Terima Kasih Telah Menikahiku: Renungan Pribadi Seorang Istri

Untuk seorang laki-laki yang menikahiku delapan belas bulan yang lalu,

Tadi pagi, sebelum berangkat sembari membakar roti coklatmu, aku berpikir tentang hak-hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga. Aku sedang berpikir bagaimana cara seorang istri mengutarakan isi hatinya dalam rangka meminta suaminya memenuhi hak-haknya. Cara yang baik – yang tidak seperti caraku ngambek dan ngedumel selama ini, hehe-, yang santun dan menyenangkan hati suami.

Kemudian aku naik ke atas, melihatmu tertidur pulas. Aku selalu suka memandangi wajahmu saat terlelap. Wajah tidurmu hanya milikku. Teman-teman wanitamu boleh melihatmu rapi jali dalam kemeja yang disemprot wangi; dan aku hanya dapat kaos Bordeaux dan celana batik. Tapi wajah tidurmu, adalah simbol ke’posesifan’ku sebagai seorang istri.

Aku ingat janjimu bagun lebih pagi supaya aku bisa ‘nebeng’ sampai Sudirman dan meneruskan perjalanan ke Salemba dengan bis. Agar aku bisa lebih irit ongkos sekaligus sampai di kampus tepat waktu. Namun melihat wajahmu, aku jadi tidak tega meminta ‘hak’-ku.

Aku pun pergi setelah pamit, meninggalkanmu dengan kamar berantakan, sisa-sisa perjuanganku menyelesaikan tugas semalaman. Yang terbayang olehku adalah kamu akan pergi ‘begitu saja’, tanpa peduli dengan tempat tidur dan segala ‘perabotan lenong’-ku.

Seperti setiap hari Kamis lainnya, entah mengapa, aku merindukanmu lebi dari hari-hari biasa. Mungkin karena hari Kamis terasa lebih melelahkan. Pagi kuliah filsafat, siang menjelang sore kajian budaya. Keduanya cukup ‘menyiksa’ otak dan konsentrasiku. Rasa lelah itu selalu membuat aku kangeeeeen sekali melihatmu di rumah. I find ‘a home’ in you, you know… i always do…

Saat pulang, rumah dalam keadaan mati lampu. Aku teringat akan kamar kita yang kutinggalkan begitu saja. Aku naik ke atas, membayangkan diriku berbenah dalam waktu super singkat sebelum hari bertambah gelap.

Aku kaget campur terharu. Ternyata kamu mengorbankan pagi harimu, waktu ngulet-ngulet dan CNBC Squawk Box-mu untuk merapihkan semuanya. Kamu bukan saja merapikan tempat tidur kamu juga merapihkan obat2ku yang dengan sembrono kuletakkan dimana-mana. Dan hebatnya, kamu tahu dimana aku akan mencarinya pertama kali. And you didn’t say a word about it… sampai aku bertanya…

(jadi ingat Rasulullah yang selalu membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga…-tuh kan siapa bilang Islam menindas perempuan?-)

Aku jadi sedih, malu, terharu. Seminggu ini aku sakit melulu. Setiap kamu pulang aku pasti sedang berkemul selimut dengan wajah kuyu. Kalau pun aku melek, pasti sibuk membaca buku…

Dan aku sempat-sempatnya berpikir ‘menuntut hak’-ku?! Hahaha… Aku jadi ingin menertawakan diriku sendiri keras-keras. Hak apa yang ingin kutuntut, sedangkan kewajibanku saja kamu yang mengerjakan.

Kejadian pagi ini, sungguh merupakan introspeksi diri buatku menjalani delapan belas bulan bersamamu. Kamu tidak marah, walaupun aku baru bisa masak yang makanan yang berakhiran ‘goreng’. Itu pun kadang keasinan. Kamu juga tidak marah kalau aku sering cemburu buta (hehe… yang, Allah tidak menciptakan sepasang mata pada rasa cemburu, jadi sampai kapanpun cemburu selalu buta :p)-yang menyabalkan malah kadang kamu tampak menikmati-. Kamu selalu memaafkan kalau aku minta maaf; padahal kalau sebaliknya pasti ada ‘drama’ dan ‘tragedi’ dulu (yaah namanya juga drama queen)…

Delapan belas bulan, waktu yang masih seumur jagung. Perjalanan kita masih panjang. Belum seperti Papa Mama kita. Atau lebih lama lagi, seperti pasangan eyang-ku dan pasangan kai-nyai mu. Bahkan belum lagi diberi amanah seorang anak…

Tapi selama delapan belas bulan ini, di penghujung hari ini, aku ingin mengatakannya sekali lagi,

“Terima kasih, telah menjadi suamiku”

p.s. jangan nakal yaaa… (hehe… tetep ada pesan-pesan sponsornya)

Advertisements

Apa Alasanmu Untuk Tidak Sholat?

Mungkin pertanyaan yang sering muncul di pikiranmu yang cerdas itu sama seperti pertanyaan Adikku.

Adikku yang umurnya 7 tahun juga suka protes saat disuruh sholat. Dia bahkan pernah bertanya, “Emang buat apa sih aku sholat?”. Pertanyaan yang dipertanyakan semua orang. Untuk apakah seorang muslim menjalankan sholat?

Suatu hari hujan turun deras sekali. Angin bertiup kencang dan petir manyambar-nyambar. Anak-anak manapun pasti mencari ketiak orang tuanya untuk bersembunyi. Termasuk adikku yang langsung kabur ke kamar orang tuaku.

“Kamu takut ya?” tanyaku.
Ia mengangguk cepat dari balik selimut di tempat tidur Mama dan Papa.
“Aku enggak…” ucapku.
“Aku takut petir, Kak,” ujarnya.
“Aku enggak. Petir kan makhluk Allah. Hujan juga makhluk Allah,” jawabku.
“Coba adek, kalau takut gini, mintanya sama siapa?” tanyaku kembali.
Ia menjawab perlahan. “Allah…”
“Makanya sholat, dong. Kan Allah tempat kita berlindung,dek”.

Walaupun jawabanku tidak serta merta membuatnya rajin sholat, tapi alasan untuk sholat, menurut pendapatku (dan karena negara ini negara demokrasi maka bebas-bebas saja aku berpendapat begini, kan?), sebenarnya sesederhana itu. Kita pasti pernah merasa takut atau khawatir terhadap sesuatu. Mulai dari hal-hal kecil sebagai dampak trauma atau hal-hal yang besar seperti masalah finansial, masalah perceraian dan lain sebagainya.

Dan kemana kita pergi saat ketakutan itu melanda?

Sekuat-kuatnya kita, sepintar-pintarnya kita, seberkuasa-kuasanya kita, sebanyak-banyaknya uang yang kita punya; saat ketakutan itu melanda, kita mendadak ‘menciut’ dan segala kelebihan apapun yang kita miliki dan bangga-banggakan mendadak tidak lagi berarti untuk melawan rasa takut itu.

Lalu, dari mana ketakutan itu berasal? Siapa penciptanya? Dan siapa pula yang menciptakan seluruh kejadian dan takdir hidup kita yang saling kait-berkait satu sama lain ini yang kadang menjebak kita dalam ketakutan saat menjalaninya?

Aku yakin, bahkan seorang profesor filsafat atau seorang psikoanalis sekalipun akan lari terbirit-birit saat gempa bumi atau gelombang tsunami menghadang. Sepintar apapun ia menjelaskan kepada mahasiswanya atau kepada kliennya tentang hal ihwal, asal muasal rasa takut itu. Rasa takut adalah respon spontan. Reaksi atas kebutuhan kita akan kekuatan yang lebih tinggi. Kekuatan yang tidak ada lagi di jagad raya ini yang bisa menandingi.

Aku seringkali dengan Google Earth ‘memandang bumi’ dari atas. Hanya untuk satu tujuan, menyadari betapa kecilnya diriku yang sedang menggerakkan mouse menjelajahi bumi. Namun mengapa aku yang kecil bahkan tidak nampak barang satu pixel pun dari ‘atas bumi’ itu diberikan kemampuan untuk menyadari eksistensi ‘kekecilan’ dan kelemahanku? Dan diberikan pula diriku kemampuan untuk menyadari gejala-gejala alam yang mungkin dapat meluluhlantakkan diriku sendiri, seperti tsunami atau gempa bumi? Dan pertanyaan paling esensial, siapa yang memberikanku semua kekuatan itu?

Selalu ada alasan untuk setiap kejadian. Dan selalu ada jawaban untuk setiap pertanyaan.

Dan semoga saja jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku akan menjawab pertanyaan besar di atas…

*dedicated untuk para cerdik cendikia yang mungkin lupa hakikat dirinya,,,

Semakin Dekat dengan Kiamat

Benarlah kiranya bahwa kiamat sudah amat dekat. Selalu ada pertanda dari-Nya seolah memberi tahu bahwa akan datang hari yang kita tidak tahu.
Kemarin,Hari ini dan Pastinya Besok aku melihat Al-Quds diduduki Israel. Jujur, aku tidak pernah benar-benar menyimak informasi pada media cetak atau elektronik tentang perang Israel-Palestina. Aku tidak kuat.Entah apakah aku akan marah-marah atau aku akan meneteskan air mata. Selalu begitu. Ada mual, dan pastinya muak.
Kiamat memang sudah sedemikian dekat sampai-sampai Israel terlaknat berani ‘parkir’ mendekat.
Sudah terlalu lama perang itu berlangsung. Sudah berganti tiga, empat, bahkan mungkin lima generasi. Namun sampai saat ini, adakah perubahan yang berarti?
Mungkin bangsa Palestina adalah bangsa yang paling tabah di seluruh dunia. Lihatlah tangan-tangan kurus remajanya kuat sekali melempari tentara Israel (yang dengan pengecutnya berlindung di balik tameng)dengan batu untuk melindungi kehormatan masjid sucinya.
Selalu ada yang berdesir saat mendengar takbir yang keluar dari mulut mereka. Takbir yang tidak pernah lepas dari bibir. Takbir yang menjadikan mereka kuat dan memompa semangat mereka melesat pesat.
Pada 2005, aku berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Pada penghujung perjalanan, di Jeddah, aku menginap di hotel yang sama dengan para peserta kompetisi basket liga arab. Ada kejadian yang membuatku merinding. Kami bertemu dengan tim basket dari Palestina (karena di punggungnya bertuliskan Palestine) yang terdiri dari seumlah pemain dan seorang berkemeja rapi yang kuduga adalah coach-nya. Sang coach berseru memanggil nama salah seorang dari tim pemain dan saat pemuda yang diseru itu menoleh; coach tersebut mengepalkan tangan dan berseru ,”Allahuakbar”. Sang pemain pun menyahuti dengan seruan yang sama, “Allahuakbar”.
Mereka ‘hanya’ bermain basket. Namun takbir itu selalu dibawa-bawa. Tidak seperti kebanyakan kita (termasuk aku sendiri) yang meninggalkan takbir di ruang musholla.
Menyaksikan kejadian itu, aku semakin percaya bahwa bangsa Palestina merupakan bangsa yang sangat dekat dengan Tuhannya (tanpa menafikkan kemungkinan deviasi di antara mereka…). Kedekatan itu tidak luntur, tidak lekang oleh waktu, dan diteruskan dari generasi ke generasi. Aku mungkin termasuk salah seorang yang percaya bahwa keimanan dan kedekatan dengan Ilahi tidak diturunkan secara genetis;melainkan sesuatu yang dibagi dan dipelajari. Dan bangsa Palestina, memegang teguh ‘pelajaran’ keimanan tersebut.
Beberapa orang akan memandangku ‘ragu’ dan menampilkan bahasa non verbal seolah-seolah membicarakan Palestina-Israel adalah topik yang berat, tabu dan ekstrim. Sebagian lagi berpikir bahwa ‘buat apa susah-susah memikirkan mereka -yang temen bukan sodara apalagi?’. Walaupun ada juga yang menaruh minat besar tentang konflik berkepanjangan ini.
Aku tidak bermaksud menjadi ekstrim atau apapun. Allah sudah menggariskan (dan karena aku seorang muslim, maka aku beriman pada-Nya), bahwa perang besar antara Muslim melawan kaum Zionis itu akan terjadi di penghujung zaman. Ketika perang itu sudah terjadi; ketika batu dan pohon-pohon sudah ‘bicara’; tinggal tunggu waktunya kapan Allah mengakhiri umur dunia.
Mengingat perang ini semakin menjadi-jadi. Dan negara-negara Arab itu sakit ‘buta-tuli-nya sudah akut sekali sehingga tidak tahu saudaranya sedang ditindas begitu rupa; malahan Indonesia, negara sengsara nun jauh di seberang samudera yang selalu membela Palestina.
Semua itu mengukuhkan pemikiranku bahwa kiamat sudah amat sangat dekat…
Dan kita masih saja petentang petenteng tolak pinggang, gaya sana-sini. Padahal, siapalah kita di tengah semesta dan jagad raya nan mempesona ini? Tidak ada barang 1 pixel pun, lebih dari itu kita hanyalah debu maha hina di hamparan semesta-Nya.

Paradoxically,,,

Seorang perempuan bedandan rapi untuk kliennya di kantor
dan bertemu suaminya di rumah dalam keadaan lusuh

Ia menghabiskan 10 jam di kantor karena kewajiban
namun menghiraukan anak-anaknya karena kelelahan

Anehnya…

Dikatakan sebuah pengabdian jika seorang wanita barat bekerja di rumah mengurus anak-anaknya
namun keterkungkungan jika seorang wanita muslimah melakukannya

Dikatakan stylish dan modern jika seorang perempuan membuka setengah dadanya
namun dipandang sebelah mata jika ia menutup kerudung hingga ke dada

Anehnya…

Kita menghabiskan jutaan rupiah dalam sekali gesek
Namun merasa berat dengan seekor kambing di hari raya Qurban

Kita betah berjam-jam di depan monitor
Namun jengah dengan sholat yang hanya 5 menit saja

Kita tahu Jacko meninggal dunia bermil-mil jauhnya
Namun tidak kenal dengan tetangga sebelah rumah yang tertutup tembok dan pagar tinggi

Anehnya…

Kita tidak merasa ini semua aneh…