Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata

Ayah, demikian novel tersebut diberi judul.

Ayah adalah sosok istimewa bagi saya. Saya memanggilnya dengan Papa. Lelaki yang, kalau tidak salah, sudah saya tuliskan namanya sebagai idola saat mengisi biodata di buku harian teman-teman sewaktu SD.

Maka membaca novel “Ayah” karya penulis salah satu buku paling fenomenal dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Andrea Hirata, awalnya membuat saya berpikir ini pasti terkait dengan sosok “Ayah” Ikal dalam tetraloginya. Sang Ayah juara yang sedikit bicara.

Meski latar tempatnya sama, tapi Ayah yang diceritakan dalam novel “Ayah” baru dibuka tabirnya di tengah-tengah cerita. Dan ini yang menjadikan buku tersebut susah sekali diletakkan. Saya harus menemukan siapakah “Ayah” dalam novel itu.

Sejak semula, pembaca akan diajak mengarungi kehidupan yang jauh dari kemapanan para tokoh-tokohnya. Tidak ada lelaki ganteng berkulit sawo matang, bermata elang. Yang ada adalah Sabari Bin Insyafi, lelaki bergigi tupai bertelinga lebar.

Sabari remaja berkelompok dengan tiga orang temannya, dengan segala polah konyol mereka yang selalu menjadi pemegang nomor-nomor buntut peringkat kelas. Toharun, Ukun, dan Tamat. Ketiganya tidak ada yang “beres”. Sabari-lah yang paling lurus, persis seperti namanya. Jika teman-temannya punya deretan nama perempuan yang digemari; maka Sabari tidak. Sabari justru bingung mengapa teman-temannya memperlakukan cinta dengan seenaknya. Bagi Sabari, pemuda pecinta bahasa, cinta tidak semestinya diperlakukan seperti itu.

Dan demikianlah Sabari memperlakukan cinta, ketika Marlena, si lesung pipi sedalam sumur, tukang nyontek paling jago, sang purnama kedua belas menohok hatinya yang terdalam.

Segala cara dilakukan Sabari untuk membuat Marlena melirik padanya. Semua hal ditempuhnya, kecuali menyerah.

Akankah Marlena akhirnya jatuh takluk pada Sabari? Ah, review ini akan memberikan terlalu banyak spoiler (meski saya yakin buku ini sudah dibaca sejuta ummat manusia) tentunya. Keruwetan cinta Sabari inilah yang akan menuntun kita memahami siapakah “Ayah” yang dijadikan judul novel. Keruwetan cinta Sabari pulalah yang akan memberikan inspirasi kepada kita, mengenai kerja keras, ketulusan, kenyamanan kesempurnaan cintaaa *lho* :D. He..

Kalau ada di dunia ini penghargaan cinta yang tulus, Sabari adalah juaranya.

Andrea Hirata, seperti biasa, bisa membuat pembacanya terpingkal-pingkal di satu bagian; untuk kemudian menitikkan keharuan, bahkan rasa pedih ketika sang “Ayah” harus dipisahkan dari anaknya di bagian lain. Melalui buku ini pula, Andrea, sekali lagi, bisa mengisahkan kehidupan kelompok marjinal dalam rangkaian yang menarik.  Meski tidak se-fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi, dan mungkin tidak akan masuk ke dalam rak “novel favorit” saya dimana karya-karya Andrea Hirata lain bercokol, tapi sangat menyenangkan untuk dibaca serta menginspirasi.

 

 

Advertisements

My reading lists

Sebelum mengukuhkan diri sebagai blogger buku (dan masih pengen jadi travel blogger dan beauty blogger sebenarnya ~maunya apa sih shinta~), saya menchallenge diri sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku yang sudah saya baca sedikit, tapi tidak selesai karena berbagai alasan. Jadi, mohon kiranya untuk tidak diejek kalau dalam list ini banyak buku2 yang sebenernya udh “yaelah kemana aja lo, shin” banget.

1. To Kill a Mockingbird
Buku lama, memegang rekor sebagai buku terlaris di dunia dan sudah difilmkan. Baru baca dua bab deh. Ceritanya bagus. Saya suka banget sama tokoh atticus yang sangat humanis. Tp kayaknya butuh baca sampai khatam tam, baru bisa bicara banyak.

2. The Year of Living Dangerously. Sebenarnya saya sangsi buku ini masih ada di tangan saya. Hahahaha. Tp cerita ttg (klo ga salah) kebijakan2 era sukarno di indonesia menarik banget nih. Apalagi ini kisah nyata yg ditulis olh jurnalis asing d masa itu. Dan sudah difilmkan pula. Dulu sih belinya karena murahhhh bangettt diobral di bookfair.

3. Bumi Manusia.
Jujur, saya suka banget sama bukunya. Ada value yang kaya dan sejarah yang menarik. Dan entah rasanya bisa banget dilihat dr teori poskolonial. Serta nggak tau gimana, saya kok jd lbh yakin sama agama saya. Sebenernya tau sih, cuma males aja bahas di sini. Hehe. Lagipula bukunya baru dibaca separo. Tokohnya aja saya udh ga inget.

4. Totto Chan.
Yang ini membaca ulang. Saya sudah pernah baca jutaan taun lalu. Jutaan taun versi semut. Hehe. Sangat menghibur dan menginspirasi.

5. Berjalan di Ayas Cahaya.
Sekuelnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Dunia Islam di luar negeri selalu menarik perhatian saya. Tapi buku keduanya ini beda. Genrenya sama. Hanya saja ditulis oleh beberapa penulis, bukan cuma Hanum Rais.

Nah, demikian 5 buku yang saya tetapkan sebagai tantangan. Setidaknya untuk 3 bulan ke depan.

Tapi kalau dipikir2 kenapa ya saya bisa nggak selesai bacanya? Kayaknya karena saya gampang kedistract deh. Mungkin karena pekerjaan sebagai dosen mewajibkan saya untuk banyak membaca juga di luar buku2 tersebut, saya jadi susah fokus. Soalnya membaca akademis kan butuh konsentrasi ya menurut saya. Sementara beberapa buku di atas juga detailnya banyak, bukan sesuatu yang bisa selesai sehari gitu…

Jadi skrg saya juga sekaligus menantang diri untuk membagi waktu. Supaya kepala saya isinya nggak teori doangan (edisi betawinya keluar). He..

Happy reading juga buat kamuuuu ♡

Cerita Romansa SMA, Dilan dan Milea

(Review Novel “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” Karya Pidi Baiq)

20150425_233033 20150415_220030

Penerbit: Mizan Media Utama

Tahun Terbit: 2015

Membaca buku ini sekaligus juga adalah perkenalan pertama saya dengan karya-karya Pidi Baiq. Jauh sebelum ini, teman saya sudah sering menyebut, meng-quote kutipan bukunya, atau kerap juga saya temukan tweet ulang kicauan penulis unik ini berseliweran di timeline Twitter saya. Hingga suatu ketika, seorang teman yang lain menyebut buku ini ketika saya bertanya rekomendasi buku yang ringan tapi menyenangkan di status FB saya.

Sebetulnya saya mencatat beberapa rekomendasi. Tapi, hari itu, di toko buku dekat rumah saya, beberapa buku yang direkomendasikan ternyata sedang kosong stoknya (dan satu buku lagi serial detektif, yang sepertinya sedang tidak cocok dengan mood saya), jadilah saya membeli buku berjudul “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” yang sudah ada di jajaran best seller (padahal baru beberapa bulan terbit).

Bagian-bagian pertama berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri, bahkan tertawa. Banyolan khas 90-an (rasanya ada sedikit gaya-gaya Lupus di situ), dan dialog yang disusun dalam bahasa tutur khas Bandung memiliki kedekatan tersendiri dengan saya yang pernah menghabiskan dua tahun (dari empat tahun kuliah di Jatinangor) di Bandung. Dan karena settingan-nya adalah masa SMA, saya jadi sedikit terhanyut dalam romantisme masa-masa silam. Maklum setelah tujuh tahun menikah, saya lupa rasanya di-PDKT-in. Hihi.

“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong sendiri.

Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.

“Siapa dia?” kutanya Revi.

“Dilan.”

“Oh.”

Itulah harinya. Hari aku tahu namanya.

Ya, Dilan, sesuai judulnya memang menjadi tokoh utama dengan karakter yang kuat. Dia digambarkan dengan sosok yang unik, cerdas, tulus dan jujur dengan caranya sendiri. Dilan selalu berusaha membuat Milea, gadis yang dicintainya (yang juga menjadi penutur dalam novel tersebut) merasa dicintai; dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dilan itu keren, dan bahwa dia digambarkan tidak sempurna di beberapa sisi meningkatkan kekerenannya.

Seperti isi suratnya untuk Milea di bawah ini, misalnya:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Perempuan mana yang tidak akan meleleh dengan secarik surat bertuliskan kata-kata tersebut? Perempuan mana pula yang tidak akan merasa tersanjung jika ada lelaki yang rela berbuat apapun demi mempertahankan harga diri perempuan yang dicintainya?

Saya rasa penokohan Dilan dan gambaran kisah kasih Dilan dan Milea adalah kekuatan dari novel ini. Kekuatan lainnya adalah gaya bahasa khas Pidi Baiq yang sejujurnya agak scattered, tidak sesuai gramatika pada beberapa bagian, tapi berhasil dikemas dengan apik sehingga terasa cerdas dan mengena.

Namun demikian, saya sempat hendak berhenti membacanya karena alurnya menurut saya mudah ditebak sehingga terasa flat terutama menjelang akhir, serta kesulitan saya untuk menempatkan diri di sisi Milea (karena mungkin ter-distract dengan tokoh Kang Adi :p) dan menebak karakteristik dirinya yang seakan terlalu flawless. Tapi, demi semangat menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, akhirnya khatam juga novel bercover Navy blue ini.

Saya agak penasaran sama buku keduanya, dan berharap Milea tidak menikah dengan Dilan, tapi dengan orang lain. Mungkin Kang Adi (teuteup), atau Piyan yang menjadi sidekick-nya Dilan. Karena kalau menikahnya dengan Dilan, kisahnya menjadi terlalu mainstream.

(Ditambah kalau ditinjau dari judulnya “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990”, maka probabilita “Dilan”-nya Milea yang sekarang bukan “Dilan” yang itu, kan?)

At last,

Buat saya, novel ini nilainya 3 out of 5. Cocok untuk anak muda masa kini, generasi 90-an, dan yang ada di antaranya macam saya :D; yang menginginkan bacaan ringan di waktu senggang.

Ada “Sesuatu Banget” dengan Outlandish

Lately, I’ve been listening to *Outlandish*.

Outlandish adalah sebuah grup musik hip hop asal Denmark yang berada di bawah major label, Sony Music Entertainment.  Sebenarnya Outlandish sendiri sudah lama berdiri dan terkenal di Denmark dan sejumlah negara-negara Timur Tengah; tapi di Indonesia nama Outlandish kalah tenar dengan Maher Zain yang menawan, bahkan mungkin tidak banyak yang tahu. Jadi, saya akan berbagi sedikit informasi yang saya dapat dari mbah Google.

Berdiri pada 1997, grup hip hop asal Denmark ini beranggotakan tiga lelaki yang origin-nya bukan asli Denmark, melainkan dari berbagai kultur yang berbeda. Isam Bachiri dan Waqas Ali Qadri, keduanya sama-sama kelahiran Denmark dan beragama Islam; akan tetapi Bachiri memiliki latar belakang Maroko; sedangkan Qadri memiliki latar belakang Pakistan. Sementara Lenny Martinez merupakan turunan Kuba-Honduras dan lahir di Honduras. Berbeda dari kedua rekannya, Martinez merupakan seorang Katolik.

Latar belakang kebudayaan yang beragam inilah, menurut saya yang menjadikan musik Outlandish sangat ‘kaya’, berisi, dan ‘catchy’. Musik Outlandish banyak mengkritisi masalah politik dan sosial khususnya yang berkaitan dengan dunia Islam. Outlandish juga memasukkan unsur-unsur Timur Tengah, Pakistan, dan Amerika Latin dalam lirik-lirik serta video klip mereka. Sempilan bahasa Arab, bahasa Urdu, dan bahasa Latin akan sangat sering kita dengarkan dalam lagu-lagu mereka.

Sepintas lalu, jika hanya mendengarkan ‘musik’-nya, Outlandish nggak gue banget, hehe… Tapi idealisme dan visi yang jelas dalam lirik-lirik mereka-lah yang membuat saya tertarik pada Outlandish. Seperti sukanya saya dengan Bondan Prakoso feat. Fade to Black. Sebelum saya membaca semua lirik mereka, saya hanya akan mendengarkan sepintas lalu, atau bahkan mematikan radio jika memutar lagu mereka. Tapi inilah cara saya menikmati lagu. Lagu bisa sekedar melenakan apabila hanya dinikmati musiknya; akan tetapi lagu bisa menjadi ‘sesuatu banget’ apabila diresapi pesan di dalamnya. Grup-grup semacam ini mungkin nggak akan punya penggemar membludak seperti SM*SH atau SM*SH-wati (7 Icons maksudnya hehehe…), tapi mereka akan selalu punya penggemar setia yang mendengarkan, tergugah oleh isi ketimbang packaging, walaupun packaging Outlandish juga oke buanget!

Lagu-lagu Outlandish sangat laku di pasar Eropa. Outlandish bahkan berhasil menyabet sejumlah penghargaan, ini menurut laman wikipedianya. Faktanya, Outlandish memang berkali-kali dinominasikan dalam MTV Europe Music Awards, dan berhasil memenangkannya pada 2006.  Hal ini membuktikan bahwa idealisme dan pasar ternyata tidak selamanya harus berbanding terbalik. Berbeda dengan di Indonesia. Begitu satu band Melayu meledak, menyusul band-band lainnya mendadak jadi Melayu. Sekarang jamannya SM*SH dan SM*SH-wati. Bulan depan mungkin sudah ada kloning-annya Ayu Ting Ting. Padahal coba perhatikan lirik dan musiknya? Adakah pesan yang menggugah dan mengubah hidup kita semua? Apa pentingya kita mendengarkan sesuatu yang hanya menambah traffic jam di dalam proses kognisi kita?

Setuju atau tidak setuju, silahkan saja. Kritik sepedes-pedesnya juga monggo. Lagian saya juga bukan pengamat musik. Saya hanya penikmat musik, dan berusaha mencari inti pesan dari setiap bentuk komunikasi. Lagu adalah bentuk komunikasi yang sangat indah, menurut saya. Sebuah komunikasi tentu harus ada pesan, misi, moral yang disampaikan. Dan ini yang saya dapatkan dari lagu-lagu Outlandish.

Menurut informasi dari laman wikipedia-nya Outlandish, 

The band has recently helped to form an umbrella organization, Music With Meaning, which aims to bring together like-minded artists in order to promote and produce inspirational and meaningful music. Its motto is: “If you stand for nothing, you will fall for anything.”(Baru-baru ini Band tersebuk membantu terbentuknya organisasi, Musik With Meaning ‘Musik Bermakna’, yang bertujuan untuk menyatukan artis-artis dengan pikiran yang sama untuk mempromosikan serta memproduksi musik yang menginspirasi dan penuh makna. Motto mereka adalah: ‘Jika kamu tidak bertujuan, kamu akan hanyut oleh apapun’ -yah, kira-kira begitu terjemahannya)

Memang, Outlandish banyak mengaransemen ulang lagu-lagu lama yang ‘bermutu’; seperti salah satu single mereka yang meledak di pasar, ‘Aicha’ merupakan aransemen ulang dari lagu yang dibawakan oleh musisi Algeria, Cheb Khalid yang juga meledak di pasar pada eranya. Banyak orang yang kemudian tidak menyukai mereka karena dianggap hanya merekonstruksi lagu bagus dan memberi sentuhan kekinian; akan tetapi, menurut pendapat saya sih sah-sah saja selama mereka mendapatkan ijin dan printilannya. Toh masih enak didengar dan pesannya malah mungkin akan lebih luas tersebar dan diterima berbagai kalangan.

Akhir kata, kalau ingin berkenalan lebih lanjut dengan Outlandish saya akan berikan link ke video mereka dan website resmi maupun yang dibuat oleh fans:

Klik Disini Untuk Video Mereka

Di sini Untuk Fan Site Outlandish

Di sini untuk Official Page

Salam,

-Shinta Galuh Tryssa-

 

Muhammad: Para Pengeja Hujan

Buku kedua Tasaro GK ini menceritakan tentang kehidupan Rasulullah, melanjutkan buku pertamanya, Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan. Selain itu, Tasaro, tentunya juga melanjutkan kisah perjalanan Kashva serta pencariannya terhadap ‘jalan lurus’ yang dahulu diajarkan Nabi Zardhust kepada orang-orang Persia, masyarakat dengan peradaban tinggi, ras Arya sebenar-benarnya. Saya lupa kapan tepatnya saya membeli buku ini, yang pasti tidak lama dari waktu buku ini diluncurkan. Hanya saja saat itu saya sedang menggila dengan thesis yang diburu waktu; jadi baru sekarang tepatnya saya menamatkan buku ini.

Seperti juga buku pertama; buku kedua ini saya pastikan akan masuk dalam ‘my collectibles’, demikian saya menamakan koleksi buku-buku yang menurut saya ‘nampol’, seperti trilogi Supernova, buku-buku karya Dan Brown, dan beberapa kesusastraan lama seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Seperti juga buku pertama, pada buku kedua ini air mata saya menggenang pada lembar-lembar awal:
“Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah kemarin engkau ada di sisi, dan esok tiada lagi”

Memang benar demikian adanya. Pada buku kedua ini; penuturan perjalanan hidup Rasulullah sampai pada penyempurnaan Islam. Dan Tasaro mengambarkan fase tersebut dengan tutur yang sangat lembut, seperti biasa; mungkin untuk memadankan dengan sosok lembut yang kisahnya ia tuturkan. Fase-fase terakhir kehidupan Rasulullah, terutama bagian dimana lelaki mulia tersebut menghembuskan nafas sukses menguras air mata.

Saya tahu, ummat Islam dimanapun di dunia ini yang hidup pada jaman ini, tidak pernah bertemu Sang Nabi kecuali sedikit saja mereka yang diberi karunia untuk bertemu dengannya dalam mimpi; namun cerita kepergiannya, menyisakan rasa kehilangan. Aneh. Padahal seumur hidup saya belum pernah bertemu Beliau, semoga shalawat dan salam tercurah padanya.

Cara Tasaro GK menceritakan bagaimana kekhilafan Umar saat mengetahui Rasulullah telah berpulang semakin menambah rasa kehilangan tersebut. Benih-benih perpecahan yang bermunculan hanya sesaat setelah kepergian Rasulullah SAW, sesungguhnya bukanlah bagian yang ingin saya baca, jika saja buku itu hanyalah kitab sirah Nabi ‘konvesional’. Saya selalu membenci bagian dimana ummat Islam berpecah belah. Tapi konflik yang dituturkan dengan amat menarik tersebut memaksa saya untuk membaca, dan akhirnya memahami. Bahwa mereka yang ditinggalkan Rasulullah setelah ‘dibina’ langsung oleh Beliau, semoga shalawat dan salam tercurah untuknya, memegang tampuk amanah yang amatlah berat untuk menjembatani antara Islam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dengan masyarakat di luar jazirah Arab; serta generasi setelah mereka.

Sungguh amat sulit kiranya menjadi seorang Abu Bakar. Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah. Jika ada orang yang paling miskin di Madinah saat itu; itu adalah beliau, khalifah, pemimpin ummat Islam, karena takutnya beliau kepada Allah SWT dan ketaatannya kepada Rasul-Nya. Belum lagi konflik dengan Fathimah, putri sahabat yang dicintainya. Ah…

Ketika sampai pada bagian itu, saya berucap dalam hati; seandainya Rasulullah ada untuk menengahi…

Dari buku ini pulalah saya belajar memahami bahwa sahabat Nabi, bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pun adalah manusia biasa. Tindakan yang dilandasi niat baik sekalipun terkadang tidak senantiasa baik pula sambutannya…

Di atas segalanya, buku ini menyuguhkan cara baru belajar sirah. Jika selama ini sirah Nabi yang banyak beredar banyak berupa terjemahan yang kadangkala sulit dipahami; maka Tasaro menyampaikannya dengan cara bertutur. Tidak semua, saya yakin, akan suka dengan cara ini. Tapi setidaknya saya sangat menyukainya. Membacanya seolah-olah Rasulullah dan para sahabatnya ada di depan mata; dan meniru perilaku mereka bukan sebuah kemustahilan, sekalipun sulit dilakukan. Dan poin plus-nya pada buku kedua ini adalah Tasaro membubuhkan sumber referensi sebagai rujukan; sehingga jika kita meragukan apa yang dituturkannya bisa langsung merujuk pada buku tersebut. Ada beberapa perbedaan memang, terutama dari segi detil cerita, khususnya pada bagian yan menceritakan kehidupan ummat Islam saat memasuki era khalifah; pasca kenabian dari sumber-sumber lain yang saya ketahui; akan tetapi menurut saya bukan sebuah masalah besar. Inti ceritanya tetap sama.

Oh iya, ada kata-kata Khalid Bin Walid yang sangat saya sukai saat ia memberikan tiga tawaran: ber-Islam, tetap pada agama semula namun membayar jizyah sesuai kemampuan, dan perang. Di akhir suratnya Khalid selalu membubuhkan kata-kata,

“…Namun, kalian tidak akan suka kepada kaum yang menyukai kematian; sebagaimana kalian menyukai kehidupan”

atau

“kalau tidak, aku akan mendatangkan kepada alian suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai minum khamr”

Baiklah, review asal-asalan ini saya tutup dengan sebuah… pemikiran saya sendiri. Sudah sepatutnya kita, ummat Islam mencintai Nabi kita, Rasulullah, Nabiyullah, Muhammad SAW serta mencontoh perilakunya. Karena kita, memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari ummat terbaik Rasulullah: mencintainya, memuliakannya, mencontoh dan menegakkan sunnahnya tanpa pernah bertemu dengannya. Dan, menurut saya, buku ini A MUST READ bagi para pemula seperti saya yang ingin mempelajarinya. :’)

Semoga shalawat dan salam selalu dan senantiasa tercurah pada Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya, serta pengikut-pengikutnya yang istiqamah hingga akhir dari akhir zaman.

Wallahu a’lam 🙂

Sebuah Pesan dari Tiga Orang Idiot

I just watched ‘Three Idiots’!! Telat banget ya? Hehe…

Untuk sebuah alasan, aku suka film ini. Bukan dari ceritanya, yah…suka juga sih, tapi bukan itu yang utama. Yang aku suka adalah film ini sangat bisa menyampaikan pesannya bahwa belajar itu adalah sebuah kesenangan, bukan keterpaksaan, bukan tekanan.  Belajar tidak pula direpresentasikan dengan ranking yang memetakan manusia menjadi pintar dan tidak pintar. Membentuk sistem kasta pendidikan: The A’s, The B’s, and the leftovers.

Itulah yang terjadi di Indonesia saat ini, begitu pula yang terjadi di banyak negara. Salah kaprah. Mungkin hanya di Indonesia anak kelas 3 SD dijejali dengan begitu banyak gambar dan pengertian tentang danau tanpa mereka pernah diberi kesempatan memahami, menerjemahkan, dan mengartikan sendiri apa itu danau? Dan karenanya anak-anak Indonesia menjadi terbiasa untuk menghafal, bukan memahami. Terbiasa mengekor apa kata bu guru, pak guru, dan apa kata buku tanpa punya keinginan untuk menciptakan sendiri. Inilah mengapa gunung dimanapun di kertas gambar siswa siswi Indonesia selalu dua buah dengan matahari di tengahnya, jalan terbentang, dan sawah menghampar. As if Indonesia hanya gunung dan sawah. Bagaimana dengan Pegunungan Jayawijaya? Bagaimana dengan Gunung Krakatau?

 

Hmmh…. *taking deep breath*

 

Frankly, I still do the same thing to my 8 years old sister. Awalnya aku ingin menerapkan cara belajar yang berbeda. Yang merangsang otak kreatifnya. But then, aku kehilangan rujukan dan referensi. Bukankah selama puluhan tahun ini aku belajar selalu didominasi oleh buku-buku teks yang harus dihapal serta titah guru dan orang tua? Aku bahkan tidak pernah benar-benar belajar, selain waktu kelas 2 SMA karena mengejar nilai. Aku tidak benar-benar menikmati proses belajar, dan aku juga banyak siswa lainnya dipaksa untuk mengikutinya. Aku sudah me-list down pelajaran yang menjadi favoritku sejak SD di luar pelajaran agama Islam karena itulah pelajaran favoritku sebenarnya : Matematika, Bahasa (Inggris, Indonesia, Arab), dan Sejarah. Pelajaran Sains lainnya? Ah, forget it! Satu-satunya alasanku belajar sampai berhari-hari sewaktu SMA adalah agar naik kelas.

 

Makanya, aku seringkali diburu rasa bersalah saat harus ‘memaksa’ adikku menghafalkan perkalian. Perkalian bukan dihafal,bukan? Perkalian itu seharusnya dipahami sebagai proses dari multiplikasi suatu angka. Dan sisanya, biarkan mengalir saja. Pasti dia akan hafal sendiri. Tapi aku tidak bisa karena sejumlah alasan. Pertama, dia akan menjadi bagian dari underdog yang tidak bisa dengan cepat menjawab hasil dari 6 dikali 8 karena dia akan menghitung dengan jari-jari tangannya, instead of menghafalnya seperti teman-teman lainnya. Kedua, pak guru-nya, sayangnya, akan menilai dia sebagai ‘lambat’ belajar -seperti kata bu gurunya saat adikku kelas satu- karena satu per satu murid di kelas akan dipanggil ke depan untuk menyebutkan seluruh perkalian 2 sampai dengan 10. Exactly seperti masa aku sekolah dulu. Beruntung, aku senang menghafal. So, it was kind of a challenge for me.

 

Jujur, aku bingung, harus seperti apa model belajar adikku? Dia bisa memberitahuku cara ‘berolahraga’ singkat saat terjebak kemacetan di dalam mobil. Yaitu dengan cara meregangkan tangan dan bahu, menarik jari-jari tangan satu per satu kebelakang dan menghitung sampai delapan, dan memutar pinggang ke kiri dan kanan perlahan. Dia mempraktikannya dengan sangat bagus, seolah-olah dia sedang di dalam mobil. Aku sedikit terkesima. Lalu aku pun bertanya, “Kamu belajar darimana,dek?”.

Dan dia menjawab santai, “Itu dari TV barusan”.

Pun dengan bumbu-bumbu dan resep masakan, cara merawat bayi, cara membersihkan botol susu; dia memberitahuku semuanya, persis seperti bu guru. Dan semua dia dapat hasil menonton acara ‘Dapur Aisyah’ dan ‘Diary Bunda’. Kadang aku geli sendiri. Adikku senang menonton acara Ibu-ibu. But that’s her. Dia punya sesuatu yang anak lain tidak punya. Dia senang pada bayi-bayi dan anak-anak yang lebih kecil, senang menata rambut ibuku dan memijat-mijat -persis seperti di salon-, dan senang masak-memasak (tapi sayangnya tidak dengan makan-memakan).  Dia bahkan bisa memasak nasi sendiri, Dulu, adikku bercita-cita menjadi baby sitter, kemudian meningkat menjadi suster. Tidak lama dia berganti cita-cita menjadi koki, tukang salon dan florist, alasannya menjadi suster rentan tertular penyakit. Sekarang, mengikuti pakem cita-cita semua anak Indonesia, ia memasukkan dokter ke dalam cita-citanya. Tapi supaya adil kata adikku, “kalau pagi aku praktek dokter, nanti siangnya aku jadi koki, malem-malem jadi pelukis.” Lho?!

 

Be it! Walaupun sebenarnya aku tahu gambarnya tidak terlalu berkembang, aku tidak akan pernah mengatakan bahwa dia tidak bisa melukis. Cita-cita itu, seperti kata the cute Rancho dalam film 3 Idiots, seharusnya ‘our passion, what we enjoy doing the most’, dan penghasilan akan mengikuti then, ‘pants down’, orang-orang akan menghormati.

 

Aku mencoba menatap diriku sendiri. Then I found that I didn’t exactly do things I enjoy the most. Salah satu kesalahan terbesarku adalah dengan mengikuti keinginan orang tuaku (yang akhirnya tidak mereka akui sebagai keinginan mereka) untuk masuk jurusan Humas saat aku sesungguhnya ‘madly in love with journalism’, sampai detik aku menulis posting ini. Kata orang-orang sekitarku, aku terlalu kalem untuk menjadi jurnalis. Kata papa-mama-ku aku tidak mungkin tahan banting, sementara menjadi jurnalis harus tahan banting. Tapi kata orang Humas, aku terlalu ‘nggak dandan’ untuk menjadi anak Humas. Sebenarnya, aku terlalu takut dengan apa yang tidak aku ketahui jika aku masuk jurnalistik. Aku selalu berpikir, jangan-jangan benar kata Ibuku, bahwa aku tidak akan cukup kuat. Atau benar kata orang-orang aku terlalu kalem.

 

Dan akhirnya, aku memilih jalur aman: Humas. Tugas kuliahnya teratur, nilainya mudah dan lulusnya cepat. Memang sih, aku tidak mungkin berangkat kuliah tanpa mandi dan sarapan pagi. Hidupku terlalu teratur untuk jadi jurnalis. Kadang-kadang teman-temanku yang mengambil jurnalistik berangkat ke kampus tanpa menyentuh air dan sabun, begitu pengakuan mereka, saking banyak dan susahnya tugas mereka. But they seemed to enjoy it very much and for what is worth, they were really proud…

 

Tapi, that’s my passion. Aku suka menulis. Dan akhirnya aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan bahwa, aku tidak harus masuk jurnalistik untuk menuliskan kebenaran. Aku tidak harus berjaket biru dengan empat strip putih (sebagai simbol ‘the fourth pillar of the state’) untuk bisa tetap menulis dan menulis.

 

Well, then, above everything, tiga ke-idiot-an yang harus ditumpas menurut aku adalah: malas, putus asa, dan… lupa pada-Nya. *kok ngga nyambung ya…*

 

Mencari Kanjeng Nabi, Resensi Sangat Subjektif buku “Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan” karya Tasaro GK

Shalawat dan salam teruntuknya, Rasulullah Muhammad, keluarganya, serta kerabatnya…

Mungkin sudah banyak yang membuat resensi buku ini sebelumnya. Mungkin saya terlambat. Tapi, saya hanya ingin menuliskannya, sekaligus membaca bukunya lagi dan lagi.

Saya bahkan sudah lupa harga dan dimana saya membelinya. Saking lamanya buku itu terbengkalai, tertutup oleh plastik pembungkusnya, terjejer rapi, agak terdesak, bersama dengan buku-buku lainnya yang juga masih ‘berbaju plastik’. Kalau tidak salah, awal Ramadhan saya mulai membacanya. Halaman pertama, dan saya langsung jatuh cinta.

” Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham

dengan terbitnya buku ini,

aku yakin itu terjadi

karena mereka mencintai Kanjeng Rasul.

Dan, percayalah Ibu,

aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”

Pun saya membeli dan mulai membacanya, disebabkan alasan yang sama: cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi. Jadi saya yakin, saya tidak akan menyesali tiap sen yang sudah saya keluarkan untuk membeli buku itu.

Sesuai judulnya, buku ini memang menuturkan kisah tentang Muhammad bin Abdullah, bersisian dengan kisah fiksi tentang Kashva, seorang ‘Pemindai Surga’ dari Persia, yang menempuh perjalanan panjang menemukan hakikat kenabian. Mencari lelaki terakhir yang dijanjikan, sang pencerah yang terpuji yang namanya (rupa-rupanya) muncul hampir di setiap kitab suci agama-agama terdahulu dalam berbagai rupa yang semuanya mengarah pada satu makna: yang terpuji.

Selain itu, Tasaro GK juga memasukkan kisah asmara yang rumit antara Kashva dan Astu tanpa Kashva pernah menyadari bahwa sesungguhnya dirinya telah menjadi bagian dari konspirasi besar memurnikan ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi Zardust. Bayangan saya tentang Astu adalah seperti Princess Tamina dalam film Prince of Persia: The Sands of Time. Cerdas, kuat dan cerdik. Karakternya sangat menarik yang menjadikan keduanya, pasangan Kashva dan Astu menjadi kombinasi yang rumit sekaligus romantis dengan cara yang cerdas.

“…Mencintai ada titik komprominya. Masih bisa tersimpan rapi di hati, tetapi tidak bisa maju lagi. Jika dipaksakan niscaya akan menimbulkan ketidakseimbangan.”

Dan begitulah mereka mengakhiri cinta keduanya. Gantung dan rumit.

Dengan tuturnya yang menawan, Tasaro juga mengisahkan bagaimana Rasulullah menjaga perjanjiannya dengan orang-orang Yahudi penghuni Madinah. Ia tidak memaksa siapapun yang tidak ingin masuk Islam dengan pedang atau dengan kekuasaannya. Karena, sungguh, agama bukan sesuatu yang diciptakan untuk dipaksakan, akan tetapi agama adalah untuk dilaksanakan. Dan Allah sudah mengatakan dalam surat Ali-Imran 159:

“<span>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.</span>

Begitu banyak hal dalam buku itu yang mampu mengetuk hati saya yang entah bagaimana berhubungan langsung dengan produsen air mata di atas sana dan membuat saya menitikkan air mata haru, bahagia, dan sedih. Begitu banyak hal yang tidak saya ketahui dari sejarah agama-agama di dunia ini. Begitu banyak hal yang membuat saya penasaran. Begitu banyak hal yang membuat saya ingin melihat lebih dekat kepada keyakinan lain dan memahami berbagai perbedaan, memahami hakikat ketuhanan, dan seperti penulis katakan, “bukan untuk berpindah keyakinan”.

***

Hal kecil yang paling menyentil saya adalah perihal ketidaksukaan saya pada anjing. Sumpah, saya takut sekali dengan anjing. Dan setiap saya keluar rumah, saya selalu komat-kamit merapalkan doa agar saya tidak berpapasan dengan anjing. Dan saya baru tahu dari buku itu bahwa Rasulullah, sebelum pergi berperang melawan kafir Quraisy, masih sempat memperhatikan seekor induk anjing yang sedang menyusui anak-anaknya. Beliau khawatir derap langkah kuda-kuda perang akan mengganggu ketenangan dan keselamatan ‘keluarga’ anjing tersebut sehingga ia menugaskan seorang sahabat untuk menjaga ketenangan dan keselamatan mereka. Ini adalah hal kecil yang membuat saya terharu sekaligus malu. Rasulullah adalah pemimpin besar yang memperhatikan hal-hal kecil. Bahkan anjing yang sedang menyusui… Ah…  Inilah bukti bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi sekalian alam. Beginilah seharusnya saya berbuat, menjadi bukti bahwa Islam memang rahmat.

Sentilan lain adalah manakala Rasulullah harus berhadapan dengan Hindun, perempuan yang telah mengutus seorang pembunuh bayaran untuk membunuh Hamzah, paman Rasulullah. Sekaligus perempuan keji yang telah mengoyak tubuh Hamzah dan memakan jantungnya. Saat Hindun menyatakan diri masuk Islam, tidak ada dendam pada dirinya. Bahkan pada perempuan yang sudah menghinakan jasad paman tercintanya. Seandainya itu saya, saya pasti mengusirnya jauh-jauh. Tapi, tentulah Allah mengutus lelaki mulia sebagai seorang Rasul, manusia sederhana yang luar biasa perangainya, bukan seorang pendendam dan pendengki.

Seolah sedang berjalan bersama Rasulullah, itulah yang saya rasakan. Seolah bersama-sama Kashva dan rombongan kecilnya mencari ‘lelaki penggenggam hujan’ yang namanya tersohor bahkan sebelum ia dilahirkan. Seolah menyaksikannya hidup kembali… Dan ketika saya menutup buku tersebut, sungguh, alangkah banyaknya episode kehidupan Rasulullah yang luput dari hidup saya sebagai muslim selama hampir seperempat abad ini.

Buku ini seharusnya menjadi sedikit penawar rindu bagi mereka yang mencari hakikat Islam dan bertanya-tanya apakah Islam agama yang mengajarkan teror, agama yang mengekang perempuan, agama kampungan dan terbelakang seperti konstruksi media barat. Juga bagi mereka yang mengalami sedikit krisis identitas dan rasa malu dengan ke-Islamannya dengan buruknya citra Islam pasca berbagai insiden kekerasan lintas agama yang menempatkan Islam sebagai penjahatnya.

Baca dan lihatlah, bukan begitu Rasulullah mengajarkan kita, teman. Jadi, tidak perlulah membusungkan dada dan berkeras-keras suara. Sebaliknya, merunduklah dan rendahkan diri kita di hadapan-Nya.

Dan agaknya benar-lah testimoni A.Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara,

“Tasaro bagai memimpin tur spiritual ke pelosok Persia dan Arab di abad VII. Sangat personal, kadang seakan kita merasa berada di belakang Rasulullah”.

~ah…dan semoga Allah memberkahimu, Tasaro~