa kali kamu menyebutkan “ibu”-mu dengan bahagia dan tidak pernah sedikit pun tentang ayah. Ia juga bisa menebak sepintas berapa banyak guru yang sudah mengecewakanmu, karena menganggapmu sulit, padahal kamu hanya sedikit ekspresif dan mudah bosan.

Sesekali, ia bahkan bisa mengetahui kamu sedang demam tanpa menyentuhmu, bahkan tanpa kamu mengatakannya. 

Kadangkala, ia hanya perlu membaca sebuah tulisan tangan, dan ia bisa mengetahui siapa penulisnya. Kadang-kadang pula, ia mencoba menebak seperti apa perilaku penulisnya dan seringkali tebakannya benar. Dan ia tidak pernah benar-benar belajar grafologi.

Apakah ini berkah atau kutukan, entahlah, ia tidak pernah memperhitungkan. Bukan, ia bukan peramal. Jika ada hal-hal dalam hidupmu yang kebetulan (walaupun tidak ada yang namanya kebetulan) bisa diterkanya dengan mudah, sungguh ia pun tidak tahu mengapa dan bagaimana.

Masalah mulai muncul ketika ia berhadapan dengan sekelompok orang yang ia sebut dengan “toxic”. Para dementor dari Azkaban, penghisap kebahagiaan dan energi positif.

Mengapa?

Karena, ia bisa membaca rasa. Ia mengenali pedih itu, lelah itu, patah hati dan kesedihan mendalam yang menyebabkan lisan mereka, para dementor dunia nyata, menjadi racun.

Tapi, tidak ada yang lebih menyedihkan dari hari itu. Hari ketika ia melihat foto-fotonya di masa lalu. 

Siapa perempuan di foto ini? Mengapa ia tidak lagi mengenali senyumnya? 

Lekas-lekas ia mencari fotonya yang terbaru, foto liburan yang dirasanya menyenangkan. Senyum mengembang, tapi…kemana perginya binar di kedua matanya?

Ah…

Setahun lalu, memang ia banyak menangis. Banyak sekali menangis. Kejadian demi kejadian mengajarkannya bahwa hanya Allah saja tempatnya berharap, bertumpu dan bermohon. 

Ia tidak menyesali, meski tidak ingin mengulangi. Ia mensyukuri, sungguh-sungguh mensyukuri setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, mengapa binar itu tidak jua kembali?

Mungkin, sebagaimana setiap pasang mata yang dipandangnya berkisah, demikian pula dengan dirinya. Pedihnya hilang, namun bekasnya tidak sirna.

Ia tidak pernah menjadi orang yang sama lagi…