Agama Dibawa-bawa…

“Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)

*******

Suatu siang, beberapa tahun lalu. Saya terbungkam, secara literal. Speechless, kata orang. Seorang teman mengatakan sesuatu pada saya seraya bercanda, “Rasulullah lo bawa-bawa…”. Konteksnya apa, saya sudah lupa. Saya hanya ingat menyebut sesuatu tentang Rasulullah SAW di tengah-tengah diskusi.

Tanggapan teman saya itu membuat saya diam. Benar-benar diam. Satu sisi hati saya (jika yang disebut hati punya sisi) tidak bisa terima, sisi lainnya sibuk bertanya-tanya “bagaimana bisa?”.

Rupanya semakin ke sini, membawa-bawa unsur keagamaan, ke-Tuhan-an adalah sesuatu yang tabu. Menyertakan Tuhan konon adalah pelecehan terhadap ke-Tuhan-an. Membuatmu diskriminatif, old fashioned, dan tidak pancasilais (apapun artinya itu). Apabila tabu harus dijabarkan, maka homoseksual sepertinya lambat laun akan keluar dari kriteria tabu. Membicarakan homoseksual dan mempertentangkannya-lah yang semakin hari semakin tabu. Bertato tidak tabu. Minum bir juga tidak tabu. Alih-alih kombinasi tato dan bir adalah bentuk kemerdekaan baru. Modern, bebas, dan berpikir maju. Tato dan bir, jika saya boleh menggeneralisir secara subjektif, menjaring pasar baru anak-anak muda yang mendobrak ke-tabu-an edisi lalu.

“Agama lo bawa-bawa…”

Demikian kata mereka. Kata banyak orang. Baik itu dalam kata-kata frontal, atau samar-samar. Saya agak bingung awalnya. Bagaimana harus mengurainya: Agama jangan dibawa-bawa.

Lalu apa yang harus saya bawa? Bukankah agama, ad-diin, adalah apa yang saya hirup, yang dengannya saya hidup? Dimana harus saya tinggalkan? Apa yang harus saya kenakan menggantikannya?

Apakah modernitas yang menggantikan Islam sebagai agama saya, padahal modernitas sudah terganti dengan post-modern? Apakah ilmu yang menggantikan Islam, padahal cendekiawan Muslim-lah yang membangun pondasi keilmuan dan menginspirasi dunia dengan cahaya pengetahuan?

Apa yang dibuat oleh tangan manusia, akan terganti. Cepat atau lambat. Maka, logika saya mengatakan bahwa ianya tak bisa dijadikan pegangan. Karena hidup tidak mengenal siaran ulang, atau edisi revisi. Jadi bukankah semestinya pada hidup yang hanya sekali tayang ini, hanya yang sejati saja yang harus saya bawa?

Dan apabila mereka hendak memperdebatkan kesejatian, melabelinya dengan kata-kata relatif; sungguh saya berani mengatakan; bukan agama ini yang salah. Mereka yang terlalu sombong meninggalkan Tuhan yang sejati, dengan dunia yang akan segera selesai.

 

 

Advertisements

bacalah! dengan nama Tuhan-mu Yang Menciptakan

demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan. demi yang menyaksikan dan yan disaksikan. binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  yang memiliki kerajaan langit dan bumi. dan Allah menyaksikan segala sesuatu.

by the star-spangled heaven! by the promised day! by the witness and the witnessed! cursed the masters of the trench, of the fuel-fed fire, when they sat around it, witnessed of what they inflicted on the believers! nor did they torment them but for their faith in God, the Mighty, the Praiseworthy: His the kingdom of the heavens and of the earth; and God is the witness of everything. 

Al-Quran (The Koran), surah Al-Buruuj (The Starry): 1-9

Bahwasanya Al-Quran adalah bukti ke-MahaSempurna-an Allah, setiap Muslim pasti sudah mengetahuinya. Baik itu tahu sekedar “yea yea yea, gue tau”, maupun tahu dengan memaknainya dalam-dalam. Di dalamnya terintegrasi segala hal yang dibutuhkan ummat manusia, catat ummat manusia, bukan hanya Muslim, untuk menjalani kehidupan. Mulai dari perintah Allah, hingga larangan-larangannya; mulai dari berita gembira kepada mereka yang percaya, hingga peringatan bagi mereka yang lalai pada Tuhannya. Al-Quran memuat fakta ilmiah terjadinya alam semesta, terbentuknya janin, sampai dengan dua laut yang tidak dapat bertemu. Al-Quran banyak menggambarkan keadaan yang sangat… kita banget  dalam konteks yang berbeda-beda tetapi universal. Maksud saya, sepintas lalu tampaknya gambaran keadaan yang Allah tuliskan dalam kitab suci-Nya hanyalah gambaran perumpamaan yang indah yang sifatnya universal; akan tetapi bagi mereka yang berada dalam keadaan tersebut perumpamaan itu menjadi sebuah ‘Aha! effect’ yang luar biasa.

Misalnya, sebuah cerita yang dikutip oleh Prof. DR. Deddy Muyana, MA, guru besar ilmu komunikasi UNPAD dalam bukunya, ‘Santri-santri Bule’ (Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004, hal. 36). Beliau mengutip Gary Miller (1992:1-2) yang menceritakan bahwa suatu ketika seorang pria yang berprofesi sebagai pelaut dagang diberi A-Quran oleh seorang Muslim. Dia tidak mengatahui apapun tentang sejarah Isla, whatsoever; tapi ia tertarik membaca Al-Quran. Ketika selesai membaca, ia bertanya, “Apakah Muhammad seorang pelaut?”. “Bukan,” jawab si Muslim, “Sebenarnya Muhammad hidup di padang pasir”. Setelah itu, si pelaut dagang tadi masuk Islam. Alasannya, karena ia sangat terkesan dengan penggambaran Allah dalam Al-Quran, surat An-Nur ayat 40. Untuk lebih mudah dipahami, saya akan mengutip terjemahan An-Nuur mulai dari ayat 39.

dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya,

atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. apabila dia meneluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai cahaya sedikit pun.

Ayat ini sesungguhnya adalah perumpamaan Allah terhadap orang-orang kafir. Perumpamaan yang Allah berikan pada ayat pertama adalah perumpamaan dengan penggambaran keadaan di tempat yang panas, seperti padang pasir, atau… pernah kan di musim kemarau yang panas di atas jalan beraspal yang datar kita melihat ada cahaya berkilauan seperti ada airnya padahal nggak ada? Saya sih pernah waktu kecil, waktu itu saya belum baca Al-Quran, jadi saya sedikit banyak paham dengan perumpamaan tersebut. Tapi perumpamaan kedua, selama ini saya baca hanya sekedar baca, ‘yayaya’ sambil angguk-angguk tanpa memahami maksudnya. Hanya pelaut yang memahami kondisi ‘gelap gulita berlapis-lapis, apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya’. Sedangkan Nabi Muhammad SAW, yang selama ini dituduh sebagai manusia supergenius sehingga bisa menuliskan Al-Quran demikian indahnya,bukanlah seorang pelaut, melainkan pedagang yang melintasi padang tandus. Bagaimana dia bisa tahu keadaan di lautan, sedangkan di tempatnya tinggal masih sangat jauh dari laut? Jadi, pahamkan pertanyaan pelaut Canada tadi dan mengapa akhirnya doi masuk Islam? Karena ‘Aha! Effect’ yang luar biasa saat kita membacanya…

Saya pernah tersengat ‘Aha! Effect’, salah satunya ketika saya sedang membaca surat An-Najm ayat 45-46.

dan sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,

dari mani, apabila dipancarkan

Sepintas lalu, indah tapi ya…  memang begitu adanya. Dulu-dulu juga rasanya ketika membaca An-Najm dan terjemahannya ‘memang begitu adanya’, indah dan sempurna. Tapi ketika saya membacanya dalam keadaan saya menanti buah hati, dan telah melalui proses medis dari satu dokter ke dokter lainnya, ayat ini “menyengat” saya. Dalam pemeriksaan fertilitas pria, terdapat sejumlah syarat atau kondisi dinyatakan sehat. Jumlah, bentuk, kecepatan dan gerakan sperma. Kecepatan dan gerakan sperma ada kategorinya lagi, tapi secara umum, sperma yang sehat adalah yang bergerak cepat, dan lurus. Hanya spermatozoa yang cepat dan lurus yang memiliki banyak probabilitas untuk masuk ke sel telur hingga menghasilkan kehamilan. Dengan kata lain hanya sperma yang ‘memancar’, bukan yang ‘diam’, bukan yang ‘lambat’, apalagi yang ‘mengalir’.

See? Ngerti kan ‘Aha! Effect’ yang saya maksud?

Nah, Al-Quran juga bukan hanya mencakup fakta-fakta ilmiah, tapi juga fakta sejarah. Fakta sejarah inilah alasan mengapa saya mengutip surat Al-Buruuj ayat 1-9. Ketika dulu saya membaca artinya, saya pikir yang Allah ceritakan dalam surat itu adalah orang-orang Islam. Islam dalam arti mereka yang beriman dan menjadi pengikut Muhammad, shalawat dan salam atasnya. Ternyata surat Al-Buruuj bukan menceritakan pengikut Nabi Muhammad, shalawat dan salam atasnya; melainkan pengikut Nabi Isa, shalawat dan salam atasnya, alian orang-orang Nasrani.

Masyarakat Najran adalah pengikut Nabi Isa, shalawat dan salam atasnya, yang sangat taat dan sangat mencintai nabinya. Dan merekalah orang-orang mukmin yang dikisahkan Allah dalam surah Al-Buruuj. Kisah itu terjadi pada 523 M. Ketika itu agama Yahudi berkembang pesat di Yaman. Petinggi Yaman, Dzun Nuwwas juga menjadi pemeluknya. Dalam perkembangannya, Dzun Nuwwas memaksa masyarakat Najran yang saat itu sudah beragama Nasrani untuk masuk ke dalam agama Yahudi.  Dalam buku “The Great Story of Muhammad”, Syaikh Shafiyy ar-Rahman al-Mubarakfury mengatakan, “Namun, penduduk Najran menolak, dan Dzun Nuwwas pun membakar mereka di dalam parit. Beberapa riwayat menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada tahun 523 M dan menelan korban 20 ribu hingga 40 ribu orang”.

Ketika membaca kisah ini, lagi-lagi saya ‘tersengat’. Dan saya tersadarkan, mengapa banyak orang-orang barat (baca: Amerika dan Eropa) berbondong-bondong masuk Islam (lihat surat An-Nashr). Kebanyakan dari mereka beragama Kristen dan Yahudi walaupun ada juga yang atheis. Ketika mengetahui fakta sejarah dalam surat Al-Buruuj inilah saya sadar, dalam arti, saya paham, mengerti, tahu, apapun itu bahwa Al-Quran memang sungguh-sungguh-sungguh ditujukan bagi seluruh ummat manusia. Apakah untuk kita, orang-orang sebelum kita, orang-orang setelah kita; apakah itu Muslim, maupun bukan Muslim. Mengapa banyak orang-orang Barat kembali ke pelukan Islam karena Al-Quran banyak ‘bicara’ mengenai mereka. Mereka yang Yahudi dan Nasrani. Al-Quran bicara tentang kelahiran Isa, semoga shalawat dan salam tercurah padanya yang akan dimuliakan di hari lahir dan hari ia dibangkitkan. Al-Quran bicara tentang sucinya Maryam, ibunda ‘Isa ‘alaihi salam , juga bicara tentang Musa ‘alaihi salam, Nabinya orang Yahudi. Tidak ada yang ditutupi, tidak pula ditambah-tambahkan. Namun di sisi lain, Al-Quran juga mencakup seluruh ummat manusia. Segala aspek kehidupan manusia, mulai dari proses penciptaan, kelahiran, pernikahan, perceraian, kematian, hingga setelahnya. Al-Quran mencakup ranah ilmiah, sosial, hukum bahkan ekonomi dan perdagangan.

Maka adakah kitab lain di dunia ini yang serupa dengannya? Adakah manusia, gerombolan manusia-manusia pintar sedunia yang bisa menciptakan satu surat saja yang isinya komplit-plit, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, ditulis dalam bahwa yang ketika diterjemahkan makna-nya bisa ‘tetep dapet’ dan sesuai konteks budaya?

bahkan mereka mengatakan, ‘dia (muhammad) telah membuat-buat al-quran itu’. katakanlah, ‘(kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (al-quran) yang dibuat buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar

maka jika mereka tidak memenuhi tantanganmu, maka katakanlah, ‘ketahuilah, bahwa (al-quran) itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka maukah kamu berserah diri (masuk Islam)?’

Hud: 13-14

Muhammad: Para Pengeja Hujan

Buku kedua Tasaro GK ini menceritakan tentang kehidupan Rasulullah, melanjutkan buku pertamanya, Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan. Selain itu, Tasaro, tentunya juga melanjutkan kisah perjalanan Kashva serta pencariannya terhadap ‘jalan lurus’ yang dahulu diajarkan Nabi Zardhust kepada orang-orang Persia, masyarakat dengan peradaban tinggi, ras Arya sebenar-benarnya. Saya lupa kapan tepatnya saya membeli buku ini, yang pasti tidak lama dari waktu buku ini diluncurkan. Hanya saja saat itu saya sedang menggila dengan thesis yang diburu waktu; jadi baru sekarang tepatnya saya menamatkan buku ini.

Seperti juga buku pertama; buku kedua ini saya pastikan akan masuk dalam ‘my collectibles’, demikian saya menamakan koleksi buku-buku yang menurut saya ‘nampol’, seperti trilogi Supernova, buku-buku karya Dan Brown, dan beberapa kesusastraan lama seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Seperti juga buku pertama, pada buku kedua ini air mata saya menggenang pada lembar-lembar awal:
“Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah kemarin engkau ada di sisi, dan esok tiada lagi”

Memang benar demikian adanya. Pada buku kedua ini; penuturan perjalanan hidup Rasulullah sampai pada penyempurnaan Islam. Dan Tasaro mengambarkan fase tersebut dengan tutur yang sangat lembut, seperti biasa; mungkin untuk memadankan dengan sosok lembut yang kisahnya ia tuturkan. Fase-fase terakhir kehidupan Rasulullah, terutama bagian dimana lelaki mulia tersebut menghembuskan nafas sukses menguras air mata.

Saya tahu, ummat Islam dimanapun di dunia ini yang hidup pada jaman ini, tidak pernah bertemu Sang Nabi kecuali sedikit saja mereka yang diberi karunia untuk bertemu dengannya dalam mimpi; namun cerita kepergiannya, menyisakan rasa kehilangan. Aneh. Padahal seumur hidup saya belum pernah bertemu Beliau, semoga shalawat dan salam tercurah padanya.

Cara Tasaro GK menceritakan bagaimana kekhilafan Umar saat mengetahui Rasulullah telah berpulang semakin menambah rasa kehilangan tersebut. Benih-benih perpecahan yang bermunculan hanya sesaat setelah kepergian Rasulullah SAW, sesungguhnya bukanlah bagian yang ingin saya baca, jika saja buku itu hanyalah kitab sirah Nabi ‘konvesional’. Saya selalu membenci bagian dimana ummat Islam berpecah belah. Tapi konflik yang dituturkan dengan amat menarik tersebut memaksa saya untuk membaca, dan akhirnya memahami. Bahwa mereka yang ditinggalkan Rasulullah setelah ‘dibina’ langsung oleh Beliau, semoga shalawat dan salam tercurah untuknya, memegang tampuk amanah yang amatlah berat untuk menjembatani antara Islam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dengan masyarakat di luar jazirah Arab; serta generasi setelah mereka.

Sungguh amat sulit kiranya menjadi seorang Abu Bakar. Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah. Jika ada orang yang paling miskin di Madinah saat itu; itu adalah beliau, khalifah, pemimpin ummat Islam, karena takutnya beliau kepada Allah SWT dan ketaatannya kepada Rasul-Nya. Belum lagi konflik dengan Fathimah, putri sahabat yang dicintainya. Ah…

Ketika sampai pada bagian itu, saya berucap dalam hati; seandainya Rasulullah ada untuk menengahi…

Dari buku ini pulalah saya belajar memahami bahwa sahabat Nabi, bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pun adalah manusia biasa. Tindakan yang dilandasi niat baik sekalipun terkadang tidak senantiasa baik pula sambutannya…

Di atas segalanya, buku ini menyuguhkan cara baru belajar sirah. Jika selama ini sirah Nabi yang banyak beredar banyak berupa terjemahan yang kadangkala sulit dipahami; maka Tasaro menyampaikannya dengan cara bertutur. Tidak semua, saya yakin, akan suka dengan cara ini. Tapi setidaknya saya sangat menyukainya. Membacanya seolah-olah Rasulullah dan para sahabatnya ada di depan mata; dan meniru perilaku mereka bukan sebuah kemustahilan, sekalipun sulit dilakukan. Dan poin plus-nya pada buku kedua ini adalah Tasaro membubuhkan sumber referensi sebagai rujukan; sehingga jika kita meragukan apa yang dituturkannya bisa langsung merujuk pada buku tersebut. Ada beberapa perbedaan memang, terutama dari segi detil cerita, khususnya pada bagian yan menceritakan kehidupan ummat Islam saat memasuki era khalifah; pasca kenabian dari sumber-sumber lain yang saya ketahui; akan tetapi menurut saya bukan sebuah masalah besar. Inti ceritanya tetap sama.

Oh iya, ada kata-kata Khalid Bin Walid yang sangat saya sukai saat ia memberikan tiga tawaran: ber-Islam, tetap pada agama semula namun membayar jizyah sesuai kemampuan, dan perang. Di akhir suratnya Khalid selalu membubuhkan kata-kata,

“…Namun, kalian tidak akan suka kepada kaum yang menyukai kematian; sebagaimana kalian menyukai kehidupan”

atau

“kalau tidak, aku akan mendatangkan kepada alian suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai minum khamr”

Baiklah, review asal-asalan ini saya tutup dengan sebuah… pemikiran saya sendiri. Sudah sepatutnya kita, ummat Islam mencintai Nabi kita, Rasulullah, Nabiyullah, Muhammad SAW serta mencontoh perilakunya. Karena kita, memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari ummat terbaik Rasulullah: mencintainya, memuliakannya, mencontoh dan menegakkan sunnahnya tanpa pernah bertemu dengannya. Dan, menurut saya, buku ini A MUST READ bagi para pemula seperti saya yang ingin mempelajarinya. :’)

Semoga shalawat dan salam selalu dan senantiasa tercurah pada Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya, serta pengikut-pengikutnya yang istiqamah hingga akhir dari akhir zaman.

Wallahu a’lam 🙂

Puisi Redefinisi

Allah, Tuhanku Maha Cinta,

aku ingin mengeja-Mu seperti baru dilahirkan

aku ingin mengejar-Mu seperti baru dapat berjalan

aku mencari-Mu di sudut-sudut sendu

seperti diburu cemburu

 

Allah, Tuhanku Maha Mendengarkan

darimana harus kumulai ceritaku?

apakah dari sunyinya hatiku?

atau sendiriku?

atau lelahku yang tak berpegang

dan bebanku yang tak bersandar?

 

kasihkukah yang tak sampai?

bersama penggalan cerita yang tak selesai?

atau ini hanya prolog buku hidupku?

 

jelaskan padaku, Allah, Tuhanku Maha Menjelaskan

apa yang harus kulakukan, agar hidupku dapat kudefinisikan ulang?

Catatan Kecil Untuk Saya dan Saudara

Miris.

Di belahan barat bumi ini, begitu banyak hidayah Allah ditebarkan, sehingga banyak orang berpindah haluan dan memeluk Islam. Saya kira awalnya, ini hanya sesuatu yang dibesar-besarkan. Tapi setelah saya bertemu dengan Kristin, Muslimah asli dari Eropa Timur dan besar di New York di sebuah situs jejaring sosial; mencari informasi di situs ‘netral’ bahkan situs yang sangat kontra terhadap Islam; saya mulai percaya, matahari sudah menampakkan kerjapnya di ufuk barat.

Mengapa miris?

Karena Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yang menurut nytimes.com kurang lebih sekitar 207 juta Muslim di seluruh Indonesia atau sekitar seperempat dari seluruh populasi Muslim dunia; entahlah, mungkin masyarakatnya yang sudah Muslim mulai jengah dan gerah dengan identitasnya sebagai Muslim.

Mereka mulai mempertanyakan agamanya; di satu sisi; di sisi lain mereka juga tidak ingin belajar untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka memilih mengekor pada media massa yang mencitrakan Muslim identik dengan kekerasan; padahal apakah mereka, tetangga muslim mereka, saudara muslim mereka diajarkan perbuatan yang sama?

Menarik sekali, saya menemukan sebuah komentar di republika.com; ‘muslim yang biasa saja tidak perlu ditakuti; tapi muslim yang belajar alquran itu yang perlu ditakuti…’. Hahahaha… saya tidak tahu yang menulis itu siapa, mengapa segitu takutnya sama Islam; yang saya tahu satu dan pasti: dia salah informasi.

Entahlah… Saya seringkali mendapat pertanyaan dari teman-teman non Muslim saya atau mendengar pernyataan teman-teman liberal, yang entah dari mana dapat ilmunya, ‘sembarangan’ mengutip ayat-ayat Qur’an yang berkaitan dengan jihad dan perang.  Padahal yang Muslim saja dilarang keras mengutip ayat setengah-setengah tanpa ilmu. Dan Al-Qur’an itu sarat konteks, saaaaaaangat amat sarat konteks. Ada sebab-sebab turunnya. Ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Ada kata-kata tertentu yang bermakna tertentu jika disandingkan dengan kata-kata setelahnya…Al-Qur’an, pada dasarnya tidak dapat diterjemahkan, karena padanan katanya mungkin tidak setara. Satu kata bisa berarti banyak makna…

Sedangkan memenggal-memenggal-nya, seperti kata memenggal ‘nikmati’ yang seharusnya berkonotasi positif menjadi hanya dibaca ‘mati’-nya saja… Hilang sudah esensi maknanya…

Lagipula, kok bisa -entah darimana sumbernya itu-, memutar balikkan ayat sesuka mereka? Mengapa? Apa tujuannya? Saya pribadi, ketertarikan saya pada ajaran agama, Islam sebagai agama saya maupun agama lain sama sekali bukan untuk mempermainkannya, tapi justru untuk memahami. Bukan untuk berganti haluan; tapi untuk saling menghargai.

Dan miris semakin miris,

Masyarakat Indonesia yang beragama tanpa ilmu, percaya mentah-mentah tanpa dicerna lebih dalam. buat saya, lebih baik kita mempertanyakan sebuah kebenaran tapi pada akhirnya kita menemukannya dengan utuh daripada kita menelan semua yang masuk tanpa pernah tahu apakah yang masuk ke dalam jiwa kita itu madu atau racun. Sehingga ada saja yang membabi-buta mencaci agama lain melalui corong Masjid tanpa peduli tetangga sebelahnya mungkin tidak beragama Islam; ada saja yang masih membakar menyan dan memberi sesajian pada leluhur yang -katanya- datang pada malam-malam tertentu…

Tidak semua pertanyaan memang, pada akhirnya, mampu dijawab oleh agama. Tetap saja, hati kita yang harus bicara. Apakah apa yang kita pilih sebagai agama dapat memenuhi segalanya yang kita butuhkan di dunia dan setelahnya?

Dari yang saya baca di internet atau dengar di youtube, orang-orang Barat yang menjadi Muslim rata-rata belajar Islam secara utuh dulu baru pindah agama. Utuh di sini, artinya benar-benar melihat esensi Islam dan ajarannya. Tentu teknis seperti sholat, puasa, dll; akan bisa menyusul kemudian. Tidak ada sesuatu pun  di dunia ini yang begitu lahir langsung berkembang besar melainkan ia harus berproses setapak demi setapak.

Seharusnya begitu pun dengan kita yang sudah Muslim. Kita tidak akan percaya dan akan membantah jika Rasulullah dikatakan pedofil -seperti kata ‘mereka’ yang-sudahlah-tak-usah-disebut-sebut-. Kita akan membela jika Islam disejajarkan dengan teroris. Kita akan marah jika Rasulullah dihinadina. Mengapa? Karena kita tahu, karena kita belajar, karena kita membaca.

Sekarang, apakah kita tahu beberapa ajaran Islam sudah digunakan di agama lain? seperti kata-kata orang tua adalah do’a? Atau kutipan hadits, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Atau, Tuhan-lah yang Maha memutarbalikkan hati manusia? Mungkin ketika itu kita dengar dari teman-teman kita yang berama lain kita akan mengangguk-angguk dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran universal tanpa kita ataupun mereka ketahui bahwa itu sudah diajarkan oleh Islam, oleh Rasulullah, 14 abad silam…

Jadi, jika suatu ketika kita ragu, apakah benar pilihan kita terhadap agama ini (Islam). Bukan, bukan agamanya yang salah; bukan pula Rasulullah yang mulia, yang dipilih Michael Hart sebagai tokoh nomor satu sepanjang sejarah, yang salah. Kita-lah yang harus banyak membaca, bertanya, membaca, bertanya, membaca, mencari, mengaplikasi…

Kita yang harus banyak belajar. Karena hanya dengan memiliki ilmu, kita akan dihormati 🙂

 

Semakin Dekat dengan Kiamat

Benarlah kiranya bahwa kiamat sudah amat dekat. Selalu ada pertanda dari-Nya seolah memberi tahu bahwa akan datang hari yang kita tidak tahu.
Kemarin,Hari ini dan Pastinya Besok aku melihat Al-Quds diduduki Israel. Jujur, aku tidak pernah benar-benar menyimak informasi pada media cetak atau elektronik tentang perang Israel-Palestina. Aku tidak kuat.Entah apakah aku akan marah-marah atau aku akan meneteskan air mata. Selalu begitu. Ada mual, dan pastinya muak.
Kiamat memang sudah sedemikian dekat sampai-sampai Israel terlaknat berani ‘parkir’ mendekat.
Sudah terlalu lama perang itu berlangsung. Sudah berganti tiga, empat, bahkan mungkin lima generasi. Namun sampai saat ini, adakah perubahan yang berarti?
Mungkin bangsa Palestina adalah bangsa yang paling tabah di seluruh dunia. Lihatlah tangan-tangan kurus remajanya kuat sekali melempari tentara Israel (yang dengan pengecutnya berlindung di balik tameng)dengan batu untuk melindungi kehormatan masjid sucinya.
Selalu ada yang berdesir saat mendengar takbir yang keluar dari mulut mereka. Takbir yang tidak pernah lepas dari bibir. Takbir yang menjadikan mereka kuat dan memompa semangat mereka melesat pesat.
Pada 2005, aku berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Pada penghujung perjalanan, di Jeddah, aku menginap di hotel yang sama dengan para peserta kompetisi basket liga arab. Ada kejadian yang membuatku merinding. Kami bertemu dengan tim basket dari Palestina (karena di punggungnya bertuliskan Palestine) yang terdiri dari seumlah pemain dan seorang berkemeja rapi yang kuduga adalah coach-nya. Sang coach berseru memanggil nama salah seorang dari tim pemain dan saat pemuda yang diseru itu menoleh; coach tersebut mengepalkan tangan dan berseru ,”Allahuakbar”. Sang pemain pun menyahuti dengan seruan yang sama, “Allahuakbar”.
Mereka ‘hanya’ bermain basket. Namun takbir itu selalu dibawa-bawa. Tidak seperti kebanyakan kita (termasuk aku sendiri) yang meninggalkan takbir di ruang musholla.
Menyaksikan kejadian itu, aku semakin percaya bahwa bangsa Palestina merupakan bangsa yang sangat dekat dengan Tuhannya (tanpa menafikkan kemungkinan deviasi di antara mereka…). Kedekatan itu tidak luntur, tidak lekang oleh waktu, dan diteruskan dari generasi ke generasi. Aku mungkin termasuk salah seorang yang percaya bahwa keimanan dan kedekatan dengan Ilahi tidak diturunkan secara genetis;melainkan sesuatu yang dibagi dan dipelajari. Dan bangsa Palestina, memegang teguh ‘pelajaran’ keimanan tersebut.
Beberapa orang akan memandangku ‘ragu’ dan menampilkan bahasa non verbal seolah-seolah membicarakan Palestina-Israel adalah topik yang berat, tabu dan ekstrim. Sebagian lagi berpikir bahwa ‘buat apa susah-susah memikirkan mereka -yang temen bukan sodara apalagi?’. Walaupun ada juga yang menaruh minat besar tentang konflik berkepanjangan ini.
Aku tidak bermaksud menjadi ekstrim atau apapun. Allah sudah menggariskan (dan karena aku seorang muslim, maka aku beriman pada-Nya), bahwa perang besar antara Muslim melawan kaum Zionis itu akan terjadi di penghujung zaman. Ketika perang itu sudah terjadi; ketika batu dan pohon-pohon sudah ‘bicara’; tinggal tunggu waktunya kapan Allah mengakhiri umur dunia.
Mengingat perang ini semakin menjadi-jadi. Dan negara-negara Arab itu sakit ‘buta-tuli-nya sudah akut sekali sehingga tidak tahu saudaranya sedang ditindas begitu rupa; malahan Indonesia, negara sengsara nun jauh di seberang samudera yang selalu membela Palestina.
Semua itu mengukuhkan pemikiranku bahwa kiamat sudah amat sangat dekat…
Dan kita masih saja petentang petenteng tolak pinggang, gaya sana-sini. Padahal, siapalah kita di tengah semesta dan jagad raya nan mempesona ini? Tidak ada barang 1 pixel pun, lebih dari itu kita hanyalah debu maha hina di hamparan semesta-Nya.