Selera

Selera adalah salah satu hal yang paling serius dan penuh komitmen di dunia. Tidak bisa diubah begitu saja, atau dipaksakan hadirnya. Namanya juga selera. Selera saya, boleh jadi sama dalam satu hal dan berbeda dalam hal lain dengan kamu.

Hari ini saya beli lipstik (lagi). Di antara rahasia saya yang paling gelap adalah obsesi saya pada lipstik. Dan saya beraliran “nudist” dalam urusan ini. Sudah lama banget, sisi gelap Shinta Galuh Tryssa ingin mencoba warna-warna bold, karena sejujurnya deep within me, I know warna bold itu cocok dengan kulit saya yang cenderung pucat. Tapi, saya malu. Bukan minder ya. Malu. Malu karena terlalu mencolok. Malu, karena malu adalah pakaian seorang Muslim.😉

So I keep on buying nude lipsticks instead.

Termasuk semua (emang beli berapa yak… >_<) yang saya beli hari ini. Bernuansa nude. Yang kalau diswatch pasti tone warnanya mirip-mirip. Yang kalau dioles di bibir cuma sekali, perlu mata batin untuk melihatnya. Hehehehe…

Itu selera saya.

Selera yang dilatari oleh banyak faktor. Suami, salah satunya. Suami saya nggak suka perempuan menor dan agresif (jadi percuma juga kan beli warna merah dia juga nggak suka… xD). Jadi, punya lipstik “nude” atau “peachy pink” memang lebih aman. Aman karena membuat hati senang, penampilan lebih rapih tanpa terlihat dandan banget, menutupi kepucetan wajah saya, dan…membahagiakan suami saya, insyaAllah.

Ngomong-ngomong suami, pasangan hidup juga sedikit banyak soal “selera”. Dulu, saya pernah sesumbar nggak suka sama cowok putih, nggak boleh lebih putih dari saya, dan saya nggak suka tipe cowok agak ke-bule-bule-an. Tipe saya, DULU inget ya…dulu, yang kulitnya sawo matang atau hitam sekalian. Jadi kalau ada Christian Sugiono dan Kamga Muhammad, tau kan kira-kira siapa preferensi saya? (suami saya dong pastinya… ini kan cuma permisalan aja xD) Namun demikian, saya sebenarnya nggak terlalu ngelihat tampilan fisiknya. Karena, lelaki-lelaki yang pernah saya idolakan baik terang2an maupun gelap2an (eh), fisiknya beda-beda banget.

Selain baik hati, menjaga diri dan takut sama Allah (‘standar’lah ya…),

Kayaknya saya suka sama laki-laki yang bisa bikin saya ketawa (ini menurut pengamatan sahabat saya), saya senang didengarkan, dan… saya suka banget sama cowok pinter yang bikin saya bisa “ternganga-nganga” ngedengerin dia ngomong, cerita atau ngajarin saya. Meski objek yang diajarin itu absurd buat saya. Seperti, rumus fisika, misalnya. Atau macam-macam kecepatan, dari mulai peluru sampai cahaya. ABSURD! Dan meski hati saya bergumam, “Bodo amat”; tapi saya menikmati pembicaraan itu. Saya menikmati dianggap mengerti. Kalau ada pasangan lain yang ngga mau mikirin urusan kantor suaminya, saya justru merasa senang kalau suami mau cerita dan minta pendapat saya. Saya suka, dengan laki-laki yang menghargai intelektualitas seorang perempuan tanpa merasa terintimidasi.

But then, again, as an ENFJ, dalam hal pasangan saya kayaknya nggak ribet. Sama kayak makanan. Saya nggak pilih-pilih asal bukan kambing, duren, atau jengkol. Tapi saya menghargai mereka yang “pemilih” dalam hal pasangan hidup. Orang kan beda-beda ya…

Mungkin saya tipe yang bisa menikah, lalu mencintai🙂

Dulu saya nggak bisa membayangkan menikah dengan orang yang ngasih saya list pekerjaan yang harus saya selesaikan xD. Saya kira saya pasti akan berontak dan marah. Tapi, ternyata setelah menikah, meski kadang bersungut-sungut, saya seneng digituin. Malah saya merasa dihargai dan dibutuhkan. Alhamdulillah, suami masih membutuhkan saya. Masih mencari saya meskipun semua pekerjaan itu bisa dilakukannya sendiri. Dan suami saya, akhirnya, dengan segala yang ada pada dirinya, adalah selera saya. Kalau ternyata suami saya warna kulitnya lebih putih dari saya, dan ada turunan bule-nya; ya..alhamdulillah itu juga selera saya. ^_^

😉

-Istri yang masih jatuh bangun jadi shaliha-

 

 

 

Behind That Open Door

“Shinta itu kelihatannya seperti pintu yang terbuka, tapi di balik pintu yang terbuka itu ada pintu lagi yang tertutup” (Someone, around 2005)

 

Saya sering melakukan tes MBTI. Hasilnya berubah-ubah. Tapi, jeleknya sampai hari ini saya tidak pernah benar-benar membaca deskripsinya. Baca sih, tapi sekadarnya. Asal tau aja. Saya ingat dapet hasil ENFP, lalu INFP, lalu ENFJ. Yang pasti saya tipe NF, this one never change I guess. Intuitive-Feelings. Ada batas tipis antara Extrovert dan Introvert dan sangat tipis antara Perceiving dan Judging.

Lalu hari ini saya membaca karakteristik ENFJ. And  I was wow-ed. Ini yang paling mirip, almost 95% accurate, dengan kepribadian saya. Ternyata saya bukan orang aneh. Ternyata di dunia ini ada orang2 semacam saya…

Membacanya seperti merasa….dimengerti. (ngebaca hasil personality test aja baper…)

Jadi I spent hours reading what and how’s ENFJ personality. Most of the times saya ter-awww on how true it is. Yang paling bener sih yang… what makes ENFJ angry dan how ENFJs flirts😉.

Seru banget mempelajari dan mendalami tentang diri kita sendiri. Setidaknya untuk saya, saya jadi paham apa kelemahan saya dan bagaimana saya harus menyikapinya.

Untuk tesnya silahkan cari sendiri dengan keyword MBTI 16 Personalities Test ya. Nah, sisa tulisan ini, I will talk about ME. Me-Me-Me-Me. Don’t tell me I didn’t warn you ya.

Some Facts About Me and My ENFJ-ness:

  1. I love people. In fact, I have a huge tendency to be a people pleaser, then I get too confused, frustrated and exhausted to please people that I need sometime to be alone.
  2. I will tell you what you want to hear. I can be straight forward, but most of the times, saya mengatur kata-kata agar tidak menyakiti perasaan yang mendengar. Most of the times. So you know, kalau saya sudah sangat straight forward, you’re in big trouble. Di kelas, biasanya, anak2 berisik, ribut, rese; akan saya pindahkan ke depan dengan alasan, “Saya akan lebih bahagia kalau kamu duduk di dekat saya”. Tapi anak-anak yang disrespectful, saya persilahkan duduk di luar kelas.
  3. I know how it feels to be special, so I want to make sure that others feel that too.
  4. I love talking. A lot. If I don’t have anyone to talk to, OR I feel like none will understand, OR I’m afraid people will not agree with me, I write. So, yes. I write. A Lot. (actually I write for other reasons too).
  5. Walaupun saya tampak tidak multitasking, tapi saya berusaha mengerjakan semua peran saya dengan baik. Buat saya, tidak boleh ada yang “dikalahkan”. Saya bahkan membuat to-do list untuk semua peran-peran saya. Jadi, punya diary atau jurnal atau sekedar buku gambar is a must buat saya.
  6. I didn’t mean to flirt, really.
  7. I plan things. And I wanna keep things as I planned.
  8. Saya bisa uring-uringan kalau tata letak rumah saya berubah, atau bergeser. Meski sedikit.
  9. I may not remember where I put my keys, my socks, my watch, my other things; but I remember your name, your hobbies, your date of birth, your favorite color, (I used to remember my friends’ phone numbers, both homes and cellphones), your thoughts, your words, your moods. Beberapa orang, sejak SD, mengira saya bisa meramal. Saya bahkan seringkali bisa menebak ini tulisan siapa, sebelum melihat siapa yang menulis.
  10. I analyze your choice of words, your voice tones, your gestures and I…waste my time thinking about it. Baik itu pesan yang ditujukan ke saya, atau ke orang lain. Saya pernah nangis diam2…karena tahu someone I love, someone close to me, tersakiti hatinya, sedangkan dia berusaha tegar dan orang lain nggak ada yang sadar. Oh, people, please…show a little empathy!
  11. I cry way too much. Both in joy and sorrow😀
  12. I truly want you to be happy🙂
  13. I can be very manipulative…….
  14. I like rules and SOPs. Dan saya, mostly, beneran menjalankan SOPs. I hate it when there’s no detailed rules or SOPs.
  15. Idealist is my middle name.
  16. Saya senang mengatur rumah, dan tata letak. Tapi saya butuh waktu melakukan itu… So, in the mean time, excuse the mess.
  17. Saya bisa stress kalau kerja tanpa otoritas dan penuh dikte. Rasanya seperti merendahkan intelektualitas dan kapabilitas saya. Saya cukup independen, butuh otonomi serta kebebasan berpikir.
  18. I need supervision to confirm I’m doing the right thing.
  19. Setiap saya “meledak”, saya akan menyesal setelahnya. Saya yang marah, saya yang minta maaf. It’s complicated…
  20. I try not to care. But this’s something I’m bad at.

There. Itulah fakta2 tentang saya. Nggak penting? Ngga apa2, saya juga nggak nulis ini supaya kelihatan penting. Saya nulis ini supaya saya mengerti tentang diri saya sendiri, and I think you should too🙂

Sisi plus bangetnya setelah saya membaca detail ENFJ, pilihan pekerjaan yang cocok, dan lain-lain, saya bersyukur banget sama Allah dipertemukan dengan pekerjaan dan segala hal yang saya kerjakan sekarang. It’s amazing how Allah planned things for me. Betapa Allah sudah memilihkan yang sesuai dengan saya. Match every single detail of me.

Alhamdulillah.

Kita mungkin berpikir bahwa pasangan, orang tua, atau sahabat kita adalah orang yang paling tahu tentang kita. Tapi, ternyata tidak. Allah-lah yang Lebih Tahu. Bahkan dari diri kita sendiri. He’s The All Knowing, All Understanding❤❤❤

 

Hingga Kegagalan Lelah Menghampiri Kita

Hari ini istimewa.

20160526_152314

Saya mendapat kehormatan menjadi moderator acara seminar mengenai Creativepreuner yang bertempat di ruang 317 A dan B, Universitas Al Azhar Indonesia. Satu topik yang sedang hangat, happening, dan anak muda banget. Sebagai dosen sekaligus anak muda (dan soon to be mamah muda – aamiin – ), topik ini menarik untuk saya. Hanya saja jujur, ketika panitia pertama kali memberikan tema ini, saya agak memutar otak. Jenis wirausaha seperti apa yang disebut kreatif?

Maka di kepala saya, sebagai penggemar fashion berhijab-an, maka yang terlintas di kepala saya adalah Cemprut. Merk kerajinan boneka yang dibuat oleh Mbak Aphrodita. Hubungannya apa sama fashion per-hijab-an? Nggak ada sih. Mungkin karena Mbak Dita-nya berhijab. Hehe…

Tapi sayangnya, Mbak Dita, yang hasil karyanya sudah nangkring di GI dan sudah berkali-kali masuk media massa harus mudik di penyelenggaraan acara. Jadi, panitia kemudian mencari pembicara lain. Lalu, muncullah dua nama.

Nama yang membuat saya berkerut, awalnya. What makes them “creativepreuner”, really?

So, sebagai moderator, I did my homework. Saya google masing-masing pembicara ini, dan mendapatkan sesuatu yang “wow”-me banget. Membuat saya ingin berkaca lalu memaki sosok di depan kaca: “Woy, lo udah 30 taun, kemane aje? Buku barang selembar juga belum punya”.

Di hadapan saya, terpampang 7 (tujuh, yep…orang macam mana di usia 20-an yang CV-nya tujuh lembar kan? Just kidding, mas Irzan. Just in case U read this :D) lembar CV seorang Irzan Raditya, co-founder dari yesbossnow.com, bisnis start-up yang baru mau menginjak setahun. Yesbossnow.com sendiri adalah perusahaan, berbasis teknologi, yang menawarkan jasa “asisten pribadi”. Mulai dari tiket pesawat, pemesanan makanan, tiket bioskop, dan hal-hal lainnya dapat dilakukan oleh “asisten pribadi” ini. Kreatif ya? Banget sih, menurut saya.

Saya dibagi referral code untuk daftar di yesbossnow.com oleh Irzan. Kode tersebut saya SMS ke sebuah nomor, lalu muncul balasan seperti ini:

Screenshot_2016-05-26-21-43-51

 

Setelah itu, saya ditanya nama panggilan dan apakah saya menginginkan asisten laki-laki atau perempuan:

Screenshot_2016-05-26-21-43-57

Dan voila, saya bisa langsung meminta Nindy, asisten pribadi virtual saya melakukan banyak hal seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Sebenarnya saya sih inginnya asisten pribadi untuk menggantikan saya ngajar sesekali. Hihihi..

Jujur, saya membayangkan akan bertemu dengan anak umur 21 tahun ber-CV 7 lembar (karena di CV nggak ada date of birth-nya, and he looked much younger than his age), lulusan Jerman, mantan anak band yang pernah manggung di Java Rockin’ Land, penggemar music punk, sekaligus seorang geek, dan sekarang punya bisnis brilian. Coba, kalau kamu jadi saya, kira-kira kebayang nggak bentuknya gimana?

Saya kebayang-nya anak muda tengil, sejenis sama mahasiswa-mahasiswa yang udah kerja sambil kuliah terus bangga banget sama kerjaannya dan ngga pernah dating-dateng kuliah lagi.

Sampai say abaca sesuatu dalam potongan interviu yang saya temukan di mbah gugel alaihim gambreng (I don’t know why I just feel like writing it that way):

“Bangun pagi, shalat shubuh, dan lari pagi”

Redaksi aslinya saya lupa. InsyaAllah akan saya kasih link interviewnya yang saya dapat dari simbah gugel di bawah ya supaya bisa baca sendiri.

That’s just impressive.

Semua citra ketengilan anak muda di kepala saya mendadak sirna. Dan semakin surprise ketika bertemu langsung dengan orangnya. I was very impressed, though.

Mas Irzan, yang ternyata berusia 27 tahun Cuma beda 3 tahun dari saya, married, datang sangat ontime dan sangat humble. Beliau, dalam kesan pertama saya, adalah rolemodel beneran untuk anak muda, paling nggak saya seneng banget karena dia mau datang dan berbagi dengan mahasiswa saya yang kadang banyak alasan untuk datang tepat waktu.

Saya dapat banyak hal ketika ngobrol sama beliau. Di usia yang terbilang masih muda, ia sudah punya 75 orang karyawan, yang sebagian besar lebih tua usianya dari dia. Lalu, saya mendapati bahwa most of his career dijalani di Jerman. Penasaran dong, saya kemudian bertanya, “ngapain pulang ke Indonesia?”.

Jawabannya sederhana aja sih, karena doi ingin memberi “impact” untuk negara ini.

Yesbossnow.com yang dirintisnya itu ternyata juga bukan bisnis pertamanya. Dia sudah bolak-balik jatuh bangun, hingga akhirnya bisnis yang terbilang baru ini mulai settle. Umur 27 tahun, sudah bolak balik jatuh bangun dalam bisnis? Gimana coba ya? Saya umur 30 tahun, sudah bolak balik nyanyi “jatuh bangun” sih iya kayaknya… *sigh*

Sayangnya, saya nggak sempet banyak ngobrol sama pembicara kedua. Saya juga sudah berusaha gugling, tapi nggak banyak menemukan informasi yang agak “pribadi” terkait pembicara kedua, Putri Tanjung, putri cantik pengusaha media massa, Chairul Tanjung.

Kalau dia lebih “gila” lagi sih.

Umurnya masih 19 tahun, sudah punya usaha sendiri, dengan deretan prestasi dan pencapaian selama 2014 dan 2015 lalu. Begitu dia bicara, mahasiswa, khususnya, langsung khusyuk sekali menyimak. Selain cantik dan dandanannya pas banget (nggak “jreng”, juga nggak polos-polos amat, and God I Love her eyelashes <3), Putri dikaruniai rambut panjang nan indah dan tubuh tinggi semampai. Masya Allah bener deh. Hehe..

Menariknya, terlepas dari stereotype “anak konglomerat” yang kelihatan sekali berusaha dia buang jauh-jauh; charisma dan leadership-nya kelihatan saat memberikan paparan. Dia menceritakan kisahnya ditolak oleh perusahaan-perusahaan ketika menawarkan jasa EO-nya. Tidak tanggung-tanggung, dari 25 perusahaan, 20 menolak. Dia juga bukannya tidak pernah patah semangat, tapi, tim-nya yang solid yang membuat dia akhirnya bangkit lagi.

Kegagalan demi kegagalan itu harus dihadapi, katanya. Sampai akhirnya kegagalan itu lelah menghampiri kita.

Ha!

Keren ya?

Kedua pembicara saya hari ini, tampil bukan karena mereka selamat dari kegagalan. Tapi karena mereka belajar dan bangkit dari kegagalan. Dan itu, yang menjadikan mereka keren. Masih muda, berani mengambil risiko, dan yang paling penting, berani menghabiskan jatah kegagalan selagi muda.

Lalu hal lain yang saya pelajari adalah, keduanya sama-sama memulai bisnis dengan menemukan “The Why”. Kenapa harus menjalankan bisnis? Bisnis itu bukan sekedar uang, menurut Irzan. Bisnis itu tentang menyelesaikan masalah, memberikan value. He was really deep.

Banyak sih sebenarnya catatan saya. Tapi, sementara segini dulu yang bisa saya bagikan.

Yang jelas, saya minder banget. Ngerasa belum ngapa-ngapain, padahal waktu jalan terus.

 

Apa kiranya yang bisa membuat saya bermanfaat untuk orang banyak ya?

 

For further information:

https://id.techinasia.com/founder-story-yesboss-irzan-raditya

 

 

 

 

 

 

 

Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata

Ayah, demikian novel tersebut diberi judul.

Ayah adalah sosok istimewa bagi saya. Saya memanggilnya dengan Papa. Lelaki yang, kalau tidak salah, sudah saya tuliskan namanya sebagai idola saat mengisi biodata di buku harian teman-teman sewaktu SD.

Maka membaca novel “Ayah” karya penulis salah satu buku paling fenomenal dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Andrea Hirata, awalnya membuat saya berpikir ini pasti terkait dengan sosok “Ayah” Ikal dalam tetraloginya. Sang Ayah juara yang sedikit bicara.

Meski latar tempatnya sama, tapi Ayah yang diceritakan dalam novel “Ayah” baru dibuka tabirnya di tengah-tengah cerita. Dan ini yang menjadikan buku tersebut susah sekali diletakkan. Saya harus menemukan siapakah “Ayah” dalam novel itu.

Sejak semula, pembaca akan diajak mengarungi kehidupan yang jauh dari kemapanan para tokoh-tokohnya. Tidak ada lelaki ganteng berkulit sawo matang, bermata elang. Yang ada adalah Sabari Bin Insyafi, lelaki bergigi tupai bertelinga lebar.

Sabari remaja berkelompok dengan tiga orang temannya, dengan segala polah konyol mereka yang selalu menjadi pemegang nomor-nomor buntut peringkat kelas. Toharun, Ukun, dan Tamat. Ketiganya tidak ada yang “beres”. Sabari-lah yang paling lurus, persis seperti namanya. Jika teman-temannya punya deretan nama perempuan yang digemari; maka Sabari tidak. Sabari justru bingung mengapa teman-temannya memperlakukan cinta dengan seenaknya. Bagi Sabari, pemuda pecinta bahasa, cinta tidak semestinya diperlakukan seperti itu.

Dan demikianlah Sabari memperlakukan cinta, ketika Marlena, si lesung pipi sedalam sumur, tukang nyontek paling jago, sang purnama kedua belas menohok hatinya yang terdalam.

Segala cara dilakukan Sabari untuk membuat Marlena melirik padanya. Semua hal ditempuhnya, kecuali menyerah.

Akankah Marlena akhirnya jatuh takluk pada Sabari? Ah, review ini akan memberikan terlalu banyak spoiler (meski saya yakin buku ini sudah dibaca sejuta ummat manusia) tentunya. Keruwetan cinta Sabari inilah yang akan menuntun kita memahami siapakah “Ayah” yang dijadikan judul novel. Keruwetan cinta Sabari pulalah yang akan memberikan inspirasi kepada kita, mengenai kerja keras, ketulusan, kenyamanan kesempurnaan cintaaa *lho*😀. He..

Kalau ada di dunia ini penghargaan cinta yang tulus, Sabari adalah juaranya.

Andrea Hirata, seperti biasa, bisa membuat pembacanya terpingkal-pingkal di satu bagian; untuk kemudian menitikkan keharuan, bahkan rasa pedih ketika sang “Ayah” harus dipisahkan dari anaknya di bagian lain. Melalui buku ini pula, Andrea, sekali lagi, bisa mengisahkan kehidupan kelompok marjinal dalam rangkaian yang menarik.  Meski tidak se-fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi, dan mungkin tidak akan masuk ke dalam rak “novel favorit” saya dimana karya-karya Andrea Hirata lain bercokol, tapi sangat menyenangkan untuk dibaca serta menginspirasi.

 

 

Places I Need to See: Masjid Huaisheng Guangzhou

#placesineedtosee

Masjid Huaisheng, Guangzhou

Kalau berteman dengan saya cukup lama dan cukup dekat, mungkin tahu atau pernah dengar saya cerita bahwa nenek buyut saya turunan Tiong Hoa. Meskipun saya terlalu “butek” untuk terlihat “Cina”, tapi setidaknya mata sipit dan kulit kuning menitis pada kakak dan papa saya.

Ini mungkin salah satu yang mendasari kenapa saya sangat ingin menyambangi masjid yang satu ini.

Meski tidak ada catatan sejarah yang valid, tapi beberapa sumber menyebut bahwa masjid huaisheng adalah masjid tertua di China. Masjid itu pula yang menjadi saksi sampainya dakwah Islam di negeri yang pernah disebut sebagai Negeri Tirai Bambu tersebut. Konon, yang membangun adalah pamanda Rasulullah SAW, Sa’ad Bin Abi Waqqash (ra). Banyak juga yang meyakini bahwa makam yang ada di masjid tersebut adalah makam beliau.

Masjid Saad Bin Abi Waqqash, demikian masjid itu kerap disebut karena sejarahnya yang terkait dengan Saad Bin abi Waqqash.

Dalam salah satu tayangan NGC, saya pernah mendengar bahwa Guang Zhou adalah kota perdagangan (dan masih sampai sekarang) yang menjadi pintu masuknya Islam ke China. Kaisar China saat itu, yang saya lupa siapa namanya, memang tidak langsung memeluk Islam karena dalam Islam banyak aturan yang ia tidak bisa berkomitmen terhadapnya. Namun, ia mengizinkan para pedagang dari Timur Tengah untuk berdakwah di China. Hubungan antara kekaisaran China dengan Islam pun terjalin amat baik. Secara ekonomi, para pedagang Muslim dr Timur tengah menjadi perantara barang2 Timur jauh kepada bangsa Eropa. Kertas, adalah salah satu contoh produk China yang diperkenalkan kepada bangsa Eropa melalui pedagang muslim timur tengah*cmiiw*. Secara politik, sejarah mencatat, sultan India mengutus Ibnu Batutah, the Muslim Explorer, who rarely exposed, untuk menjadi semacam duta besar kesultanan India untuk Kekaisaran China.

Masih panjang dan banyak sekali sejarah Islam di China yang bisa menghabiskan baterai kalau saya jabarkan semua.

Yang jelas, bangsa China memeluk Islam jauh sebelum masyarakat Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan sekitarnya). Bahkan, bangsa China berjasa besar menyebarkan Islam bagi ummat Islam Nusantara.

Ma Huan, sejarawan China yang catatannya banyak dijadikan referensi kedatangan bangsa China ke Asia Tenggara, adalah seorang Muslim yang kalau tidak salah ikut serta dalam rombongan Laksamana Cheng Ho. Marga “Ma” merupakan marga yang menunjukkan identitas Islam seorang China.

Konon “Ma” diambil dari kata Muhammad.🙂 *entahlah, menuliskan ini membuat saya terharu*

*demi post yang lebih bermakna*

Gambar nyomot di hijupblogger.tumblr.com

View on Path

Finally, Bali

 

Akhirnya, meski segala cara saya tempuh demi menghindari transisi kulit saya ke arah yang lebih eksotis, saya harus menyerah.

Alhamdulillah. Hitam-nya kulit saya worthy. Pagi2 buta, berangkat dari Seminyak ke Pantai Lovina. Melalui jalan gelap gulita, selama kurang lebih satu setengah jam akhirnya sampai juga di Singaraja. Tepat saat waktu Shubuh, Allah Sebaik-baik Perencana, nemu Masjid besar di pinggir jalan. Padahal tadinya sudah pesimis dan ngebayangin bakal Sholat Shubuh di atm pom bensin 😆😆😆. Dan ternyata di daerah sini, there are plenty of masjids.

Passss banget saya menginjakkan kaki di masjid, azan dari HP saya bunyi. Nggak lama, muazin masjidnya azan. Jamaahnya cuma satu shaf, tp bacaan Quran imam-nya…. masyaAllah :”)

Ga jauh dari situ, saya diajak driver selama di Bali ketemu Pak Komang, yang punya cottage a.k.a guest house. Letak rumahnya harus masuk gang dulu. Tapi, surprise, surprise… Judulnya boleh guest house, tapi guess what? begitu ke dalemnya, guest house-nya pak komang ini punya kolam renang, cafe daaaaan letaknya persis di pinggir pantai.

Beuh, kalo kata boss saya mah.

So, jam setengah 6, saya suami dan 4 orang turis asing lain naik perahu buat…

Nonton Lumba-lumba!

Perlu se-jam-an deh sampai akhirnya we stopped at some point bersama perahu2 lain. Nggak lama muncul kawanan lumba2 pada lulumpatan. 😍😍😍😍😍😍😍😍🐳🐋🐳🐋🐳🐋

Asli, alhamdulillaaaaah banget. Masya Allah… if God’s willing tuh yaaa..

Cerita lengkapnya insyaAllah akan di-upload soon di blog sayah *ehm*. Bukan gaya backpacker sih travelling kali ini. Gaya istri yang rada pelit dan menolak “feminisme” dalam hal ini 😜😜😜. *ngarti kan yaa..*

Stay tune *sok banget guweeeh* ❤

View on Path

Barisan Mantan. (Te)Man (se)Tan.

Sudahlah.

Cukup sebait doa untukmu. Ya, sebait. Tidak lebih. Aku tidak rela menyebut-nyebutmu di hadapan Tuhanku. Cih.

Jadi, kiranya engkau menemukan kebahagiaan, cinta yang utuh tanpa perlu menoleh lagi ke belakang.

Iya, kamu. Kamu yang nggak lulus mata kuliah malu. Nggak usah tengok-tengok ke belakang. Laki2 yang kamu tengokin itu suamiku!

Oia, ngomong2, tentangmu dan polahmu yang kurang rasa malu,

Sudah aku ceritakan pada Tuhanku.