Seperti Inikah Saya Ingin Dilihat Allah…

“Terakhir kita makan, inget nggak, kamu marah-marah sama pelayannya”

Masih saya ingat kata-kata teman saya tadi siang saat kami makan bersama, setelah tahunan tidak berjumpa. Astaghfirullahal ‘adzim…

Seperti itukah dia mengingat saya? Saya yang marah-marah? 

Dulu saya memang paling tidak suka dilayani dengan buruk di tempat umum, karena saya merasa itu hak saya untuk mengajukan protes. Bukankah pelanggan adalah raja?

Tapi apakah “marah-marah” itulah yang dikenang teman saya? 

Saya teringat almarhum ustadz Jefri Al-Bukhori dan bagaimana setiap orang memiliki kesan yang baik tentangnya. Dermawan, ramah, baik hati… Dan lihatlah bagaimana akhir hidupnya. Berduyun-duyun manusia mengantarkannya menuju kuburnya, memanjatkan doa untuk ampunan-Nya atas diri sang ustadz. Rasanya di Indonesia, setelah Amrozi yang diantarkan warga sekampung menuju liang lahat, pemakaman ustadz Jefri sungguh fenomenal. Masjid Istiqlal penuh dengan jamaah yang ingin mensholatkannya, peziarah pun tidak putus-putus berdo’a untuknya. 😥

 

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, seperti apa Allah melihat saya? Adakah Allah melihat saya sebagai orang yang “marah-marah” juga? Bukankah Allah tahu yang lebih buruk dalam diri saya dibandingkan sekedar “marah-marah”? 

Apabila konsultan humas bisa mengubah citra seseorang dan menipu publik melalui polesan dan banyak setting-an, maka bagaimana cara menipu Allah, sedang Dia Maha Mengetahui?

“…Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” Q.S. Huud: 5

Advertisements

Pada Akhirnya, Ini tentang Akhirnya

Gambar

Bungkus kepalanya boleh berbeda-beda, tapi kepalanya tetap sama-sama sujud pada Pencipta. Gambar ngambil didieu –> http://www.cherwell.org/news/oxford/2011/10/17/ousu-back-muslim-prayer-room

Bukan salafi, PKS, tablighi, HTI, NU atau Muhammadiyah-nya yang dinilai Allah.

Di TV, dulu saya lihat, bagaimana seorang Gito Rollies yang tablighi wafat dengan wajah berseri-seri. Lalu bagaimana ustadzah Yoyoh Yusroh yang PKS juga wafat dalam keadaan tampak begitu bahagia. Dan hari ini, seorang ustadz Jeffri yang tidak sedikit yang “mencibiri”, mendapatkan keistimewaan dishalatkan dan didoakan ribuan orang.

Apa-apa yang saya sebutkan di atas hanyalah kendaraan yang kita pilih untuk meraih ridho-Nya. Bukan stempel jaminan surga. Maka berramahtamahlah terhadap sesama pengguna “jalan”, baik yang berkendara berjama’ah dalam gerakan dakwah, maupun pejalan kaki yang berjalan sendiri.

😉

Salam,

Shinta, Muslimah yang senang naik bermacam-macam kendaraan dan menikmati menjadi pejalan kaki. 

Ad-Dien, Agama, Isme, Way of Life

Gambar

Perjalanan memanglah mengajarkan kita banyak hal. Bukan hanya sebagai pengalaman hidupyang sifatnya duniawi, tapi juga spiritual. Ya, sebuah perjalanan semestinya bisa mendekatkan seseorang pada Penciptanya. Yang pada-Nyalah seorang hamba memasrahkan rumah, harta dan keluarganya saat ia pergi. Dan pada-Nya pula, seorang hamba memasrahkan diri dalam perjalanan. Semua bisa terjadi dalam perjalanan. Baik atau buruk. Untung atau buntung. 

Bulan madu saya dan suami ke Malang-Bromo beberapa minggu lalu, salah satunya. Kali ini saya tidak (belum) akan mengisahkan Bromo-nya, kali ini saya akan mengisahkan pertemuan saya dengan dua orang yang memberi saya pelajaran berharga. 

Bahagianya menjadi seorang Muslim, kita diajarkan Allah berbuat adil kepada siapapun dan rendah hati kepada siapapun. Termasuk di dalamnya, rendah hati untuk belajar pada mereka yang bukan Muslim, sebagaimana Rasulullah SAW menyuruh para tawanan untuk mengajarkan anak-anak Muslim membaca dan menulis sebagai tebusannya.

Pada saat pergi dan pulang, saya berada satu pesawat dengan biarawati dan seorang bhiksu. Perilaku mereka sungguh santun dan penuh senyum. Itu yang saya perhatikan. Jujur, saya ingin mengamati mereka lebih lama tapi saya khawatir menimbulkan prasangka yang tidak diinginkan. Jadi, sedikit sekali yang bisa saya amati, karena saya hanya mencuri-curi pandang. Tapi semoga hasil “curi-curi pandang” saya membawa pelajaran berharga. 

Seorang biarawati dan bhiksu. Bagaimana saya mengenali keduanya? Dari pakaiannya tentu saja. Keduanya memiliki kesamaan dengan diri saya. Saya pun (ingin) dikenali sebagai Muslim dari pakaian yang saya kenakan. Sang Bhiksu berpakaian warna kuning oranye, kepalanya tidak berambut dan berjalan perlahan-lahan dengan wajah tersenyum yang menyenangkan. Sang biarawati memakai kerudung (tutup kepala), baju panjang berleher tinggi, ramah dan tampaknya ia adalah seorang yang percaya diri. Saya bisa melihat dari caranya berbicara dan berjalan. 

Lalu mengapa saya begitu ingin mengamati keduanya?

Sederhana saja, saya merasa ada “kesamaan” antara saya dan keduanya. Dan saya menaruh hormat pada orang-orang yang tidak malu menunjukkan identitas dirinya. 

Dan sepertinya rasa hormat itu pulalah yang didapatkan Sang Bhiksu dan Sang Biarawati yang saya temui di bandara. Secara kebetulan, Sang Biarawati satu pesawat dengan saya saat menuju Malang dan Sang Bhiksu satu pesawat dengan saya saat perjalanan kembali ke Jakarta. Saat berangkat, saya perhatikan banyak orang membantu Sang Biarawati, dan memperlakukannya dengan respekt. Begitu pula dengan Sang Bhiksu. Saya memperhatikan bagaimana dua orang perempuan berdiri takzim dan memberikan jalan untuk Sang Bhiksu menuju bangkunya. Kebetulan Sang Bhiksu duduk di dekat jendela pesawat, dan dua perempuan tadi duduk di bangku sebelahnya. 

Dan memang demikianlah saya pikir, rasa hormat itu yang akan didapatkan seseorang ketika ia berani menunjukkan dien-nya, agamanya, way of life-nya, isme-nya dan memegangnya kuat-kuat. 

Apakah saya sedang menyamakan semua agama?

A’uzubillah… Bukan. Yang saya maksud di atas dengan ada “kesamaan” antara saya dengan Sang Bhiksu dan Biarawati adalah, bahwa cara kami berpakaian menunjukkan kecintaan kepada Tuhan (walaupun saya masih jauh dari sempurna).

Inilah yang agak “mengganggu” pikiran saya karena lama tertunda untuk saya tuliskan.

Sungguh, saya meyakini bahwa Islam, agama yang dengan izin Allah saya terlahir sebagai pemeluknya, adalah jalan kebenaran. Namun mengapa, adakalanya saya masih menggunakan banyak “tapi” ketika menjalankannya. Bukankah Islam itu berarti submission? Maka mengapa saya tidak menyerah saja pada apa yang Allah mau…

Bukankah semestinya saya malu? Agama yang saya jalani ini begitu mudah:

Saya tidak perlu menyepi dari dunia untuk mendekat pada-Nya.

Tidak perlu tidak menikah sebagai bentuk dedikasi pada-Nya.

Saya cukup menjalani kehidupan dan segala masalahnya dengan penyerahan dan totalitas pada Tuhan. Menjadikan hanya Allah sebagai Tuhan, tanpa perantara anak manusia, benda-benda langit, hewan atau tetumbuhan. Tidak menjadikan hawa nafsu dan kesombongan sebagai penghulu kehidupan.

Mendirikan shalat sebagai “charger” koneksi dengan Tuhan dan penghambaan diri pada Sang Khalik.

Menjadi manusia yang berperilaku mulia, sebagaimana Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah Tuhan, mengajarkan.

Tidak menyakiti manusia lain, binatang maupun tetumbuhan.

Berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim dan persaudaraan. Mengasihi anak yatim dan orang-orang tidak mampu.

Menuntut ilmu untuk kemaslahatan. Memberi manfaat sebanyak-banyaknya pada alam semesta.

Berkata dan berperilaku jujur. Disiplin terhadap waktu. Menghargai para guru.

Menjaga kebersihan. Membalas keburukan dengan kebaikan.

Dan banyak lagi… Ah… Bukankah itu nilai-nilai luhur universal yang semestinya “mudah” untuk saya jalankan?

Saya bisa menunjukkan identitas diri dan kecintaan pada Tuhan dengan hijab yang saya kenakan, saya bisa menyalurkan cinta dan kasih sayang pada lawan jenis melalui pernikahan, saya bisa berkarya dan memberi manfaat untuk banyak orang, saya bisa shalat untuk mendapatkan ketenangan, saya bisa puasa untuk menahan hawa nafsu…

Sungguh beruntung, bukan?

Maka, apakah patut saya malu menunjukkan bahwa saya benar seorang Muslim dan merasa susah payah untuk berperilaku sesuai dengan itu?

**Oh iya, satu lagi, tentang “kesamaan” diri saya, Sang Bhiksu dan Biarawati. Kami memang sama-sama berusaha mencintai Tuhan kami. Hanya saja, dengan cara yang berbeda, dan jelas kepada Tuhan yang berbeda. Jadi, karena kami bertemu pada “ruang cinta” yang sama, sungguh saya menaruh hormat pada keduanya dan siapapun yang mencintai Tuhannya, tanpa perlu pusing-pusing menjadikan agama kami (yang pasti dan jelas-jelas berbeda) “sama”. Dan inilah yang juga diajarkan oleh agama saya: Untukmu agamamu, untukku agamaku.  

** Dengan segala hormat kepada pembaca yang mungkin bukan Muslim, tidak ada maksud sedikitpun saya untuk menghina atau menjatuhkan. Tulisan di atas adalah kontemplasi diri saya yang masih jatuh bangun mencintai Allah, dan untuk siapapun yang mungkin mengambil manfaat daripadanya.

Oh, UN itu Begini?

Allah bersamamu, Bu Guru ^^

Ninok Eyiz's Journey

Tahun ini pertama kali saya memperoleh kehormatan sebagai pengawas Ujian Nasional! Wow. Saya menyebut kehormatan karena sejak bertugas sebagai guru PNS, baru tahun ini saya mendapatkan kesempatan. Keren sekali rasanya. Hi hi 😀

Jauh-jauh hari sebelum UN, saya melakukan survei kecil-kecilan ke teman-teman guru. Hasil surveinya sangat menarik dan membuat saya penasaran. Mereka bilang kalau nantinya pengawas itu akan jadi boneka di ruang ujian. Waktu saya tanya, Kenapa? Kok gitu? Mereka menjawab, “Ntar kamu tahu sendiri”. Nah looh..


View original post 1,335 more words

Betapa Inginnya Saya Pura-pura Buta…

Di kompleks tempat saya tinggal, dikelilingi masjid dan musholla yang syi’arnya begitu membahana. Kadang kalau ta’lim ibu-ibu, speakernya saja sampai dua.

Kalau malam libur seperti ini, bahkan sering juga malam-malam biasa, entahlah, syi’ar itu tampaknya tidak berbekas sama sekali. Ada banyak anak-anak usia SD atau SMP nongkrong di samping rumah salah satu penghuni dan merokok, beberapa memadu kasih.

Yang SMP/SMA kadang kedapatan membolos di pagi hari dan lagi-lagi menjadikan kompleks tempat saya tinggal sebagai tempat kongkow.

Gerah? Pasti!

Satu kali, dulu sekali, saya menegur seorang anak yang merokok, yang paling baru berumur 8 tahun. Saya paksa dia mematikan rokoknya, dan dia ngeloyor sambil cengar-cengir. Saya tanyakan dimana rumahnya, “Swadaya,” jawabnya.

Teringat saya rombongan ibu-ibu peminta-minta setiap Jumat pagi yang konon ada juga yang berasal dari daerah yang disebutkan di atas.

Sekali, dua kali, saya usir anak-anak itu. Tapi saya tahu, saya tidak menyelesaikan masalah. Mau mereka nongkrong dimanapun, merokok di usia sedini itu adalah sebuah kesalahan besar.

Kalau ada yang bertanya, “kemana perginya Satpam?”. He… Kabarnya mereka segan menegur, karena ada di antara anak-anak itu yang merupakan anak tetangganya.

Kompleks tempat saya tinggal memang tidak dimaksudkan untuk eksklusif, sehingga “anak-anak luar kompleks” dan masyarakat yang tinggal di gang senggol yang bersisian persis dengan kompleks bisa dengan mudah keluar masuk jalan raya. Tapi kenyataannya, sekarang banyak orang menyesali mengapa tidak dari dulu saja kompleks ini dipisah dinding tinggi dengan perkampungan.

Memang, jauh lebih mudah tinggal di pemukiman dengan sistem cluster dan security yang di-hire dari perusahaan penyedia jasa security. Pemandangan anak-anak kampung merokok, memanjat pagar rumah untuk mengambil buah yang masak di pohon, atau bahkan nongkrong dan memarkir motor persis depan rumah tidak mungkin bisa dilihat.

Tapi apa itu yang kita cari? Apa itu yang saya juga cari?

Lalu apakah alasan saya merasa gerah melihat anak-anak usia SD-SMP berbuat tidak pantas semacam merokok, pacaran atau membolos didasarkan pada idealisme saya dan keinginan untuk mengubahnya, ataukah saya sebenarnya tidak rela kompleks yang saya tinggali “dikotori” oleh kehidupan dari perkampungan yang menurut saya tidak bermoral dan tidak terdidik?

Allah, faghfirlii…

“Ngapain sih harus dipikirin segitunya?”, kata seseorang ketika saya mengeluarkan unek-unek.

“Memangnya kamu nggak takut nanti dijahatin sama mereka?”, tanya yang lain.

🙂

Bukankah apabila yang merokok usia dini adalah saya, lalu ada orang dengan alasan apapun mengingatkan saya, dan karenanya saya berhenti merokok di usia dini, ibu saya akan berterima kasih?

Dan di atas segalanya, apabila dengan sepasang mata saya, saya sudah menyaksikan ketidaklurusan moral anak-anak yang tinggal tidak berapa jauh dari rumah saya (bahkan mungkin masih masuk hitungan tetangga menurut hadits Rasulullah SAW), yang saya jamin semuanya Muslim, lalu saya tidak berbuat apa-apa; bukankah saya juga harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya saksikan?

Lalu apa yang akan saya katakan pada Allah nanti?

Maafkan, Tuhan, karena saya tidak ingin ambil pusing? Maafkan, Tuhan, karena saya sudah terlalu lelah?

Laa haula wa laa quwwata illa billah…… T_TGambar

Seandainya Saya Punya Pantai Pribadi

Seandainya Saya Punya Pantai Pribadi

Saya akan bangun masjid di pesisir pantai menghadap ke laut, seperti Masjid Rahmah di pinggir pantai Laut Merah, Jeddah. Sehingga pengunjung dapat menikmati ciptaan-Nya yang indah dengan penuh perenungan dan kontemplasi diri, bahwa sejatinya diri ini bukan apa-apa dibanding Tuhan yang Maha Sempurna.

Akan saya buatkan peraturan dan tata krama berbusana, sehingga pantai, gerbang lautan yang di dalamnya hidup jutaan makhluk yang tidak henti bertasbih kepada-Nya tidak dipenuhi oleh manusia setengah telanjang.

Dan no alcohol and no smoking, of course.

🙂

Dan bagaimana mungkin kita menikmati ciptaan-Nya, mengambil manfaat dari kebaikan-Nya, tapi tidak mengikuti aturan Tuhan?

Bukankah semestinya, semakin dekat dan semakin cinta seseorang dengan alam, semakin dekat dan cinta pula ia pada Pencipta-nya. Karena dimana, di sudut mana di jagat raya yang dimiliki oleh-Nya ini, ada ruang untuk jumawa?

Journal of The Honeymooners: Batu Night Spectacular

 

 

Sepertinya bel istirahat baru saja berbunyi untuk saya dan suami. Karena malam hari setelah kami sampai di Batu, kami langsung bersiap-siap untuk menghabiskan malam di BNS alias Batu Night Spectacular. Hanya bermodal sedikit pengetahuan dari Asy-Syaikh Google, saya dan suami super excited bak anak sekolah yang berhamburan keluar main saat bel istirahat. 

BNS buka dari sekitar jam 4 sore sampai jam 11 malam. Dan kami datang sekitar waktu Isya. Kesan pertama saya tentang taman bermain ini adalah meriah, tidak se-spektakuler namanya karena satu dan lain hal, tapi yang jelas BNS adalah amusement park yang romantis. Cocok deh buat acara reality show semacam “Katakan Cinta” (jadul banget yak, ketauan umurnya :p), atau buat melamar pujaan hati. 

Di film-film kan suka ada tuh ya, pacaran di amusement park yang nggak terlalu ramai, latar waktunya malam hari dengan lampu warna warni dari wahana bermain. Nah itu BNS banget, menurut saya. Jadi deh, malam itu kami pacaran, nyaingin para ABG. 

Wahananya nggak canggih-canggih amat sih. Ada lampion garden, taman berhiaskan lampion dengan berbagai theme; ada rumah hantu,ada sepeda udara, ada wahana 4D, bumper car, apa lagi ya… Yang bisa saya ingat cuma itu sih 😀

Wahana 4D-nya, honestly kurang seru, karena kacamatanya sepertinya sudah tidak begitu ngaruh antara 3D dan tidak. Kedua, tidak ada petunjuk keselamatan dan cara penggunaan bangku yang walaupun goncangannya tidak sedahsyat di Dufan atau Trans Studio tapi tetap bisa membuat seorang anak terlonjak dari kursinya dan jatuh. 

Wahana berikutnya yang saya naiki bersama suami adalah Sepeda Udara. Asli! Ini mengerikan banget untuk saya. Karena rasanya setengah badan saya ada di udara. Oh iya, sepeda udara adalah wahana semacam monorail tapi bentuknya sepeda yang satu kereta bisa muat dua orang. Kalau mau dinikmatin sebenarnya romantis sih. Apalagi malam itu hujan turun rintik-rintik. Tapi, buat saya itu jadi semacam uji nyali. Sepanjang permainan, saya zikiran sambil mencengkram erat-erat lengan suami… Hihihihi….

Pas turun, melihat saya yang terrified, mas-mas petugasnya bergumam di belakang punggung saya, “kalah karo cah cilik…”. Hahahaha… xD Dikiranya saya nggak paham bahasa Jawa kali ya…

Si Sepeda udara itu, entah bagaimana membawa dampak yang luar biasa untuk saya. Karena merasa butuh banget sama suami saat di atas udara dan harap-harap cemas wahananya rusak, stuck atau keberatan jadi patah dan terjun bebas, ada perasaan sayang yang bertambah dalam diri saya. I can’t lose him for anything…

Lucu ya… 

Saya jadi kepikiran program outbound untuk pasutri. Memang dalam tiap tantangan ada latihan untuk memupuk dam menaruh kepercayaan pada pasangan. Walaupun saya belum pernah, tapi mungkin itu tujuannya. 😀

Bahkan wahana sesederhana Sepeda Udara saja bisa mengubah perasaan saya terhadap suami. Ibarat teori expectancy violations walaupun tidak tepat diterapkan dalam hal ini, ada valensi positif dari saya terhadap suami. 

Sisa malamnya kami habiskan untuk bermain bumper car, makan malam, dan belanja oleh-oleh. Untuk makan malam saya memilih menu Bakso Bakar. Dua tusuk sate bakso berkuah kacang yang enak dan murah dihidangkan dengan semangkok kuah. Pertanyaan norak saya ajukan pada si Mbak penjualnya, “Mbak ini makannya gimana? Apa duluan yang harus saya makan?”. Si Mbaknya juga tampaknya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Setelah diam agak lama, kemudian dia menjawab singkat, “Mana aja boleh, Mbak”. Lalu ngeloyor pergi. Hihihi…

Karena masih bingung akhirnya saya mencoba bereksperimen dengan menguahi bakso bakar berbumbu kacang. Hmm… Rasanya enyak… :9 Really would love to have some more some other time…

Setelah makan malam, saya belanja oleh-oleh di Night Market. Harganya mengejutkan murahnya. Jadi saya beli beberapa pasang sandal untuk oleh-oleh dan menjelang pulang saya membeli jambu klutuk putih. Again, saya norak. “Emang ada ya Jambu Putih?”, tanya saya masih dengan excitement penuh kenorakan. Kalau Emo-nya di BB pasti *dancing*. Hihi…

Padahal jambu klutuk putih memang ada dari dulu, tapi karena permintaan jambu merah lebih banyak sejak dikenal sebagai pendongkrak trombosit, jambu putih jadi kalah pamornya. Rasanya, menurut saya lebih segar walaupun tidak selegit jambu merah. Namanya juga jambu, manisnya juga manis-manis jambu. 

And then, we headed to the hotel. Istirahat, bersiap untuk petualangan selanjutnya esok hari. It was a lovely night, alhamdulillah ^__^

Gambar